
Happy Reading....
Begitu bahagia Arya juga Arini sekarang, akhirnya mereka berdua sampai juga di rumah. Terus bergandengan dan tak mau melepaskan ikatan tangan mereka.
Sementara untuk barang-barang mereka sudah ada sopir yang membawanya.
Senyum tak pernah pudar, kini Arya beralih merangkul pinggang ramping milik Arini sebelum mereka berdua sampai di pintu masuk.
"Assalamu'alaikum!" seru mereka berdua bersamaan.
Kebetulan pintu juga terbuka lebar jadi mereka berdua bisa langsung masuk tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"wa'alaikumsalam!" jawab semua serentak.
Nilam, Hendra, kakek Susanto, nenek Murni juga Dimas dan Raisa beranjak bersamaan dari duduk untuk menyambut kedatangan mereka berdua.
Akhirnya setelah satu minggu tidak melihat Arini kini mereka bisa melihat lagi dan kembali dengan selamat. Juga pipi Arini terlihat sedikit gembul sekarang, mungkin Arya begitu memanjakannya di sana.
"Malam, semua," ucap Arya.
Kini keduanya sudah saling terlepas satu sama lain setelah sampai di depan semua orang. Bahkan kini Arini juga Arya mulai menyalami mereka dengan bergantian.
"Bagaimana kabarmu, Sayang," tanya Nilam setelah Arini ada di hadapannya dan menyalaminya.
"Alhamdulillah, Arini baik-baik saja, Ma." bukan hanya menyalami saja tapi Arini juga mendapat pelukan dari Nilam.
Nilam begitu bahagia dengan kepulangan anaknya, hingga dia langsung memeluk juga langsung menghujaninya kecupan berkali-kali di seluruh wajah Arini.
Arini sama sekali tidak merasa risih dengan semua itu tapi dia malah begitu bahagia karena ada yang begitu perhatian padanya dan melimpahkan kasih sayang yang begitu besar.
"Bagaimana, semua lancar kan?" diapit nya wajah Arini dengan kedua tangan Nilam, sang mama benar-benar sangat bahagia melihat anak perempuannya.
"Lancar, Ma," jawab Arini.
Sekali lagi Arini mendapatkan pelukan hangat yang penuh cinta dari Nilam. Sungguh kebahagiaan yang sangat nyata.
Sementara Arya yang sudah lebih dulu menyalami semuanya kini sudah beralih memberikan salam hangat kepada Dimas sang kakak ipar.
__ADS_1
Mereka berpelukan sekejap seusai bersalaman.
"Bagaimana Tuan, berhasil kan?" tanya Dimas sedikit dengan gurauan kecil.
Raisa yang ada di sebelahnya mengernyit tak mengerti, berhasil apa? pikirnya.
Satu sudut bibir Arya terangkat, dan semakin mengembang menjadi sebuah senyuman penuh dengan kebahagiaan.
Bukan hanya berhasil, tapi sangat berhasil, bagaimana tidak? satu minggu Arya dan Arini berada di Bali dan Arya berhasil menanam benihnya berkali-kali di ladang Arini.
Tiap hari dia terus membajaknya dan terus menabur benih spesial. Semoga saja di antara semua benih yang dia tanam ada salah satu yang mulai tumbuh.
"Wah, nampaknya benar-benar sudah berhasil nih. Kalau tidak mana mungkin matahari akan cerah seperti ini," gurau Dimas lagi dan Arya hanya tersenyum menanggapi.
Raisa semakin tak mengerti apa yang di bicarakan dan membuatnya hanya menggeleng kasar saja.
"Cepatlah cari lahan yang bagus dan yang tepat, Dim. Supaya bisa di bajak setiap hari dan bisa di tabur benih-benih unggul yang berkualitas," akhirnya Arya menjawab juga perkataan Arya.
"Kak Dimas mau beli tanah? mau tanam benih apa? padi, atau sayuran?" celetuk Arini.
"Arini salah bicara ya?" tanyanya dengan wajah polosnya.
"Tidak sayang, kamu tidak salah. Kamu benar, Kakakmu ini baru berusaha mencari tanah yang bagus supaya bisa di bajak setiap hari dan di tanami benih unggul," ucap Arya begitu halus.
"Wah wah! besok-besok Arini bisa minta sayur gratis dong kalau begitu. Kak Dimas nanamnya yang pakai cara organik ya biar kita semua yang makan selalu sehat."
Mata Dimas melotot, nih adik satu pengen deh dia tenggelamkan ke kolam belakang rumah ya biar otaknya sedikit encer.
"Jangan melotot begitu Kak Dimas, lihatlah! kakak sudah seperti topeng monyet yang pentas di lampu merah," semakin menjadi nih Arini.
Ngebul deh akhirnya ubun-ubun Dimas. Nasibnya sungguh malang niang, memiliki adik yang cerdasnya luar binasa. Yang bisa membuat semua orang geleng-geleng dan di bikin darahnya mendidih.
"Tidak adikku yang super pintar tak terhingga, aku tidak akan melotot. Nanti takut akan nakutin kecebong yang sudah mau tumbuh," di belainya puncak kepala Arini dengan sangat lembut.
Berpura-pura memuji padahal hatinya tengah merutuki adiknya.
__ADS_1
"emang kak Dimas juga mulai ternak kecebong juga?"
Astaga!
Dimas semakin tak berdaya sekarang, dia harus lari secepatnya kalau tidak dia bisa menelan Arini hidup-hidup saat kesabarannya sudah hilang di makan sama tuh kecebong.
"Maaf ya, kakak ada kerjaan mendadak."
"Kerjaan apa kak? buru-buru amat. Kan Arini baru saja pulang nggak kangen gitu?"
"Mau nyatokin otak yang mulai keriting," terdengar halus tapi juga terdapat kekesalan yang besar di dalam perkataan terakhir Dimas.
"Oh," Arini mengangguk, dia tidak berpikir emang bisa ya otak keriting, dan emangnya bisa otak di catok?
"Hahaha...!" tawa semua menggelegar saat melihat Dimas yang pergi dengan membawa darah panas yang terus berdesir karena kekesalan.
"Kenapa?" tanya Arini begitu polos.
"Tidak apa-apa sayang. Sekarang bersih-bersih dan istirahatlah," pinta Nilam.
Arini menoleh ke arah Raisa yang sedari tadi diam menjadi pendengar kebodohan Arini.
"Kak Raisa tidak pulang kan?" tanyanya.
"Tidak, aku bermalam di sini. Jadi kita bisa bertemu besok. Sekarang istirahatlah, kamu terlihat sangat lelah," Raisa pun menyarankan hal yang sama.
"Terimakasih, Kak." Arini begitu senang.
Arya juga Arini langsung kembali ke kamar mereka, bergegas untuk bersih-bersih dan istirahat. Mereka juga sangat lelah setelah perjalanan panjang.
"Alhamdulillah, akhirnya Arini mendapatkan kebahagiaan yang tiada tara. Keluarga yang sangat menyayanginya dan suami yang sangat mencintainya," gumam Kakek Susanto.
Begitu bersyukur melihat Arini sekarang, meski dia bukan cucu kandungnya tapi kakek Susanto sangat menyayangi Arini sama persis seperti kedua cucunya bahkan lebih.
Bersambung...
Sabar ya Kak Dokter
🤧🤧🤧🤧
__ADS_1