Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
155. Usaha Arya


__ADS_3

Happy Reading....


Plukkk...



Arini menghentikan langkah saat tangan kekar memeluknya dari belakang. Arya menyandarkan pipinya di kepala Arini seolah sudah menjadi istrinya sendiri Arya juga sesekali mengecup puncak kepalanya.



"Pa-Pak Tuan," Arini tergagap setelah sadar yang memeluknya adalah Arya. Padahal laki-laki itu tadi tertidur sangat lelap bagaimana sekarang bisa tiba-tiba bangun bahkan memeluknya tanpa ada rasa takut sama sekali.



"Aku datang Arini, aku datang. Jangan tinggalkan aku, aku tidak akan bisa jauh-jauh darimu," Arya begitu memohon kepada Arini dan berharap Arini akan mau mendengarkan penjelasannya.



"Pak Tuan, lepasin. Ini tidak pantas! Orang akan membicarakan ku kalau Pak Tuan seperti ini," Arini berontak dia ingin melepaskan diri dari Arya tetapi sangat susah karena Arya begitu kuat memeluknya.



"Tidak Arini, tidak. Jangan minta aku untuk melepaskan mu. Aku tidak akan melepaskan kalau kamu belum memaafkan ku," Arya semakin erat memeluknya.



Arini menjadi bingung, dia takut bukan hanya kepada manusia tetapi dia juga sangat takut kepada Allah yang tetap melihatnya.



Arini terus berontak tetapi Arya tidak mengizinkannya terlepas darinya.



"Pak Tuan, lepasin." Arini sangat kesusahan untuk melepaskan diri usahanya gagal karena tenaganya yang sangat kecil.



"Arini, aku mohon. Dengarkan penjelasan ku, semua yang kamu lihat tidaklah benar semua itu hanya rekayasa wanita itu, dia menjebak ku," ucap Arya.



Arini terdiam, mencerna perkataan Arya juga menyamakan dengan fakta yang dia lihat. Benarkah itu adalah jebakan? Tetapi kenapa Arya terlihat sangat senang dan begitu nyenyak tidurnya seolah dia menerima dan menikmati semuanya.



"Percayalah padaku. Semua yang terjadi adalah ulah darinya. Dia menginginkan aku untuk menikah dengannya maka dari itu dia melakukan itu. Percayalah padaku, aku tidak melakukan itu."



Arya terus berusaha menjelaskan tetapi Arini masih terus acuh, dia belum bisa menerima begitu saja. Mungkin bisa saja dia memaafkan tetapi hatinya kini terasa panas.



"Kalau begitu nikahi saja dia," jawab Arini dengan ketus.



"Dia lebih cantik, lebih sempurna juga lebih pantas dan cocok dengan Pak Tuan, sementara Arini? Arini hanya gadis yang tidak akan pernah pantas," imbuhnya.



Segitu marah kah Arini kepada Arya sampai-sampai tidak mau memaafkannya. Bahkan dengan jelas dia meminta Arya untuk menikahi Melisa apakah Arini tidak mencintainya? Apakah yang dia katakan kemarin adalah bohong?



"Aku tidak butuh kecantikan, tidak butuh kesempurnaan juga kecocokan. Tetapi aku membutuhkan ketulusan dan kamulah orang yang benar-benar tulus kepadaku. Aku mohon, maafkan aku," ucapnya.


__ADS_1


"Pak Tuan, lepasin."



"Tidak, aku tidak mau melepaskan kamu."



Ekhm...



Dekhemam Kakek Susanto membuat Arya langsung melepaskan tangannya, dia tetap harus melepaskan meski dia sebenarnya tidak mau.



"Masuklah dulu, semua bisa di bicarakan di dalam. Tidak enak kalau di lihat orang," pinta Kakek Susanto.



Keduanya menjadi gugup.



Mereka semuanya masuk begitu juga dengan Arya. Kakek Susanto menyuruh Arya untuk duduk di kursi kayu sementara dia sendiri duduk satu bangku dengan Arini.



"Kamu memang sangat berkuasa, kamu juga bisa melakukan apapun. Tetapi jangan sentuh-sentuh cucu saya sembarangan. Kalian belum halal dan itu akan menumbuhkan dosa untuk kalian berdua. Apa kamu tidak tau itu?" ucapan Kakek Susanto terdengar sangat pedas.



Bukan hanya karena takut dosa saja kakek Susanto, tetapi dia juga takut kalau Arini akan menjadi bahan gunjingan dari tetangganya.




"Ma- maafkan saya, Tuan," Arya menunduk menyesal. Sayangnya Arya belum mengetahui itu Arya hanya melakukan apapun yang selalu muncul dalam pikirannya.



"Apakah kamu tidak berpikir terlebih dahulu sebelum melakukan itu? Bagaimana kalau ada orang yang melihat dan mereka pasti akan menggunjing Arini. Apakah memang itu yang kamu inginkan," ucapan kakek Susanto terdengar geram saat ini.



"Tidak, bukan itu yang saya inginkan. Saya tidak mau Arini sedih. Saya datang hanya untuk meluruskan masalah yang terjadi saja, Tuan."



Kakek Susanto mengernyit sementara Arini diam menunduk.



"Sebenarnya.................... "



Semua Arya katakan tak ada satupun kejadian yang terlewatkan. Arya tidak mau Arini salah paham dan berpikir Arya memang sengaja melakukannya.



"Tetap saja Pak Tuan tidur dengan kak Melisa kan?" Sepertinya akan susah untuk meyakinkan Arini.



Benar mereka tidur bersama tetapi Arya yakin dia tidak melakukan apapun. Karena Arya juga tidak mengingat apapun lagi selain yang dia katakan.


__ADS_1


Sementara Kakek Susanto terus mengeluarkan nafas panjang, apakah dia harus senang atau sedih dia bingung. Dia sangat bingung kenapa harus terjadi hal yang seperti itu. Kenapa cucunya itu harus menginginkan laki-laki yang juga mencintai cucunya yang lain.



"Apakah kamu yakin kamu tidak melakukan apapun dengannya?" Kakek Susanto begitu menekankan.



"Saya memang dalam keadaan tidak sadar, Tuan. Tetapi saya tidak dalam keadaan mabuk. Saya pasti akan mengingatnya kalau saya melakukan itu," Arya coba menjelaskan.



"Bagaimana kalau kamu salah, seandainya kamu benar-benar melakukan itu dan dia hamil anakmu. Apakah kamu masih mau mengatakan tidak melakukannya?"



"Bagaimana mungkin dia hamil, Tuan. Saya dan dia tidak...?" ucapan Arya terhenti. Ingatan dia memutar sesuatu apa yang ada di puncak. Kalau dia tidak melakukannya bagaimana bisa ada bercak merah di atas ranjangnya. Bukankah itu adalah bercak dari hasil robeknya keperawanan Melisa?



"Kenapa, apa kamu mengingat sesuatu? Lebih baik sekarang kamu pulang dan berpikir jernih kamu benar melakukannya atau tidak. Kalau kamu benar-benar tidak bersalah dan tidak melakukannya baru kamu datang," ucap Kakek Susanto yang mengusir Arya.



Siapapun pasti akan sangat susah untuk percaya, apalagi sudah mengetahui kebiasaan Arya.



"Tidak, Tuan! Percayalah, saya tidak melakukannya."



"Kalau begitu buktikan kepada saya kalau kamu memang tidak melakukannya. Arini, masuklah. Ini sudah malam," Pinta Kakek Susanto.



"Iya, Kek," Arini menurut dia segera beranjak dan pergi untuk kembali ke kamar.



"Arini, percayalah! Aku tidak melakukan kesalahan!"



Arini menoleh kecil memberikan senyum yang penuh dengan arti. Dan setelah itu Arini benar-benar menghilang di balik pintu.



"Silahkan, anda bisa datang lagi besok."



Kakek Susanto mengayunkan tangannya meminta Arya untuk keluar dari rumahnya.



Tak ingin memperkeruh suasana lagi Arya benar-benar keluar dan setelah Arya keluar Kakek Susanto langsung menutup pintu dan menguncinya.



Arya memang keluar, tetapi dia tak langsung pulang. Arya kembali duduk di kursi bambu yang tadi dia duduki dia masih sangat enggan untuk pulang.



Arya tetap berada di sana hingga akhirnya dia kembali tertidur lagi setelah lama duduk.



Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2