
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
..._____________...
Bukan Dimas yang mengantar Arini pulang ke rumah melainkan Hendra sendiri. Hendra begitu sangat penasaran dengan kehidupan Arini dan siapa orang tuanya, atau orang yang merawat dia hingga besar dan menjadi gadis yang begitu istimewa.
Hendra ingin lebih mengenal gadis ini, hatinya selalu merasa berbeda saat bersama dengan Arini. Dia merasakan kedekatan seperti saat dia bersama dengan Dimas di setiap harinya.
Arini hanya terus diam tak ada kata yang keluar dari bibir mungilnya. Matanya terus fokus ke arah depan namun sesekali dia juga menoleh ke pinggir jalan melalui jendela dan kadang-kadang dia melihat Hendra yang ada di sampingnya.
Mereka tidak hanya berdua saja di dalam mobil, melainkan ada seorang sopir yang setiap harinya mengantarkan kemanapun Hendra akan pergi.
Dengan alasan pulang bareng dan kebetulan rumah mereka satu arah membuat Dimas mengiyakan permintaan Hendra untuk mengantarkan Arini pulang. Lagian Dimas juga tak bisa mengantar Arini karena dia masih sibuk di rumah sakit.
"𝘋𝘢𝘳𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘋𝘪𝘮𝘢𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘤𝘢𝘺𝘢, 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘥𝘪 𝘶𝘴𝘪𝘳 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘧𝘪𝘵𝘯𝘢𝘩. 𝘋𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘣𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘶𝘨𝘢. 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘬𝘦𝘬 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘯𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘯𝘺𝘢. "
Penjelasan dari Dimas saat mereka berbincang tadi membuat Hendra semakin penasaran dengan kehidupan Arini yang sepertinya sangat menyedihkan. Dia kasihan, dia iba melihat gadis kecil yang sangat sederhana itu begitu menderita karena nasib hidupnya sama sekali tidak indah.
"Oh iya, Arini. Hemm..., bagaimana hubunganmu dengan orang tuamu? " tiba-tiba saja Hendra bersuara, membuat Arini seketika menoleh sejenak.
Netra coklatnya seakan berputar-putar di dalam matanya. Dia bingung, Arini tak tau harus mengatakan apa.
Hubungan yang mana yang Hendra maksud? Orang tuanya yang mana yang dia ingin ketahui. Orang tua yang merawatnya dari kecil atau orang tua yang membuangnya.
Setiap kali ada yang menyinggung masalah orang tua Arini akan selalu sedih. Dia tak bisa membesarkan hatinya untuk lebih kuat dan menerima kenyataan.
Hatinya sangat sakit. Goresan luka yang baru beberapa hari dia dapatkan rasanya akan sangat susah untuk bisa di sembuhkan.
"Arini, kenapa? " Hendra juga menoleh ke arah Arini. Gadis di sampingnya itu kini sudah kembali fokus dengan hal lain, namun pikirannya terus berkelana jauh entah sampai mana.
__ADS_1
"Arini," tangan Hendra terangkat, menyentuh baju Arini dengan sangat pelan. Sentuhan yang begitu lembut itu ternyata bisa menyadarkan Arini yang terdiam dan asyik dengan pikirannya.
Arini kembali menoleh lagi, di tatapnya wajah yang oval dari Hendra. Wajah yang masih tampan meski sudah termakan usia. Mungkin saat muda dulu dia begitu tampan dan menjadi dambaan setiap wanita.
Arini tetap diam dan tidak menjawab, matanya sudah memerah tapi dia usahakan untuk bisa menyembunyikan semua dukanya. Dia tak mau sampai lebih banyak lagi orang yang simpati dan merasa kasihan padanya hanya karena nasibnya.
"Maaf, saya tidak bermaksud untuk mengusik kamu dan keluarga mu, maaf, " Hendra menyesalkan apa yang sudah dia katakan barusan. Dia tak tau kalau ujung dari pertanyaan adalah kesedihan dari Arini.
Meski tidak menjelaskan tapi sudah bisa di tebak kalau Arini dan keluarganya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Berarti benar apa yang di katakan oleh Dimas tadi padanya.
"Arini dan orang tua Arini baik-baik saja kok, Om. Hanya saja sekarang Arini tinggal di rumah nenek karena Arini mendapatkan pekerjaan di sini," senyum tipis Arini keluarkan. Dia ingin berusaha untuk menutupi segalanya. Menutupi semua penderitaannya dari dunia.
Jika di ingat-ingat lagi Arini hanya bisa menghembuskan nafas dengan sangat sesak. Arini tidak menyangka kalau kedua orang tua yang membesarkannya bukan orang tuanya pantes saja mereka memperlakukannya sangat buruk bahkan selalu menyiksanya.
Kenangan yang sangat kelam, kenangan yang tak pantas lagi untuk diingat-ingat tapi tetap saja susah untuk dilupakan. Semua akan selalu membekas dan akan terpatri dalam hati dan menjadi tulisan hidup yang kelam.
"Alhamdulillah," jawab Hendra dengan menumbuhkan senyum kecil juga. Bukan berarti dia percaya dengan apa yang di katakan oleh Arini, Hendra sangat yakin kalau Arini tidak baik-baik saja.
Keduanya kembali diam begitu juga dengan Hendra. Dia hanya sesekali melirik kecil ke arah Arini, "𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘯𝘵𝘢𝘴𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘬𝘶𝘵 𝘤𝘢𝘮𝘱𝘶𝘳 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘰
𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯. 𝘚𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪𝘱𝘶𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘪𝘣𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘳𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘣𝘢𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘦𝘵𝘢𝘩𝘶𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘬𝘪𝘴𝘢𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘯𝘺𝘢, " 𝘣𝘢𝘵𝘪𝘯 𝘏𝘦𝘯𝘥𝘳𝘢.
Setelah melalui perjalanan dari rumah sakit akhirnya mobil berhasil berhenti di depan kediaman Susanto yang menjadi tempat tinggal Arini sekarang.
"Terimakasih ya om, sudah mau mengantar Arini pulang," ucap Arini.
Arini sungguh berterimakasih dengan Hendra yang bersedia mengantarkannya. Arini sungguh senang, meski banyak orang-orang yang tidak menyukai dirinya tapi banyak juga yang peduli dan memberikan perhatian padanya.
Semoga saja mereka benar-benar tulus memberikan kasih sayang padanya. Bukan hanya menginginkan sesuatu darinya atau berniat buruk.
__ADS_1
"Sama-sama. Hanya sekalian saja kan, kebetulan rumah om juga satu arah," jawab Hendra.
"Assalamu'alaikum, Om." Arini membuka pintu mobil sendiri.
"Wa'alaikumsalam," Tak henti-hentinya Hendra memandangi pergerakan Arini bagaimana cara dan gerakannya sama persis dengan istrinya, "𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯𝘬𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘢𝘯𝘢𝘬 𝘬𝘶? " gumam Hendra begitu lirih.
Ada harapan besar dari Hendra, kalau gadis itu adalah anaknya. Tapi dia belum bisa melakukan apapun karena belum mempunyai bukti. Hendra juga tidak bisa asal tebak karena apa yang hatinya katakan.
"Jalan," satu kata terucap dari Hendra setelah Arini turun beberapa saat. Mobil pun mulai berjalan pelan meninggalkan tempat itu yang mana Arini masih berdiri sembari mengamati kepergian mobil Hendra.
Sejenak Arini termangu memandangi mobil Hendra dia masih setia dengan lamunannya sejenak. Khayalannya melayang jauh seandainya dan juga seandainya.
"Seandainya Arini punya ayah yang sebaik om Hendra pasti Arini akan sangat bahagia," gumam Arini yang sungguh begitu berharap.
"Astaghfirullah, aku tidak boleh seperti ini. Berandai-andai hanya akan tidak akan baik karena akan ada setan yang menjerumuskan hati," imbuhnya lagi.
Arini membalikkan badan, dia ingin cepat masuk karena waktu juga sudah sangat malam pasti kedua orang yang begitu sayang padanya sudah menunggunya.
𝘛𝘪𝘯𝘯𝘯𝘯.....
Arini terkesiap saat terdengar bunyi klakson dengan sangat panjang juga sangat keras. Benar-benar pengendara yang tak punya etika baik-baik. Ini sudah sangat malam pasti akan akan sangat mengganggu para penghuni tempat itu yang pasti sebagian sudah pada tidur.
Mata Arini terbelalak, mulutnya berkecamuk dan sesekali menelan ludahnya dengan kesusahan.
"Pak tuan? " Arini semakin gemetar saat melihat Arya yang sudah keluar dari mobil dan berjalan semakin dekat.
_____
Bersambung...
__ADS_1
___....