
...****************...
Semakin berumur kehamilan Arini cinta Arya semakin bertambah besar. Semakin posesif, dan juga semakin waspada dalam hal apapun.
Arya berusaha selalu ada untuk Arini, selalu melimpahi kasih sayang meski Arini yang terkadang menjengkelkan. Semakin bersabar meski Arini suka bertingkah tak wajar, itulah adanya dan itulah yang membuat Arya semakin cinta karena keunikannya.
Tubuh kurus Arini kini semakin berisi, pipinya semakin gembul saja dan terlihat semakin menggemaskan.
"Menggemaskan sekali," gumam Arya.
Meski dirinya sekarang ada di kantor dan masih begitu banyak pekerjaan tapi dia sempatkan melihat foto Arini yang ada di ponselnya. Foto yang dia ambil diam-diam saat Arini masih tidur tadi pagi.
"Tuan," sapa Toni. Sudah ketiga kalinya Toni menyapa Arya namun suaranya seakan tak terdengar. Suara Toni terasa begitu lirih hingga tak sampai pada telinga Arya.
"Tuan," panggilnya lagi. Arya yang memanggilnya untuk datang tapi setelah dia datang Arya malah tengah melamun dan terus tersenyum sembari melihat layar ponsel. Apakah Toni datang di saat waktu yang tidak tepat?
"Hem," kali ini suara Toni sampai pada Arya, dengan pelan dia meletakkan ponselnya di atas meja, membenarkan jasnya dan duduk dengan tegak di sambung dengan melihat Toni sang asisten.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanyanya.
"Semuanya sudah selesai, Tuan."
"Bagus. Hem, jangan lupakan berkas yang saya minta kemarin kamu harus menyelesaikannya hari ini dan menyerahkannya padaku sebelum saya pulang."
"Baik, Tuan. Saya akan segera menyelesaikannya. Apa masih ada lagi?"
"Hem," Arya berpikir sejenak. "Tidak, pergilah," ucapnya.
__ADS_1
Sebenarnya ada hal yang ingin Arya katakan tapi dia malah lupa. Entah apa yang dia ingin katakan tadi kini hilang begitu saja karena dia yang terus memikirkan istrinya.
'Jadi, hanya ini saja yang ingin Tuan Arya katakan? sepertinya tadi mau mengatakan hal penting tapi kenapa sekarang hanya masalah berkas saja?' batin Toni bingung.
Toni melangkah keluar dengan bingung, menoleh sejenak ke arah Arya yang ternyata kembali sibuk dengan ponselnya.
Semakin melihat dengan lekat semakin membuat sudut bibir Arya tertarik untuk tersenyum. Semakin rindu saja dan ingin cepat pulang. Kalau saja pekerjaan tidak menumpuk dan harus segera diselesaikan pasti Arya akan memilih untuk pulang saja.
"Selesaikan pekerjaanmu, Arya. Kalau kamu memang ingin cepat pulang." ucap Arya, menasehati dirinya sendiri.
...****************...
"Hahaha, apa sih yang mbak Susi katakan." ucap Arini.
Hanya dengan gurauan Susi yang tak seberapa Arini bisa tertawa. Tidak pembantu tidak majikan memang sama-sama unik sangat klop.
"Kenapa seperti itu?"
"Ya karena Tuan sangat mendominasi."
"Hem, bilang saja kalau jangan sampai anak kami mirip sama saya. Iya kan?"
"Bukan bukan! ih nyonya jangan seperti itu lah. Jangan serius gitu ngapa saya kan hanya bercanda." Susi meringis.
"Hahaha! wajah mbak Susi lucu sekali. Nggak enak banget di lihatnya." Arini tertawa lagi. Padahal dia juga mengatakan hal itu tidak serius, tapi Susi sudah terlihat ketakutan.
"Ih nyonya cantik, hampir saja jantung Susi copot."
__ADS_1
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," Arini langsung menoleh. "Mama!" teriaknya.
Begitu bahagia Arini melihat Nilam yang datang. Langsung Arini berjalan menghampiri, menyambut Nilam yang datang.
"Mama kok nggak bilang-bilang kalau mau datang. Kan Arini bisa siapin apa gitu sebelum Mama datang," ucapnya.
"Tidak usah disiapin apa-apa, bisa bertemu kamu saja mama sudah sangat senang."
"Ma, Arini kangen," rengeknya. Langsung memeluk Nilam dengan begitu erat. Suaranya begitu mendayu-dayu seperti anak kecil yang menginginkan sesuatu.
"Mama juga kangen, maka dari itu mama datang. Kak Dimas bilang kamu lebih menggemaskan sekarang jadi mama penasaran deh."
"Mama sama siapa, sendiri? papa nggak ikut?"
"Papa nanti nyusul, lagi ada kerjaan katanya."
"Oh, sini ma," ajak Arini.
"Mbak Susi, tolong bikinin minum ya!" titahnya.
"Siap, Nya." Susi langsung beranjak, berjalan ke dapur untuk segera mengerjakan perintah dari Arini.
Sementara Arini kini terus berbincang dengan Nilam di ruang tengah. Saling melepas rindu karena beberapa hati tak bertemu.
...****************...
__ADS_1
Bersambung...