Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
227.Terimakasih


__ADS_3

Happy Reading...


-------]]]][[[------


Dikecupnya kening Arini saat Arya telah menyelesaikan ritual akan janjinya. Peluh masih membasahi tubuh keduanya diiringi dengan nafas yang masih terengah-engah dan belum bisa stabil seperti sebelumnya.


"Terimakasih, Sayang," ucap Arya yang begitu berterima kasih karena Arini telah membantunya untuk dia membayar janji yang sudah dia buat saat itu.


Arini mengangguk dengan pipi yang masih merona karena malu. Bagaimana tidak, Arini tadi begitu menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Arya hingga membuat dirinya terus mengeluarkan erangan yang sangat memalukan menurutnya. Tapi tidak untuk Arya, dia malah puas bisa membuat istrinya puas dan terus mengeluarkan suara yang bertanda begitu menikmati.


Arya tersenyum melihat istrinya yang masih malu-malu bahkan dia duduk di sampingnya dengan menutupi apa yang sudah disentuh oleh Arya menggunakan kedua tangannya yang pasti tidak akan bisa menutupi semuanya.


"Kenapa, apa kamu malu?" Pertanyaan yang seharusnya tidak usah dilontarkan dari Arya. Bukankah dia sudah melihatnya sendiri kalau istrinya benar-benar malu bahkan tak berani menatap wajahnya.


"Tidak usah malu aku sudah melihat semuanya. Lagian aku adalah suamimu kan? Apapun yang ada padamu sah untuk aku lihat," ucap Arya dengan tersenyum juga.


Arya kembali merengkuh pinggang Arini dan mendekatkan duduknya hingga keduanya saling menempel dengan tubuh yang masih polos.


Satu tangan Arya menyentuh dagu Arini mengangkatnya hingga wajah mereka berdua saling bertemu.


"Apakah kita harus mandi bersama?" tanya Arya. Arini bingung dengan pertanyaan yang diberikan kepadanya apakah mungkin dia harus menerima apa yang dikatakan Arya.


Tak mendapat jawaban membuat Arya menyimpulkan bahwa Arini memang mau untuk melakukan mandi bersama hingga Arya langsung mengangkat tubuh Arini dan membawanya masuk ke dalam kamar mandi.


Diturunkan Arini dan didudukkan di bangku yang memang ada di sana.


"Tunggu sebentar," Arya melangkah menuju bathtub, menyalakan air hangat-hangat kuku dan juga menuangkan sabun ke dalamnya.


Arya menoleh melihat istrinya yang masih terdiam dan melihat Apa yang dilakukan, Arya tersenyum lalu kembali berdiri menghampiri Arini.


Berhenti di depannya dan berdiri di sana mengamati istrinya yang menunduk semakin malu namun wajahnya sedikit menoleh karena tak mau melihat pusaka yang dimiliki Arya yang kini kembali berdiri dengan kokoh.


Melihat istrinya seperti itu Arya hanya tersenyum. Jika yang dihadapannya wanita bayaran seperti dulu mungkin akan mengganggunya lagi dan mereka bisa melakukan lagi di sana tapi itu tidak terjadi karena yang di hadapannya adalah Arini wanita pemalu polos yang kini menjadi istrinya.


Jiwa iseng Arya bangkit dia meraih tangan Arini dan dituntunnya untuk menyentuh pusakanya yang begitu kokoh dan ingin masuk kembali ke sarangnya.


Arya menunduk menempatkan wajahnya di sebelah kanan wajah Arini dan membisikkan sesuatu di sana.

__ADS_1


"Dia masih mau masuk lagi, apakah boleh?" bisiknya.


Wajah Arini begitu memanas Dia sangat malu meski dia tak dapat melihat tangannya yang kini masih tertahan di pusaka Arya karena ditahan oleh suaminya sendiri.


"Hem?" Arini terlihat bingung.


Melihat kebingungan Arini Arya langsung mengangkatnya dan membawanya ke dalam bak yang sudah penuh dengan air hangat dan juga dipenuhi dengan busa yang melimpah.


"Kamu pasti lelah, kita bisa lakukan lain waktu lagi," ucap Arya dengan pelan.


Karena tadi yang Arya katakan tidak benar-benar menjadi keinginannya karena dia tidak mau membuat istrinya kelelahan hanya karena mengikuti gairahnya yang sangat besar. Arya tahu kalau kekuatan fisik istrinya tidak sama atau tidak sebanding dengan dirinya dan itu membuat Arya harus bisa menahan setiap gairah yang tiba-tiba muncul.


"Hem!" Arini terkesiap setelah mendengar apa yang dikatakan Arya barusan, dia memang lelah tapi seandainya Arya benar-benar menginginkannya dia masih yakin dia masih kuat karena dia juga tidak mau membuat suaminya kecewa.


"Kenapa, Sayang?" tanya Arya.


Bukan hanya Arini saja yang berada di dalam bak tetapi Arya juga ada di sana duduk di belakang Arini dan terus membasahi rambutnya yang panjang. Membelainya dengan lembut juga menuangkan shampo dilanjutkan dengan menggosoknya pelan.


"Apa enak?" tanya Arya. Wajahnya condong ke depan melewati sebelah kanan Arini memastikan bahwa apa yang dia lakukan bisa dinikmati oleh istrinya dan tidak akan menyakitinya.


"Hem," Arini mengangguk pelan Apa yang dilakukan Arya sekarang sangat membuat dirinya merasa tersanjung juga sangat bahagia. Meski dia masih merasa malu tapi dia berusaha untuk menutupi semua rasa itu dan menerima semuanya karena yang melakukan adalah suaminya sendiri bukan orang lain.


"Untuk?" Arini sedikit menoleh ke belakang.


"Untuk semua kebahagiaan yang sudah kamu berikan untuk ku," jawab Arya.


"Arini juga berterima kasih kepada, Mas."


"Untuk?"


"Semua kebahagiaan juga cinta yang tulus yang Mas berikan pada Arini," jawab Arini.


"Itu sudah menjadi kewajiban ku untuk bisa selalu membuat mu bahagia. Karena aku juga tidak akan bisa bahagia jika kamu tidak bahagia," ucap Arya.


Begitu bersyukur Arini sekarang dia bisa mendapatkan semua kebahagiaan dan juga cinta yang benar-benar tulus dan bisa menerima dirinya apa adanya. Menerima setiap kekurangannya dan semakin menyempurnakan apa yang sudah sempurna yang ada pada dirinya.


Bukan hanya Arini saja yang sangat bahagia dan bersyukur tetapi Arya juga lebih bahagia karena dia bisa mendapatkan cinta yang tulus dan juga bisa merubahnya menjadi pria yang lebih baik dan juga lebih bertanggung jawab.

__ADS_1


"Apakah kamu bahagia menikah dengan ku?" Tanya Arya. Pertanyaan yang akan selalu Arya lontarkan kepada Arini karena dia harus memastikan bahwa Arini akan selalu bahagia bersamanya.


"Apakah Mas bahagia?" Arini malah balik bertanya.


"Aku sangat bahagia."


"Aku lebih bahagia dari kebahagiaanmu, Mas. Aku juga merasa paling beruntung karena bisa mendapatkan suami yang seperti Mas. Yang benar-benar mencintaiku," ucap Arini menjelaskan.


"Kita akan selalu bahagia, aku akan pastikan itu. Kebahagiaan hingga kita tua nanti," Ucap Arya.


"Hem," Arini mengangguk. Dia yakin Arya akan melakukan itu, akan memastikan kebahagiaan mereka bersama-sama.


"Sekarang giliran aku yang mendapatkan gosokan darimu," pinta Arya. Rambut Arini sudah bersih, sudah rata dengan sampo dan hanya tinggal membilasnya


"Hem?" Arini sedikit menoleh.


"Naiklah," pinta Arya lagi.


"Naik? Arini harus naik kemana, Mas?" tanya Arini. Sepertinya otaknya yang lemot telah kembali lagi.


Tak menjawab tapi Arya malah mengangkat tubuh Arini yang kecil ke pangkuannya. Daripada menanggapi Arini yang akan kembali lemot lebih baik memanfaatkannya untuk menidurkan juniornya.


Dan benar saja, Arini yang ada di pangkuan Arya bagian bawahnya langsung mengenai pusaka Arya.


Arini terkesiap dia begitu terkejut dan ingin cepat beranjak untuk berdiri tapi Arya malah menahannya.


"Kamu tidak boleh pergi sebelum membuatnya tidur lagi," ucap Arya.


"Ta-tapi ini di kamar mandi?" Arini bingung.


"Kenapa kalau di kamar mandi, kita bahkan bisa melakukan di manapun juga. Ikuti semua yang aku katakan," ucap Arya mulai menuntun.


"Hem?"


Arya benar-benar menuntun Arini untuk melakukannya. Dan akhirnya mereka berdua kembali melakukannya di sana, di dalam bak.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2