Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
188.Kedatangan Raisa


__ADS_3

Happy Reading...




Rasa bosan lah yang membuat Arini terus menerus meminta untuk keluar, dia ingin sekali melihat apapun yang sudah biasa dia lihat. Tetapi masalahnya Arya sama sekali tak mengizinkannya.



Karena tidak mau Arini sedih dan merasa kesepian membuat Arya memutuskan untuk mengundang Raisa, Arya tau dengan kedatangan Raisa Arini akan ceria. Rasa bosannya akan teralihkan.



"Pak Tuan, kapan mbak Raisa nya datang," Arini sudah sangat tidak sabar, dia terus manyun dengan kini berada di atas sofa. Duduk di sana dengan menyandarkan punggungnya juga tangan yang terus bergerak membuat lusuh bantal kecil di sofa.



Arya yang tengah sibuk dengan laptopnya langsung menatapnya, menghela nafas panjang untuk bisa membuat hatinya lebih sabar saat menghadapi gadis kecilnya itu.



"Sebentar lagi, Arini. Sebentar lagi Raisa akan datang. Bukannya kamu tau sendiri tau aku sudah memanggilnya tadi? jadi bersabarlah sebentar lagi."



Arya berucap dengan sangat lembut, itulah keajaiban Arini. Dia bisa mengubah orang paling kasar, angkuh bin dingin menjadi orang yang hangat juga sangat lembut.



Arini kembali diam, begitu juga dengan Arya yang kembali di sibukkan dengan pekerjaannya yang menumpuk.



Seharusnya Arya mengerjakan semuanya di ruang kerjanya tetapi Arini mengatakan kalau Arya pergi meninggalkannya dia akan pergi keluar dengan diam dan tak akan kembali dan itu berhasil membuat Arya ketakutan.



Arya melihat jam tangannya. Ingin lagi dia mengumpat tetapi di depannya ada Arini pasti dia yang akan mendapatkan ceramah setelah itu.



"Sudah sepuluh menit, selalu saja terlambat," hanya itu saja yang bisa Arya katakan, padahal Arya ingin sekali mengumpat ya sangat banyak, merutuki asistennya yang tidak bisa tepat waktu.



"*Awas saja kau, Toni. Kamu membuat Arini ku menjadi sedih seperti ini. Benar-benar perlu aku lempar ke kantor cabang kamu ya!" batin Arya*.



Arya hanya bisa mengumpat melalui hatinya saja, itupun juga tidak banyak karena Arya mendapatkan tatapan aneh dari Arini. Apakah mungkin gadis kecilnya itu bisa membaca pikirannya? sampai-sampai dia memandangnya sampai segitunya.



"Kenapa, aku tampan ya?" ucap Arya mengalihkan. Di tambah dengan mata genitnya Arini pasti akan langsung membuang muka darinya dan ternyata usahanya berhasil.



Arini langsung melengos.



Melihat Arini yang seperti itu malah membuat Arya semakin gemas, ingin rasanya dia mencubit kedua pipinya tapi pasti tidak akan berhasil.



Meski pekerjaannya belum selesai tapi Arya cepat menutup laptopnya, beralih duduk di sebelah Arini dan memandangi wajah Arini.



"Arini, semakin kesini pipimu semakin gembul saja ya? apakah aku boleh cubit sedikit saja?" tangan Arya sudah terangkat ingin sekali meriah pipi Arini.



*Bugh*...



"Apa-apaan sih, Pak Tuan! jangan sentuh-sentuh ya! kita belum sah, belum halal. Nggak boleh main sentuh-sentuh!" satu pukulan dengan bantal berhasil mendarat mengenai Arya. Bukannya menyesal tapi Arya malah terkekeh geli.



"Kalau begitu, bagaimana kalau kita sah sekarang. Kita datang ke pak kyai dan kita sahkan hubungan kita biar halal. Ya tak apa lah nikah siri dulu setelah itu beberapa hari kemudian kita nikah secara negara. Bagaimana?" tawar Arya.


__ADS_1


"Ogah! Arini nggak mau nikah siri, Arini hanya akan menikah jika langsung sah secara agama juga negara. Arini harus waspada kan? siapa tau, setelah nikah siri lalu pak Tuan meninggalkan Arini, Arini hamil lalu pak Tuan tidak mengakuinya, siapa yang nyesal kalau begitu, pasti Arini kan?" ucap Arini.



"Tidak mungkin lah, aku tidak mungkin melakukan itu. Aku kan sayang dan cintanya cuma sama kamu, hehehe..."



"Masak.."



"Beneran, sumpah deh! nikahnya besok sekarang nyicil toel pipi tak apa ya?"



"Ih.., di kira kredit panci apa! minggir minggir!"



*Tet... tet... tet*...



Bel berbunyi sepertinya orang yang di tunggu sudah datang. Cepat Arya beranjak,


dia siap untuk membuka pintu.



"Tuan, maaf. Saya sangat susah membujuk dia," ucap Toni.



Raisa begitu cemberut, dia sebenarnya tidak mau datang alasan yang di berikan Toni juga tidak masuk akal.



Karena tidak mau, Toni terpaksa menarik paksa Raisa untuk ikut dan itu membuat Raisa menjadi sangat kesal.



"Sebenarnya ada apa sih, Tuan! ini kan sudah bukan jam kerja lagi. Masa iya Raisa harus datang ke sini hanya untuk mencuci satu piring saja, apa Tuan tidak bisa melakukannya sendiri?" seloroh Raisa sangat kesal.




"Apa kamu tidak punya alasan lain untuk bisa membawanya? dasar kau ini." ucap Arya memarahi Toni.



"Maaf tuan, saya sangat bingung tadi jadi saya menggunakan cara itu."



"Sudahlah, cepat masuk! ingat, jangan kegeeran, saya mengundang mu kesini bukan untuk macam-macam," ucap Arya sinis.



"Siapa juga yang kegeeran. Saya juga ogah ngapa-ngapain," jawab Raisa seraya melangkah membuntuti Arya.



*Dugh*...



Raisa menabrak Arya saat dia tiba-tiba berhenti di depannya.



"Berhenti kok nggak bilang-bilang dulu sih, Tuan! tuh kan bengkok hidungku!" protes Raisa.



"Diam, dasar berisik!" Arya menoleh, menatap tajam ke arah Raisa yang sudah memijat hidungnya.



"Noh, lihat! kamu di tunggu seseorang di sana," jari telunjuk Arya menunjuk ke arah Arini yang masih terdiam dan melamun.



Raisa memiringkan kepalanya, matanya terbelalak namun wajahnya bersinar, senyumnya juga langsung memancar.

__ADS_1



"Cungkring..!" teriak Raisa.



Arini menoleh dengan cepat, dia sangat hafal dengan panggilan sayang itu. Itu adalah Raisa,


"Mbak Raisa!" Arini beranjak dia siap untuk berlari menghampiri Raisa.



Raisa juga hendak berlari, dia merentangkan tangan karena ingin memeluk Arini, menyambut tubuh kecil yang sudah menjadi adiknya.



Tetapi baru satu langkah Raisa berhenti. Dia juga cepat memegangi telinga karena di tarik oleh seorang. Raisa menoleh dan dia dapatkan tangan Arya yang sudah bertengger manis di telinganya. Tatapannya juga sangat tajam kepadanya.



"Jangan peluk-peluk. Aku tidak akan mengizinkannya. Yang boleh memeluknya hanya saya saja, bukan orang lain termasuk kamu," ucap Arya.



Benarkah Arya cemburu? tapi masak iya dia cemburu kepada Raisa sih. Dia kan perempuan.



"Dasar bucin!" ucap Raisa dan kesal.



"Bilang apa kamu! katakan sekali lagi maka aku potong telingamu!" ancam Arya sadis.



Benar-benar tak habis pikir si Raisa, bisa-bisanya Arya begitu posesif sekali pada Arini. Cinta memang telah merubah segalanya dalam diri Arya.



"Iya, tidak lagi. Sekarang lepas, Tuan. Telinga Raisa bisa copot!"



"Pak Tuan! lepasin mbak Raisa. Kasian!" kini Arini yang berbicara.



"Tidak! nanti dia memelukmu lagi."



"Pak Tuan, lepasin mbak Raisa!" Arini mulai kesal.



"Tidak, nanti dia..."



"Ihhh..., *pluk*!" Arini sangat geram hingga akhirnya dia sendiri yang memeluk Raisa.



"Arini, kenapa kamu memeluknya. Aku saja belum pernah kamu peluk." Arya cemberut.



"Biarin," Arini menarik Raisa setelah Arya melepaskan tangannya. Arya juga terlihat sangat kesal.



"Sabar, Tuan." Toni berbicara.



"Diam kamu! Kalian berdua sama saja!" ucapnya dengan angkuh, menyamakan Toni juga Raisa yang sama-sama pengganggu menurutnya.



Toni langsung diam tanpa kata lagi, bosnya sedang sensitif jadi tidak baik kalau Toni ikut campur.



""""""

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2