
Happy Reading...
************
Kamar bernuansa putih yang pencahayaannya hanya remang-remang menjadi saksi akan cinta Dimas juga Raisa saat ini.
Beberapa tetes air mata keluar dari mata Dimas setelah semua kesabaran juga ketulusannya terbayar. Akhirnya dia dan Raisa benar-benar telah bersatu. Bukan hanya bersatu di atas kertas pernikahan tetapi cinta mereka telah bersatu.
Berkali-kali Dimas mengucapkan terimakasih juga terus menghujani kecupan untuk Raisa setelah akhirnya Raisa mati-matian menahan ketakutannya dan memberikan mahkotanya kepada Dimas.
Awalnya memang Raisa sangat takut saat Dimas memulainya. Bayangan akan pakde nya terputar lagi di kepalanya. Namun, Dimas begitu pintar, dia meyakinkan Raisa hingga perlahan ketakutan itu berganti dengan kenikmatan.
"Apa masih sakit?" Tanya Dimas yang kini sudah merebahkan dirinya di sebelah Raisa dan memeluknya.
"Se_sedikit," Begitu gugup Raisa menjawab.
"Sayang, Allah memang hanya menakdirkan kamu untuk ku saja. Meski orang itu telah melakukan hal buruk kepadamu nyatanya dia tak sampai merenggut kehormatan mu. Dan semua itu hanya Allah siapkan untuk Mas saja." Ucap Dimas begitu lembut sembari mengelus pipi Raisa.
"Maksudnya?" Raisa terpakik begitu bingung, apa yang dimaksud oleh Dimas barusan.
Dimas semakin mendekatkan kepala Raisa yang ada di atas lengannya, memeluknya erat hingga tubuh keduanya yang masih polos dan hanya tertutup selimut itu menempel sempurna.
"Maksudnya, kamu masih perawan tadi, Sayang. Dan Mas lah yang telah mengambil itu barusan," Begitu bahagia Dimas. Dia pikir dia akan mendapatkan bekas tapi ternyata dia mendapatkan barang baru yang masih tersegel sangat rapat.
"Hah! Ba_bagaimana bisa?" Raisa begitu tak percaya. Dia pikir saat itu pakde nya benar-benar telah mengambil mahkotanya ternyata Allah masih melindunginya.
__ADS_1
"Dan ya, sekarang kamu tidak boleh takut apapun. Kamu juga harus menghilangkan semua bayang-bayang orang itu. Karena apa? Karena tak ada lagi bekas darinya, semua sudah Mas sapu bersih. Hanya bekas-bekas Mas yang tersisa."
Dimas terkekeh, bagaimana tidak mengatakan itu bahkan begitu banyak hasil mahakarya Dimas yang di buat di seluruh tubuh Raisa. Belum Raisa tau apa maksud Dimas, mungkin kalau dia tau dia akan geleng-geleng setelahnya.
Raisa begitu malu, pipinya merona karena itu. Tapi dia senang akhirnya dia tau kalau ternyata dirinya masih perawan sebelum Dimas suaminya sendiri yang mengambilnya.
"Kenapa senyum-senyum. Apakah tadi enak?" Dimas semakin menarik tubuh Raisa juga memiringkan nya. Hingga akhirnya Raisa terpekik karena ada sesuatu di bawah sana yang keras dan mendesak di pertengahan antara kedua paha atasnya.
"Mas!"
"Dia mau masuk sarang lagi," Rengek Dimas.
Astaghfirullah, padahal Raisa tidak menggodanya tetapi dia harus mendapatkan singa yang benar-benar kelaparan. Sang singa ingin memangsanya lagi.
"Ma..." Belum juga selesai bicara Dimas sudah menyambar bibir ranum milik Raisa hingga akhirnya sang Raisa pasrah. Ketakutannya benar-benar hilang sekarang. Semoga saja hilang untuk selamanya.
Begitu tak sabar Arini menunggu Arya yang tengah bergelut di dapur untuk membuatkan nasi goreng untuk sarapan.
Arya seperti orang bingung, keinginan Arini sungguh aneh. Seandainya hanya nasi goreng biasa dia pasti bisa, lah ini? Nasi goreng tapi mintanya harus berwarna hijau pekat. Tapi tidak boleh pedas. Apalagi telur ceplok nya harus matang sempurna tetapi kuningnya harus tetap bulat.
"Ayo dong, Mas. Jangan hanya berdiam diri seperti itu!" Sang mandor mulai berbicara. Bagaimana tidak! Arini hanya duduk manis melihat semua pergerakan dari Arya.
"Sebentar, Sayang. Ini sangat susah," Arya menoleh kecil ke arah Arini. Bagaimana tidak susah, udah tiga kali Arya gagal, dia di buat pusing hanya karena telur saja.
"Telurnya nggak boleh gosong loh, Mas pinggirnya. Harus tetap putih. Gorengnya nggak boleh pakai minyak, harus pakai mentega," Ocehnya.
__ADS_1
"Iya, Sayang ku. Ini sudah pakai mentega." Lembut-lembut penuh emosi. Arya hanya bisa menahan kekesalan itu di dalam hatinya saja.
'Apakah Arini balas dendam karena perbuatan ku dulu ya? Atau mungkin ini keinginan anakku dan dia yang ingin membalaskan nya? Aduh Nak. Jangan sampai ya, kamu harus jadi anak baik seperti mama. Oke!' batin Arya.
"Mas, kapan mateng_nya! Ini udah lapar banget!" Teriak Arini lagi.
Geleng-geleng kepala deh Arya sekarang. Dia yang berpikir pagi ini akan terlepas dari nyonya hatinya dan bisa pergi ke kantor ternyata kini dia di tahan hanya demi nasi goreng hijau dengan telur ceplok.
Bagaikan ratu Arini terus saja diam diri. Duduk dengan anteng dan sesekali menegur Arya. Tangannya juga terus bergerak, mengambil cemilan yang ada di hadapannya. Enaknya hidup Arini sekarang.
"Tara! Nasi goreng hijau sudah jadi. Sama telur ceplok di goreng mentega!" Arya begitu senang, akhirnya selesai juga.
"Ini enak kan?" Tanya Arini.
"Nggak tau?" Arya menggeleng.
"Lah, kok nggak tau. Arini langsung menarik piring, mengambil sendok dan menyuapkannya kepada Arya, "bagaimana, enak?"
"Enak," Jawab Arya setelah mencecap akan rasa dari hasil olahannya.
"Ini kurang asin, ini juga terlalu pedas. Ah, Mas nggak asik! Arini nggak mau makan!" Arini beranjak pergi.
"Salah lagi," Arya mengelus dada. Kadang usahanya selalu membuat Arini begitu bahagia, tetapi ada kalanya berakhir seperti sekarang, "sabar-sabar. Kamu harus sabar menghadapi istrimu yang moodnya naik turun seperti ini, Ar," Ucap Arya menasehati dirinya sendiri.
Sadar betul bahwa mood Arini memang tak selalu baik. Kadang baik sih tapi kadang kumat seperti sekarang ini. Arya percaya ini adalah pengaruh dari kehamilannya. Setelah anak mereka lahir Arini pasti akan kembali seperti semula. Amin.
__ADS_1
""""""""
Bersambung.....