
Happy Reading...
**********
"Mas, udah mau berangkat?" tanya Arini dan langsung menghampiri Arya yang sudah bersiap dan sudah sangat rapi. Arini datang dengan membawa kotak bekal yang berupa rantang tiga susun berwarna biru muda.
Arini meletakkan rantang di meja lalu dia mendekati Arya untuk membenarkan dasi yang Arya pakai dan belum sempurna.
"Iya, Mas harus berangkat lebih pagi. Hari ini Toni tidak berangkat jadi Mas harus berangkat pagi karena pekerjaan pasti banyak. Apa kamu membutuhkan sesuatu? atau mungkin kamu mau ikut?" tanya Arya.
"Emang boleh?" Arini memandangi Arya dengan sangat lekat.
"Tentu saja boleh. Apa sih yang tidak untuk kamu. Kamu boleh ikut, dan jika kamu bosan atau lelah kamu bisa istirahat di tempat istirahat Mas."
"Aku juga akan lebih semangat kerjanya karena ada kamu." imbuh Arya.
Wajah Arini begitu berbinar, dia sangat senang karena diperbolehkan untuk ikut. Dia sangat bosan terus di rumah ya meskipun ada pembantu uniknya yang akan menemani.
"Kalau begitu Arini bersiap dulu. Mas tunggu Arini ya, dan jangan di tinggal!" Arini langsung berlari pergi ke kamarnya.
"Hati-hati, Sayang! bahaya!" teriak Arya mengingatkan.
Arini terus berlari dia sudah tak sabar ingin cepat sampai di hadapan Arya lagi tentu Arini takut kalau sampai di tinggal.
Arya duduk sejenak untuk menunggu Arini, matanya sesekali menoleh ke arah kamarnya. Tak lama Arini keluar dari kamar dan sudah berganti pakaian juga membawa tasnya yang berwarna hitam.
Senyumnya terus mengembang saat melihat Arya masih ada dan menunggunya.
"Hati-hati, Sayang. Jangan berlari, Mas ngeri lihatnya!" Arya berdiri, ngeri juga melihat Arini yang terus berlari saat turun tangga.
Akk...
__ADS_1
Bruk...
"Astaghfirullah! Hati-hati Sayang. Kan Mas sudah bilang. Untung ada Mas kalau tidak kamu pasti jatuh kan?"
Untung saja Arya cekatan saat melihat Arini akan jatuh dan dia langsung berlari untuk menangkapnya, kalau tidak mungkin sekarang Arini sudah jatuh di lantai.
"Hehe, maaf, Mas. Arini begitu semangat." Arini hanya meringis saja saat masih ada di dekapan Arya. Wanita itu selalu saja seperti anak kecil.
"Apa ada yang sakit?" tanya Arya, memeriksa keadaan Arini yang baik-baik saja.
"Arini tidak apa-apa, Mas. Tidak ada yang luka kok. Sekarang kita berangkat, takut kesiangan."
Arini bergegas lebih dulu, menyambar rantang juga tas Arya. Tak ketinggalan dia juga merangkul Arya dan menariknya untuk cepat berjalan sepertinya dia benar-benar tidak sabar ingin berangkat entah apa yang membuatnya begitu semangat seperti ini.
°°°°°°°°
Di tempat yang berbeda Risman masih setia menunggu Fara di depan kontrakan. Bahkan dia sampai tertidur di kursi yang terbuat dari bambu yang sudah sangat usang.
Matahari yang mengenai wajahnya membuat dia terbangun, dia baru sadar kalau ternyata dia masih berada di kontrakan Fara dan menunggu wanita itu. Sepertinya Risman benar-benar tidak menyerah, dia masih menunggu penjelasan dari Fara dengan apa yang dia dengar semalam.
Tok tok tok..
"Fara, saya mohon, buka pintunya!" teriaknya.
Risman menekan gagang pintu dan ternyata pintu tidak terkunci, dia bingung bagaimana mungkin Fara tidak mengunci pintu dari semalam padahal dia sangat tidak mau kalau Risman masuk, tetapi kenapa sekarang pintunya tidak terkunci apa mungkin Fara pergi?
Risman panik dia cepat masuk untuk memastikan kalau Fara masih ada di dalam.
"Fara, Fara!" teriak Risman dengan suara yang sangat keras.
Risman berlari mencari-cari keberadaan Fara. Risman sangat panik saat tidak menemukan Fara di mana-mana. Risman juga membuka lemari dan ternyata semua baju Fara masih ada di sana.
__ADS_1
"Fara, kamu di mana?" Risman berhenti sejenak.
Satu tempat yang belum Risman datangi.
"Kamar mandi!" Risman kembali berlari masuk ke kamar mandi dengan sangat gelisah.
Mata Risman terbelalak setelah melihat Fara yang tergeletak di kamar mandi dengan keadaan baju yang basah kuyup, bahkan keran yang ada di hadapannya masih terus menyala dan mengenai tubuhnya.
"Fara!" Risman begitu panik dia langsung menghampiri Fara berjongkok di sampingnya dan mencoba untuk membangunkannya.
Risman mendudukkan tubuh Fara, berkali-kali dia menepuk pipinya untuk membangunkan tapi Fara tetap tidak bangun.
"Fara, bangun! Jangan kau buat aku takut seperti ini Fara. Fara!" kepanikan Risman semakin menjadi karena Fara yang tak kunjung membuat mata.
Usaha yang Risman lakukan sama sekali tak membuahkan hasil membuat dia langsung mengangkat tubuh Fara.
"Bagaimana mungkin aku membawanya ke rumah sakit dengan keadaan seperti ini, tapi aku juga tidak mungkin lancang kan?" Risman begitu bingung. Dia sangat kasihan melihat Fara yang sudah sangat pucat dan bibirnya sudah membiru.
Tubuhnya sangat dingin dan dia juga gemetar.
"Aku tidak akan melakukan hal yang akan membuatmu semakin membenciku, Fara."
Risman menyambar selimut yang ada di kasur melilitkan ke tubuh Fara. Dengan cara itu Fara pasti tidak akan kedinginan.
Risman berlari dengan cepat, bergegas membawa Fara ke rumah sakit. Untung Risman membawa mobil jadi dia akan mudah membawa Fara ke rumah sakit.
"Fara, kamu harus kuat. Aku tidak mau terjadi apapun kepadamu. Aku sayang padamu, Fara. Aku mencintaimu!" Risman melajukan mobilnya dengan cepat dia harus segera sampai ke rumah sakit.
"Fara, kamu harus kuat. Kamu harus bertahan."
Begitu besar cinta Risman, meskipun dia tau Fara tengah hamil tapi dia tetap mencintainya. Dia tetap berjuang untuk keselamatan wanitanya.
__ADS_1
...****************...
Bersambung...