
...****************...
"Mas, lihatlah! perut Arini semakin membesar sekarang. Pipi Arini juga semakin bulat. mungkin karena kebanyakan makan kali ya," ucap Arini dengan begitu polosnya.
Berdiri menghadap ke arah cermin dan terus bergerak kanan kiri dan melihat pantulannya sendiri yang terlihat begitu menggemaskan sekarang.
"Kalau Arini semakin gendut gini apa Mas tidak akan lirik yang lebih langsing di luar sana?" ucapnya lagi. Masih setia berdiri di depan cermin.
Sementara Arya, seketika dia meletakkan ponselnya. Kesibukannya memeriksa e-mail masuk harus terganggu karena perkataan dan juga tingkah Arini yang begitu lucu. Arya tersenyum di buatnya.
"Kenapa, meskipun kamu bulat atau semakin gemuk aku tetap hanya mencintaimu saja." jawab Arya. Berdiri di belakang Arini dan memegangi kedua pundaknya.
Sama seperti Arini, Arya juga melihat pantulannya di cermin. Memang sih, Arini semakin hari semakin berisi, perutnya sudah begitu jelas kelihatan karena usianya yang memang sudah hampir sampai pada waktunya.
"Meski gendut tapi kamu tetap cantik, bahkan kamu adalah perempuan paling cantik untukku," cup! satu kecupan mendarat di pipi Arini sebelah kanan.
"Ih, Mas gombal. Belajar darimana Mas gombal seperti ini, atau jangan-jangan selalu seperti itu ketika di luar," wajah Arini seketika mengerut masam.
"Astaghfirullah, Sayang. Aku hanya mengatakan ini untuk kamu saja, tak ada yang lain karena memang tidak ada yang lain. Tak ada yang lebih cantik daripada istriku."
"Beneran?" Arini menoleh, melihat wajah Arya yang sudah mengangguk.
"Sungguh, apakah aku terlihat sedang berbohong?"
"Hem?" mata Arini menatap serius wajah Arya, melihat matanya yang membulat terang. Arini menggeleng setelah itu, mungkin karena tidak dia temukan kebohongan di wajah Arya.
"Bagaimana?"
"Tidak ada." cup! kini Arini yang beralih mencium Arya.
"Kok cuma sebelah, tuh kan berat sebelah?" keluh Arya, pura-pura merajuk dengan memiringkan wajah ke sebelah kiri.
Cup!
"Hehe, sudah kan sekarang?" Arini meringis malu. Pipinya sudah merona karena perbuatannya sendiri.
"Belum. Sini yang belum," kini Arya terus menggerakkan bibirnya.
Pipi Arini kian merona, bibirnya tersenyum dengan wajah yang menunduk namun dengan mata yang melirik. "Kok malah berhenti?"
Cup!
Dengan gerak cepat Arini langsung mencium bibir Arya namun hanya sebentar saja sebelum dia melarikan diri dari hadapan Arya dengan cepat. Berjalan menuju ranjang dan merebahkan tubuh sekaligus menyelimuti dengan rapat.
__ADS_1
Arya menggeleng juga tersenyum, istrinya itu sungguh lucu sekali.
Tak mau kalah Arya langsung menyusul Arini, diam-diam masuk di bawah selimut.
"Aaa!" teriak Arini. Arya mengejutkannya.
"Sayang kenapa kamu berteriak?" tanyanya. Keduanya masih tetap setia menutup diri mereka dengan selimut yang sama. Arini kicep setelah menyadari bahwa Arya yang menyusulnya.
"Sayang," panggil Arya dengan suaranya yang khas. Khas seperti tengah mengharapkan sesuatu.
"Hem," jawab Arini singkat.
"Pengen nengok adek," ucapnya.
"Adek lagi capek, baru ini dia diem aja, mungkin lagi tidur kasihan lah kalau di gangguin."
"Ya maka dari itu, mau Mas elus-elus biar makin anteng boboknya."
"Bukan anteng, nanti malah usil karena di kira diajak main."
"Ya kalau usil kan sekalian di ajak main. Main sepak bola, atau mau dakon atau main petak umpet, atau? mau kejar tangkap."
"Nggak, kasihan nanti capek adeknya." elak Arini.
"Sayang, minta jatah," kini Arya balik arah cara mintanya.
"Jatah? jatah ap__," suara Arini sudah tak lagi terdengar, sepertinya Arya benar-benar tak mau mendengar perkataan istrinya lagi.
Mana mungkin seorang Arya yang dulu tidak pernah mendapatkan penolakan dan akan selalu mendapatkan apa yang dia mau akan pasrah begitu saja.
"Maaf ya, Sayang. Udah nggak tahan."
"Nggak tahan ap__," ucapan Arini tak terdengar lagi.
Pergemulan harus tetap terjadi, Arya tak mau mendengar ocehan Arini lagi yang kadang memang suka telat nyambungnya. Tak harus di jelaskan tapi harus langsung di praktekan dan Arini baru akan diam karena sudah mengerti.
...****************...
"Aa! Mas!" teriak Arini begitu keras. Arya yang baru saja di dalam kamar mandi dan tengah menggosok rambut dengan sampo langsung bergegas.
Tanpa basa-basi dia menyambar handuknya, melilitkannya pada pinggang lalu keluar. Arya begitu panik.
"Ada apa?!" tanya Arya yang begitu terburu-buru.
__ADS_1
"Aa!" Arini semakin lantang berteriak kala melihat handuk yang Arya pakai merosot.
"Aa!" Arya ikutan berteriak, buru-buru dia masuk lagi ke kamar mandi dan memakai celananya. Begitu buru-buru Arya hingga tangannya bergerak begitu lincah. Arya kembali keluar.
"Mas!" Arini kembali berteriak keras. Terdengar begitu kesakitan.
"Ya! Astaghfirullah!" pekik Arya. Matanya membulat melihat Arini yang sudah duduk di lantai dengan kedua kaki berselonjoran.
"Mas, sakit." Arini meringis.
"Kita ke rumah sakit!" Arya langsung mengangkat Arini, ingin segera di bawah ke rumah sakit.
"Mas mau ke rumah sakit seperti ini?" tanya Arini. Bukan hanya Arya yang belum memakai baju saja, tapi kepala Arya yang juga masih terdapat busa dari sampo.
"Hah! Ka-kamu di sini dulu." si rebahkan Arini di kasur. Arya kembali berlari masuk ke kamar mandi untuk menyiram rambutnya.
"Mas," Arini semakin merintih.
Arya keluar dengan berlari, bergegas mengambil baju di lemari. Tidak berniat untuk memilih tapi sekenanya lalu Arya pakai begitu saja.
"Kita ke rumah sakit sekarang," kembali Arya menggendong Arini. Berlari keluar kamar.
"Tuan, ada apa?" Susi menghadang.
"Sepertinya Arini mau melahirkan."
"Alhamdulillah," Susi terlihat senang mendengar ucapan Arya.
"Belum, baru sepertinya." semakin cepat Arya berjalan.
"Gitu ya," Susi malah melongo, berdiri di tempat seperti orang bodoh.
"Susi! ambil tas yang sudah di siapkan!" teriak
Arya begitu lantang.
"Mas, jangan teriak di telingaku!" suara Arini begitu kesal.
"Aw! maaf maaf," Arya meringis. Arini menarik telinganya dengan teriakan yang begitu keras.
...****************...
Bersambung....
__ADS_1