Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
89.Salah Perkiraan


__ADS_3

...____...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Hari sudah berganti menjadi malam, Arini juga harus menjalankan sholat di mushola tempat itu karena Arya yang masih belum mau berhenti belanja. Dan sekarang mereka baru mau pulang setelah sudah sangat larut.


Satu mobil Arya penuh dengan semua belanjaan yang tadi mereka belanjakan, dari bagasi juga tempat penumpang di belakang,bahkan Arini juga memangku beberapa kresek dari belanjaan juga.


Mobil mulai berjalan dengan pelan meninggalkan tempat itu, Arya ingin mengantarkan Arini lebih dulu sebelum dia pulang ke apartemen.


"Di mana rumahmu!? " Arini hanya bisa mengusap dada karena nada bicara Arya yang selalu saja tak ada halus-halusnya sama sekali.


"Di...," ucapan Arini terhenti karena Arya sudah menyerobotnya dengan jawabannya sendiri.


"Saya sudah tau," jawabnya.


Jelas Arini terbelalak tak percaya, buat apa Arya bertanya kalau dia sudah tau di mana rumah Arini. Bos nya ini benar-benar membuatnya ikutan tidak waras nantinya.


"Nggak jelas banget sih nih pak Tuan," ucap Arini. Ya, kan memang Arya ini memang tidak jelas, kadang emosian, kadang suka perhatian, kadang kalau lagi kumat begitu menyeramkan.


Arya tetap diam, dia serius untuk menyetir mobilnya. Arah laju mobilnya pun juga memang menuju rumah Arini berarti memang mau mengantarkan Arini.


Meski lelah Arini sedikit terhibur juga, dalam sejenak dia bisa melupakan segalanya apa yang terjadi.


Sampai di depan rumah Arini mereka berdua terus diam tak mengatakan apapun. Hanya keheningan saja yang terjadi tapi sesekali Arya menoleh ke arah Arini yang terlihat kembali murung.


"Heyy..., jangan melamun, kita sudah sampai di rumahmu," suara Arya begitu mengejutkan Arini.


"Sudah sampai ya, Pak Tuan? " tanya Arini dan matanya mengedar untuk mencari jawabannya dan ternyata benar mobil sudah berhenti di depan rumah.


"Terima kasih ya, Pak Tu.. an..., loh! kenapa pak Tuan juga turun? " Arini mengernyit, dia juga langsung keluar dari mobil mengikuti Arya.


Terlihat Arya melambaikan tangannya kepada para pemuda yang tengah nongkrong tak jauh dari tempat itu. Dan ketiga pemuda itu langsung berlari karena merasa di panggil.


"Ada apa, Kak? " tanya salah satu mewakili.


Arya membuka pintu bagasi, juga pintu di belakang pengemudi.


"Tolong turunkan semua barang-barang yang ini, dan bawa masuk ke dalam rumah itu. Kalian paham kan apa mau saya."


"Paham, Kak."

__ADS_1


Ketiga pemuda itu langsung mengangguk juga langsung melakukan apa yang Arya minta yaitu mengeluarkan semua belanjaan tadi dan membawanya masuk ke rumah Arini.


Arini bingung melihat apa yang di lakukan para pemuda itu, dia menghampiri Arya karena mau bertanya kenapa semuanya di bawa masuk ke rumahnya.


"Pak Tuan, kenapa belanjaan.. "


"Sudah, jangan banyak bertanya. Anggap saja ini adalah bonus dari semua hutangmu yang begitu banyak padaku." ucap Arya.


"Jangan sampai ada yang tertinggal ya! " teriakan Arya membuat ketiga pemuda itu mengangguk.


"Bonus? sejak kapan orang punya hutang dapat bonus? " tanya Arini namun Arya tetap diam tak menjawab.


Mendapatkan semua belanjaan yang seperti satu toko itu membuat nek Murni juga kek Susanto keluar. Mereka bingung siapa sebenarnya yang memberikan semua ini.


Keduanya berjalan dengan bergandengan, untuk menghampiri Arya juga Arini, lebih tepatnya kakek Susanto yang memegangi nenek Murni supaya tidak terjatuh.


"Ada apa ini, Arini? " tanya nenek Murni.


Arini hanya menggeleng, bahkan dia juga tidak tau apa alasannya Arya melakukan semua itu.


Bukannya memberikan penjelasan Arya malah nyelonong untuk masuk ke rumah Arini. Astaga tuh orang, yang punya rumah ada di luar semuanya eh dianya malah masuk tanpa permisi dulu.


"Arini, ada apa ini? kamu..., kamu tidak melakukan dosa kan?" kakek Susanto sangat takut kalau semua ini adalah bentuk terima kasih karena sudah mengambil kesucian Arini.


"Maksud kakek?" Arini mengernyit tak mengerti.


"Apa yang di katakan ibumu kemarin tidak benar kan? kamu tidak seperti itu kan? kamu..., kamu tidak menjual dirimu pada orang it... " ucapan Susanto terhenti karena Arya ternyata sudah kembali dan berdiri di sebelahnya dan sepertinya dia mendengar semua apa yang dia katakan.


"Apa yang ibunya katakan!" pertanyaan menekankan langsung terlontar dari Arya. Apa mungkin yang di katakan oleh ibunya yang membuat Arini menjadi pendiam seperti hari ini? jadi.., jadi perkiraan Arya salah dong. Dia kira Arini sedih karena keterbatasan kebutuhan hariannya, makanya dia memutuskan untuk belanja dan memberikannya kepada Arini.


"Anu..., hem...? tidak ada kok, Pak Tuan. Ibu hanya bilang Arini harus jagain kakek juga nenek dengan baik, itu saja," jawab Arini dengan berbohong.


Tidak mungkin Arini akan menyatakan dengan jujur apa yang Ratna katakan bisa-bisa Arya akan lebih simpati padanya dan Arini juga tidak mau hidupnya di kasihanin oleh orang.


"Terus kenapa rumah kalian terlihat berantakan juga kosong seperti itu," tanya Arya lagi.


"Itu...," Arini begitu bingung mencari alasan.


"Itu karena kami belum sempat beres-beres hari ini, Tuan. Dan kenapa kosong? karena kami membuang semua barang-barang yang ada di dalamnya kami sudah tidak membutuhkannya lagi," kali ini kakek Susanto yang berbohong.


Berbohong tidak baik sebenarnya, meski berbohong demi kebaikan. Tetap saja itu adalah sebuah kebohongan yang tidak bisa di jadikan sebuah alasan.

__ADS_1


"Kak, semuanya sudah kami keluarkan," ucap salah satu dari pemuda tadi.


Arya merogoh kantongnya mengeluarkan dompet lalu mengambil beberapa lembar uang ratusan untuk mereka.


"Ini untuk kalian," ucap Arya menyodorkan uang kepada salah satu dari mereka.


"Terima kasih, Kak." Mereka langsung pergi setelah mendapatkan imbalan dari Arya.


Arya hanya mengangguk kecil lalu kembali fokus kepada Arini dan juga kedua orang tua yang berdiam diri karena pertanyaannya.


"Apakah saya bisa mempercayai semua yang kalian katakan? " tanya Arya masih menegaskan. Matanya terus menatap penuh selidik kepada mereka dan hanya di balas dengan anggukan saja.


Memang Arya orang yang sangat besar, dia juga sangat berkuasa. Sekali saja dia bertindak pasti tidak akan susah untuk mencari orang tua Arini yang tega membuangnya.


Tapi kakek Susanto tak mau mengambil resiko, dia takut dengan kebiasaan Arya yang dia juga ketahui, kakek Susanto tidak mau mempertaruhkan Arini meski itu demi Arini sendiri.


"Iya, Tuan. Anda bisa mempercayai kami," jawab kakek Susanto.


"Baik kalau begitu. Saya pamit ini sudah malam. Lagian kalian juga butuh istirahat," pamit Arya.


Arya benar-benar pergi, memasuki mobilnya dan langsung melajukan nya.


Arini masih saja terdiam meski dia sudah menoleh ke arah mobil yang sudah pergi meninggalkan tempat itu beserta pemiliknya.


"Ya Allah..., pasti akan tambah lagi hutang-hutangku. Tidak mungkin pak Tuan memberikan semuanya dengan cuma-cuma," gumam Arini.


Tidak mungkin kan Arya akan berbaik hati dan memberikan semua dengan cuma-cuma. Apalagi semua belanjaannya sangat banyak dan Arya juga menghabiskan banyak uang untuk semua itu.


Entah apa yang akan dia dapatkan besok di tempat kerjanya, pastilah hal yang tak biasa.


"Nak, masuk yuk. Angin malam tidak akan baik untuk kesehatan," ajak nenek Murni.


"Iya, Nek."


Sekali lagi Arini menoleh dan yang jelas dia sudah tak lagi melihat mobil Arya.


Mereka bertiga masuk ke rumah, belanjaan yang begitu banyak dan juga sangat komplit itu mau di taruh di mana? rumah mereka sangat kecil, kulkas mereka pun juga sangat kecil tak akan muat untuk seperempat dari total semuanya.


"Ini bagaimana? mau di taruh di mana coba? " Arini terlihat bingung sendiri.


/////

__ADS_1


Bersambung....


_________


__ADS_2