Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
137.Permainanmu Sendiri


__ADS_3

Happy Reading...


__________


Dimas sudah mulai bersiap-siap untuk berangkat ke puncak, meski masih pagi tapi dia memang akan berangkat lebih awal. Dimas tidak mau kalau dia terlambat sampai puncak dan akan ketinggalan acara ulang tahun Arya.


Sebenarnya acara akan mulai di lakukan malam hari tapi Dimas juga mau menikmati daerah pegunungan yang sangat asri.


"Kamu sudah mau berangkat, Dim?" Tiba-tiba Hendra masuk dan berhasil mengejutkan Dimas yang tengah berkemas.


"Iya, Pa. Jam segini jalanan juga masih sepi kan, Pa." jawab Dimas.


"Pa, Dimas titip Mama ya. Mungkin Dimas baru pulang besok." imbuhnya.


"Hem...," Hendra mengangguk, "kamu tenang saja, Papa akan selalu menjaganya." Hendra duduk di kasurnya Dimas memperhatikan anaknya yang masih berkemas.


"Dim, apakah Arini ikut juga?"


Dimas menghentikan kegiatannya memandangi Hendra sembari mengangguk pelan.


"Entah kenapa Papa begitu merindukan anak itu. Hem..., besok ajaklah ke rumah kalau sudah pulang."


"Papa, tidak naksir pada seorang gadis kan? Papa tidak berniat untuk menduakan Mama kan?" Dimas merasa heran saja, kenapa juga papanya begitu merindukan Arini sama seperti dirinya.


Kalau Dimas lumrah karena dia masih lajang tapi kalau Hendra? Dia kan sudah beristri ya meski istrinya tengah sakit sih. Tetapi tidak seharusnya Hendra memiliki pemikiran seperti itu kan?


"Apa sih, Dim? Merindukan seseorang bukan berarti naksir kan? Hem..., Papa jadi curiga, Jangan-jangan kamu takut kalah saingan sama Papa. Iya tidak?" gurau Hendra.


"Apa sih, Pa!" Dimas melengos dia beralih ke tempat lain untuk mengambil barang-barang yang masih belum dia siapkan sebelumnya.


Hendra terkekeh melihat tingkah anaknya yang seolah malu-malu, mungkin benar kalau Dimas menyukainya dan itu sangat bagus menurutnya, Hendra juga akan sangat mendukungnya.


Tetapi Hendra tau kalau itu tidak akan mudah, saingan Dimas sangat kuat dan bukan orang biasa siapa lagi kalau bukan Arya.


"Dim, apakah kamu tau hubungan Arya dengan Arini? Apakah kamu tidak merasa cemburu kalau mereka dekat?" tanya Hendra.


Dimas kembali terdiam, dia memang tidak suka melihat Arini juga Arya saat mereka bersama tapi kenapa rasanya sangat aneh. Dia tidak suka itu tapi rasanya itu bukan sebuah kecemburuan, melainkan tidak rela kalau Arini dekat dengan Arya karena dia takut Arini akan menjadi korbannya Arya.


"Dimas tidak tau, Pa." Dimas kembali melangkah, memasukkan lagi barang-barang yang ada di tangannya.


Selesai dengan semua barang-barangnya Dimas menutup kopernya dia juga cepat pamit karena tidak mau kalau sampai kelamaan berbincang-bincang dan dia akan kesiangan, takut macet lebih tepatnya.


"Berangkat dulu, Pa. Assalamu'alaikum.." Dimas mulai melangkah setelah menyalami Hendra. Tangannya menarik koper untuk membawanya keluar dari kamar.


"Wa'alaikumsalam... hati-hati, Dim. Jangan buru-buru waktu masih panjang. Dan ya, kirim salam untuk Arini, juga tolong berikan hadiah Papa untuk Arya."


"Baik, Pa."


__ADS_1


Berputar-putar Arya mencari kemana Arini pergi, dia juga sudah melangkah begitu jauh dari villa tapi belum juga menemukan Arini padahal kakinya juga sudah mulai lelah.



"Sebenarnya Arini pergi ke mana sih!" Satu tangan berkacak pinggang sementara satunya mengacak rambutnya dengan tak sabar. Arya begitu sangat pusing, dia frustasi karena tak kunjung menemukan Arini.



Arya kembali berjalan dia juga tak henti-hentinya celingukan siapa tau dia bisa menemukan Arini dengan cepat.



Arya mengernyit saat melihat ada Melisa yang berjalan tak jauh dari dirinya. Apa yang dia lakukan di di sana sekarang juga mau pergi kemana dia seorang diri.



Pikiran Arya tidak enak setelah melihat Melisa yang terlihat buru-buru entah siapa yang dia kejar sekarang dan Arya harus cepat mengetahuinya jangan sampai Melisa melakukan hal buruk kepada Arini seperti biasa.



"Ini tidak bisa di biarkan."



Langkah berlomba dengan senyuman sang surya yang mulia menampakan diri. Sinarnya mulai terlihat terang menghiasi pagi yang begitu indah tanpa ada sedikitpun awan yang menjadi bunga di pelataran senja.


Tangan Arini juga terus bergerak, dia sedikit eksis pagi ini, dia terus menggerakkan ponsel mahalnya untuk mengambil foto-foto dirinya untuk mengabadikan.


Arini tersenyum senang di kala berhasil mengambil foto yang sangat indah dengan latar pemandangan.


"Subhanallah, sungguh sempurna ciptaan Allah. Tak ada cacat sama sekali. Sudah lama tidak pernah menikmati udara pagi yang begitu sejuk dan indah seperti ini di kota mana ada?" ucapnya.


Arini kembali melangkah, dia berlari naik di salah satu tebing yang terdapat pohon di sana. Sinar surya yang baru muncul akan terlihat dari sana.


Arini merentangkan tangan menutup mata menikmati hembusan angin yang masih sangat dingin. Berdirinya juga menghadap sang surya dan saat surya itu benar-benar keluar langsung mengenai tubuhnya.


Hangatnya matahari menyentuh Arini yang kini menutup mata, terasa sangat menenangkan.


Di bawah arah belakang Arini sudah berdiri gadis yang sangat membencinya, dia menyeringai begitu senang. Posisi Arini akan sangat menguntungkan untuk Nadia.


"Baik-baik di sana Arini. Sebentar lagi aku akan bantuin kamu untuk turun dari sana." ucapnya.


Akal waras Nadia sudah menipis sekarang atau mungkin memang tidak punya kewarasan? Sampai-sampai dia berniat buruk pada gadis yang sesederhana seperti Arini.


Nadia mulai naik, dia diam tak bersuara tak ingin sampai Arini menyadari akan kedatangannya.


"Sudah bosan hidup ya?" celetuk Nadia.


Seketika Arini membuka matanya, menurunkan kedua tangan sembari memutar tubuhnya. Arini terkejut dengan kedatangan Nadia di sana.

__ADS_1


"Mbak, Mbak Nadia di sini juga?!" Meski ada was-was tapi Arini tetap bertanya dengan biasa-biasa saja, dia juga tidak mau berpikir negatif karena kedatangan Nadia.


Tak mungkin kan Nadia akan melakukan keburukan kepadanya, pikiran Arini yang begitu polos meski dia sudah melihat ekspresi wajah Nadia tapi tetap saja dia tidak mau memiliki prasangka buruk.


"Mbak Nadia datang untuk melihat matahari terbit juga?" tanya Arini lagi tapi Nadia tetap saja menyeringai sinis.


"Tidak, aku datang kesini untuk..." Nadia berjalan semakin mendekat tapi Arini masih biasa-biasa saja.


"Saya kesini untuk membantumu..., membantumu turun... Hahaha...!" Dengan sengaja Nadia mendorong Arini hingga dia terjatuh.


"Akk...!"


"Mbak! Tolong Arini, Arini akan jatuh! Mbak...!" untung saja tangan Arini langsung meraih akar besar yang menggelantung di tebing itu kalau tidak mungkin Arini sudah terjun bebas.


Arini sangat ketakutan, matanya melihat bawah dan tebing itu cukup tinggi jika Arini jatuh mungkin dia bisa saja mengalami patah tulang kalau tidak mungkin dia bisa mati.


"Mbak, tolong Arini. Mbak!" Arini begitu memohon.


"Tolong nggak ya? Hem..., maaf ya, saya? saya ada kerjaan penting. Saya akan mendapatkan hati Arya. Dah.. Arini.. Selamat berjuang." Nadia melambaikan tangan sembari membalikan badannya dia sudah sangat puas.


"Mbak..! tolong Arini..! Jangan tinggalkan Arini, Arini takut! Mbak...!" Arini sudah sangat ketakutan bahkan dia juga sudah menangis dengan terus bergelantungan di tebing.


"Ya Allah, tolong Arini." ucap Arini sembari sesenggukan, "Mbak..!"


Sementara Nadia yang hendak turun dari tebing itu di hadang oleh Melisa. Melisa tersenyum, dia juga bertepuk tangan karena dia melihat semua adegan yang di lakukan oleh Nadia kepada Arini.


"A-apa yang kamu lakukan di sini?" Nadia begitu gugup bertanya.


"Tidak aku sangka kalau perempuan yang aku kira perempuan terhormat tega melakukan hal keji kepada gadis tak tak berdosa," Melisa mengambil ponsel yang sempat dia kantongi dia perlihatkan pada Nadia.


"Ck... Ck... Ck..., apa mungkin keluarga Tuan Arya masih mau menerima perempuan jahat sepertimu setelah melihat ini? Hem... Tidak!" Melisa begitu sinis.


"Ka-kamu..., jangan main-main ya!"


"Saya tidak main-main, karena ini bukan permainanku. Kamu yang membuat permainan ini, kamu yang memulai dan kamu juga yang harus menyelesaikannya. Aku hanya tinggal menambah sedikit bumbu saja supaya permainan ini menjadi lebih menarik."


"Apa yang mau kamu lakukan!"


"Yang mau aku lakukan? Hem..., tidak banyak. Hanya mengirim video ini saja ke semua anggota keluarga Tuan Arya, termasuk Tuan Arya. Kalau kamu..., kamu telah mendorong Arini hingga masuk ke jurang."


"Apaa! Arini masuk jurang!" Pekik Arya.


////////


Bersambung...


______


******

__ADS_1


__ADS_2