Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
107. Keisengan Arya


__ADS_3

◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦


_________


Menjelma menjadi gadis pendiam kali ini Arini membuat Arya mengernyit bingung. Apa yang terjadi padanya sejak keluar dari desa Mekar Arini terus diam tak sedikitpun mengatakan sepatah kata.


Arini hanya diam namun matanya begitu menikmati keindahan pemandangan yang di lewati. Keindahan semua tempat mengalihkan kekesalannya terhadap Arya yang sekarang bergantian kesal.


Meski dalam mobil mereka berdua tapi Arya seperti sendiri, Arini hanya bagaikan patung hidup, bergerak, bernafas tapi tak mengatakan apapun.


"Arini, apa kamu tiba-tiba sakit gigi? " tanya Arya. Tangannya terus fokus dengan setir sementara matanya juga fokus ke arah jalan namun sesekali dia juga melirik ke arah Arini yang sama sekali tak peduli.


Arini masih diam tak menjawab bahkan dia sama sekali tak menoleh. Hati Arya semakin dongkol, kesal juga geregetan. Dia sengaja meninggalkan Toni supaya dia bisa berdua saja dan mengobrol dengan Arini tanpa ada gangguan tapi sekarang?


"Arini, kalau tidak mengatakan apapun aku akan kembali ke hutan," ancamnya.


Arini menoleh dengan dengan malas.


"Apa sih, Pak Tuan. Arini lagi malas ngomong," suaranya terdengar sangat malas di perjelas lagi dengan wajahnya yang berkedut. Hanya itu yang menjadi jawaban Arini dia kembali menoleh lagi ke arah jendela.


Arini terkesiap dia mengingat sesuatu.


"Pak Tuan! " panggil Arini dengan begitu antusias, dan seketika Arya menghentikan mobilnya dan menoleh. Tangan Arini mengeluarkan ponsel yang ada di tasnya entah apa yang ingin dia tanyakan.


"Ponselmu menyala?! " mata Arya terbelalak.


Arini menyalahkan ponselnya dan ternyata memang masih menyala,"iya."


𝘗𝘭𝘢𝘬𝘬....


Arya menepuk jidatnya sendiri. Benar seperti di permainkan si Arya, kalau ponselnya masih menyala kenapa tidak mengatakan sedari kemarin saat ada di hutan?


"Pak Tuan kenapa? " tanyanya bingung tentunya dengan wajahnya yang bodoh.


"Kenapa tidak kau katakan dari kemarin kalau ponselnya masih menyala. Apa kamu memang sengaja tidak mengatakannya supaya aku bisa menggendong mu? Hah! " kesal kan sekarang si pak Tuan.


"Iya juga ya, kenapa Arini tidak ingat dari kemarin. Dasar bodoh bodoh.. " Arini memukuli kepalanya sendiri karena kebodohannya. Kenapa tidak dari kemarin dia ingat kenapa baru sekarang dia ingat.


Arya menutup wajahnya dengan kelima jari-jarinya. Hadeuh..., sungguh terlalu emang.


"Terus sekarang apa yang mau kamu tanyakan?" hembusan nafas panjang keluar bersamaan dengan kata tanya yang Arya lontarkan.


"Hehehe..., Arini..," Arini menunduk malu namun dia masih terus meringis.


"Apa, hem..? " Arya semakin tak sabar, sebenarnya apa yang ingin Arini tanyakan padanya.


"Pak Tuan, Arini belum bisa menggunakan ponselnya dengan benar Arini juga belum tau apa kegunaan semuanya. Tapi..., tapi Arini pengen foto Arini bisa ada di layar ponsel ini biar sama seperti punya mbak Raisa," ucap Arini menjelaskan.


Sudah beberapa hari ponsel itu ada di tangan Arini tapi dia sama sekali belum mengetahui semua kegunaan dari aplikasi yang berderet di sana. Bahkan hanya untuk berfoto dan menjadikan wallpaper saja Arini tidak bisa.


Jiwa iseng Arya mulai tumbuh lagi, ujung bibirnya terangkat seiring dengan apa yang ada di dalam otaknya.

__ADS_1


"Kamu mau fotomu jadi wallpaper kan? " tanya Arya dan Arini mengangguk tapi sedetik kemudian dia bingung.


"Wallpaper itu apa? "


"Astaga, lupa aku kalau aku bicara dengan orang bodoh. Sini ponselnya! " tangan langsung merebut ponsel yang berada di tangan Arini tanpa dia menjelaskannya. Sepertinya Arya sedang tak mau bicara panjang kali ini.


Arya menggulir layar ponsel dia sentuh di gambar kamera. Padahal Arini pengen di ajarin tapi Arya malah asyik sendiri.


Wajah Arya mendekat ke wajah Arini sontak membuat Arini menjauh.


"Mendekat lah, kalau tidak fotonya tidak akan jadi," ucap Arya.


"Benarkah? tapi pak Tuan nggak harus deket-deket kan sama Arini. Arini kan risih," jawabnya dengan jelas.


Astaga, bener-bener ingin Arya menelan Arini hidup-hidup kalau bisa. Risih darimana coba, ketampanannya sangat paripurna bahkan bisa di katakan sangat sempurna, bagaimana mungkin Arini merasa risih saat dia mendekatinya.


"Emangnya aku apaan sampai kamu risih padaku?! Cepat mendekat! Kalau tidak aku tak akan mengajarkanmu! " kesal hati Arya.


"Apakah harus deket-deket juga? "


"Ish.., kelamaan. Cepat! " tanpa meminta persetujuan Arya langsung menarik lengan Arini membuat gadis itu terhuyung dan hampir menubruk Arya. Sepertinya memang niat banget si tuan Arya.


Tangan Arya mulai terangkat ke arah depan wajah mereka berdua, dan seketika wajah Arini dan Arya masuk di dalamnya.


"Ih.., Arini masuk ke ponsel!" Arini sungguh kegirangan saat melihat dirinya yang masuk ke dalam ponsel, ini adalah pengalaman pertama untuk Arini, sebenarnya juga untuk Arya. Karena Arya juga tidak pernah berfoto sama sekali meski menggunakan ponselnya sendiri. Tak ada satupun fotonya di ponsel miliknya dan isinya semua hanya tentang pekerjaan.


"Fokus, tersenyum yang benar," ucap Arya.


"Mau foto atau tidak! Kalau tidak kita jalan lagi, buang-buang waktu saja kapan kita akan sampai rumah," Arya pura-pura kesal.


"Jadi-jadi! " teriak Arini. Rasa penasarannya sudah sangat besar dan semua sudah di depan mata. Sebentar lagi dia bisa melihat wajahnya ada di layar ponselnya jadi bagaimana mungkin dia akan mundur, "tapi pak Tuan jangan deket-deket ya. "


"Iya," jawabnya dengan cepat dan singkat.


Arini kembali mendekat dia menatap layar ponsel itu dengan sangat senang bahkan dengan senyuman yang begitu manis karena Arini mau dia bisa terlihat fotonya yang sangat manis.


"Fokus ya, jangan lupa senyumnya. Kalau tidak kamu hanya akan seperti ondel-ondel," gurau Arya.


Sekate-kate pak Tuan kalau ngomong, iya kali wajah Arini sama seperti ondel-ondel.


Satu..., dua..., tiga...


𝘊𝘶𝘱... 𝘒𝘳𝘪𝘬...


"Pak Tuan! " teriak Arini. Arini juga langsung mendorong tubuh Arya. Arya sungguh mengambil kesempatan dia mengecup pipi Arini bersamaan dengan jepretan dari ponselnya. Naas, foto yang jadi adalah saat Arya mengecup pipi Arini dan Arini tengah tersenyum begitu manis, cerdas bukan Tuan Arya.


Tangan Arini langsung mengelap pipinya dia juga terus beristighfar namun dengan wajah kesal. Ternoda sudah pipi Arini karena perbuatan Arya, "pak Tuan keterlaluan! " sungut Arini.


Arya diam tak menanggapi namun dia hanya tersenyum penuh kemenangan. Tangannya terus sibuk dengan ponsel Arini mengutak-atiknya, entah apa yang dia rencanakan sekarang.


"Nih, aku tidak berniat mengajarkanmu! " Arya mengembalikan ponsel Arini dengan cepat tangannya kembali menyalakan mesin mobil dan kembali melajukan lagi.

__ADS_1


Dengan wajah kesal Arini menerimanya dia juga tak ada niat untuk membukanya dan langsung memasukkannya lagi ke dalam tas. Arini sudah terlanjur kesal dia tak mau tau lagi tentang ilmu foto dengan kamera. Masa bodoh dengan wallpaper yang dia inginkan.


Keduanya kembali diam, tak ada suara bahkan perut mereka pun juga tidak hanya suara hembusan nafas mereka berdua yang terus bersahut-sahutan.


Setelah perjalanan panjang akhirnya mobil sampai di depan rumah kakek Susanto dan waktu pun juga sudah malam. Arini sudah tidak sabar ingin secepatnya menemui kakek neneknya.


Suara mobil yang ada di depan rumah membuat Susanto keluar sekedar memastikan dia sangat berharap bahwa itu adalah Arini. Dan ternyata adalah benar.


"Kakek..! " teriak Arini. Dia berlari setelah melihat Susanto yang keluar dari rumah.


Arya pun juga ikut turun, membuat Arini kembali was-was semoga tidak ada rencana buruk lagi.


"Arini, kamu darimana saja, Nak. Kakek sangat mengkhawatirkan mu. Kamu tidak apa-apa kan? Kamu baik-baik saja kan? " tanya Susanto yang sungguh khawatir.


"Kamu darimana saja? " imbuhnya lagi.


"Maaf, itu..., hem..? Eyang saya sedang tidak enak badan. Dan dia meminta Arini untuk menemaninya. Maaf karena tidak sempat izin kepada Anda," Sungguh lemes amat mulut pak Tuan. Lagi-lagi dia berdrama dan mengatakan kebohongan padahal Arini baru saja mau berkata jujur.


"Apa itu benar, Arini? " Susanto menoleh ke arah Arini, menelisik untuk mengetahui kebenarannya.


"I-iya, Kek. " Terpaksa Arini juga berbohong karena mendapatkan tatapan tajam dari Arya. Dia harus menurut padanya kalau tidak mungkin hutangnya akan kembali bertambah.


"Maaf, saya harus pulang. Saya harus kembali menunggu eyang saya," pamit Arya.


Ternyata apa yang Susanto dengar itu salah, Arya bisa lembut dalam tutur katanya tak seperti yang dia dengar bahwa Arya begitu sombong juga angkuh.


"Terimakasih, Pak Tuan," ucap Arini.


Arya kembali menoleh dia tersenyum kecil. Setelah beberapa saat dia kembali berjalan namun terlihat ada smirk aneh yang keluar dari bibirnya.


"Sekarang kita masuk, kamu bersih-bersih lalu istirahat. Kamu pasti sangat lelah," ucap Susanto.


"Iya, Kek." jawab Arini patuh.


/////


𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨... 𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨... 𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨...


Arini buru-buru mengambil ponselnya saat berdering, padahal dia baru saja ingin pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih.


Baru saja mau di angkat suara itu hilang sepertinya sudah di matikan. Tapi Arini sudah terlanjur memegangi ponselnya.


Arini begitu terkejut saat melihat layar ponselnya yang telah berganti. Awalnya yang hanya gambar siluet senja sekarang telah menjadi gambar dirinya juga Arya, dan yang membuat Arini ternganga adalah foto itu terlihat bahwa Arini begitu bahagia saat Arya mengecup pipinya.


"Astaghfirullah hal 'azim...! " pekik Arini dan reflek melempar ponselnya ke atas kasur


/////


Bersambung...


__________

__ADS_1


__ADS_2