
...______...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
"Pergilah," pintanya, mengibaskan tangan mengusir Toni.
"𝘔𝘢𝘵𝘪 𝘢𝘬𝘶... " Arini tertunduk, tubuhnya seketika gemetar juga terasa sangat kaku, matanya juga tak berani menatap Arya, firasatnya sangat tidak enak.
Toni yang di suruh pergi langsung pergi begitu saja meninggalkan Arini di sana hanya berdua dengan Arya saja. Sebelum keluar Toni sempat melirik kecil padanya, melihat Arini yang terus menundukkan wajah, sepertinya dia sangat ketakutan.
"𝘚𝘢𝘭𝘢𝘩𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘴𝘪𝘬 𝘩𝘢𝘳𝘪𝘮𝘢𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘶𝘳 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘳𝘢𝘴𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘮𝘶, " batin Toni.
Sebenarnya Toni tak tega melihat Arini, gadis itu terlalu polos, Toni juga yakin apa yang di lakukan nya bukanlah keinginannya sendiri.
𝘊𝘵𝘢𝘬𝘬....
Lagi-lagi Arya mengunci akses keluar masuk ruangan itu setelah Toni sudah pergi. Arya masih berdiri tenang di di hadapan Arini dengan jarak yang tak terlalu dekat, Arya juga masih menyandarkan punggungnya di meja kerjanya.
"Kenapa kamu lakukan itu, apakah kamu benar-benar menantang ku, heh.. " Arya terus memandangi Arini dengan mata begitu tajam, namun gadis itu sama sekali tak berani melihat Arya.
"Apa tujuan mu? " tanya Arya lagi, "apakah kamu tau, itu adalah minuman mahal gaji mu tak akan mampu untuk bisa membelinya," imbuhnya.
"Arini memang tak berniat membeli minuman itu dengan gaji Arini, Pak Tuan," sela Arini dengan sangat pelan.
"Kenapa kamu bicara, apakah aku mengizinkanmu untuk bicara, hah!! " bentak Arya.
"Arini punya hak untuk bicara kan,Pak Tuan.
Ini mulut Arini sendiri tidak meminjam milik pak Tuan, Kan? Apa itu namanya..? Hemm..., hak asasi kan? ya, hak asasi."
Tak ada ketakutan bagi Arini kali ini untuk menjawab semua yang Arya katakan, Arini sangat teguh dalam pendiriannya yaitu, tak boleh takut dan tunduk hanya karena manusia, Arini hanya akan takut kepada Allah saja, bukan makhluk ciptaan-Nya.
Mendengar Arini yang selalu berani menjawabnya membuat Arya semakin marah, dia mengambil satu botol minuman yang dia simpan di tempat lain, berjalan menghampiri Arini sembari tangannya membuka tutupnya.
Arini menelan salivanya sendiri saat melihat Arya yang semakin dekat padanya. Bohong kalau Arini tidak takut, meski dia berusaha untuk berani tapi ketakutan tetap saja datang.
"Pak -pak Tuan mau apa?" Arini mengerutkan dahi.
Arya masih diam, dia tetap melangkah maju mendekatinya. Arya berhenti di depan Arini menyodorkan botol itu ke arahnya.
"Sebagai hukuman mu, kamu harus menghabiskan satu botol ini," ucapan Arya begitu berat, juga begitu menekankan.
Arini terbelalak, dia tak akan mungkin minum minuman itu. Itu minuman yang tidak akan menyehatkan untuknya, juga minuman haram yang harus Arini jauhi sejauh-jauhnya.
__ADS_1
Melihat mata Arini yang terbelalak menatapnya membuat Arya semakin emosi, tak ada yang berani mengangkat wajahnya di hadapannya bahkan tidak ada yang berani melotot juga padanya, tapi gadis satu ini?
"Apa kamu menantang ku dengan mengangkat wajahmu seperti itu! apa kamu tidak takut padaku sampai-sampai kamu memelototi ku seperti itu, hahh!! "
Amarah Arya begitu memuncak, dia belum bisa mengendalikan dirinya. Sifat pemarah nya itu tak akan mudah hilang begitu saja dari dalam dirinya.
"Minum ini! dan aku akan memaafkan mu, minum! " bentakan dari Arya begitu menggelegar memenuhi tempat itu, membuat Arini semakin takut dan gemetar.
Meskipun di bentak seperti apapun Arini tidak akan pernah meminum minuman itu, jika Arini meminumnya dampak buruk akan datang padanya, itu pasti kan.
Satu, Arini pasti akan mabuk. Dua, Arya pasti akan memanfaatkan keadaan itu untuk menyentuh Arini. Tiga, Arini pasti akan menyesal karena kehilangan kehormatannya. Dan yang ke empat, dia akan berdosa di mata Tuhan.
"Minum! " bentak Arya lagi.
Sekilas Arini mengingat masa lalunya, traumanya di masa lalu selalu saja datang di saat Arini mengalami lagi posisi yang sama. Tapi kali ini Arini berusaha kuat, meskipun tanpa sadar air matanya mulai mengalir dan tubuhnya semakin gemetar.
"Apakah kamu tidak mendengarkan ku, minum sekarang juga, minum!! " suara Arya semakin tinggi tapi itu tetap tak bisa mengubah pendirian Arini.
Arya terus menyodorkan botol itu di depan wajah Arini, tatapan matanya begitu tajam ke arahnya, aura wajahnya juga sangat bengis ke kepada Arini.
Tangan Arini terangkat dengan gemetar, matanya tak pernah teralihkan oleh apapun dan selalu memandangi Arya yang terlihat sangat marah. Arini juga tak menghiraukan pipinya yang sudah basah akan air mata.
Pelan Arini menerima botol itu dan dengan cepat Arya melepaskan dari tangannya. Terlibat Arya menyungging kecil di sudut bibirnya, dia merasa puas karena kini Arini menurut padanya.
"Minum! " ucapannya semakin menekankan. Arya sudah tak sabar melihat Arini meminum minuman itu di hadapannya.
Arini mengangkat tinggi sebatas mulutnya sendiri botol itu, matanya tak pernah berkedip dari Arya yang juga terus menatapnya. Arini dapat melihat jelas kalau Arya terlihat sangat senang dengan apa yang Arini lakukan sekarang, tapi tidak akan lagi, kesenangan Arya tidak akan Arini biarkan begitu saja.
"𝘑𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘳𝘵𝘶𝘯𝘥𝘶𝘬 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘵𝘶𝘣𝘶𝘩 𝘵𝘦𝘨𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘸𝘢𝘫𝘢𝘩 𝘵𝘦𝘨𝘢𝘬 𝘫𝘶𝘨𝘢, " batin Arini.
Di hadapan Arya sendiri, Arini melepaskan botol itu, menjatuhkannya di lantai sampai pecah berkeping-keping. Kini giliran Arini yang menyungging.
Arya terbelalak melihat itu, dia pikir Arini akan meminumnya dan ternyata! Arya hanya bisa melihat botol itu hancur di tengah-tengah antara dirinya juga Arini.
"Arini..!! Apa yang kamu lakukan, hah! bukankah aku memintamu untuk meminumnya! " hati Arya semakin di selimuti dengan amarah.
"Apa kamu belum mengenalku dengan baik! aku sangat kuat, aku bisa melakukan apapun padamu."
Arini masih diam tak peduli mungkin belum saatnya dia bicara.
"Apakah kamu tidak takut padaku, hah!!!, " Memang tak ada halus-halusnya sama sekali nih orang nadanya selalu tinggi.
"Untuk apa saya harus takut pada anda, Pak Tuan! takut itu hanya pada Allah saja bukan pada manusia atau semua ciptaan-Nya.
__ADS_1
" Dan ya, menurut Arini pak Tuan itu sangat lemah, bukan kuat. Orang kuat itu orang yang bisa menahan hawa na*sunya. Karena musuh terbesar manusia itu ada pada hawa na*su, bukan pada manusia juga," ucap Arini tanpa rasa takut sama sekali.
Geram semakin geram itu pasti yang terjadi pada Arya sekarang, Kenapa sangat susah untuk menaklukkan satu anak ini. Kenapa tak pernah ada rasa takut-takutnya sama sekali padanya.
"Sepertinya, kamu tak sebodoh yang saya pikirkan," kini Arya melangkah semakin dekat.
"Dan kamu juga tidak selemah yang aku bayangkan," Arya terus melangkah bahkan mengitari Arini.
"Pak Tuan salah, saya adalah gadis paling bodoh di sini, saya juga gadis paling lemah," jawab Arini.
"Kenapa kamu melakukan itu, apa tujuanmu! apakah kamu memang berniat mencari perhatian dariku," Arya masih penasaran dengan maksud Arini, dia belum mendapatkan jawaban yang tepat kenapa bocah itu melakukannya.
"Hahaha.., pak Tuan itu aneh ya, buat apa Arini cari perhatian dari Pak Tuan nggak ada untungnya, Pak Tuan. Apa dengan mendapatkan perhatian dari Pak Tuan Arini akan kenyang, tidak kan?" jawab Arini di barengi dengan kekehan.
Suasana lebih mencair sekarang, ketegangan mulai hilang karena Arini sesekali tertawa saat menjawab Arya.
"Dan ya, kenapa Arini melakukan itu, itu semua karena permintaan eyang Wati. Kata eyang, minuman itu membuat pak Tuan kuat tapi juga tidak akan menyehatkan. Makanya Arini saranin untuk menggantinya dengan susu, susu kan sama saja bisa membuat pak Tuan kuat dan yang jelas akan menyehatkan, gitu sih setau Arini." jawab Arini panjang.
"𝘐𝘩𝘩..., 𝘦𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘦𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘨𝘪.. " batin Arya dengan kesal.
"Seharusnya pak Tuan itu berterima kasih pada Arini karena sudah memberikan minuman sehat untuk Pak Tuan. Tapi tak apa sih kalau pak Tuan tidak senang dengan susu, besok bisa Arini ganti dengan jus, jus juga sangat bagus di samping dapat menyehatkan tubuh dan kulit bisa juga membuat pak Tuan awet muda," jelasnya lagi.
"Apa kamu pikir aku sudah tua, begitu!? " Arya kembali kesal. Kenapa Arya selalu saja luluh jika Arini mulai berbicara. Setiap Arini membuat kesalahan Arya tak akan bisa marah sepenuhnya.
"Pak Tuan belum tua sih, tapi kan lebih tua dari Arini," jawabnya begitu enteng.
Memang benar apa yang Arini katakan, Arya memang belum tua-tua amat, baru juga akan menginjak usia 31 satu bulan lagi tapi kan Arini juga benar kalau Arini lebih muda darinya.
"Apa hubungannya dengan mu? " Arya mengernyit.
"Ya nggak ada hubungannya dengan Arini sih," jawab Arini.
Sihir apa yang di keluarkan oleh Arini setiap bicara dengan Arya, setiap dia ingin marah tapi ada-ada saja hal yang membuatnya kembali tenang lagi. Tak seperti orang lain pada umumnya, menasehati seperti apapun tidak akan ngaruh pada Arya, tapi gadis satu ini.
Arya duduk di sofa amarahnya seketika hilang begitu saja hatinya terasa adem seperti habis di kasih es begitu saja, aneh.
"Arini tau, Pak Tuan. Arini itu bodoh Arini juga tidak tau apapun. Tapi Arini tau kalau yang pak Tuan selalu minum itu sebenarnya bukan minuman yang baik, itu juga minuman yang haram kan? "
"Minuman yang murah, enak dan menyehatkan saja sangat banyak, Pak Tuan, kenapa harus meminum minuman yang haram juga mahal. Mungkin sekarang dengan meminum minuman itu pak Tuan akan kuat, terlihat segar bugar, tapi apakah Pak Tuan bisa jamin sepuluh sampai dua puluh tahun lagi pak Tuan akan kuat seperti sekarang, tidak kan? "
//////
Bersambung.
__ADS_1
________