
◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦
_______
"Es krim Arini..! " Arini langsung berlari begitu cepat bahkan dia langsung terduduk dan membuka kembali tong sampah yang sudah tertutup rapat.
"Kenapa pak Tuan membuang es krim Arini, ini kesukaan Arini. Kak dokter yang membelikannya," tangan Arini sudah berhasil menyentuh lagi kresek yang ada di dalam tong sampah dia mulai mengeluarkannya dari sana namun Arya menarik lengan Arini supaya cepat berdiri.
"Menyingkir dari situ! " bentak nya. Dan kresek itu kembali terjatuh dan masuk lagi.
Arini menggeleng dia akan pergi setelah dia juga berhasil mengambil kembali apa yang Arya buang.
"Tidak pak Tuan. Arini mau es krim nya," Arini ingin kembali berjongkok tapi Arya semakin kuat menariknya.
Arya tidak peduli dengan ucapan Arini dia tetap menariknya dan menghempaskan Arini ke sofa hingga punggungnya terbentur.
Air mata Arini sudah mengalir dia masih ingin bangun dan kembali berlari dia masih merasa eman dengan es krimnya. Arini yang belum memiliki penghasilan sendiri karena belum gajian dia masih belum bisa untuk membeli es krim yang sebenarnya harganya tak seberapa.
Arini begitu hemat dengan sisa uangnya yang hanya beberapa rupiah saja. Arini juga tak berani meminta pada nek Murni juga kakek Susanto karena tidak mau menjadi beban untuk mereka.
"Duduk! Sekali lagi kamu bangun aku bisa berbuat kasar padamu, duduk!! " bentak Arya keras.
Hatinya begitu berselimut kabut hitam hanya karena Arini menerima pemberian dari pria lain dan bukan dari dirinya. Arya tidak mau Arini berhubungan dengan siapapun termasuk Dimas sahabatnya sendiri.
Arini sesenggukan tak berani melihat Arya, tapi dia terus bergumam akan es krimnya yang hilang dari genggamannya dan tak bisa lagi untuk di nikmati.
"Es krim Arini..., Arini hanya mau es krimnya," gumamnya.
__ADS_1
Arya begitu frustasi, tapi hatinya tambah semakin kesal karena Arini menangis dan mengira Arini menangis karena sedih karena itu pemberian Dimas. Padahal Arini tidak berfikir sampai seperti itu.
"Kenapa! kamu sedih karena es itu pemberian Dimas? Hahh! " Arya terus gusar dia berdiri pun tidak tenang.
Arini menggeleng, bukan itu alasannya tapi Arini sedih karena akhirnya dia bisa memakannya lagi untuk yang kedua kalinya.
"Dan ya, bukankah aku sudah bilang padamu, jangan pernah berhubungan pada laki-laki tidak jelas meski di luar jam kerja, apa kamu tidak mengingat itu, hahh!! " tak ada habis-habisnya Arya marah hanya karena sebuah es krim.
Arini masih terus menangis dia begitu sedih tapi Arya tak mau tau.
Lama-lama tak tega juga si Arya karena Arini tak henti-hentinya menangis. Meski hatinya masih kesal tapi dia berusaha untuk mengendalikannya.
Arya duduk di depan sofa yang berbeda dengan Arini di tatapnya gadis itu yang masih terus mengeluarkan air mata seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.
"Maaf," ucap Arya yang mulai meredakan amarahnya.
"Arini hanya mau es krim coklat, " Arini terus menunduk, tangisnya memang mulai reda tapi masih sesenggukan.
Helaan nafas panjang Arya keluarkan tapi bukan berarti Arya akan mengizinkan Arini untuk mengambil lagi es krim yang dia buang tadi.
"Kamu mau es krim? " tanya Arya dan Arini mengangguk cepat, "baik, saya akan belikan untuk mu tapi mulai sekarang kamu tidak boleh menerima apapun lagi dari laki-laki tidak jelas, kamu ngerti," imbuh Arya, suaranya masih terdengar ada kekesalan tapi Arya mulai menenangkannya.
"Iya," Arini mengangguk.
Arya mengambil ponsel di saku untuk memberi perintah pada Toni.
"Toni, beli es krim rasa coklat sebanyak-banyaknya sekarang, kalau perlu sekalian beli dengan pabriknya juga." ucapnya.
__ADS_1
Hanya itu yang Arya katakan dan langsung di matikan begitu saja.
"𝘉𝘦𝘭𝘪 𝘦𝘴 𝘬𝘳𝘪𝘮 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘤𝘰𝘬𝘭𝘢𝘵? 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘬𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘦𝘴 𝘬𝘳𝘪𝘮. 𝘋𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘵𝘢𝘥𝘪? 𝘣𝘦𝘭𝘪 𝘱𝘢𝘣𝘳𝘪𝘬 𝘯𝘺𝘢 𝘫𝘶𝘨𝘢, 𝘢𝘱𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳? " gumam Toni dari tempat yang berbeda.
"Tunggulah sebentar lagi apa yang kamu inginkan akan datang. Untuk sekarang kamu harus menemaniku makan, kalau tidak mau maka es krim juga tidak akan datang," ancam Arya.
"Pak tuan pasti lapar karena habis marah-marah ya? " haduh, masih berani-beraninya Arini bertanya seperti itu.
"Bukan urusan mu, cepat makan! Cepat ambilkan untuk ku dan layani aku dengan baik, dan kamu juga harus ikut makan," titahnya.
"Tapi Arini sudah makan, Arini juga sudah kenyang," ucap Arini seraya menolak dengan pelan.
Mata Arya kembali melotot, dia kembali kesal karena Arini tak mengindahkan perkataannya.
"Tapi..? "
"Jangan membantah, cepat! " seru Arya kekeuh.
"I-iya," jawab Arini.
"𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘦𝘴 𝘬𝘳𝘪𝘮 𝘴𝘢𝘫𝘢? 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪-𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘥𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨𝘪𝘴 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘦𝘴 𝘬𝘳𝘪𝘮 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢, " batin Arya.
____
Bersambung...
______
__ADS_1