Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
47.Tidak Hamil


__ADS_3

..._______...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Tidak doyan ya tetap tidak doyan, meski Arini memaksakan untuk menerimanya tapi perutnya tetap tak mau di ajak kompromi. Arya juga Eyang terkejut apa yang sebenarnya terjadi pada Arini. Arya pikir tadi yang Arini katakan itu bohong dan ternyata benar sementara Eyang Wati kini langsung menatap tajam ke arah Arya.


"Arya..., apa benar kamu belum melakukan apapun padanya? dia..., dia tidak sedang hamil anakmu kan?! " tanya Eyang Wati menaruh curiga. Eyang Wati bertanya penuh dengan penekanan saat Arini sudah lari ke kamar mandi.


Arya semakin pusing di buatnya, iya kali dia menghamili Arini. Kan belum di apa-apain juga masak udah hamil begitu saja, tidak mungkin kecebong milik Arya bisa lari sendiri dan masuk ke tempat Arini kan.


Eyang Wati semakin tajam menatap Arya karena cucunya itu tak kunjung bicara. Meskipun Eyang Wati senang jika benar tapi dia juga kecewa karena Arya kenapa harus menghamili Arini sebelum mereka sah menjadi pasangan halal. Bukan tanpa Alasan Eyang Wati akan menerimanya dengan baik semua itu karena Arini adalah gadis yang baik juga masih sangat polos belum terkontaminasi dengan pergaulan bebas.


"Arya, cepat katakan sama Eyang! kamu udah lakukan itu pada Arini!?" tanyanya lagi yang penuh dengan penekanan.


"Astaga, Eyang. Arya belum melakukan apapun, baru buka hijabnya saja dia sudah mau bunuh diri seperti itu, bagaimana kalau Arya beneran sudah melakukannya? apa tidak terjun bebas tuh Arini dari lantai lima puluh," jawab Arya.


"Seandainya iya pun, masak iya langsung jadi gitu saja. Apakah kecebong ku begitu ganas sampai-sampai jadi begitu cepat! " benar juga sih yang Arya katakan.


"Tapi bagaimana dia bisa muntah-muntah begitu kalau dia tidak hamil!?" Eyang Wati ternyata belum puas dengan jawaban Arya.


"Apa! Arini hamil...!?" Pekik Dimas yang tiba-tiba masuk. Dimas begitu terkejut dengan apa yang dia dengar, hatinya kembali dongkol saat mendengar Arini di bikin hamil oleh Arya.


Ingin sekali Dimas kembali nonjok tuh wajah yang selalu dia bangga-banggain.


Arya juga Eyang Wati langsung menoleh ke arah Dimas yang sudah mendekat, Arya menggaruk keningnya semakin frustasi ini masalah salah paham ini seperti tak sederhana, apalagi Arini yang bisa menjelaskan dia belum juga keluar dari kamar mandi.


"Tuan Arya, apa benar yang saya dengar barusan? jawab Tuan," desak Dimas tak sabar.


"Astaga Dim, aku belum apa-apain Arini! kali ini kamu bisa mempercayai omonganku, kalau sampai berbohong aku rela mulutku ini rusak! lagian sebejat-bejatnya aku juga tak pernah keluarin kecebong di semua wanita kencan ku. Aku juga tidak mau sampai anakku berceceran tidak jelas," jawab Arya menjelaskan.


Kali ini Eyang Wati yang semakin geram dengan Arya. Dengan terang-terangan dia menjelaskan bahkan mengakui semua perbuatan buruknya tanpa ada rasa ragu dan ketakutan sama sekali.

__ADS_1


𝘉𝘶𝘨𝘩...


"Dasar anak tak tau malu! dasar anak kurang ajar, tak punya moral! " suara Eyang Wati terdengar sangat marah, dia begitu geram dengan kelakuan Arya.


Eyang Wati terus memukuli Arya dengan tangan tuanya itu. Meskipun dengan tangan yang tak kuat namun cukup bisa membuat Arya meringis dan kewalahan menghadapi pukulan Eyang Wati yang tidak ada hentinya.


Tangan Arya terus menghadang pergerakan tangan dari Eyang Wati, dia tak mau lah di pukul terus menerus, dia juga harus melindungi wajah tampannya supaya tidak tergores dengan tas kulit yang Eyang bawa dan menjadi alat juga.


"Eyang, hentikan Eyang! Arya minta maaf Arya khilaf! Eyang hentikan," ucap Arya terus memohon untuk kembali mendapatkan pengampunan dari Eyang.


"Ini kenapa? Eyang, apa pak Tuan nakal sampai di pukul seperti itu. Dulu kalau Arini nakal juga di pukul atau di jewer, pasti pak Tuan sangat nakal ya, Eyang?" tanya Arini begitu polos. Arini yang baru keluar dari kamar mandi langsung menghampiri Eyang Wati.


Arya bukan hanya nakal lagi tapi yang di lakukan sudah bisa di sebut dengan kejahatan yang melanggar hukum.


Eyang Wati menghentikan pukulannya Pada Arya dan beralih ke arah Arini. Eyang Wati butuh penjelasan dari Arini, Kan?


Bukan Eyang Wati saja yang langsung fokus pada Arini tapi Dimas juga, dia terus menatap serius ke arah Arini dan membuatnya bingung. Sementara Arya dia terus saja berdecak kesal gara-gara Arini lagi dia mendapatkan pukulan dari Eyang Wati.


"Hamil?" Arini mengernyit. Memandang ke arah mereka bertiga dengan bingung, "emangnya Arini hamil?" tanya balik Arini.


"Kata bi Siti dulu wanita bisa hamil kalau sudah berhubungan dengan laki-laki. Tapi hubungan yang seperti apa Arini tidak tau. Katanya bi Siti lagi, kalau hanya bersentuhan tangan tidak akan hamil tapi Arini juga tidak bersentuhan dengan siapapun, kecuali...? Akk...! Pak Tuan kemarin menyentuh Arini, katanya pak Tuan juga menggendong Arini. Eyang, Arini nggak hamil kan? Arini nggak akan hamil kan?"


Arini terlihat ketakutan, dia langsung panik bagaimana kalau dia hamil, "Eyang, Arini belum menikah, Arini tidak mau hamil di luar nikah pasti semua orang akan memusuhi Arini. Belum hamil saja Arini sudah tidak punya temen bagaimana kalau hamil? Arini pasti akan di kurung warga di gudang dan akan di pasung. Eyang Arini takut," Arini tersedu, air matanya keluar secara langsung.


Ketiganya terperangah. Astaga.., gadis di depannya benar-benar masih sangat polos, dia belum tau apapun tentang hubungan yang akan membuatnya hamil itu hubungan yang seperti apa.


Ingin rasanya mereka terpingkal tapi mereka merasa kasihan juga, Arini pasti akan malu nantinya.


"Diam! jangan sok mendramatisir keadaan Arini. Kamu tidak hamil, oke! sekarang kamu jelaskan pada Eyang juga Dimas kenapa kamu bisa muntah-muntah, cepat katakan pada mereka! " ucap Arya yang sudah sangat jengah.


"Arini, coba jelaskan pada Eyang sebenarnya apa yang terjadi," tanya Eyang dengan sangat lembut.

__ADS_1


"Sebenarnya, sebenarnya Arini tidak doyan dengan bubur Eyang, setiap kali makan pasti akan keluar lagi," jawab Arini sembari menghapus air matanya.


"Tuh, Eyang juga kamu Dim, udah dengar kan sekarang," ucap Arya yang merasa menang sekarang.


Dimas juga Eyang Wati lega, Alhamdulillah karena ketakutan mereka berdua tidak benar.


Eyang Wati melirik ke arah Dimas sepertinya dia tidak suka karena Dimas begitu perhatian pada Arini, "𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘋𝘪𝘮𝘢𝘴 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘩𝘢𝘸𝘢𝘵𝘪𝘳 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪, 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘯?" batin Eyang.


"Semuanya sudah jelas kan? kalau begitu Arya harus pergi ke kantor, Arya ada meeting," Arya begitu tak sabar ingin cepat-cepat pergi dari sana.


Eyang Wati mengangguk tapi juga tidak diam begitu saja, "Arya, kamu boleh pergi tapi hanya sampai jam istirahat siang. Setelah istirahat kamu harus kembali datang ke sini untuk menjaga Arini, "


"Hem.., "jawab Arya sembari berlalu pergi.


Arini yang menoleh, dia sedikit tersentak kenapa harus datang lagi si Arya, apalagi kenapa dia juga yang menjaga Arini, dia juga sudah sembuh seharusnya sudah boleh pulang kan?


"Eyang, Arini sudah sembuh Arini sudah baik-baik saja Arini pengen pulang," rengek Arini.


"Tidak hari ini Arini, lihatlah wajahmu masih pucat Eyang tidak akan biarkan kamu pulang hari ini. Dimas, pastikan Arini tidak pulang hari ini dia belum benar-benar sembuh," ucap Eyang.


"Baik Eyang, " jawab Dimas menurut begitu saja.


"Tapi Eyang? "


"Sudah Arini, jangan membantah, kamu juga harus istirahat. Oh iya, kamu belum sarapan kan? lihatlah, Eyang bawa makanan yang enak untukmu. Sekarang kamu makan lalu minum obatnya."


"Baiklah, " Arini pasrah.


////////


Bersambung....

__ADS_1


_______


__ADS_2