Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
272.Kenapa dengan Arini


__ADS_3

Happy Reading...


``````````````


Sudah dari beberapa hari kemarin Fara sudah keluar dari rumah sakit, dan kali ini dia sudah kembali bekerja di toko bunga Risman.


Sebenarnya waktu itu dia ingin mengundurkan diri, dan ingin mencari pekerjaan yang baru tetapi tidak jadi karena Risman benar-benar tulus menerima bagaimanapun keadaannya. Fara ingin memberikan kesempatan untuk Risman, sama seperti yang di minta oleh Arini waktu itu.


Fara sudah disibukkan dengan berbagai macam bunga. Menata, menyiram dan merangkai. Fara sudah lincah dengan semua pekerjaan itu.


Begitu senang rasa hati Risman, dia bisa melihat wanitanya tersenyum cerah dan tidak berwajah dingin seperti biasanya. Dari kejauhan Risman masih terus mengamati dengan senyum. Tangannya memegangi plastik kresek bening yang berisi dua bungkus nasi.


"Aku yakin dia belum sarapan," Risman bergegas, dia semakin cepat. Apalagi dia melihat Fara berkali-kali memegangi perutnya, berarti Fara benar-benar sedang lapar.


"Kamu pasti belum sarapan, sarapan dulu yuk."


Kedatangan Risman langsung membuat Fara menoleh, dia tersenyum meski sangat tipis.


"Aku beli nasi goreng tadi jalan. Nasi goreng yang sangat enak aku yakin kamu akan ketagihan setelah makan," Risman mulai membuka plastik yang sudah dia letakan di atas meja yang terdapat dua kursi di kedua sisinya.


Risman juga sudah duduk dan mulai membuka bungkus yang katanya berisi nasi goreng.


"Ma_mas beli di mana?" Fara mendekat dia bertanya juga masih sangat gugup. Tak dia sangka kalau cinta Risman padanya sungguh besar. Dia tak mempedulikan kekurangan Fara dan selalu memberikan limpahan kasih sayang dan semua perhatiannya.


"Di tempat mang Irul, ini nasi goreng yang sangat enak. Aku sudah ketagihan terus beli di sana. Setelah kamu coba pasti kamu akan ketagihan juga," Risman tersenyum.


Kini Risman menyodorkan nasi goreng yang dia buka untuk Fara yang sudah duduk.


"Kamu coba deh, aku yakin kamu akan menyukainya."


Fara hanya bisa selalu tersenyum, antara bahagia dan juga penuh haru juga penuh rasa tak pantas. Dia tidaklah sempurna untuk Risman yang begitu sempurna sebagai pasangan.


Perlahan Fara menyuapkan nasi gorengnya, rasanya benar-benar sangat enak. Pantas saja Risman sangat menyukainya.


"Bagaimana, enak kan?"


"Iya, enak." Tak banyak kata dari Fara, dia hanya akan berbicara sesekali dua kali itupun jika benar-benar harus di jawab. Sementara Risman, dia lebih cerewet, menanyakan ini dan itu, menceritakan ini dan itu dan terus berusaha membuat Fara selalu tersenyum.


Risman hanya ingin membuktikan kalau dia benar-benar tulus, cintanya tak bisa di ragukan.


"Makanlah yang banyak, supaya kamu dan anak kita sehat," Risman mengusap sebutir nasi yang menempel di sudut bibir Fara.


Fara terpaku, matanya menatap lekat pria yang memberikan cinta yang sangat besar kepadanya.


Anak? Bahkan Risman sudah mengatakan kalau anak yang Fara kandung adalah anaknya. Bagaimana mungkin Fara tidak semakin terharu karena ketulusan Risman padanya.


"Besok aku antar kamu ke dokter kita periksakan bagaimana perkembangan anak kita. Aku akan selalu memberikan yang terbaik untukmu dan juga untuknya." Ucapnya lagi.


Benar-benar ingin menangis Fara saat itu, dan benar saja, butir-butir bening mulai mendesak keluar.


"Loh, kenapa menangis. Apa ada yang sakit? Kita ke rumah sakit sekarang," Risman hendak beranjak namun tangannya di tahan oleh Fara.

__ADS_1


Baru kali ini dia benar-benar berani menyentuh Risman. Tapi itu tak lama karena Fara langsung melepaskannya setelah Risman kembali duduk.


"Kenapa, apakah kamu menginginkan sesuatu. Apa kamu mau makan sesuatu?"


Fara menggeleng, dia tidak membutuhkan apapun sekarang.


"Kenapa Kakak begitu menyayangi Fara. Fara bukan wanita baik-baik," Ucapnya terisak.


Kini tangan Risman yang menggenggam tangan Fara membuat sang empu terpaku menatapnya. Risman juga langsung mengecup tangannya, seolah dia sudah memiliki Fara seutuhnya.


"Kamu adalah wanita terbaikku, Fara. Kamu yang terbaik untukku. Sampai kapanpun aku akan sangat menyayangimu. Aku akan selalu membuatmu tidak kekurangan cinta dan kasih sayang darimu."


"Setelah kita menikah nanti, aku akan pastikan tak akan ada derita pada dirimu. Kamu harus bahagia mulai dari sekarang dan selamanya."


Fara semakin terisak. Bagaimana mungkin ada orang yang mencintainya sebesar ini. Bahkan kedua orang tuanya saja telah mengusirnya karena dia yang hamil di luar nikah.


"Sudah, jangan menangis." Risman berdiri, mendekati Fara dan memeluknya.


"Maafkan aku yang tak sempurna, Kak."


"Stts..., sudah sudah." Dielusnya rambut Fara dengan sangat lembut. Sentuhan yang membuat Fara tenang.


◦•●◉✿_✿◉●•◦


"Akhirnya sampai juga," Nafas lega keluar dari hidung Dimas, setelah perjalanan panjang akhirnya mobilnya berhenti juga di antara mobil-mobil lain di desa Nisa.


"Meriah banget," Celetuk Raisa.


Gadis itu terlihat sangat cantik dengan baju couple dengan yang di pakai Dimas. Rambutnya di tata sedemikian rupa dengan make-up natural yang membuat penampilannya semakin sempurna.


"Pernikahan kita besok juga akan lebih meriah." Jawab Dimas sekenanya.


"Mulai mulai, ayu lah turun! Tuh adik mu sudah menyambut," Raisa hendak keluar.


"Stop, jangan keluar dulu," Raisa bingung kenapa dia dilarang untuk turun. Sementara Dimas kini turun dan segera menghampiri pintu mobil di sebelahnya.


"Ada apa sih!" Raisa mengernyit.


"Mari nyonya Dimas Anggara," ucap Dimas. Senyumnya begitu manis.


"Kumat," Satu kata dari Raisa. Gadis itu masih saja tak bisa luluh dengan semua gombalan Dimas.


Raisa turun. Dia yang tak biasa memakai rok span juga high heels terasa sangat kesusahan. Dia berjalan juga sangat hati-hati karena takut terjatuh.


"Seharusnya aku pakai sepatu saja tadi, ini sangat susah. Bagaimana kalau aku jatuh." Gerutunya.


"Gandeng Abang biar tidak jatuh," Dimas merenggangkan lengannya, tanpa basa-basi langsung meraih tangan Raisa dan menyelipkan ke lengannya. Tentu sang empu hanya melongo.


"Lagian ya, masak udah cantik begini pakai kebaya kok pakai sepatu. Nggak banget kali Neng. Sekalian pakai sepatu boots," Ledek Dimas sekenanya.


"Ih, dasar laki!" Kesal juga lama-lama.

__ADS_1


"Sudah, sekarang kita samperin adek iparmu. Tuh udah meringis. Eh, tapi kenapa dengan wajahnya. Lah, mana mendekat dengan berkacak pinggang lagi."


Dimas melirik heran melihat Arini yang berjalan mendekatnya dengan wajah menyeramkan juga kedua tangan yang berkacak pinggang.


Sementara Arya berjalan di belakangnya dan terlihat sangat frustasi. Entah ada apa dengan pasangan itu.


"Kak, jangan ngadi-adi deh! Kakak belum mahram. Dosa sentuhan begitu. Lepas-lepas!" seloroh Arini sadis.


Terbelalak mata Dimas. Susah payah dia membuat Raisa menggandengnya dan sekarang adiknya mengacaukan semuanya. Haruskah Dimas menangis sekarang?


"Apa sih, Dek. Cuma dikit juga. Ini kak Raisa-nya takut jatuh. Makanya sama kakak di gandeng," Ucap Dimas beralasan.


"Tidak menerima alasan dalam bentuk apapun. Kalau kakak mau gandeng ya di halalin dulu dong, Kak. Besok kalau pulang biar Arini yang bilang sama Mama dan Papa. Kalau Kak Dimas udah ngebet pengen nikah."


"Siap, bilang ya sama Mama dan Papa syukur-syukur langsung di undangin penghulu ke rumah. Kakak udah siap lahir batin."


"Halah, kakak nggak gentle. Masak kalah sama tuan Toni. Yang gentle dong Kak. Jangan apa-apa Mama dan Papa."


"Stts..., jangan berisik, Dek. Ini kampung orang. Malu."


"Iya, Malu! Karena kakak yang malu-maluin." Semakin ketus aja nih anak. Entah pengaruh hormon yang belum bisa di pastikan kebenarannya kali ya.


"Hadeuh, Dek. Kenapa lidahmu jadi tajam banget sih. Di kasih makan apa sih sama adek ipar."


"Makan nasi lah, masak makan orang." Nih anak benar-benar deh.


"Sayang, sudah yuk. Kita masuk acara sudah mau di mulai." Arya berucap dengan lembut.


"Weleh-weleh..., es batunya benar-benar bisa cair kalau sama adek gue yang paling imut." Gumam Dimas.


"Bentar, Mas! Arini belum selesai omelin Kak Dimas. Dia nggak bisa gitu saja dong main pegang-pegang begitu. Mereka kan bukan mahram."


"Besok mereka mahram. Kalau tidak, biar Mas kuliti mereka berdua." Ancaman yang cukup membuat bulu kuduk berdiri. Bahkan Raisa sudah melotot tapi juga takut. Dia kan tau pasti bagaimana bos besar ini.


"Beneran loh, Ya."


"Iya, Sayang. Sekarang masuk acara udah mau di mulai. Dan kamu juga tidak boleh marah-marah terus kayak gitu. Nggak baik." Ucap Arya menasehati.


"Hem," Arini mengangguk.


Arya langsung menuntun Arini untuk masuk, akhirnya bisa bernafas lega juga Dimas. Dia tetap bisa bergandengan dengan Raisa. Sepertinya gadisnya itu benar-benar takut berjalan menggunakan high heels. Kalau tau begini dia akan paksa terus Raisa pakai high heels.


"Ada apa dengan adek gue ya, sensitif amat dia." Gumamnya tapi tetap terdengar oleh Raisa.


"Bunting kali." Ceplos Raisa.


"Dek Raisa sayang. Adek abang bukan kambing, jadi tidak mungkin bunting. Tapi hamil." Dimas geleng-geleng kepala mendengar ceplas-ceplos nya Raisa ini.


"Sama saja."


"Ya Allah, bagaimana mungkin aku bisa tergila-gila dengan gadis seperti ini. Takdirmu sungguh indah." Batin Dimas.

__ADS_1


◦•●◉✿_✿◉●•◦


Bersambung...


__ADS_2