Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
296. Kekurangan menjadikan Kesempurnaan


__ADS_3

Happy Reading...


************


Hari-hari Arini juga Arya semakin berwarna dengan kehamilan Arini yang semakin membesar. Semua tingkah Arini yang negatif perlahan juga sudah mulai hilang. Keduanya begitu menikmati betapa aktifnya anak yang masih ada di kandungan Arini sekarang.


Sesekali perutnya terasa bergerak sendiri, kadang tiba-tiba seperti di tendang dari dalam dan itu membuat Arini juga Arya selalu tersenyum bahagia. Anak mereka dalam keadaan sehat dan begitu aktif.


Sekali saja lama tak bergerak Arini selalu gelisah, dia takut ada sesuatu yang terjadi namun Arya begitu pintar membuat hati istrinya tenang. Apalagi di di tambah dengan penjelasan dari dokter yang selalu mengatakan kalau anaknya dalam keadaan baik-baik saja.


Seperti saat ini, Arya juga Arini tengah memeriksakan kehamilannya di rumah sakit Gautama.


"Bagaimana, Dok." Tanya Arya tak sabar saat melihat dokter memeriksa Arini.


Dokter mengulas senyum. Dokter lalu memperhatikan anak mereka dari layar USG dan terlihat sudah sempurna juga terus bergerak aktif.


Arya sampai tak bisa berkata-kata lagi sekarang saat melihat anaknya. Air mata haru keluar begitu saja membasahi pipinya. Senyumnya seolah tertahan, bercampur dengan rasa haru dan rasa syukur yang begitu besar.


"Mas, lihatlah! Dia begitu aktif seperti kamu." Arini begitu heboh, dan Arini sangat bahagia. Bahkan semua kebahagiaan yang dia dapatkan selama ini tak sebanding dengan kebahagiaan ini. Bagaimana kalau anaknya lahir nanti dan bisa dia peluk dengan penuh kasih, pasti kebahagiaan akan semakin besar.

__ADS_1


Arya mengangguk, rasanya suara Arya begitu susah untuk keluar. Tercekat di ujung lidahnya dan tertahan di sana.


"Mas, dia bergerak lagi!" Arini semakin heboh.


Bukan hanya Arya yang terus tersenyum, tapi sang dokter juga sama. Dokter tersenyum mendengar suara Arini yang penuh bahagia.


"Iya, anak kita bergerak!" Akhirnya suara itu keluar dari bibir Arya. Tangannya di tarik oleh Arini, di tempelkan di atas perutnya dan saat itu anaknya bergerak.


Jantung Arya berdegup begitu kuat. Perasaannya semakin campur aduk, bahagia, haru terus menguasainya. Arya semakin tak sabar ingin melihat langsung bagaimana wajah anaknya. Ingin menggendongnya, memeluk juga mengajaknya bermain. Dan itu tak akan lama lagi.


Arya juga Arini masih membutuhkan kesabaran sedikit lagi untuk bisa melihat anaknya sampai hari kelahirannya.


"Te_terima kasih, Dok." Begitu berterima kasih Arya pada dokter, kalau tidak karena jasanya Arya tidak akan melihat anaknya yang masih ada di dalam perut istrinya. Ya meski semua itu juga karena alat canggih yang dokter gunakan.


"Sama-sama, Tuan." Jawab dokter. Bukan hanya dapat melihat anaknya saja yang begitu aktif tapi mereka berdua juga bisa mendengarkan detak jantung anaknya yang lebih cepat di banding dengan detak jantung orang dewasa.


Sungguh bertubi-tubi kebahagiaan mereka berdua. Tak menyangka dari keduanya akan bisa bersatu seperti sekarang ini dan menyampingkan perbedaan juga keegoisan yang ada di antara keduanya.


Perbedaan bukanlah halangan untuk sebuah kebahagian. Selama keduanya ikhlas, saling menerima dengan sepenuh hati maka kebahagiaan akan sangat mudah untuk di dapatkan. Tak ada yang mustahil jika Sang Pencipta sudah menghendaki.

__ADS_1


Kekurangan dalam pasangan di jadikan oleh keduanya sebagai tempat untuk keduanya menutup kekurangan itu. Saling mengisi, melengkapi hingga akhirnya sebuah perbedaan menjadikan sebuah kesempurnaan.


"Terima kasih, Sayang." Begitu berterima kasih Arya kepada Arini. Ternyata kekurangan Arini yang selalu di buat alasan oleh orang lain untuk menjauhinya dan mengejeknya ternyata bisa menyempurnakan kehidupan Arya sekarang.


"Jangan nangis dong, Mas. Nanti anak kita jadi cengeng lagi kalau papanya cengeng begini." Ucap Arini.


"Iya, maaf. Mas hanya terlalu bahagia." Jawab Arya. Senyumnya dia keluarkan dengan tangan yang bergerak cepat mengeringkan pipinya dari air matanya sendiri.


"Nah, begitu dong. Jangan cengeng jadi laki-laki. Masak seorang Arya Gautama nangis." Ledek Arini.


"Iya, tidak akan lagi. Harus selalu tersenyum supaya anak kita juga bisa mencontoh papanya. Papa yang begitu sabar juga murah senyum."


"Hahaha, apa sih." Tawa Arini.


Keduanya seperti tak peduli dengan keberadaan dokter yang terus tersenyum. Iri lah. Seandainya ada juga pasangannya di sana sang dokter pasti akan menyaingi kemesraan dari dua orang ini. Tapi sayang. Hanya bisa tersenyum gagu saja sekarang.


◦•●◉✿"✿◉●•◦


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2