Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
167. Ingin Menjauh


__ADS_3

Happy Reading...


"Tidak, Ma! Arya tidak pernah melakukannya dengan dia! Arya yakin ini hanya akal-akalannya saja. Jika dia benar-benar hamil Arya tidak yakin itu anak Arya. Itu pasti anak dari pria lain," Arya tetap kekeuh tak mau mengakui apa yang di tuduhkan.



Mata Arya semakin membulat seiring dengan dia yang tidak akan pernah mengakui sesuatu yang dia yakini bukan dia yang melakukan.



"Arya memang bejat, Ma! Tetapi Arya tidak akan pernah membuat sembarangan wanita hamil anak Arya. Arya akan memilih wanita mana yang berhak menjadi ibu dari anak-anak Arya! Dan wanita itu tentunya bukan dia!"



Tangan Arya menunjuk kearah Melisa, dia saja tidak tertarik kepadanya mana mungkin Arya akan membuatnya hamil.



Plakkk...



"Buka matamu baik-baik, Ar! Apakah ini yang Mama ajarkan padamu!" Luna begitu marah, dia tak percaya kalau anaknya itu juga akan menjadi seperti itu, tidak mempunyai rasa tanggung jawab sama sekali.



Luna begitu menginginkan anak yang akan selalu menuruti apapun yang dia katakan, bukan anak yang selalu berani menjawab setiap perkataannya apalagi pembangkang.



"Ya! Inilah yang Mama ajarkan kepada Arya! Mama selalu memaksa Arya, tidak pernah memberikan apapun yang seharusnya untuk Arya meskipun itu hanya kasih sayang. Apakah Mama pikir Mama juga sudah bertanggung jawab atas Arya, tidak!" seru Arya menjawab.



Kerinduan akan kasih sayang begitu besar Arya inginkan, tetapi dari kecil dia juga tidak pernah mendapatkannya dari Luna maupun dari Wiguna yang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.



Hanya dari Eyang Wati saja Arya mendapatkan semua itu hingga sampai sekarang Arya lebih menghormati eyangnya daripada kedua orang tuanya.



"Saya tidak pernah merasa menyentuh wanita itu, dan tidak mungkin dia hamil anakku. Tetapi jika memang benar Arya telah bersalah, Arya akan bertanggung jawab atas anak itu tetapi tidak untuk menikahinya."



Arya menunjuk perut Melisa yang datar dengan mata yang tajam penuh dengan sejuta amarahnya. Tangan yang seiring turun dari udara langsung di sambung dengan kakinya yang memutar dan melangkah pergi dari sana.



Langkahnya begitu mantap, Arya tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan wanita ular dan juga wanita yang tak pernah memberikan kasih sayang bahkan tidak pernah perhatian dan tak mau mengerti akan dirinya.

__ADS_1



"Ar, Arya!" teriak Luna tetapi Arya tetap berlalu tak menanggapi apapun lagi dari Luna apalagi dari Melisa yang lagi-lagi memasang wajah sedihnya yang di bumbuhi dengan air mata.



Hiks... hiks... hiks...



Tangisan Melisa berhasil menyentuh hati Luna, dia cepat membalik dan menghampiri Melisa.



Dirangkulnya pundak Melisa, tubuhnya di tuntun untuk duduk di sofa yang tak jauh dari sana.



"Tan, bagaimana dengan nasib saya dan anak saya," ucap Melisa. Dia terus saja mengeluarkan air mata yang entah itu asli atau hanya sebuah kepalsuan yang semata-mata untuk menarik perhatian dari Luna.



Keduanya terus berjalan hingga akhirnya mereka berdua duduk di sofa dengan saling berhadapan.



"Stt.. Jangan menangis. Arya pasti akan bertanggung jawab. Anakmu dan kamu akan mendapatkan keadilan. Mau tidak mau Arya harus tetap menikahi mu. Jadi kamu tenang saja ada tante di sini."




"Tapi, Tan. Melisa takut," ucap Melisa.



"Sudah, jangan kamu pikirkan Arya. Yang terpenting kamu pikirkan kesehatanmu juga kesehatan calon anakmu, cucu Tante," Wajah Luna berbinar seraya meraba perut Melisa yang masih sangat rata.



Luna yang sudah sangat menginginkan seorang cucu membuatnya sangat mudah percaya kepada Melisa tanpa berpikir untuk menyelidiki terlebih dahulu apakah itu benar anak Arya atau bukan. Luna sudah cukup bahagia sekarang.



"Terimakasih, Tan."



"Iya, ingat! Jaga dia baik-baik jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi kepadamu atau kepada calon anakmu. Untuk masalah Arya, serahkan semuanya kepada Tante."


__ADS_1


"Dasar bodoh, ternyata sangat mudah membuat Tante Luna percaya begitu saja. Aku pikir akan sangat susah dan ternyata? Hem... Hanya dengan sedikit air mata dia akan langsung percaya. Melisa... Gelar Nyonya besar Gautama akan segera menjadi milikmu. Hahaha...!" tawa Melisa begitu bahagia dalam hatinya.



Arini yang lagi-lagi harus bersedih dia kembali ke pantry, dan saat itu masih ada Raisa yang sedang makan siang tentunya makanan itu yang Arini berikan tadi.


Di usapnya air mata Arini yang begitu banyak dan terus mengalir, dia seakan tak mampu untuk menahan semuanya untuk tidak keluar, Arini tak mampu membuat bendungan yang akan menahan air matanya untuk tetap tinggal di dalam sana.


"Loh, kamu kenapa nangis? Tuan Arya tidak menyukai makanan mu? Dia marah, lalu mengusirmu?" celetuk Raisa.


Raisa sudah langsung beranjak menyambut kedatangan Arini yang sangat sedih.


Arini hanya menggeleng, niat untuk menjawab juga belum ada di dalam pikirannya. Dia masih butuh menenangkan hati sebelum bercerita kepada siapapun termasuk Raisa.


"Lalu kenapa?" Suara Raisa semakin berat, dia sudah sangat penasaran dengan perubahan dari wajah Arini.


"Mbak, Arini pengen pulang. Arini tidak mau di sini lagi apalagi kerja di sini lagi, Arini akan keluar dari sini," ucap Arini.


"Tunggu tunggu! Ini ada apa sih sebenarnya?" Raisa semakin penasaran, bagaimana mungkin Arini tiba-tiba mau keluar dari pekerjaannya tanpa adanya masalah apapun.


"Mbak, hiks... hiks... hiks..." tangis Arini pecah, dia tak mampu untuk bercerita. Hatinya begitu terluka dan begitu dalam meskipun itu adalah luka yang tidak berdarah, tetapi sangatlah sakit di rasakan.


Entah apa yang Arini dapat kali ini tetapi Raisa dengan cepat merengkuh tubuh kecilnya dan memeluknya.


"Ceritakan padaku. Aku yakin setelah itu kamu akan lebih tenang. Jangan pernah berpikir kamu hanya sendiri, ada aku yang akan selalu bersamamu. Kamu tidak sendiri."


"Mbak, Kak Melisa hamil," ucap Arini begitu lirih, bahkan hampir tak terdengar oleh Raisa.


"Dia hamil kenapa kamu yang menangis? Eh.. Tunggu tunggu! Dia kan belum menikah, lalu? Dia hamil anaknya siapa, tidak mungkin dia hamil anaknya sendiri kan?" Raisa mengernyit bingung.


"Kak Melisa..., Kak Melisa hamil anaknya Pak Tuan, Mbak.. hiks.. hiks.. hiks..." Arini kembali menubruk Raisa, memeluknya dengan sangat erat di tubuh yang tengah termangu diam tak percaya.


"A-anaknya Tuan Arya? Mustahil..."


Bagaimana mungkin Raisa akan percaya begitu saja, dia sangat mengetahui bagaimana Arya begitu menyukai Arini dan selalu mengejarnya. Tetapi mana mungkin Arya bisa melakukan kesalahan itu.


"Saya rasa ini ada yang tidak benar deh, Arini. Ya, maksud saya belum tentu kan anak itu anak dari tuan Arya," Raisa melepaskan pelukannya kini beralih menatap lekat wajah Arini yang tertunduk.


"Kamu tenang saja, masalah ini biar aku yang turun tangan. Sekarang kamu mau apa, pulang?" tanya Raisa dan Arini mengangguk, "sebentar."


Raisa mengambil ponselnya, dia menghubungi seseorang untuk menjemput Arini. Tak akan dia biarkan Arini yang sedang bersedih seperti ini jalan sendirian takutnya bocah ini nekat lagi, ya meski Raisa percaya itu tidak mungkin sih.


"Jemput Arini sekarang di depan perusahaan Gautama. Dia mau bunuh diri," celetuk Raisa saat telfon itu tersambung dengan seseorang.


Setelah kata ancaman itu keluar Raisa langsung mematikannya. Dia hanya meringis saat melihat wajah Arini yang tercengang.


Astaga, siapa juga yang mau bunuh diri.



Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2