Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
196.Acara Selanjutnya


__ADS_3

Happy Reading...



Mata terus melihat pelataran sepi, berdiri seorang diri di temani dengan rasa bersalah yang belum juga hilang bahkan tak mau pergi sama sekali.



dua tangannya berada di atas pagar besi yang tingginya sebatas perutnya saja. Mulut tak dapat berbicara karena terasa begitu kelu, tapi matanya terlihat jelas kalau begitu banyak duka juga rasa bersalah yang dia pendam.



Di keramaian dia tak mampu melihat keharuan yang datang karena bersatunya lagi sahabatnya dengan anaknya yang telah lama hilang dan dia pikir sudah tiada. Dia adalah Wiguna, laki-laki itu memilih menjauh dari acara yang sangat meriah yang di buat oleh anaknya.



Dia bahagia, bahkan sangat bahagia karena mereka kembali bersatu lagi. Kebahagiaan sedikit banyak mengobati tapi tetap saja membekas dan tak akan bisa terlupakan semua yang telah terjadi.



Sebesar apapun dia minta maaf gak akan bisa mengganti akan penderitaan yang di alami oleh mereka semua, apalagi penderitaan yang di alami anak itu yang kini sudah menjelma menjadi gadis yang sangat dewasa dan begitu teguh dalam pendiriannya. Bahkan Wiguna harus berterimakasih karena kedatangannya berhasil mengubah anaknya menjadi lebih baik.



"Apa yang kamu pikirkan, apakah kamu tidak ingin melihat anak-anak kita yang tengah berbahagia?" Hendra datang, dia melangkah dengan pelan namun pasti menuju tempat Wiguna berada.



Hendra juga berdiri sama persis seperti Wiguna sekarang, menghadap pelataran dengan menempatkan kedua tangan di atas pagar.



"Bukan hanya kamu yang bersalah, tapi aku juga bersalah. Kita sama-sama bersalah dan kita harus bisa menebus kesalahan kita dengan membahagiakannya. Apakah aku benar?" imbuh Hendra dengan sekali melirik lalu kembali lagi seperti sebelumnya.



"Semua itu tidak akan terjadi jika aku tidak memfitnah Nilam, istrimu. Aku hanya mengatakan apa yang aku lihat tanpa mencari tau akan kebenarannya. Aku lah yang bersalah dalam semua yang telah terjadi," jawab Wiguna.



Hatinya begitu besar di penuhi rasa bersalah, jika dia harus menebusnya pun juga dia tidak akan yakin bisa menggantikan semua yang telah hilang darinya. Dia tidak akan bisa menggantikan semua waktu juga nasib buruk yang di dapat oleh anak gadis Hendra.



"Jika aku bisa menebusnya, dengan apa aku bisa. Aku sangat yakin, sebesar apapun yang aku lakukan tak akan pernah bisa mengembalikan semua yang hilang dari anakmu," imbuh Wiguna.



"Aku tau. Kita tidak akan bisa menebusnya. Tapi tidak salah kan kalau kita memberikan kebahagiaan padanya? mungkin dengan itu kita bisa sedikit mengobati rasa bersalah kita padanya," Hendra menjawab.



"Tapi aku yakin, kita bisa menebusnya," Hendra tersenyum, dia kembali menoleh ke arah Wiguna dan di susul dengan badannya yang berdiri memutar.

__ADS_1



"Maksudmu?" Wiguna mengernyit, dia seketika menoleh melihat Hendra yang kini tersenyum begitu senang.



"Ikutlah dengan ku, dan kamu akan melihat apa yang seharusnya kamu lihat. Dan setelah itu, kamu bisa menentukan apa yang bisa kamu lakukan," Hendra kembali tersenyum.



Hendra langsung melangkah pergi, sementara Wiguna yang tak mau ketinggalan apa sebenarnya yang ingin Hendra tunjukkan padanya dia langsung membuntutinya.



"Lihatlah," ucap Hendra seraya menunjukkan sesuatu pada Wiguna.



"Apakah kamu sudah bisa memikirkan apa yang bisa kita lakukan sekarang?" imbuhnya.



Wiguna masih diam, mengamati dengan seksama apa yang harus dia lihat, "Sepertinya kita memang harus melakukannya," jawab Wiguna.



Alunan lagu romantis terdengar begitu memadati ruangan yang sebenarnya sangat luas, tapi alunannya masih bisa terkalahkan dengan suara dari seorang yang kini tengah berdiri di atas panggung dan terus berbicara dengan menggunakan alat pengeras suara.


Semua tamu undangan duduk anteng di tempat duduk mereka masing-masing, diam mengamati seorang laki-laki yang ada di atas sana. Sesekali mereka berbisik dengan teman satu lingkar meja ada juga yang terus diam tapi ada juga yang bersiul.


Sementara Luna hanya bersama eyang Wati juga Toni saja.


Siapa lagi yang di atas sana selain pembuat acara, Arya Gautama.


Matanya terus menatap arah depan, lebih tepatnya di arah gadis bergaun biru yang mendapatkan pesta kejutan darinya, dia adalah Arini.


''Kau datang bagaikan sebuah lilin kecil di tengah-tengah kegelapan. Memberikan sinar juga memberikan kehangatan di sebuah ruang yang dingin."


"Menunjukkan jalan di saat hati sudah dalam jurang kesesatan, menunjukkan sebuah arti kehidupan sesuai aturan yang benar, juga mengenalkan akan makna cinta yang sesungguhnya yang tak sempat aku pikirkan."


"Hidup yang begitu suram tanpa warna kini berubah begitu indah dengan berbagai warna yang kamu berikan. Jiwamu suci, kasihmu murni dan cintamu akan selalu abadi."


"Kau menjadikanku lebih baik, lebih bertanggung jawab, lebih bijak dalam semua yang ku lakukan, kamu adalah segalanya untukku, untuk masa depanku dan untuk hidup juga mati ku."


Arya menjeda kalimatnya dalam sesaat, di mengambil mic lalu dia mulai berjalan untuk turun dari panggung.


Semua mata terus memandangi Arya, mengikuti kemana dia akan berjalan juga akan berhenti.


"Aku ingin, di tengah-tengah keluarga, saudara, sahabat juga kerabat bahwa aku ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku ingin menjadikan mereka saksi akan keseriusanku padamu." ucapnya yang terus berjalan.


Arini terus melihat Arya, dia sedikit bingung karena Arya berjalan menghampirinya.


Terlihat tangan Arya mengambil sebuah kotak kecil di dalam saku jasnya tapi dia masih terus melangkah.

__ADS_1


Arya berhenti tepat di depan Arini, perlahan dia mengambil posisi yang rendah, dia berlutut hingga dia setengah berdiri di hadapan Arini.


"Pak Tuan," Arini merasa tak enak hati karena Arya berlutut di hadapannya.


Arya tetap tak menanggapi Arini, dia terus sibuk dengan tujuannya.


Tangan kanan terangkat, membuka kotak kecil yang ternyata isinya sebuah cincin yang terdapat permata biru.


"Arini Khumaira, maukah kamu menikah denganku, menjadi wanita satu-satunya yang akan menemani hidup hingga mati ku? Menjadi bagian dari diriku yang tak sempurna? dan menjadi penyempurna hidupku?" ucap Arya dengan sangat serius.


"Aku memang tidak sempurna, karena kesempurnaan bukanlah kekuatanku. Tapi aku akan merasa sangat sempurna jika kamu benar-benar datang di kehidupanku. Menjadi wanita yang halal untukku."


Arini terperangah tak percaya. Di hari paling bahagia di hari ulang tahunnya hari ini dia mendapatkan begitu banyak kebahagiaan. Dia bisa bersatu lagi dengan keluarganya mendapatkan pesta kejutan dari Arya dan sekarang? dia di kamar oleh Arya.


Orang nomor satu dengan segudang kekayaan, ketenaran juga keberhasilan seperti Arya telah melamarnya. Arini tak percaya kalau Arya lebih memilih wanita seperti dirinya yang jauh dari kata sempurna.


"Arini Khumaira, mau kah kamu menikah dengan ku?" ucap Arya mengulang.


"A-Arini...?" Arini mengedarkan pandangannya, melihat ekspresi Nilam, Dimas juga kakek neneknya. Terlihat mereka mengangguk, seperti mereka merestuinya.


Arini terharu, tapi dia sangat bahagia karena yang Arya katakan kemarin adalah benar.


"Arini...? Arini m-ma-u..." Seketika Arini menunduk dia sangat malu pada semua orang.


Tepuk tangan begitu gemuruh bersamaan setelah Arini menyetujuinya, Arini telah menerima lamaran dari Arya.


Arya begitu senang, dia ingin tersenyum tapi dia juga ingin menangis. Rasanya sungguh campur aduk, tak mampu di ucapkan dengan kata-kata lagi.


"Tidak!"


Semua menghentikan suara mereka. Semua juga langsung diam setelah suara teriakan begitu keras.


Arya juga Arini menoleh bersamaan, mereka melihat Papa mereka yang berjalan mendekat dengan saling beriringan.


Ketakutan mereka berdua sangat besar, bagaimana kalau cinta mereka tidak direstui oleh Papa mereka.


Wiguna juga Hendra berhenti tepat di hadapan Arya juga Arini. Arini juga sudah berdiri karena dia sangat terkejut tadi.


"Maksud kami, jangan tunda-tunda lagi. Secepatnya resmikan acara penyatuan kalian. Jangan syok, kamu sangat merestuinya," ucap Hendra.


"Iya, asal kalian bahagia kenapa tidak. Cepatlah menikah dan beri kami cucu-cucu yang menggemaskan," imbuh Wiguna.


"Apa sih, Pa! nikah aja belum udah di tuntut cucu," wajah Arya berkedut tapi itu tidak lama sih, "asal Arini nya mau, kenapa tidak! iya kan Arini?"


"Hmmm... maksud pak Tuan Arini mau apa?" tanya Arini dengan wajah polosnya.


"Hhhh...!" Arya mengusap wajahnya kasar, ternyata Arini tidak paham dengan apa yang mereka bicarakan.


"Hahaha...., sabar ya tuan Arya. Meskipun dia unik tapi aku rasa Tuan sangat beruntung." Dimas menyaut.


Huff....


__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2