
Happy Reading...
Terkurung dalam apartemen seorang diri membuat Arini merasa sangat jenuh, dia sangat bosan apalagi tak ada teman kegiatan yang menemaninya.
Dia hanya bisa duduk melihat televisi bahkan memainkan ponsel yang dia sendiri belum begitu pandai dengan benda ajaib itu.
Bibirnya terus mengerucut seiring kaki melangkah menuju balkon, dia bisa melihat keramaian kota dengan duduk atau berdiri di sana.
Pemandangan yang sangat indah, apalagi di tambah dengan langit yang begitu cerah tanpa adanya awan hitam ataupun putih yang menjadi coretan di sana.
"Sampai kapan aku akan menjadi pengangguran seperti ini? Pak Tuan juga kemana lagi, katanya hanya pergi sebentar tetapi kenyataannya sudah hampir seharian dia belum pulang juga."
Matanya terus melihat jalan yang begitu banyak kendaraan yang hilir mudik silih berganti.
Suara bising dari klakson yang terus berbunyi karena kemacetan membuat Arini merasa sangat kasihan, tetapi lebih kasihan dengan bumi yang semakin keberatan akan beban dari manusia yang populasinya bertambah dengan cepat. Bukan itu saja, tetapi juga semua alat juga kerusakan yang di buat dan di sebabkan oleh tangan manusia itu, sangat miris bukan?
Sungguh Arini ingin keluar, berjalan-jalan sekedar mencari angin atau mungkin mencari teman.
Tetapi kenyataannya dia tak bisa keluar, Arya melarangnya untuk dia keluar entah apa tujuannya mengurung Arini di dalam apartemen, dia juga tidak akan kabur lagi karena dia masih sangat takut dengan kejadian yang menimpanya kemarin. Dia masih sangat trauma.
Kring... Kring... Kring...
Arini cepat berlari, dia kembali masuk setelah mendengar ponselnya berbunyi. Arini langsung menyambarnya dengan kilat dan mengangkatnya tanpa melihat siapa yang telah menghubunginya karena Arini tau tak ada nomor orang lain selain pak tuan.
"Assalamu'alaikum..." ucap seseorang dari seberang dan benar saja orang itu adalah Arya.
"Wa'alaikumsalam..." Arini tersenyum, dia sangat senang karena Arya berinisiatif mengatakan itu lebih dulu, padahal biasanya akan selalu Arini yang memulainya.
"Sudah makan?"
Arini menggeleng, bagaimana mungkin dia bisa makan kalau di dalam apartemen tak ada makanan apapun yang bisa dia masak lalu dia makan. Arya benar-benar keterlaluan, mengurung anak orang tetapi lupa menyiapkan semua kebutuhannya termasuk makanan.
"Belum, tidak ada apapun di sini. Arini tidak bisa masak apapun juga tidak bisa keluar," jawab Arini merintih.
"Seharusnya Arini puasa saja tadi kalau akhirnya malah kelaparan seperti ini," imbuhnya.
"Astaga, aku lupa."
__ADS_1
Ponsel seketika terputus mungkin Arya yang telah mengakhirinya.
Arini hanya bisa menyungging miris dengan apa yang dia alami sekarang. Pak Tuannya sungguh tega membuatnya kelaparan. Katanya sayang, tapi?
Daripada hanya diam dalam rasa lapar membuat Arini lebih memilih tidur saja. Mungkin dengan itu dia akan melupakan rasa laparnya. Dan setelah bangun mungkin dia akan mendapatkan makanan untuk mengisi perutnya.
~~~~~\\~~~~~
Arya yang baru saja selesai meeting langsung saja menghubungi Arini, dia begitu sangat merindukan gadisnya yang kini telah menjadi tawanan di apartemennya tanpa siapapun tau.
Memang itu tak seharusnya dia menyembunyikan Arini dari semua orang yang tengah mencarinya termasuk keluarganya yang terpisah jauh dan cukup lama, tetapi Arini mempunyai tujuan juga alasan tersendiri untuk itu dan semua itu juga demi kebaikannya.
Arya akan memberitahu kepada semua orang jika waktunya sudah pas, dan itu juga tidak akan lama lagi.
Setelah selesai menghubungi Arini Arya begitu sangat menyesal, bagaimana mungkin dia bisa santai-santai di kantor dengan perut kenyang sementara Arini yang ada di rumahnya dia sedang kelaparan karena Arya melupakan semua keperluan Arini.
"Maafkan aku Arini, aku akan pulang sekarang," Arya cepat beranjak, dia juga langsung berlari dengan rasa bersalahnya.
"Tuan," langkah Arya terhenti saat tiba-tiba ada Melisa yang menghadangnya dengan wajahnya yang menunduk.
"Kenapa kamu kesini?" tanya Arya dengan sinis.
"Tuan, saya ingin makan rujak," ucapnya dengan wajah yang sangat memelas, berharap penuh Arya akan membelikan apa yang dia inginkan.
"Kamu punya kaki kan, punya tangan juga kan? Bukannya kamu bisa membelinya sendiri. Keinginanmu bukan urusan ku," Arya seketika jengkel mendengar penuturan dari Melisa. Kenapa harus meminta padanya dengan apa yang ingin dia makan.
"Atau kamu tidak punya uang!" seru Arya, tangannya seketika bergerak mengambil dompet dan menarik satu lembar uang ratusan dan di berikan kepada Melisa saat itu juga.
"Nih! Saya rasa itu sudah cukup hanya untuk membeli rujak. Sekarang jangan ganggu saya, saya harus pergi," Arya sudah siap untuk melangkah.
"Tuan, saya tidak mau uang dari Tuan, tetapi saya menginginkan Tuan yang membelikannya untuk ku. Ini bukan kemauan ku tetapi kemauan anak kita," Melisa tertunduk lesu dengan mata yang berkaca-kaca dan siap meluncurkan air mata buaya untuk menjerat Arya supaya mau menurutinya.
Arya berbalik cepat, dia sangat tidak suka Melisa mengatakan itu adalah anak mereka, apalagi itu anak Arya? Tidak akan dia mengakuinya.
Dengan amarah juga tangan yang terangkat Arya menatap tajam kearah Melis, dia sangat marah dengan Melisa yang selalu menggangunya.
__ADS_1
"Jangan pernah mengatakan itu adalah anak saya, karena dia bukan anak saya. Camkan itu baik-baik," Mata Arya begitu membulat sempurna dia sudah mulai di kuasai dengan amarah.
"Sampai kapan Tuan akan sadar, kapan Tuan akan mengakui anak ini. Ini anak kita, darah daging Tuan!" Melisa tetap kekeuh dia terus mengatakan kalau itu adalah anaknya Arya juga dirinya.
"Saya mohon, Tuan. Akui anak ini, jangan biarkan dia lahir tanpa pengakuan dari Ayahnya, saya mohon, Tuan." Lagi-lagi Melisa memasang wajah yang sangat menderita.
Selayaknya seorang ibu yang memperjuangkan hak untuk anaknya, hak untuk di akui oleh ayahnya sendiri. Melisa akan berusaha dan akan berhasil itu adalah yang dia pikirkan.
"Ton...! Toni...!" teriak Arya dengan suaranya yang sangat keras.
Tak lama orang yang di panggil datang, dia berlari dengan tergesa-gesa menghampiri Arya yang terlihat sangat menakutkan.
Toni tau apa alasannya, yaitu Melisa yang ada di hadapannya.
Toni membungkuk hormat setelah sampai di hadapan Arya, dia sudah siap dengan pekerjaan selanjutnya yang akan di berikan kepadanya.
"Saya mau pergi, urus wanita tak tau malu ini," titah Arya dengan suaranya yang tegas.
"Baik Tuan," Toni mengangguk setuju, dia melirik kecil ke arah Melisa. Sebenarnya Toni sangat malas berurusan dengan wanita ular itu tetapi mau bagaimana lagi? Dia tak bisa menolak apa yang di perintahkan oleh Arya.
Melisa sangat kesal saat Arya pergi begitu saja dan tak mengindahkan apa yang dia inginkan. Melisa begitu geram ingin sekali dia melakukan sesuatu yang benar-benar bisa menjebak Arya dan mau menikahinya tetapi apa? Sudah seperti itu saja Arya tetap tidak mau menikahinya.
"Tuan, jangan pergi! Tolong penuhi keinginan anak kita!" teriak Melisa.
Melisa hendak berlari mengejar Arya tetapi di hadang oleh Toni.
"Lebih baik kamu pergi dari sini, sebelum saya ataupun Tuan hilang kesabaran dan akan mengusir mu dengan cara paksa," ucap Toni.
"Kamu berani mengusir ku! Aku adalah wanita yang mengandung anak dari bos mu! Cepat atau lambat aku juga akan menjadi bos mu!" Teriak Melisa tidak terima.
"Itu belum tentu, setelah kamu ketahuan berbohong maka kamu sendiri yang akan malu, bahkan kamu akan kehilangan pekerjaanmu juga kehilangan muka," Toni pergi setelah itu, dia tak mau mengatakan berlama-lama berada di hadapan Melisa.
"Ini tidak bisa di biarkan, aku harus bertindak," mata Melisa melotot tajam memandangi Toni yang semakin jauh, dia benar-benar tidak terima dengan perlakuan yang di dapatkan kali ini.
~~~°°°~~~~
__ADS_1
Bersambung...