Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
148. Rasa yang terbalas


__ADS_3

Happy Reading....



Begitu takut juga sangat gelisah si Arya dengan keadaan Arini hingga dia terus berlari sembari menggendong Arini. Arya tak peduli lagi dengan acara yang belum selesai saat ini karena baginya adalah Arini yang lebih penting dari segalanya.



Mereka tak hanya berdua saja kerena ada Raisa juga yang sama-sama sangat mengkhawatirkan Arini dan sekarang dia juga ikut mengejar Arya yang terus membawa gadis kecil yang sudah seperti adik baginya.



Dalam keadaan sangat lemah mata Arini terus memandangi bagaimana wajah Arya sekarang. Wajah yang sangat terlihat kalau Arya benar-benar mengkhawatirkan Arini.



Antara canggung, tak enak juga sangat takut Arini hanya terus diam tanpa berkedip, dia hanya pasrah Arya akan membawanya kemana karena dia sendiri juga sangat tak kuasa untuk melawan.



Sampai di kamar Arya dia menurunkan Arini dengan sangat pelan dan saat itu tak ada angin tak ada hujan Arini malah meneteskan air matanya.



Arya yang melihat bertambah panik dia sangat takut kalau ada yang sakit di bagian tubuhnya.



''Arini, apa ada yang sakit?'' tak ada keraguan untuk Arya menyentuh wajah Arini, menghapus air mata yang masih saja terus mengalir membasahi wajah Arini.



Arini menggeleng, tak ada yang sakit di manapun melainkan hati Arini terdapat rasa antara bahagia, haru juga sedih yang bercampur aduk menjadi satu.



Perasaan nyaman dan merasa bahwa dirinya telah di lindungi oleh orang yang dulunya asing dan sekarang bagaikan seorang malaikat penolong yang di kirimkan oleh sang tuhan untuk nya.



Melihat Arini yang tak menjawab dan malah terus menangis membuat Arya juga meneteskan air matanya. Rasa sakit yang mungkin Arini rasakan kini seolah tersalur ke dalam tubuh Arya juga.



''Apa sangat sakit?'' kamar yang tadinya penuh kebahagian Arini dengan segala usahanya untuk membuat hadiah untuk Arya kini berubah menjadi kamar yang terasa penuh dengan keharuan dari air mata keduanya yang terus mengalir dengan bersamaan.



''Arini tidak sakit kok, Pak Tuan. Tetapi Arini hanya sedih karena selama hidup tidak ada orang yang perhatian kepada Arini, tidak ada yang menyayangi Arini, apalagi peduli dengan keselamatan Arini, tidak ada.''



''Tetapi sekarang Pak Tuan datang dan selalu menjadi malaikat untuk Arini. Selalu memperhatikan Arini dan selalu ada untuk Arini. Ya, meski Pak Tuan suka nyebelin tapi ternyata begitu baik.''



Tangis semakin tak bisa Arini kendalikan dan terus bersuara di sela-sela perkataan yang juga terus keluar dari mulut Arini.



''Jangankan untuk peduli atau menolong menganggap Arini ada saja tidak mereka lakukan, mereka selalu membuat Arini sedih juga sakit hati tapi Arini tidak suka menangis hanya kali ini Arini kembali nangis lagi dan itu semua karena Pak Tuan.''



Sebenarnya apa yang Arini katakan adalah kata yang membuat Arya merasa kesal tapi kenapa dia tetap tidak bisa marah padanya, bahkan rasanya dia ingin terus menangis karena ikut merasakan derita yang begitu besar yang Arini dapatkan dalam perjalanan hidupnya.



''Apakah Pak Tuan akan meninggalkan Arini sama seperti mereka semua? apakah Pak Tuan akan membuat Arini sedih sama seperti mereka semua?''



Jelas Arya menggeleng dia tidak akan pernah ada pikiran untuk menyakiti Arini. Mungkin dulu memang iya, tetapi sekarang? Arya hanya menginginkan kebahagian Arini saja dan akan selalu dia usahakan.



Arya ingin mengubah kehidupan Arini yang dulu seperti sebuah neraka dan mengubahnya sekarang membuat kehidupan Arini selayaknya sebuah surga.



''Aku tidak akan meninggalkanmu, aku akan selalu ada untukmu kapanpun disaat kau membutuhkanku ataupun tidak. Aku akan selalu datang.''

__ADS_1



Arya pun tak dapat menahan air mata yang tak pernah keluar bahkan tak ada yang mempercayai kalau Arya mempunyai air mata.



Tangan Arini begitu gatal ingin sekali mengusap air mata Arya bahkan kini sudah mulai terangkat. Tangan Arini sudah gemetar sebelum telapak tangan berhasil menyentuh pipi Arya dan kini kembali dia turunkan.



Arya yang melihat hanya bisa diam memaklumi itulah salah satu yang membuat Arya menjadi tertarik kepadanya.



Tak bisa menggunakan telapak tangannya sendiri Arini meraih hijabnya dan dia gunakan untuk menghapus air mata Arya.



Mata Arya perlahan terpejam saat hijab yang Arini pegang berhasil menyentuh pipinya. Di rasakan nya perasaan yang sangat menenangkan untuk Arya, ketulusan yang tak pernah dia rasakan sebelumnya.



Arya begitu menikmati sentuhan itu hingga akhirnya dia benar-benar tak bisa berkata-kata lagi, jantungnya berdetak dengan cepat lagi.



Di bukanya perlahan matanya, memandangi Arini yang sama terpaku dalam kegiatannya.



"Jangan menangis, kalau Pak Tuan menangis Arini akan berdosa karena membuat Pak Tuan menjadi sedih. Jangan menangis lagi," ucapnya yang begitu lirih.



"Tidak, aku tidak menangis." Cepat Arya mengusap pipinya, mengeringkan sisa-sisa yang sudah Arini keringkan.



"Sekarang ganti bajumu, jangan sampai kamu sakit. Aku juga akan mengganti bajuku di kamar sebelah." Arya perlahan beranjak.



Senyum terakhir Arya tinggalkan untuk Arini yang tentunya di balas dengan hal yang sama.




Arya kembali menoleh setelah sampai di belakang pintu, masih ada yang tersisa yang ingin dia katakan.



"Arini... " Dan Arini seketika memandanginya.



"Aku..., aku..., I Love You..." ucapnya.



Arini terdiam antara bingung juga tersipu. Apa yang akan dia jawab untuk tiga kata sakral itu. Benarkah Arini harus menjawabnya?



Arya masih diam menunggu.



Terlihat ada harapan besar di matanya, Arya untuk mendengarkan jawaban dari mulut Arini sekarang.



Lama tak ada jawaban apapun, bahkan Arini kini menunduk tak melihat Arya sama sekali.



Mungkin memang belum saatnya bagi Arya mendengar jawaban itu dan kini Arya kembali memalingkan wajahnya lalu berjalan.



Tangan sudah berhasil menyentuh handle pintu, Arya benar-benar akan keluar.

__ADS_1



"I Love you to," Jawaban yang begitu lirih dari bibir Arini sendiri namun tetap bisa di dengar oleh Arya.



Arya kembali menoleh dia tersenyum, dia sangat bahagia, rasanya telah terbalas.



"Sa-saya akan ganti baju." ucap Arya gugup bahkan pergerakannya menjadi bermasalah sampai-sampai Arya hampir saja kejedot pintu karena dia pikir tadi sudah dia buka dan ternyata belum. "Hehehe.. " Arya terkekeh canggung.



Arini tertawa geli melihat Arya, "benarkah aku mengatakan itu?" gumam Arini.



Di saat Arya keluar ternyata sudah ada Raisa di depan pintu yang pasti juga ada Toni di sana.



Terlihat jelas kalau Arya begitu senang saat keluar dan itu juga tidak terlepas dari mata Raisa juga Toni. Tak mau ketahuan Arya langsung mengganti ekspresinya dengan dingin seperti biasa.



"Tuan, saya sudah mendapatkannya. Ini adalah rambut Arini." Raisa langsung menyodorkan sapu tangan biru, dia tak mau membuang-buang waktu lagi bukankah lebih cepat lebih baik kan?



"Terimakasih," Arya juga menerimanya dengan senang hati.



"Toni, ini adalah kerjaan yang kemarin saya bicarakan. Saya menginginkan informasi secepatnya." Arya menyerahkan sapu tangan itu kepada Toni.



"Baik Tuan. Dan ini? Ini adalah hadiah dari Arini untuk Anda Tuan. Dan inilah yang di rebut oleh orang tadi dan dia buang ke kolam."



"Apa kamu menemukan orang itu?"



"Masih dalam pengejaran, Tuan."



"Hem.. tangkap dia dan pastikan dia mendapatkan ganjaran yang setimpal."


Arya mulai melangkah pergi dia juga sudah mulai kedinginan. Sekaligus Arya sudah sangat penasaran dengan hadiah yang Arini berikan padanya.



Mereka bertiga pergi ke tempat tujuan masing-masing, Arya ke kamarnya, Raisa masuk ke kamar Arini sementara Toni pergi untuk menjalankan tugasnya.



Arya baru saja keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang hanya melilit di perutnya saja yang menutupi kepolosan tubuhnya.


Dia langsung menuju meja, mengambil kotak hadiah dari Arini lalu membukanya. Barang pertama yang dia dapatkan adalah sebuah tasbih, Arya tersenyum mengamati.


Barang selanjutnya adalah kalung yang memiliki permata biru yang begitu indah dengan desain yang sangat luar biasa.


Dan, yang ketiga adalah sapu tangan yang basah namun tertulis nama dirinya di sana. Arya kembali tersenyum. Tapi di antara ketiga hadiah itu kalung lah yang paling mencolok Arya terus mengamatinya.


"Benarkah ini asli?"


Tok tok tok....


Cepat Arya kembali memasukkannya menyimpan di laci sebelum dia keluar.


"Siapa kamu?" Arya mengernyit melihat pelayan laki-laki yang sama sekali belum pernah Arya lihat.


"Saya pelayan, Tuan. Saya hanya di minta untuk mengantarkan teh hangat ini." ucapnya begitu sopan.


"Hem..." Arya menerimanya dengan cepat, dia kembali menutup pintu dan kembali masuk.


"Tugasku beres," pelayan itu menyeringai, dia senang karena telah berhasil entah apa yang dia rencanakan.

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2