
..._____...
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
Tak lama setelah kepergian Arya, mobil hitam mewah datang. Seorang sopir turun lalu membukakan pintu majikannya dengan cepat.
"Silahkan Nyonya besar," ucapnya dengan sangat hormat.
Senyum terpencar jelas di bibir Eyang Wati, sudah beberapa hari dia tidak datang ke perusahaan cucunya itu dia juga sangat merindukan Arini, entah mengapa wajah Arini selalu saja tersenyum di hadapannya.
"Terima kasih, Gus," jawab Eyang Wati.
"Sama-sama, Nyonya besar."
Eyang Wati segera keluar dari mobil dia juga membawa rantang dia ingin sekali bisa makan bareng dengan Arini, dia pikir akan asyik makan bersama dengan gadis itu sembari mengobrol hangat.
Eyang Wati masuk, namun dia berhenti terlebih dahulu di depan resepsionis untuk menanyakan keberadaan Arya karena dia juga berniat untuk mengajak dia juga untuk makan bersama.
"Mbak, apa Arya ada di ruangannya?" tanya Eyang Wati dengan sangat lembut. Entah mengapa orang selembut Eyang Wati harus memiliki cucu yang angkuhnya tiada tanding.
Resepsionis tampak bingung dia ragu untuk mengatakan kebenaran apa yang tadi dia lihat, tapi dia harus tetap mengatakan itu kan?
"Mbak, apakah Arya ada di ruangannya?" tanya Eyang Wati mengulanginya lagi.
"Tuan Arya...? Tuan Arya tidak ada di tempat Nyonya besar, Tuan Arya sedang keluar sepertinya dia akan ke rumah sakit," jawabnya.
"Emang Arya sakit?!" terdengar suara yang sangat khawatir dari Eyang Wati, dia adalah cucu satu-satunya dia tidak akan sanggup jika cucunya sakit.
"Bukan, Nya! tapi...? tapi Arini yang sakit, dia pingsan Nya," ucapnya menjelaskan.
"Arini sakit!" Wati tersentak, "terima kasih, Mbak," Wati bergegas pergi lagi untuk menuju rumah sakit, dia sangat khawatir dengan keadaan Arini yang belum dia ketahui sakit apa sebenarnya.
"Gus, ke rumah sakit! " pintanya.
"Baik, Nya," jawab pak Agus.
Mobil kembali melaju, meninggalkan tempat itu untuk segera meluncur ke rumah sakit.
"Semoga kamu baik-baik saja, Arini," ucap Eyang Wati dengan sangat gelisah.
///////
"Dok, apakah Anda benar-benar akan keluar, terus bagaimana dengan Nek Murni?" tanya salah satu perawat kepada Dimas.
Dimas memang ingin keluar namun itu tidak lama, hanya sebentar saja karena ada sesuatu yang harus dia lakukan.
"Saya hanya sebentar, tolong selama aku pergi kamu pantau terus perkembangannya. Lihat apakah obatnya bekerja dengan baik atau tidak. Kalau ada sesuatu langsung hubungi saya," jawab Dimas.
"Baik, Dok! akan saya kerjakan,"
"Hem.. " Dimas mengangguk setelah itu dia mulai berjalan menuju pintu utama.
Belum juga sampai di pintu keluar Dimas di kejutkan dengan kedatangan Arya yang terlihat sangat kacau, bukan itu saja yang membuat Dimas terkejut melainkan gadis yang ada di gendongan Arya.
__ADS_1
"Tuan Arya! Arini! " Dimas langsung berlari menghampiri Arya jelas dia sangat khawatir dengan keadaan gadis yang tadi pagi menitipkan neneknya sebelum dia pergi.
"Dimas! cepat tolong Arini! dia terluka! " teriak Arya saat dia sudah melihat Dimas.
"Apa yang terjadi Tuan Arya! kenapa Arini bisa seperti ini!" Dimas langsung panik dia juga ikut berlari mengejar Arya yang membawa Arini sendiri sampai ruang UGD.
"Jangan banyak bac*t cepat tangani dia dulu! cepat sembuhkan dia! kalau sampai terjadi apa-apa padanya aku akan lempar kamu ke kutub utara! Cepat! " perintah Arya.
"Dasar nggak waras! " sungut Dimas kesal, bisa-bisanya masih memikirkan untuk melemparkannya ke kutub utara di saat sedang seperti ini.
Arya menurunkan Arini dengan pelan di brangkar UGD dia juga sedikit menjauh supaya Dimas bisa memeriksa keadaannya.
"Ehh...! apa yang mau kamu lakukan!" teriak Arya saat dia melihat Dimas mendekatkan stetoskop ke dada Arini untuk memeriksa detak jantungnya.
"Jangan macam-macam kamu ya, Dimas! jangan sentuh-sentuh dia! kalau berani melakukan itu aku akan potong tanganmu! " ancam Arya.
Dimas masih diam dia masih bisa bersabar menghadapi Arya.
"Ehh..., jangan kamu menyentuhnya! Kalian bukan pasangan itu akan berdosa!" teriaknya lagi saat Dimas ingin membuka mata Arini dengan tangannya.
Dimas masih diam lagi namun dia sudah menggeleng sebagai reaksinya menanggapi Arya.
"Ehh..., jangan tinggi-tinggi kamu membukanya!" teriaknya lagi saat Dimas hendak memeriksa tangan Arini yang terluka dan membuka sedikit lengan bajunya.
Kini kekesalan Dimas benar-benar sudah sampai ubun-ubunnya, dia memejamkan mata sejenak menarik nafas dalam dan mengeluarkan perlahan. Dia membuka matanya bersamaan dia berbalik badan dan memandangi Arya.
"Tuan Arya terhormat, apakah bisa saya memeriksa keadaan pasien saya hanya dengan memandangi saja? tidak kan! lebih baik sekarang anda diam atau anda lebih baik menunggu di luar, biarkan kami bekerja," ucap Dimas.
"Kau berani mengusirku? heyy.., ini rumah sakit ku!"
"Ya, saya akan diam, tapi jangan lewati batasan mu Dim," kesal Arya yang masih saja tak mau melihat Dimas menyentuh Arini.
Kini Arya diam, dia mengamati Dimas yang bekerja, "dia tidak apa-apa, dia hanya kelelahan, dia juga lemah karena perutnya kosong,mungkin dia tidak makan dari kemarin," ucap Dimas.
"Sus, tolong pasang infus padanya, itu bisa menjadi kekuatan untuknya," perintahnya dan perawat langsung melakukan apa yang Dimas minta.
"Darimana kamu tau dia tidak makan dari kemarin?" tanya Arya penasaran.
"Kita bicara di luar," ajak Dimas, dia berjalan lebih dahulu dan Arya langsung mengikutinya.
Arya sangat penasaran, kenapa Dimas seperti tau segalanya tentang Arini.
"Kenapa dia bisa seperti ini, apa yang kamu lakukan padanya, Tuan Arya," tanya Dimas to the poin.
Dimas tau Arini tidak akan mungkin melakukan percobaan bunuh diri kalau dia tidak terdesak. Meskipun baru beberapa kali Dimas bertemu dengannya tapi dia tetap yakin Arini tidak selemah itu dalam setiap menghadapi ujiannya, pastilah ada yang memaksanya melakukan itu.
"Apa yang aku lakukan? aku tidak melakukan apapun," jawab Arya.
"Jangan berkelit, Tuan Arya! saya mengenal Arini dengan baik dia tak mungkin mau mengakhiri hidupnya kalau tidak ada sesuatu padanya! Sekarang katakan, apa yang kamu lakukan padanya,"
"Yang aku lakukan, aku ingin melakukan hal yang sama seperti yang kalian berdua lakukan tadi malam. Apa hanya kamu saja yang bisa menikmatinya, saya juga penasaran dengannya. Saya ingin menikmatinya juga seperti kamu," ucap Arya santai seolah tak ada kesalahan yang dia perbuat.
Mata Dimas sudah memerah, dia tau arah pembicaraan Arya sekarang, "emang apa yang aku dan Arini lakukan, Hah! " Dimas sudah tersulut dia mencengkram baju Arya dengan kuat.
__ADS_1
"Tidak usah sok tidak tau, aku tau kalian tadi malam melakukan hubungan selayaknya laki-laki dan perempuan, aku melihat kamu dan dia jalan berdua dan aku juga melihat kalian masuk ke clup malam. Emang apalagi yang kalian lakukan kalau bukan melakukan hubungan intim! bagaimana rasanya apakah dia beneran enak?" ucap Arya.
Benar-benar sudah mencapai puncak amarah Dimas, dia tak lagi bisa mengontrol emosinya setelah mendengar pernyataan dari Arya.
𝘉𝘶𝘨𝘩...
"Itu karena kamu telah menyakitinya! "
𝘉𝘶𝘨𝘩...
"Itu karena kamu telah memfitnahnya! "
𝘉𝘶𝘨𝘩...
"Itu karena kamu meragukan kesuciannya juga meragukan aku dengan nya! apa kamu tau Tuan Arya! dia gadis baik-baik! kemarin aku bersamanya karena aku menolongnya,"
"Aku lihat dia menangis kemarin! dan aku hanya ingin menghiburnya! dan untuk aku dan dia datang ke clup malam, itu karena dia ingin menghentikan kakaknya yang datang ke sana! apa semuanya jelas sekarang!"
Begitu besar amarah Dimas. Dia seolah tak rela dia juga ikut merasakan sakit saat ada orang yang menyakiti Arini.
"Kamu jangan berbohong, Dim! mataku belum buta, aku bisa melihat semua yang kalian lakukan," jawab Arya sembari menahan rasa sakit karena pukulan dari Dimas.
Dimas kembali mencengkram Arya.
"Apakah aku pernah berbohong padamu, Ar-ya!! kau.., kau sungguh tidak punya moral Arya!" Dimas ingin sekali kembali memukul Arya tapi dia urungkan dia tak ingin tenaganya habis karena meladeni Arya yang perilaku sudah di bawah nalar.
Arya diam berpikir, apakah benar dia salah mengenali orang sekarang? apakah matanya benar-benar buta untuk melihat kebenaran? apakah dia sudah terbutakan dengan kebiasaan buruknya.
Dimas memalingkan wajahnya dia juga sedikit menjauh dari Arya.
"Apa kamu tau Arya, gadis itu? gadis kecil, dan juga lemah itu yang rela mengangkat beban beratmu saat kamu di rampok, dialah gadis yang telah membawamu ke rumah sakit ini, dialah yang menyelamatkanmu! " ucap Dimas.
Arya tersentak tak percaya, bagaimana mungkin gadis sekecil Arini kuat membawanya ke rumah sakit saat dia tak sadarkan diri. Apalagi dengan berat tubuhnya yang tak sebanding dengan dirinya.
"Kamu jangan bohong, Dim. Tidak mungkin dia yang menolongku," Arya menggeleng tak percaya.
"Terserah kamu mau percaya atau tidak, tapi itulah kenyataannya. Dan kamu berhutang nyawa padanya, apalagi sekarang gara-gara kamu dia ingin mengakhiri hidupnya apakah ini balas budi yang kamu berikan padanya? "
"Tadi pagi dia menitipkan neneknya padaku, dia ingin pergi ke tempat dia bekerja untuk meminjam uang untuk pengobatan neneknya. Apa.., apa itu berarti dia bekerja padamu?! " Dimas kembali menoleh ke arah Arya dan langsung mendapatkan anggukan darinya.
Dimas semakin marah sekarang, "Jangan-jangan kemarin dia menangis, itu juga karena perbuatan mu, Hahh!! "
Arya melongo tak mampu mengatakan apapun lagi, ternyata dia sudah sangat keterlaluan memperlakukan gadis kecil itu.
"Arya..!
𝘗𝘭𝘢𝘬𝘬𝘬...
" Apakah ini yang Eyang ajarkan padamu!! "
/////
Bersambung..
__ADS_1
___________