
...______...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Selama tiga hari Dimas di buat bingung dengan Nilam yang selalu mendapatkan bunga melati di setiap pagi hari. Padahal Dimas selalu berangkat pagi namun dia tetap tak dapat melihat siapa yang datang maupun pergi dari ruangan Nilam.
Dalam beberapa hari ini keadaan Nilam juga perlahan mulai membaik meskipun belum sadarkan diri, sepertinya dia sudah memiliki keinginan dan kekuatan untuk hidup dan entah darimana kekuatan itu datang, dan dari siapa Dimas tak mengerti.
Hari ini Dimas ingin sekali mengungkap siapa yang selalu datang diam-diam ke ruangan Nilam, dia bahkan sengaja tidak pulang ke rumah dan tidur di rumah sakit untuk mengetahui semuanya.
Setelah selesai subuh Dimas langsung bergegas datang, dia sudah tak sabar ingin mengetahui siapa yang membuat Nilam menjadi lebih baik.
"Hari ini aku harus tau siapa orang itu," gumamnya. Kakinya terus melangkah dengan cepat dari mushola rumah sakit menuju ruangan di mana Nilam berada.
Baru saja matanya melihat ruangan Nilam dari kejauhan Dimas di kejutkan dengan kedatangan gadis berhijab dan langsung masuk ke ruangan itu. Dimas tak melihat wajahnya karena arah nya juga gadis itu sama Dimas hanya melihat punggungnya saja.
"Akhirnya aku bisa melihat orang itu," Dimas melangkah semakin cepat dia harus bisa melihat wajah gadis itu dengan jelas.
Sementara Arini dia terus tersenyum sembari masuk ke ruangan Nilam, apa yang dia bawa selalu sama hanya beberapa bunga melati saja yang akan dia berikan kepada Nilam.
"Assalamu'alaikum, Tante cantik. Bagaimana keadaan tante sekarang? semoga tante semakin membaik ya. Oh iya, Arini juga bawakan bunga yang sama seperti kemarin, bunga melati yang masih segar."
"Arini tidak tau sebenarnya bunga apa yang tante sukai, tapi aku pikir tante menyukai bunga melati karena bau parfum tante adalah melati. Ternyata kesukaan kita sama ya,Tante. Arini juga suka bunga melati, aroma melati, bahkan parfum Arini juga sama aroma melati dan ternyata tante juga sama."
Arini kembali terdiam, dia langsung memberikan bunga melati itu di tangan Nilam. Arini tersenyum senang karena meskipun Nilam tak membuka matanya tapi dia selalu saja menerima bunga pemberian Arini dan langsung menggenggamnya tanpa Arini yang menggenggamkannya.
"Maaf ya tante, Arini selalu saja datang ke sini. Tante tidak marah kan kalau Arini selalu datang, kalau tante tidak suka besok Arini tidak akan datang lagi. Arini tidak mau membuat keadaan tante menjadi semakin buruk."
Arini sungguh takut kalau apa yang dia katakan akan terjadi, tapi dia selalu saja ingin datang meski sebentar dan sekedar menyapa saja. Sejak dia tak sengaja masuk dia selalu datang di setiap pagi setiap hari, dia sangat nyaman saat berada di dekat Nilam.
"Oh iya, Tan. Beberapa hari Arini datang tidak pernah melihat keluarga yang menunggu tante, apa mereka berada di jauh, atau berada di kota yang berbeda, kok Arini tak pernah melihatnya?" tanya Arini meskipun dia tau tak akan mendapatkan jawabannya.
"Jika suatu saat tante bangun, apakah tante akan melupakan Arini, oh iya! tante kan memang tidak mengenal Arini ya? Astaga ternyata Arini memang sangat bodoh."
__ADS_1
"Tapi meskipun tante akan lupa ataupun tak akan mengizinkan Arini datang lagi, Arini akan selalu berdoa semoga tante cepat sembuh dan cepat bangun lagi. Apa tante tidak capek apa tidur mulu, Arini saja tidur hanya beberapa jam dalam semalam saja udah capek, punggung kadang juga sakit, apalagi tante?"
Begitu panjang kali ini Arini berbicara, meskipun dia tak mendapatkan jawaban dari semua yang dia katakan tapi dia merasa senang, ada perasaan bahagia saat bisa bercerita dengan Nilam.
"Maaf ya tante, Arini tidak bisa lama-lama. Arini harus bekerja dan Arini juga harus menyuapi nenek dulu sebelum pergi. Semoga Arini besok bisa datang lagi ya. Semoga cepat sembuh ya tante, assalamualaikum... "
Pamit Arini, tak lupa dia juga akan selalu memberikan salam takzim pada Nilam dan akan selalu di sambung dengan cengiran yang begitu manis sebagai perpisahan mereka.
"Assalamu'alaikum, tante," ucapnya lagi.
Arini berdiri, dia membalikkan badan dan langsung di buat terkejut dengan keberadaan Dimas yang ternyata sudah berdiri diam di dekat pintu. Ternyata saking asyiknya bercerita pada Nilam Arini tidak menyadari kalau Dimas datang dan mendengarkan semua pembicaraannya.
Arini bingung harus bicara apa, matanya terus berkeliling ruangan untuk menghindari tatapan dari Dimas yang menatapnya dengan serius.
"Eh..., Pak Dokter.." Arini meringis tapi tetap saja tak berani melihat Dimas.
"Pasien itu siapa mu?" tanya Dimas yang menguji kejujuran Arini. Padahal jelas-jelas Dimas tau kalau Arini bukan siapa-siapanya karena Nilam adalah mamanya Dimas sendiri kan.
Arini menggeleng, dia bingung mau jawab apa. Tapi dia harus tetap menjawabnya kan? "Tante itu bukan siapa-siapa Arini, Pak dokter. Arini juga tidak mengenalnya," jawabnya.
"Tidak tidak! Pak dokter jangan bicara seperti itu. Arini kan orang baik-baik, Arini datang hanya untuk menjenguknya saja dan sekedar untuk menyapanya," jawab Arini lagi.
"Aku mendengar semua yang kamu katakan tadi. Bukankah dia bukan siapa-siapa mu tapi kenapa kamu begitu peduli?" Dimas masih setia berdiri menghadang Arini di depan pintu dengan bersedekap dada , dia tak akan membiarkan Arini keluar sebelum dia mendapatkan semua alasannya.
Lagi-lagi Arini menggeleng, bahkan dia sendiri juga tidak tau alasannya kenapa dia begitu peduli pada wanita yang masih setia memejamkan mata itu.
"Kenapa kamu menggeleng? apa kamu tidak tau alasannya?" tanya Dimas dan Arini mengangguk cepat, "aneh."
"Ya memang aneh sih," Arini kembali bingung.
Dimas melangkah menuju ranjang Nilam, melalui Arini yang dengan otomatis langsung kembali membalikkan badannya mengikuti Dimas.
"Apa kamu tau Arini? Dia adalah ibu Nilam. Beliau adalah pasien yang paling lama berada di sini. Sudah tujuh belas tahun dia begini, tak sadarkan diri, bahkan sepertinya tak ingin hidup lagi. Tapi aku tetap memaksanya untuk tetap hidup, memasang semua alat-alat ini supaya jantungnya tetap bekerja." satu tetes air mata Dimas berhasil lolos tanpa sepengetahuan Arini.
__ADS_1
"Tu-tujuh belas tahun?! " pekik Arini tak percaya, dia kembali mendekat dan berdiri di sebelah Dimas.
Dimas terdiam, dia masih berusaha menata hatinya untuk bercerita pada Arini.
"Ke-kenapa Pak dokter melakukan ini padanya? bukannya tante ini akan sangat tersiksa?" tanya Arini.
"Aku ingin dia tetap hidup Arini. Demi aku," Dimas tertunduk lesu.
"Kenapa?" Arini sangat penasaran.
"Karena dia adalah Mamaku, Arini," ucapan Dimas semakin lirih.
Arini ternganga, dia tak percaya kalau ternyata wanita itu adalah Mamanya Dimas.
"Pak dokter yang sabar ya, tante pasti akan segera sembuh," Arini berusaha memberikan kekuatan untuk Dimas yang terlihat sangat lemah.
"Beberapa hari yang lalu aku memang berniat untuk melepaskan semua alat-alat ini, aku sudah pasrah dan ikhlas jika Mama mau pergi, aku tidak ingin melihat Mama semakin menderita. Tapi...?" ucapan Dimas terhenti.
"Tapi kenapa?" Arini setia menunggu.
"Bertahun-tahun aku tak melihat ada tanda-tanda kehidupan dari Mama, tapi setelah beberapa hari ini, setelah kamu datang, Mama seperti mendapatkan kekuatannya untuk hidup. Keadaannya mulai membaik dan itu karena kamu, Arini. Aku sangat yakin itu karena kamu," ucap Dimas menjelaskan.
"Aku? Arini tidak melakukan apapun?" jelas Arini bingung, kenapa karena Arini.
Dimas berdiri menghadap Arini menatap matanya dengan wajah memohon, "Arini, saya mohon sering-seringlah datang ke sini. Oke kamu mau minta apapun dariku semua akan aku berikan. Aku mohon datanglah dan jadilah kekuatan dan alasan untuk Mama kembali hidup. Aku mohon,"
Dimas benar-benar memohon, dia hanya bisa berharap dengan Arini. Karena semua tanda-tanda kehidupan dari Nilam datang setelah Arini yang selalu datang.
"Aku mohon," ucapnya lagi.
//////
Bersambung...
__ADS_1
__________