
Happy Reading...
"Yang mau aku lakukan? Hem..., tidak banyak. Hanya mengirim video ini saja ke semua anggota keluarga Tuan Arya, termasuk Tuan Arya. Kalau kamu..., kamu telah mendorong Arini hingga masuk ke jurang."
"Apaa! Arini masuk jurang!" Pekik Arya.
Amarah Arya seketika naik hingga ubun-ubun, matanya sudah melotot dengan tangan yang mengepal. Langkahnya di percepat untuk menghampiri kedua gadis yang tergila-gila padanya tapi sama-sama tak punya hati.
Tangan Arya terangkat setelah sampai di hadapan Nadia, mencekik leher Nadia dengan di hiasi tatapan yang begitu bengis.
"Dimana Arini sekarang, dimana!" tak sabar Arya untuk bertanya, dia juga sudah di penuhi dengan emosinya yang sampai puncak batas.
"Ar, lepasin Arya, kamu bisa membunuhku." Dengan menahan tangan Arya untuk tidak semakin kuat mencekiknya Nadia sudah sangat kesakitan, di terus meringis dengan suara yang sangat susah untuk keluar.
"Wanita sepertimu memang pantas untuk mati, sekarang katakan, dimana Arini! katakan!" mata Arya semakin melotot tajam kearah Nadia. Arya begitu tidak peduli dengan gadis itu yang bisa saja mati karena Arya begitu kuat mencekiknya.
"Arya, lepasin Ar. Sakit," kaki Nadia bahkan sudah berjinjit mengikuti Arya yang mencekiknya semakin menaikan dirinya seolah dia ingin menerbangkan Nadia.
"Katakan!" bentak Arya yang sudah semakin tidak sabar lagi.
"Di-dia..."
"Tolong..! Mbak, tolong Arini! Arini takut!" suara Arini yang terdengar parau juga sangat ketakutan dapat di dengar oleh mereka semua termasuk Arya.
"Arini...!"
Arya menjatuhkan Nadia sembari mendorongnya, hingga Nadia terjatuh di tanah.
__ADS_1
"Urusan kita belum selesai," Arya bergegas, dia berlari untuk menghampiri Arini dan menolongnya.
"Arya! dia tidak pantas mendapatkan pertolonganmu! dia juga tidak pantas mendapatkan perhatian apalagi cintamu, Arya! Ar!!" rupanya Nadia masih sempat-sempatnya memprovokasi Arya tapi itu tidak ada gunanya sama sekali.
"Arghhh...!" Nadia begitu kesal, lagi-lagi dia di kalahkan oleh gadis yang tidak semanding dengannya. Satu tangannya terus mengusap-usap leher yang terasa sakit sementara satunya lagi mencengkram tanah yang berhasil dia genggam.
"Semua ini gara-gara Arini, arghhh..!" teriaknya lagi.
Melisa yang melihatnya hanya tersenyum sinis binti puas. Tak harus dia lakukan apapun untuk menyingkirkannya tapi dia sendiri yang berulah. Sekarang hanya tinggal satu lagi saingannya Melisa yaitu Arini.
"Selamat menikmati balasan dari perbuatan mu, Nadia." Melisa melambaikan tangan daripada hanya berdiri melihat Nadia yang tengah merana lebih baik mengejar Arya saja membantu Arini dan mencari muka.
Ya, Melisa pergi mengejar Arya setelah mengatakan itu kepada Nadia dengan begitu banyak senyum tapi hanya senyum sinis.
Melisa tak menjawab dia tetap pergi untuk menyusul Arya.
"Ya Allah, Arini takut. Tolongin Arini," Arini terus menangis dia masih saja bergelantungan di sana, berusaha untuk bisa naik tapi dia tidak bisa kekuatannya masih sangat kecil.
Berkali-kali Arini melihat bawah dan membuatnya semakin ketakutan, tangisannya semakin pecah.
"Kakek, Nenek, tolongin Arini. Pak Tuan, tolongin Arini!" siapapun Arini sebut berharap akan ada satu orang yang datang yang dia sebut namanya.
Tangannya sudah mulai tidak kuat, rasanya sudah sangat sakit sekedar untuk menahan tubuhnya yang kecil.
"Kakek, Nenek, jika Arini jatuh dan tidak selamat maafkan semua kesalahan Arini ya. Maafkan Arini yang selalu merepotkan kalian, maaf." Pikiran Arini sudah terus berkelana jauh, dia hanya bisa berpikir seperti itu karena dia pikir tak ada orang lain lagi di sana kecuali dirinya.
"Arini...!" teriak Arya.
Arini mengangkat wajannya dan langsung dia lihat Arya yang ada di atasnya dengan panik. Wajah Arya sangat terlihat jelas kalau dia juga sangat ketakutan.
"Pak Tuan, tolongin Arini. Arini takut!" Arini terus menangis, dia kembali melihat bahwa dan dia semakin ketakutan.
__ADS_1
"Kamu tenang, jangan khawatir aku akan menolong mu. Kamu yang sabar." perlahan-lahan Arya mulai melangkah turun setelah benar-benar sampai di tempat yang tidak bisa di pijak lagi Arya hanya bisa mengulurkan tangannya pada Arini.
"pegang tanganku, jangan takut! lihat aku lihat wajahku! jangan lihat kebawah!" tangan Arya terus terulur dia terus berusaha untuk menyelamatkan Arini.
Bukannya melihat Arya tapi Arini malah melihat bawah lagi dia sudah semakin gemetaran sekarang bukan hanya takut lagi.
"Pak Tuan, Arini takut." ucapnya.
"Jangan lihat ke bawah Arini, lihat aku! pegang tanganku!" tangan Arya terus berusaha meraih tangan Arini begitu juga sebaliknya, satu tangan Arini juga mencoba untuk meraih tangan Arya.
Keduanya benar-benar takut, Arini takut kalau sampai jatuh Arya juga sama. Arya takut Arini terjatuh dan akan terjadi sesuatu kepadanya.
Perlahan-lahan jari-jemari Arini berhasil menyentuh tangan Arya tapi tidak bisa langsung tertangkap karena jaraknya yang kurang dekat.
Arya masih tetap berusaha, dia harus bisa menangkap Arini juga menyelamatkannya. "Arini pegang tanganku. Cepat Arini, cepat!"
"Pak Tuan, Arini takut," hanya kata-kata itulah yang selalu keluar dari Arini hingga akhirnya tangan mereka saling berpegangan dan Arya perlahan menarik Arini untuk naik.
"Astaga..., Arini!" pekik Melisa yang penuh kepalsuan. Pura-pura simpati supaya bisa mendapatkan perhatian dari Arya.
Tak ada hal yang tulus dari seorang Melisa, jika dia datang untuk menolong pastilah ada hal yang tengah dia incar.
"Pelan-pelan..." Arya terus menarik Arini hingga akhirnya Arini berhasil naik dan bisa selamat dari tebing yang begitu menakutkan untuknya.
"Arini takut," ucapnya. Arini menangis, tubuhnya bergetar hebat padahal dia sudah berhasil selamat sekarang. Dalam posisi yang masih saling duduk di tanah Arini langsung memeluk Arya, dia sangat ketakutan.
Arya yang juga takut kehilangan Arini juga langsung mendekap Arini menenggelamkan wajahnya di dada bidang miliknya. Berkali-kali mengecup puncak kepala Arini dengan tangan yang juga terus mengelus nya.
"Sialan, apa aku kesini hanya untuk melihat adegan ini? dasar kurang ajar kau Arini. Kamu memang berniat untuk memanas-manasiku!" batin Melisa yang sangat kesal.
Tapi itu tidak berlangsung lama, lamunan Melisa hanya sebentar saja. Melisa beralih mendekati Arini, adegan ini juga tidak harus berlama-lama dia lihat.
"Arini, kamu tidak apa-apa kan? Arini?" tanya Melisa.
"Arini, kamu tidak apa-apa?" Arya juga ikutan bertanya tapi gadis itu terus saja diam bahkan tangisnya sudah gak lagi terdengar hanya dia yang terus sesenggukan yang masih Arya rasakan. rupanya dia kehilangan kesadaran, Arini pingsan.
Arya kembali panik setelah dia mencoba untuk melihat wajah Arini dan malah gadis itu ingin terjatuh, Arya cepat menariknya lagi.
"Arini, Arini bangun. Arini bangun!" Arya terus menepuk-nepuk pipi Arini tapi tetap saja tidak bisa membangunkannya, Arini tetap bergeming.
Tanpa peduli dengan Melisa Arya langsung mengangkat Arini, menggendongnya dan harus segera membawa Arini kembali ke Villa.
Langkah Arya begitu cepat dia takut terjadi apa-apa dengan Arini. Dia tidak mau kehilangan Arini yang sekarang begitu berarti untuknya. "Arini, kamu harus bertahan. Kamu harus kuat," ucapnya.
"Tuan..!" panggil Melisa tapi Arya tetap diam tak menjawab. "Ihh..., Arini lagi Arini lagi! kenapa nasibnya begitu beruntung sih tuh anak!"
Melisa ikutan beranjak meski dia sangat kesal, dia juga ogah di sana sendiri.
"Tuan, tunggu..!" teriak Melisa.
__ADS_1
Bersambung....
\_\_\_\_