
Happy Reading...
Di dalam pesawat Arya terus diam dengan wajah yang tampak lesu, pikirannya begitu berkelana begitu jauh dan sangat takut kehilangan Arini.
Arya takut jika Arini akan tertarik pada laki-laki lain yang lebih muda juga lebih tampan seperti Ilham yang tadi sempat bertemu sebelum mereka naik pesawat.
Ilham memang sangat tampan dia juga masih lebih muda dari Arya dan itu membuatnya takut jika Arini akan tertarik kepadanya.
Arini yang melihat itu merasa sangat bingung dengan perubahan sikap Arya saat ini, meskipun tangan mereka terus saja bergandengan tetapi mereka tidak saling bicara.
"Mas, ada apa. Apa ada yang mengganggu pikiran Mas?" pertanyaan itu langsung muncul dari Arini seraya memandangi wajah suaminya yang kini hanya melirik kecil ke arahnya.
Bukannya menjawab tapi Arya malah kembali memalingkan wajah membuat Arini semakin bingung. Diraihnya wajah Arya ditarik oleh Arini hingga wajah mereka saling bertemu.
"Apa Mas marah? Apakah Arini memiliki kesalahan?" tanya Arini lagi.
Hatinya sudah begitu gelisah, darah terus berdesir mengalir dengan hangat melihat suaminya yang sepertinya marah kepadanya.
Arya mencoba lagi untuk memalingkan wajahnya namun Arini menahannya dengan sekuat tenaga, "Mas! jangan seperti ini, katakan saja jika Arini memiliki kesalahan, Arini tidak mau didiamkan seperti ini terus, Mas!" Arini terus mendesak.
Dia sangat ingin mendengarkan apa alasan Arya berubah seperti ini. Mata Arini sudah mulai meremang dia mulai mengeluarkan bulir bening yang satu persatu membasahi pipinya.
Arini menunduk tak berdaya, dia begitu sedih tak tahu apa yang harus dilakukan saat ini. Tangannya juga langsung melepaskan wajah Arya dia tak sanggup lagi untuk menahannya dan kini tangisnya pecah dengan kedua telapak tangan menutupi wajahnya.
Rasa cemburu yang begitu besar dari Arya membuat istrinya kembali menangis. Cemburu buta yang menghilangkan akal sehat Arya.
Melihat Arini yang menangis Arya langsung gelagapan dia tersadar bahwa dia telah membuat istrinya sedih. Kini giliran Arya yang meraih wajah Arini dan dengan gerakan tangannya juga menghapus air mata yang membasahi pipinya.
"Loh! kenapa kamu malah menangis?" ternyata Arya belum sadar sepenuhnya kalau dirinyalah yang membuat istrinya menangis.
__ADS_1
"Kenapa Arini menangis? ini karena mas mendiamkan Arini. kalau ada masalah kita bicarakan baik-baik jangan dengan cara seperti ini," ucap Arini tersedu.
"Maaf sayang, maaf," hanya ucapan itu yang keluar dari mulut Arya. Kini dia sadar kalau sikapnya barusan telah melukai Arini.
Direngkuhnya Arini dan langsung dipeluknya dengan erat.
"Terus kenapa mas terus diam seperti tadi apa Arini punya salah?" pertanyaan itu muncul lagi dan membuat Arya melepaskan pelukannya.
Di tatapnya lekat wajah istrinya yang sudah mulai reda dalam tangisan.
"Aku, Aku hanya tidak ingin kamu dekat dengan laki-laki selain diriku aku takut kehilangan kamu Sayang," ketakutan itu terlihat jelas di wajah Arya dan itu sangat terbaca oleh Arini.
Kini Arini sadar kalau kejadian tadi lah yang membuat suaminya seperti ini.
"Mas, cemburu boleh karena cemburu tanda cinta. Tetapi jangan sampai Mas memiliki cemburu buta yang akan membuat rasa kemanusiaan bisa saja hilang. cemburu yang terlalu besar tidak akan membawa hubungan pernikahan akan semakin erat tetapi akan semakin menjauh. Arini tidak mau itu, aku mau pernikahan kita langgeng sampai kita tua nanti," ucap Arini yang kembali dengan sikap kedewasaannya.
Direngkuhnya lagi tubuh Arini dan ditenggelamkan ke dalam pelukannya. Hati Arya begitu tenang sekarang meskipu masih ada rasa takut tapi itu tidak sebesar tadi.
"Mas harus tahu Meskipun banyak kumbang yang ingin hinggap Aku tidak akan pernah membiarkan itu terjadi karena aku sudah memiliki kumbang yang begitu sempurna. Yaitu Mas Arya Gautama, suamiku. Sekarang esok dan selamanya." ucap Arini lagi.
Arya merasa terenyuh, ternyata usia tidak bisa menjamin kedewasaan seseorang nyatanya usianya lebih banyak dari Arini tetapi kedewasaannya Arya kalah dari istrinya. Sungguh memalukan.
Akhirnya masalah terselesaikan dan mereka berdua kembali tersenyum. Berkali-kali Arya menghujani kecupan ke puncak kepala istrinya dia begitu bahagia setelah mendengarkan penuturan dari istrinya barusan.
Keduanya kembali duduk dengan tenang dengan Arini menyandarkan kepalanya di bahu suaminya.
"Tapi setelah dipikir-pikir laki-laki yang bernama Ilham tadi cukup tampan juga," Arini kembali berucap dan seketika membuat mata Arya mendelik dengan tubuh tegang dan melihat ke arah istrinya yang terlihat cengengesan.
__ADS_1
"Mulai berani ya memuji laki-laki lain di hadapan suaminya sendiri," ucap Arya dan Arini semakin tertawa lebar.
"Nakal ya, kamu harus mendapatkan hukuman sekarang," tangan Arya langsung bergerak untuk menggelitik pinggang Arini hingga membuatnya terpingkal.
"Mas, geli! lepasin! hahaha..." Arini tak mampu menahan tawanya dan kini membuat Arya juga ikut tertawa.
"Ayo minta maaf! kalau tidak aku tidak akan berhenti," ancam Arya.
"Ya, maaf maaf!" langsung saja Arini meminta maaf kepada Arya.
Mendengar permintaan maaf dari Arini Arya langsung melepaskannya dan saat itu Arini seketika ambruk di dalam pelukannya dengan nafas yang terengah karena lelah tertawa.
"Aku tidak menerima kata maaf tanpa tindakan yang nyata," Arya memasang wajahnya dengan amarah membuat Arini mengangkat wajahnya untuk melihat.
"Tindakan nyata, maksudnya?" Arini bingung dia tidak mengerti apa yang diinginkan oleh Arya.
"Tindakan nyata itu seperti ini sayang," kedua tangan Arya mengapit wajah Arini, mendekatkan wajahnya sendiri dan mengecup bibir Arini dengan sangat lembut.
Untung saja mereka berdua berada di tempat VIP jadi tidak ada orang yang melihat apa yang mereka lakukan sekarang.
Setelah lama Arya melepaskan bibirnya, menatap lekat wajah Arini dengan mata yang penuh harap.
"Jangan pernah memuji laki-laki lain lagi karena yang pantas kamu puji adalah suamimu sendiri, dan juga jangan pernah mendekati laki-laki lain karena aku tidak Ridho," ucap Arya.
Arini mengangguk dia mengerti apa yang diinginkan suaminya, padahal tadi yang dia lakukan juga hanya untuk bergurau saja. Arini Mana mungkin melakukan itu berpikir saja tidak pernah terlintas di kepalanya.
"Tidak akan Mas, hati Arini dan semua yang ada dalam diriku semua sudah menjadi milikmu dan akan selalu seperti itu. begitu juga dengan semua yang ada pada mas, semua adalah milikku," jawab Arini.
__ADS_1
\`\`\`\`\`\`\`\`\`\`\`\`\`\`\`\`\`\`\`
Bersambung....