Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
17.Baju Norak


__ADS_3

...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


..._________...


Semua memandangi Arya dan juga Arini, lebih tepatnya memandangi Arini yang membuntuti Arya. Semuanya tak percaya melihat Arini yang sebelumnya semua orang menghinanya sekarang di ajak sendiri oleh CEO Gautama Grup.


Arya berhenti di depan lift khusus, menyentuh tombol nya dan beberapa saat pintu lift itu terbuka.


Arini terperangah melihat itu, bagaimana bisa pintu itu terbuka sendiri hanya karena menekan tombol di sampingnya. "Subhanallah, apa itu robot? " Celetuknya menanyakan pada dirinya sendiri.


Arya melirik tak percaya, benarkah gadis di samping nya itu benar-benar tidak mengenal lift? Di jaman modern ini bagaimana bisa masih ada orang yang begitu terbelakang seperti Arini.


Arya masuk, namun Arini masih enggan untuk masuk ke dalam lift. Arya masih menunggu Arini yang terlihat mengamati ruang kecil berjalan itu. "Masuk! " Pinta Arya.


"Saya? "


"Siapa lagi? Apakah ada tikus di situ juga! " Ketus Arya.


Arini menoleh, dan tak ada tikus atau semacamnya yang ada di sana. "Tidak tidak! Itu hanya ruangan kecil dan juga tertutup, bagaimana bisa saya dan Pak Tuan ada di dalam satu ruangan, nanti kalau sampai ada setan bagaimana? " Celetuk Arini.


Lagi-lagi Arya hanya bisa menganga, semua para karyawan nya saling memperebutkan untuk bisa berduaan dengan Arya, tapi gadis ini? Hanya dalam satu lift saja dia udah protes.


"Masuk atau pergi! " Ancam Arya.


Pilihan yang sulit, kalau masuk dia hanya akan berada di satu ruangan bersama Arya orang asing yang kemarin dia tolong, tapi kalau pergi, itu artinya dia tidak akan bekerja di sana.


"Masuk sekarang, atau pergi! " Teriak Arya lagi.


Arini masih terus berfikir dan saat itu pintu lift mulai menutup secara perlahan. "Lah lah! Kok bergerak sendiri? Loh! " Arini kembali di buat terkejut.


"Pintu tertutup maka kamu harus pergi! " Ucap Arya.


Tak mau kehilangan kesempatan lagi Arini langsung berlari masuk untung saja tubuhnya hanya kecil jadi bisa masuk meskipun dengan miring. Sampai di dalam pintu itu langsung tertutup, Arini pun langsung menjauh dari Arya.


"Astaghfirullah.. Astaghfirullah..., kata ustadzah Aisyah kalau berdua saja di dalam satu


ruangan maka yang ketiga adalah setan, A'uudzubillaahiminasy syaithaanir rojiim... " Seru Arini melantunkan ta'awudz juga sebagai perlindungan diri.


Arini memejamkan matanya, dia sangat was-was takut jika Arya akan melakukan sesuatu yang tidak dia inginkan. Mulut Arini terus bergumam, komat-kamit melantunkan ta'awud tiada henti.


Arya menoleh, dia menggeleng, jangankan akan berbuat sesuatu yang ada di pikiran Arini, sekedar melihat nya saja dia merasa jijik.


𝘛𝘪𝘯𝘨...


Pintu lift terbuka dan itu tandanya mereka sudah sampai di tempat yang menjadi tujuannya. Ya, di lantai lima puluh di lantai teratas. Lantai yang tak sembarangan orang bisa masuk ke sana, tapi entah kenapa Arya langsung membawa Arini masuk ke sana.


"𝘈𝘱𝘢 𝘗𝘢𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 s𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘳𝘪𝘯? 𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬, 𝘥𝘪𝘢 𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘪𝘯𝘨𝘴𝘢𝘯. " Batin Arini bingung.


Kali ini Arini tak banyak bicara lagi, dia terus mengikuti kemana Arya akan membawanya hanya sesekali dia nyeletuk sesuatu karena begitu mengagumi setiap tempat.


Arya masuk ke dalam ruangan nya, dia langsung duduk di kursi yang terus bergerak miliknya. Tangannya dia jadikan tumpuan untuk wajahnya, dia memandangi Arini yang berdiri di hadapan nya dengan diam.


"Benarkah kamu akan bekerja di sini? " Tanya Arya.


Arini mengangguk cepat, siapa yang tidak mau bekerja di tempat yang begitu besar seperti itu, yang pasti gajinya juga akan lumayan kan?. "Iya, Pak Tuan." Jawab Arini.


"Apakah kamu tidak membaca persyaratannya untuk bisa masuk di sini?" Entah mengapa Arya lebih banyak bicara untuk pagi ini, biasanya dia akan diam membisu seperti patung bergerak.


Arini langsung membuka koran yang dia bawa, membaca semua persyaratannya yang tercantum manis di sana. "Penampilan menarik, cantik, kulit putih, seksi, pendidikan min D3, bla, bla, bla...." Begitu banyak persyaratan yang di baca oleh Arini.

__ADS_1


"Apa kamu masuk dalam salah satu kriteria itu?" Tanya Arya dan tentunya tak menghilangkan dinginnya yang sudah mendarah daging dalam dirinya.


Dengan begitu polosnya Arini menggeleng, ya iya lah! Dia kan sadar sepenuhnya kalau tak ada satupun kriteria yang masuk dalam dirinya.


"Tidak ada, Pak tuan." Jawabnya lesu.


"Nah, itu kamu tau." Arya beralih menyandarkan punggungnya di kursi, menaikan kakinya dan berselonjoran ria dengan kaki saling tumpang.


Bukannya takut kali ini Arini malah menganga melihat kaki Arya yang ada di atas meja, bukankah itu tidak sopan kan?. "Ihh..., Pak Tuan nggak sopan banget sih! Kaki itu pantasnya di taruh di bawah, kenapa malah di taruh di atas begitu? Pak Tuan orang terpelajar kan? " Celetuk Arini tanpa rasa takut.


Astaga, sepertinya gadis berhijab simpel itu akan berada dalam masalah, berani-beraninya dia menyinggung seorang Arya yang terkenal akan keangkuhan dan juga watak kerasnya.


"Siapa kamu berani mengatur ku? Ini ruangan ku, tempat ku sendiri! Kenapa kamu keberatan. Terserah aku akan melakukan apapun. " Arya sudah mulai terbawa amarah sepertinya.


"Saya memang bukan siapa-siapanya Pak Tuan, tapi nggak salah kan kalau saya mengatakan kebenaran. " Celoteh Arini.


"DIAM!! " Bentak Arya, amarah benar-benar sudah di ambang batas, telinga seakan terus di gelatik oleh kata-kata Arini yang menyimpang pada pendiriannya.


"Sekarang apa mau mu! Kamu mau bekerja di sini, iya kan?! " Tanya Arya dan Arini mengangguk cepat.


Satu set seragam OB ternyata sudah ada di atas meja milik Arya sedari tadi, tangan Arya langsung mengambilnya dan melemparkan nya ke arah Arini, dan dengan sigap Arini menangkapnya.


"Astaghfirullah..! " Arini terhenyak.


"Pakai itu, kalau kamu memang mau kerja di sini. Saya sudah berbaik hati tak mempermasalahkan kekurangan mu, tapi tidak untuk penampilan mu, aku sangat jijik melihatnya, Cuihhh... " Ucap Arya.


Arini mengamati seragam yang Arya berikan padanya, membukanya perlahan, seketika Arini terperangah di buatnya. Kemeja biru muda yang begitu ketat untuknya dengan lengan pendek yang akan memperlihatkan ketiaknya dengan jelas, dan untuk rok nya tak kalah membuat Arini lebih ternganga lagi, rok hitam ketat kalau di pakai mungkin hanya akan sampai di atas lutut saja, dan jangan lupakan dua belahan di sisi kanan dan kirinya.


Baru melihatnya saja membuat Arini harus menelan ludahnya sendiri dengan susah payah, ini sungguh tidak normal. Saking syok nya melihat seragam itu Arini kembali melemparkannya ke arah Arya dan berhasil sampai dan menutupi wajah Arya.


"Akk..., bagaimana bisa baju kurang bahan seperti itu aku pakai! Tidak tidak! Arini tidak mau memakainya." Tolak Arini mentah-mentah.


Dengan sejuta amarahnya Arya beranjak dengan membawa seragam tersebut, dia mendekati Arini dengan begitu garang.


Arya yang semakin mendekat membuat Arini harus mundur, wajah Arini terlihat mulai panik dan takut, Arini sadar kalau dia telah melakukan kesalahan yang besar sekarang. Arini terpojok di dinding hingga dirinya tak bisa bergerak lagi.


Semakin takut itu pasti Arini rasakan, Arya semakin dekat bahkan sekarang satu tangannya sudah menjadi penghalang di sebelah kanan Arini.


" Ma- maaf, Pak Tuan, saya tidak sengaja." Arini tertunduk.


"Bagus kamu mengakui kesalahanmu, sebagai hukuman mu pakai ini, sekarang! " Ucap Arya menekankan.


Arini begitu terkejut, matanya langsung melotot ke arah wajah Arya yang terlihat begitu tinggi di hadapannya. "Tidak, tidak! Bajunya itu tidak baik untuk di pakai, kalau aku pakai pasti akan memperlihatkan..., ahh.. Tidak tidak! " Tolak Arini.


"Ganti sendiri, atau aku yang akan menggantikannya, CEPAT! " teriak Arya yang sangat kekeuh.


"Tidak! Tidak! Pak Tuan jangan maksa gitu dong! Kalau saya tidak mau pakai ya tidak. Lebih baik Pak Tuan saja yang memakainya sendiri, itu kan seragam dari Pak Tuan! " Tantang Arini.


Baru kali ini ada wanita yang begitu berani melawan Arya, bahkan dia berani nyolot di hadapannya.


Arya semakin geram, emosinya meningkat pesat ingin segera menghukum gadis di hadapannya ini.


"Bukannya kamu mau kerja di sini, Kan! Sekarang pakai! Maka aku akan menerimamu untuk bekerja di sini sekarang juga, PAKAI!! "


"PAKAI...!! " Teriak Arya begitu bengis.


"Tidak bisa begitu dong, Pak! Meskipun Pak Tuan memaksanya Arini tidak akan pernah mau memakainya! Jadi jangan maksa begitu! " Arini masih tetap mempertahankan pendiriannya.


"BUKA!! Buka baju norak itu! Dan cepat pakai ini! "

__ADS_1


"Eh..., siapa bilang ini baju norak, ini baju yang penuh kehormatan, Pak Tuan. Baju yang anda bawa itu yang norak! Baju yang baik itu akan menutupi aurat pemakainya, bukan malah memperlihatkan dengan jelas lekuk tubuhnya! "


"PAKAII..! Bukan hanya menentang ku, kau juga berani melawanku, maka kamu tidak akan bisa pergi dari sini! "


Arya menyeringai sinis, matanya menjelajahi tubuh Arini yang begitu kecil, tubuh yang sudah seperti kekurangan gizi, begitu kecil dan kering.


Melihat Arya yang seperti memiliki niat buruk padanya Arini berusaha menghindar darinya, untung dia pendek jadi dia bisa menyelusup dari bawah tangan Arya, namun sepertinya itu sia-sia karena Arya menyadari pergerakan Arini dan langsung menarik hijab Arini dari belakang.


Sontak Arini berhenti, wajahnya mendongak dan tangannya langsung menahan hijab nya supaya tidak terlepas dari kepalanya.


"Aww..., lepas pak Tuan! Ini bisa terlepas! " Teriak Arini.


Arya mendekat, dan membisikkan katanya di telinga sebelah kanan milik Arini. "Memang itu yang aku inginkan, karena aku ingin melihat kamu memakainya sekarang juga, di hadapan ku. " Arya terus menyeringai.


"Apa!! Pak Tuan tidak waras ya! Saya perempuan dan Pak Tuan! Pak Tuan laki-laki mana bisa seperti itu! Lagian kalau tak ada siapapun dan hanya sendiri di sini tetap saja aku nggak mau pakai baju kayak begini! " sungut Arini.


"PAKAI! " bentak Arya.


"NGGAK! " tolak Arini.


Mata Arya semakin tajam, seorang Arya tidak akan pernah mau di tolak dengan cara apapun. Semua yang dia kehendaki harus tetap terlaksana.


Arya semakin kuat ingin melepaskan hijab yang Arini pakai sementara Arini juga semakin kuat mempertahankan hijabnya. Keduanya saling tarik-menarik dengan hijab yang Arini kenakan hingga terjadilah persaingan yang sangat sengit di antara keduanya.


"Lepas! Pak Tuan, lepas! "


"Tidak! Kamu yang harus melepaskan pakaian norak ini, lepaskan! " bentak Arya.


"Tidak mau, aku tidak mau pakai pakaian itu! "


"Lepaskan! "


Semakin Arini menolak semakin Arya memaksa, Arya juga semakin penasaran dengan Arini yang tak mau melepaskan baju yang dia anggap sangat norak itu, Arya merasa ada hal yang menarik di balik baju itu.


𝘋𝘶𝘨...


Satu tendangan dari Arini berhasil mendarat di bagian junior yang Arya punya sehingga membuatnya meringis kesakitan. Sontak Arya melepaskan Arini memegangi juniornya yang benar-benar sakit.


Pastilah itu menjadi kesempatan Arini untuk lari dan kabur sejauh-jauhnya dari Arya.


"Heyy! Jangan kabur kamu! Kembali! " Arya melambaikan satu tangan dan yang satu masih memegangi juniornya, "sialan, " gerutunya.


Arya tak tinggal diam, setelah di rasa tidak begitu sakit dia berlari keluar untuk mengejar Arini. Namun saat dia sampai di depan pintu dia berpapasan dengan Toni.


"Di mana gadis itu? "


"Maksud Tuan, gadis berhijab tadi? " tanya Toni.


"Siapa lagi! " Arya menatap kesal ke arah Toni, dia benar-benar marah kali ini karena sebuah penolakan dari Arini.


"Gadis itu? Dia turun menggunakan tangga darurat, Tuan, " jawab Toni, "Apakah saya harus mengejarnya? " imbuhnya lagi.


"Tidak perlu! Dia juga bukan orang penting! " Arya kembali masuk dan membiarkan Arini pergi lewat tangga darurat.


____


Bersambung...


____________

__ADS_1


__ADS_2