Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
202.Nasib Buruk Keluarga Marta


__ADS_3

Happy Reading...


_________________


Dimas juga Raisa terlihat sangat kesal, mereka sudah berputar-putar di butik yang sangat besar itu tapi belum juga menemukan Arya juga Arini.


Keduanya menghentikan langkah namun matanya tetap tak berhenti bekerja untuk mencari mereka berdua.


"Dimana sih mereka berdua, ilang nya cepet banget," gerutu Raisa.


"Entah," jawab Dimas singkat.


Raisa semakin kesal saat Dimas hanya menjawab dengan singkat apalagi di tambah dengan menaikan kedua bahunya acuh. Benar-benar tak punya ide mau nyari dimana.


Tak mengatakan apapun Raisa langsung berjalan lagi, dia berniat mendatangi sekali lagi ke ruang dimana berbagai macam baju pengantin di pajang, mungkin sekarang dia akan menemukan Arya juga Arini.


"Hey..., mau kemana? Kita tadi sudah ke sana!" Dimas berteriak tangannya juga sudah terangkat dan melambai untuk meminta Raisa kembali tapi perempuan itu tetap tak peduli.


"Eish...,merepotkan sekali," Dimas terpaksa mengejar Raisa yang diam tak menjawab bahkan dia juga tidak menoleh sama sekali.


Keduanya terus melangkah dengan beriringan, dengan mata yang tak berhenti melihat ke semua penjuru.


Senyum Raisa mengembang saat dia melihat Arya.


"Itu dia," Raisa langsung berlari. Dimas pun hanya menggeleng sembari membuntuti Raisa dengan langkah cepat.


"Waw..., amazing!" seru Raisa yang sangat mengagumi Arini yang sudah memakai baju pengantin pilihannya sendiri.


Arini belum juga selesai karena karyawan butik itu masih terus merapikan berbagai perlengkapannya.


Arini terlihat sangat berbeda, dia benar-benar sangat cantik karena di tambah dengan sedikit polesan oleh perias.


"Mbak Raisa," Arini terlihat sangat bahagia setelah melihat Raisa yang datang dan terlihat senang juga.


"Bagaimana, Mbak! Pilihan Arini bagus nggak?" tanyanya. Tak sabar ingin mendengar komentar dari Raisa, kakak temu besar nya.


"Hem.., ini sangat sempurna," Raisa manggut-manggut, dia mengakui kalau pilihan Arini benar-benar pilihan yang bagus, sangat elegan tapi tetap terlihat berkelas. Ternyata mata Arini bisa benar juga tak seperti biasa.


"Wih, adik ku cantik sekali," Dimas pun tak mau kalah, dia juga memuji dan mengakui kalau yang di pilih Arini sangat bagus.


"Bagaimana, Kak! Bagus nggak?"


"Perfect," Dimas menaikan tangannya menyatukan ibu jari dengan jari telunjuknya hingga berhasil membentuk huruf O.


Dimas maupun Raisa saling menoleh, Arini sudah terlihat lalu dimana Arya?


"Dimana tuan Ar.. astaga...," Dimas terperangah saat melihat Arya yang baru keluar dari ruang ganti dan memakai baju pengantin berwarna pink yang senada dengan yang Arini pakai sekarang.


"Rasanya ingin terpingkal tapi takut salah, tentunya Dimas juga takut dosa juga kan? Menertawakan nasib adik iparnya yang akan menikah dengan adiknya yang unik.


"Apa lihat-lihat!" Arya tetap angkuh mengatakannya, dia sangat paham dengan tatapan aneh dari Raisa ataupun dari Dimas.

__ADS_1


Memang mereka berdua tidak mengatakan langsung tapi Arya yakin kedua orang itu tengah mengatainya di dalam hati mereka.


Tuxedo berwarna pink di padukan dengan kain batik yang di lilitkan di perut itu sebenarnya sangat indah, Arya juga tidak buruk saat memakainya tapi itu tak berpengaruh pada Arya karena dia kehilangan rasa percaya dirinya.


Tak peduli lagi dengan apa yang Arya pakai kini dia menatap penuh kagum ke arah calon istrinya. Benar-benar sempurna selayaknya seorang putri.


Mata Arya sama sekali tak berkedip, perlahan dia melangkah semakin dekat untuk memastikan penampilan Arini dari jarak yang dekat.


"Sub-hana...?"


"Subhanallah!" seru Raisa meneruskan.


Seketika Arya melirik ke arah Raisa. Seharusnya dia berterimakasih karena di benarkan tapi nyatanya? Arya malah menubruk Raisa dengan tatapan matanya yang tajam.


"Hadehh, salah lagi kan," ucap Raisa tak habis pikir kalau ternyata niat baiknya tidak di terima oleh Arya.


"Kayak baru kenal sehari saja sama bos mu, dia kan seperti itu. Hanya dengan Arini saja esnya bisa meleleh kalau sama kita akan semakin keras. Bisa jadi akan membuat kita bonjol kalau di lempar dan kena kepala," Bisik Dimas.


"Oh," jawab Raisa acuh bin dingin juga.


"Astaga, kenapa semua orang bawa es dari kutub utara?" celetuk Dimas.


Raisa tak peduli lagi, dia mengacuhkan Dimas dan kembali melihat bagaimana Arya juga Arini saling tatap dan saling mengagumi satu sama lain.


"So sweet...," Raisa terpaku tak berkedip melihat mereka berdua, "benar-benar serasi," imbuhnya.


"Hem..." Dimas hanya menggeleng melihat tingkah Raisa yang ikut terbawa suasana.


Tak lama Arini memandangi wajah Arya dan setelah itu dia menunduk dan tak berani memandangnya lagi. Dia tidak mau sampai terjadi zina di dalam pandangannya.


Ekhm...


Suara dehemam dari Dimas membuyarkan Arya yang terus tak berkedip memandang Arini. Dimas juga langsung berjalan mendekati mereka berdua lalu merangkul Arini.


"Sudah memandangnya, Tuan. Setelah anda berkedip maka anda tak di perbolehkan untuk memandangnya lagi. Takutnya akan terdapat Zi-na," ucap Dimas.


"Hhfff..., susahnya menjadi orang benar. Semuanya harus mengikuti aturan. Tapi, apakah itu yang akan menjadikan sebuah kebahagiaan yang nyata?" batin Arya.


"Tapi tak apa, aku memang sudah berniat untuk berubah. Apapun akan aku lakukan, untuk Allah, untuk ku, juga untuk Arini, untuk kami," Imbuhnya lagi yang hanya mampu membatin.




Kebahagiaan yang tengah Arini dapatkan kini tengah berbanding terbalik dengan apa yang terjadi pada Keluarga Marta.



Keluarganya kini tengah dalam kehancuran. Tanaman tehnya satu persatu telah mati, dan semua tempat yang mendapat pasokan selalu mengeluhkan akan daun yang kualitasnya sangat buruk.


__ADS_1


Bukan itu saja, tapi juga kedua anaknya yang tak baik takdirnya. Entah itu memang takdir ataukah karma yang dia dapatkan dari perbuatan mereka.



Fara pergi karena di usir sebab tak bisa membawa Nando untuk bertanggung jawab. Sementara Melisa kini mendapatkan hukuman di kantor polisi karena ulahnya yang menjebak Arya, mencoreng nama baik juga niat buruknya yang ingin menghilang nyawa seseorang.



Marta juga Ratna hanya di rumah berdua saja, bahkan Bi Ani juga tak lagi bekerja di sana karena tugasnya telah selesai. Ya, bi Ani datang untuk bekerja di sana karena perintah dari Toni untuk memata-matai keluarga itu. Untuk mengungkapkan kebenaran.



Marta terduduk lemah di sofa ruang tengah, kesehatannya tengah menurun. Sementara Ratna yang tak biasa hidup susah dan apapun selalu ada hanya bisa menghambur-hamburkan uang untuk bisa memenuhi kebutuhannya. Bukan itu saja, bahkan dia tetap bergaya seolah keluarganya tak mengalami masalah apapun.



"Bu, tolong ambilkan minum untuk ku," suara Marta seolah tak berdaya, begitu lemah dan tak kuasa.



"Ambil saja sendiri, saya sedang sibuk," jawab Ratna begitu judes.



Padahal dia juga tidak sedang mengerjakan sesuatu yang penting tapi hanya sedang menghiasi kuku-kukunya dengan kutek saja, tapi tetap saja tak mau.



"Ayolah, Bu," Marta begitu memohon, tapi tetap saja Ratna acuh dan hanya diam tak menanggapi lagi.



Sungguh nasibnya sangat buruk, dulu apapun yang dia ingin selalu tersedia sebelum dia memintanya tapi sekarang? Bahkan sampai dia minta pun tetap tak mendapatkannya.



"Bu," suara Marta semakin tak jelas, itupun di selingi dengan batuk dan nafas yang terengah.



Terpaksa Marta beranjak sendiri, dia mulai melangkah dengan sangat pelan dan juga merambat di antara tembok ke tembok.



Sungguh menderita rasanya tapi itulah yang terjadi padanya sekarang, dia juga tak bisa menyalahkan takdir karena semua itu berawal karena ulahnya sendiri.



~~•••~~~


Bersambung..

__ADS_1


__ADS_2