Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
128. Malam Pesta


__ADS_3

Happy Reading...



Hinar binar lampu bernuansa putih begitu indah di lihat oleh mata. Semua para penikmat acara ulang tahun perusahaan juga satu persatu mulai merayap memadati tempat dimana akan di adakan acara yang sangat mewah yang hanya akan di lakukan setiap satu tahun satu kali.



Semua tampak bermegah-megahan dalam setiap busana yang mereka kenakan, baju glamor yang harga begitu fantastis juga aksesoris yang menambah meriahnya penampilan mereka.



Tak terkecuali gadis cantik dengan gaun berwarna merah pekat dengan high heels berwarna senada yang terdapat tali yang melingkar di kakinya. bukan hanya itu saja, tapi aksesoris penampilan yang menggantung di lehernya yang menambah kesan akan keistimewaannya, dia adalah Nadia.



Wanita yang di gadang-gadang menjadi wanita tercantik malam puncak acara ulang tahun itu yang akan bersanding dengan tuan besar, Tuan Arya Gautama.



Langkahnya merayap dengan lengan di gandeng oleh Dinda sang Mama. Senyum juga terpancar jelas menambah aura kecantikannya menjadi kian sempurna.



"Ma, Nadia sangat grogi," ucapnya. Wajahnya menoleh dan memberi lirikan kecil untuk mamanya yang kini malah tersenyum menanggapi.



Jelas Nadia akan sangat grogi, meski niatnya mendekati Arya hanya karena hartanya tapi dia akan menjadi pendamping orang nomor satu di acara itu, yang jelas dia juga akan menjadi pusat perhatian dari semua orang.



Dielusnya lengan Nadia dengan pelan, mama yang begitu sabar menghadapi anak gadisnya yang grogi seolah berada di medan pertempuran. Ya, ini adalah medan pertempuran Nadia untuk bisa mendapatkan Arya, memenangkan hatinya untuk bisa mendapatkan tahta sebagai permaisuri dari Arya Gautama.



"Tenangkan hatimu, Sayang. Lihatlah semua mata mereka yang memandangi mu dengan penuh kekaguman. Kamu harus bisa menjadi pusat perhatian mereka, bukan hanya mereka? tapi kamu harus mendapatkan perhatian dari Arya." ucap Dinda dengan begitu lemah lembut.



Benar yang di katakan oleh mamanya, Nadia harus bisa menghilangkan semua perasaan yang mengikatnya dan membuat dirinya merasa tidak percaya diri.



Nadia kembali tersenyum, tetap dia masih terasa sangat grogi dia sangat kesusahan untuk menghilangkan perasaan itu.



''Lihatlah, lihatlah Arya di sana. Dia terlihat sangat tampan dia sangat berkarisma apa kamu akan mempermalukannya?'' tanya Dinda, tentunya Nadia akan menggeleng.



''Semua sudah mulai menikmati pesta mereka, dan kamu juga harus menjemputnya. Ajaklah dia berdansa, dan jadilah raja dan ratu untuk malam ini sebelum besok kamu akan resmi menjadi tunangannya.''



Nadia ragu-ragu melangkah mendekati Arya yang masih sibuk dengan teman kolega bisnisnya yang di undang juga dalam acara itu.



Senyum pria itu sangat indah, sangat menggoda semua wanita yang begitu tergila-gila kepadanya sama seperti Nadia yang juga tergila-gila akan dirinya juga hartanya.



Langkah Nadia berhenti di samping Arya juga para teman-tamannya yang tengah berbincang-bincang juga tengah menikmati minuman mereka.



''Ar,'' suara Nadia terdengar sangat malu-malu tapi matanya tak pernah berkedip melihat wajah Arya yang sangat menawan.

__ADS_1



Mendengar suara Nadia membuat semuanya menoleh, begitu juga dengan Arya sekarang. Nadia begitu senang, hatinya semakin berbunga-bunga saat Arya menoleh berhiaskan senyum yang begitu indah.



Bagaikan sebuah mimpi Nadia sama sekali tidak percaya, benarkah Arya tersenyum padanya?



"Ar, bisakah kita berdansa?" tanya Nadia.



Arya tetap tersenyum tak menjawab. Terlihat Arya menyerahkan gelas pada seorang pelayan tanpa menoleh, matanya terus fokus ke satu tempat saja.



"*Arya tersenyum padaku? apakah dia sudah menerimaku sekarang? apakah dia mau berdansa denganku? siapa lagi yang pantas untuknya kecuali diriku*." batin Nadia yang sungguh percaya diri.



Wajah tampan itu semakin sempurna dengan senyuman yang tidak pernah pudar. Arya melangkah maju mendekati Nadia yang berdiam diri dan terpaku tatap memandangi wajah Arya.



"*Dia datang, dia akan berdansa denganku. aku akan menjadi orang nomor satu sekarang. Aku akan kaya, aku akan menjadi nyonya besar dari keluarga Gautama, Yah*.. " batin Nadia.



Begitu percaya dirinya Nadia sampai dia lupa akan semua kebencian Arya padanya. Dia sudah berpikir kalau Arya sudah menerimanya.



Tangan Nadia terulur saat Arya mengulurkan tangan di hadapannya. Sudah sangat senang hati Nadia sekarang.




Gadis kecil memakai gamis krem berhiaskan pita besar di pinggangnya, juga hijab pashmina berwarna senada yang baru saja masuk ke tempat acara itu telah merebut perhatian Arya atas dirinya.



Gadis itu terlihat sangat berbeda dari biasanya. Biasanya yang memakai pakaian sederhana saat ini terlihat memakai pakaian yang sangatlah istimewa. Yang pasti baju itu juga baju yang sangat mahal.



Tapi gadis itu tampak berjalan dengan sangat pelan bahkan wajahnya juga terus menunduk malu. Siapa lagi gadis yang bisa mempengaruhi Tuan Muda Arya Gautama selain Arini Khumaira. Gadis sederhana yang selalu mendapatkan hinaan dari semua orang tapi berhasil mengambil hati tuan Arya.



Arini sangat kesusahan untuk berjalan, bukan gamisnya saja yang terasa sangat berat tapi juga high hells yang dia pakai. Arini tidak pernah memakai high hells yang begitu tinggi tapi semua itu karena Arya yang memaksanya.



"Astaghfirullah hal 'azim..., tidak seharusnya aku memakai sendal yang seperti ini. Ini sebabnya aku tidak pernah kepingin sama sendal yang seperti ini. Ishh.., sampai kapan aku akan sampai," ucapnya yang terus menggerutu.



Tangan yang terulur berhasil menghentikan Arini yang masih berjalan dengan perlahan. Tapi karena tangan yang datang tiba-tiba membuatnya kehilangan keseimbangan dan membuat Arini cepat berpegangan dengan tangan yang ada di depannya.



Arya tersenyum, dia bahagia juga terpana melihat betapa bersinarnya gadis di hadapannya itu. Matanya tak berkedip bahkan tak berpaling sama sekali.



"Kamu sangat cantik, Arini," ucap Arya. Pria itu begitu sangat mengagumi Arini, tak sia-sia dia sendiri yang memilihkan pakaian yang Arini pakai saat ini, dan berhasil mengubahnya selayaknya tuan putri.

__ADS_1



Arini yang jantungnya masih terus berdetak kencang karena begitu takut terjatuh kini mulai mengangkat wajahnya, melihat siapa yang tengah memujinya.



"Pak Tuan," Arini sontak melepaskan tangannya, dia hendak menjauh tapi apa yang dia inginkan tidak terjadi karena Arini kembali terjatuh karena kesrimpet gamis yang dia pakai.



"Hati-hati, Arini." Arya langsung menangkap tubuh Arini yang kecil, tubuh keduanya saling berhimpitan dan sama sekali tak ada jarak.



Netra keduanya saling bertemu, keduanya terlihat sangat serasi dengan warna baju yang senada. Tak seperti biasanya yang tanpa warna saat ini baju yang Arya kenakan berwarna sama dengan Arini. Ternyata Arya memang sudah mempersiapkan semuanya.



"Semua ini gara-gara pak Tuan. Kalau saja tidak memaksa Arini untuk pakai sendal seperti ini Arini tidak akan terjatuh," omel nya.



Arya tersenyum geli, "High hells, Arini. Bukan sendal." Arya berbicara dengan pelan dan berhiaskan senyumnya.



"Sama saja, high... high... apa tadi. Ahh tidak penting! sama-sama di pakai di kaki kan?" mode bodohnya mulai kumat sekarang.



"High hells, Arini." Arya terus menjelaskan dengan sabar, tapi sepertinya Arini tak lagi mau tau dia lebih memilih untuk mencoba melepaskan diri dari pelukan Arya.



"Pak Tuan, lepasin Arini. Ini sangat tidak pantas," protes Arini.



"Coba saja lepasin sendiri, kalau kamu bisa maka aku akan biarkan kamu pergi dari sini. Tapi kalau tidak bisa, kamu harus patuh akan perintahku dan menemaniku berdansa di sini." ucap Arya dengan sangat jelas.



"Tidak... tidak..., Arini tidak bisa berdansa. Lagian ini tidak pantas. Arini takut sama Allah kalau pak Tuan tidak melepaskan Arini, ini dosa." Arini terus berontak tapi Arya masih tetap kekeh.



Bukannya melepaskan Arya malah semakin erat memegangi pinggang Arini. Membuatnya tidak bisa bergerak sama sekali.



"Ih.., dasar Pak Tuan! *dug*.." high hells yang begitu runcing Arini gunakan untuk menginjak sepatu Arya dan yang jelas mengenai kakinya, berhasil membuat Arya meringis sakit dan tangan cepat melepaskan.



"Maaf ya, Pak Tuan." Arini bergegas pergi. Dia menjauh sejauh-jauhnya dari Arya bahkan dia sempat membungkuk untuk melepaskan yang katanya sendal.



Arya yang mulai membaik dia bergegas untuk mengejar Arini tapi langkahnya harus terhenti karena mendengar teriakan dari Luna.



"Arya!" mata Luna sudah sangat membulat, dia sangat marah setelah melihat adegan yang Arya ciptakan dengan sengaja.



Arya sungguh berani, dia sudah mulai terang-terangan dalam mendekati Arini. Semua yang terjadi sekarang pastilah akan berbuntut buruk kepada Arini. Semua orang pasti akan menggunjing Arini, bahkan bisa saja akan ada yang mengatakan kalau Arini adalah orang ketiga dari Arya juga Nadia.


__ADS_1


Bersambung...


_______


__ADS_2