
Happy Reading...
.•♫•♬•-•♬•♫•.
Mobil hitam terus berjalan menuju perusahaan Gautama. Di dalamnya ada dokter tampan yang hatinya tengah berbunga-bunga dan ingin menjemput gadisnya yang terus membuatnya kelimpungan tak bisa fokus.
Dia benar-benar sudah jatuh hati pada Raisa sekarang, tak bisa di pungkiri lagi rasa itu. Ya, meski sesekali mereka masih suka berdebat sih. Mungkin itulah bumbu yang membuat hubungan mereka menjadi semakin sedap.
"Benarkah aku sudah jatuh cinta setengah mati dengannya? Kenapa dia juga selalu hadir di dalam mimpiku, seolah dia tak pernah mau pergi dari kehidupanku. Ah, mungkin Arini benar, aku harus segera membuat dia menjadi milikku selamanya kalau tidak aku bisa-bisa tidak waras."
Matanya terus fokus, melihat aspal di hadapannya. Dia benar-benar tidak sabar ingin melihat Raisa sehingga dia melajukan mobilnya dengan cepat.
Dimas tersenyum saat melihat ada toko bunga di pinggir jalan, otaknya langsung berpikir dia ingin membeli bunga dan akan memberikannya kepada Raisa.
Benar saja kali ini dia langsung menghentikan mobilnya di depan toko bunga itu dan bergegas turun untuk membeli bunga yang dia tuju.
"Mas, beli bunganya satu. Yang itu," tangan Dimas menunjuk buket bunga yang berisi bunga mawar merah dan putih juga ada bunga aster kecil-kecil berwarna putih juga bunga lainnya sebagai pelengkap.
"Yang ini, Tuan?" tanya sang penjual yang juga masih sangat muda itu, Dimas yakin dia hanya pekerja di sana karena memakai seragam seperti yang lain.
"Iya, berapa, Mas?" tanya Dimas.
"Seratus lima puluh ribu, Mas," jawabnya.
Sebelum menerimanya Dimas mengeluarkan uang dari dalam dompetnya dan menyerahkan kepada Mas-mas itu. Setelah di terima baru Dimas mengambilnya.
"Terima kasih, Mas."
"Sama-sama, Mas."
Dimas sangat senang melihat bunga yang sangat indah itu. Dia tersenyum, berpikir kalau Raisa akan sangat senang saat menerimanya.
__ADS_1
"Semoga Raisa suka," Dimas cepat kembali ke dalam mobilnya, dia juga bergegas untuk secepatnya sampai di tempat Raisa kerja dia tidak mau sampai dia terlambat dan Raisa lebih dulu pulang.
Mobil kembali melaju dengan cepat Dimas sudah sangat tidak sabar ingin melihat Raisa yang mungkin akan tersipu setelah menerima bunga pemberiannya atau mungkin malah Raisa memberikan ekspresi lain? semoga apapun ekspresinya Raisa menerimanya dengan senang hati.
Pas sekali, saat Dimas sampai di depan perusahaan Gautama semua karyawan tengah keluar karena sudah waktunya pulang. Dimas masih menunggu di dalam mobil dia baru akan keluar setelah melihat Raisa.
Dan benar saja tak lama Dimas sampai Raisa keluar dan mulai berjalan mendekati mobilnya. Sebenarnya Raisa tidak berniat mendekati mobil Dimas karena mobil itu memang terparkir di pinggir jalan dimana Raisa biasanya menghadang angkutan yang akan mengantarkan pulang.
Dimas langsung keluar setelah Raisa sampai di samping mobilnya, dia juga langsung memanggilnya untuk menghentikan langkah Raisa yang sempat terlihat begitu cepat saat melihat mobilnya ada di sana. Tidak mungkin Raisa berusaha menjauh darinya kan?
"Raisa!" seru Dimas memanggil. Raisa langsung menoleh dia pura-pura terkejut melihat Dimas datang padahal dari kejauhan tadi dia sudah melihat kalau Dimas menunggunya.
"Tuan, ada apa? apa Arini memintaku untuk datang lagi ke rumah?" tanya Raisa. Biasanya alasan Dimas seperti itu kan? kalau bukan Arini pasti Nilam sang Mama yang menjadi alasannya.
Raisa memang mulai merasa nyaman dengan Dimas, tapi dia tidak suka saja kalau Dimas selalu menjadikan orang lain sebagai alasan datang kepadanya. Raisa ingin mendengar kalau Dimas sendiri yang memang ingin datang.
"Bukan, tapi...?" Dimas begitu bingung. Dia ingin mengatakan kalau dia sendiri yang ingin datang. Dimas juga masih terus menyembunyikan bunga tadi di balik punggungnya, dia takut kalau Raisa akan menolak pemberiannya.
"Se_sebenarnya...? ini, ini buat kamu. Tadi tidak sengaja melihat toko bunga, saya pikir kamu akan menyukainya," akhirnya Dimas berani memberikan bunga itu untuk Raisa.
"Ini maksudnya apa?" Raisa bingung meski tangan juga sudah menerimanya.
"Hem..., mawar merah tanda cinta, mawar putih tanda maaf, dan yang lain sebagai bumbu untuk ungkapan cinta dan permintaan maaf. Aku harap kamu bisa mengerti maksudku," jawab Dimas.
"Benarkah apa yang aku dengar barusan? Tuan Dimas mengungkapkan cinta padaku? dan maaf, maaf untuk apa?" batin Raisa.
"Apa kamu senang?" tanya Dimas dan berhasil membuyarkan lamunan Raisa.
"Hem, sangat." jawab Raisa.
"Mau aku antar pulang?"
__ADS_1
"Hem...? bo_boleh," seketika Raisa gugup karena kelembutan Dimas saat ini.
Dimas mengangguk senang. Dia langsung berlari untuk membukakan pintu untuk Raisa.
"Terimakasih," Raisa juga langsung masuk ke dalam mobil setelah itu. Ah! hati mereka berdua benar-benar di penuhi dengan bunga-bunga cinta yang mulai bermekaran.
Dimas masuk, dia tersenyum sejenak ke arah Raisa. Perlahan Dimas mendekat, wajah mereka semakin dekat dan tatapan mata mereka saling bertemu.
Keduanya saling terpaku dalam kebahagiaan melihat mata orang di hadapannya. Tapi itu tak lama, Raisa cepat menutup mata saat wajah Dimas benar-benar sudah dekat bahkan hembusan nafas Dimas terasa mulai menyapa wajahnya.
Klik...
"Apa yang kamu bayangkan? apakah kamu berpikir aku akan mencium mu? itu bisa saja aku lakukan, tapi aku tidak akan melakukannya, aku akan selalu menjaga kehormatan mu dan akan menyentuhnya jika Allah benar-benar memberikan kita jodoh," ucap Dimas.
Panas, itu yang Raisa rasakan saat ini. Dia sangat grogi, malu menjadi satu. Pipinya memerah karena sipu yang membuatnya ingin sekali lompat keluar dari mobil.
"Berdoa saja, semoga Allah menjadikan kita jodoh. Biar aku benar-benar melakukan apa yang kamu pikirkan," ucap Dimas.
Raisa benar-benar malu sekarang, dia tak bisa berbicara dan hanya memilih diam dan mengalihkan pandangannya dari hadapan Dimas yang terus menggoda dengan senyum manisnya.
Dimas masih mengamati Raisa yang tak mau lagi memandangnya, mungkin gadis itu benar-benar merasa sangat malu karena dia telah berpikir yang tidak-tidak pada Dimas. Apalagi apa yang dia pikirkan terbaca oleh Dimas.
"Kamu cantik," Dimas langsung menyalakan mesin mobilnya setelah berhasil mengatakan kekagumannya kepada Raisa.
Perlahan mobilnya pun juga mulai berjalan untuk mengantarkan Raisa pulang ke rumahnya, oh ralat! ke kontrakannya yang benar.
"Ya Allah, bodoh sekali sih aku. Bagaimana bisa aku memiliki pikiran seperti itu. Malu kan aku sekarang?" batin Raisa.
Raisa tak lagi berani menoleh, kini dia lebih fokus melihat luar melakukan jendela.
__ADS_1
Bersambung