
Happy Reading...
Gedung Chandya akan menjadi saksi pernikahan Arya juga Arini yang akan di langsungkan beberapa menit lagi.
Semua tamu sudah berkumpul di bawa dekorasi bunga-bunga buatan yang bergelantungan dari langit-langit tempat itu. Semua terlihat sangat indah, sangat mewah dan begitu menakjubkan.
Ruangan terasa sangat begitu sakral dengan dekorasi putih juga hijau. Juga dengan irama yang di hasilkan dari Gending tradisional.
Senyum terpancar dengan begitu jelas dari dua pihak keluarga Arya ataupun Arini. Semua juga sudah ada di tempat acara untuk menyambut semua tamu yang sudah di undang.
Tapi sepertinya berbeda untuk Luna, dia terlihat tersenyum tapi rasanya tidak ikhlas. Senyumnya hanya karena terpaksa dan belum tulus dari hati.
Semua kursi sudah penuh bahkan sampai ada yang berdiri karena ingin melihat acara dengan jelas.
Sementara di dalam kamar Arya, dia tengah berdebat dengan pihak WO karena masalah baju pengantin yang akan dia pakai.
Pilihan Arini kemarin adalah pink, tapi kenapa sekarang yang datang adalah warna cokelat. Bagaimana mungkin Arya akan bersedia memakainya begitu saja.
"Tuan, ini adalah pilihan dari Nona Arini sendiri," ucap pihak WO dengan sangat frustasi.
Arya semakin jengkel, dia tak percaya dengan apa yang di katakan. Dia tetap kekeuh kalau pilihan Arini adalah warna pink.
"Kamu jangan ngomong sembarangan, ya! Jelas-jelas kemarin Arini memilih warna Pink, dan kami juga sempat mencobanya! Bagaimana mungkin Arini memilih warna cokelat itu, kalian pasti salah kan! Kalian keliru bukan warna itu yang harus saya pakai!" Arya tetap tak percaya.
"Tidak, Tuan. Kami tidak salah. Ini benar-benar pilihan Nona Arini."
"Jangan berbohong!"
"Tidak, Tuan. Saat itu...?"
FLASHBACK....
"*Mbak, besok kalau pas pernikahan saya minta yang warna cokelat muda di sebelah ini tadi ya," ucap Arini ketika dia di bantu melepaskan baju pink yang melekat di tubuhnya*.
"*Tapi, Mbak? Bukannya tadi, Mbak milih yang ini*?"
"*Ini memang bagus, Mbak. Saya juga sangat menyukainya. Tapi saya lebih suka yang warna cokelat itu. Saya memilih ini karena saya hanya ingin menguji calon suami saya saja, Mbak. Dan ternyata dia lulus dari ujian saya," jawab Arini seraya tersenyum manis*.
"*Oh, baik Mbak*."
__ADS_1
"*Ya, sekalian mau abadikan aja, Mbak. Pengen lihat aja calon suami saya pakai baju yang berwarna. Tidak dengan warna gelap melulu," ucapnya lagi*.
*Pihak WO hanya tersenyum geli karena keisengan Arini. Dan ternyata niatnya hanya untuk memberikan ujian untuk Arya saja*.
"*Pak tuan memang sangat tampan dengan baju warna pink itu, tapi aku juga tidak mau kalau sampai ada yang mengeluarkan kata-kata nyinyir untuk Pak tuan. Nama baik Pak tuan adalah yang nomor satu," batin Arini*.
NORMAL...
Sejenak Arya terperangah mendengar penjelasan dari pihak WO, lalu Arya tersenyum karena dia bisa lolos ujian dari Arini.
Benar-benar penuh kejutan itu calon istrinya. Bagaimana bisa dia punya pikiran seperti itu. Jangankan hanya ujian, dia bahkan rela mengenakannya di hari pernikahan jika Arini yang menginginkannya.
Arya sangat ingin Arini bisa selalu bahagia. Dengan awal bersatu mereka dengan penuh kebahagiaan dan tanpa adanya sedikit banyak tekanan pasti kedepannya akan sangat mudah untuk di jalani.
"Kamu tidak salah bicara kan?" Arya masih belum percaya sepenuhnya tapi kini suaranya sudah tak lagi sekeras yang tadi. Arya lebih tenang sekarang.
"Tidak, Tuan. Apa yang saya katakan adalah benar. Nona Arini sendiri yang mengatakan itu kemarin," jawabnya meyakinkan.
"Baiklah, keluarlah! Aku bisa memakainya sendiri," pinta Arya.
"Baik, Tuan. Saya permisi," Menunduk sebentar lalu orang itu keluar meninggalkan Arya sendiri di kamar yang sangat luas itu. Kamar hotel yang juga bagian dari gedung Chandya.
Diamati dengan teliti oleh Arya, baju yang sangat indah, dan sangat mewah. Baju berwarna cokelat dengan manik-manik di area depannya.
"Dulu dia memang terlihat sangat bodoh, tak tau apapun tentang apapun. Tapi ternyata sekarang? Dia sangat pintar dan mengerti apapun. Entah kejutan apalagi yang akan aku dapatkan setelah menikah dengannya nanti," gumam Arya.
Arya melepaskan baju itu dari hanger, perlahan memakainya dengan dia berdiri di depan kaca. Satu persatu kancing dia benarkan di iringi dengan senyum yang terus mengembang.
Arya sangat bahagia, apa yang akan menjadi keinginannya sebentar lagi akan terlaksana, sebentar lagi dia dan Arini akan berstatus sebagai suami istri.
Tok tok tok...
"Tuan, semua sudah menunggu," suara Toni terdengar setelah beberapa kali dia mengetuk pintu. Memanggil tuannya yang dari tadi belum juga keluar.
Padahal Toni juga sudah menunggu dari tadi tapi entah apa yang bosnya itu lakukan.
"Ya!" jawab Arya dengan berteriak dan juga menoleh sebentar ke arah pintu yang masih tetap tertutup rapat.
__ADS_1
Arya kembali lagi ke arah kaca, meneruskan apa yang belum selesai.
Arya benar-benar terlihat gagah sekarang, dengan sedikit browok juga matanya yang tajam yang akan selalu menjadi identitasnya. Juga baju cokelat pilihan Arini yang menambah ketampanannya semakin sempurna.
Setelah beres semua Arya cepat berjalan untuk keluar, dia sudah gak sabar ingin secepatnya menjadi suami Arini yang sah, dan ingin secepatnya melihatnya yang beberapa e tidak dia lihat.
Entah seperti apa sekarang yang jelas pasti akan semakin cantik di mata seorang Arya Gautama.
"Mari, Tuan," ajak Toni.
"Hem," hanya kata singkat itu saja yang keluar dari mulut Ary. Dia akan irit bicara saat ini karena dia juga tengah merasa grogi. Arya tengah bertarung dengan perasaannya yang tak karuan.
Sementara di kamar yang berbeda, Arini juga belum selesai di rias tapi hampir selesai. Hanya kurang beberapa saja yang belum.
Hingga akhirnya penampilan Arini benar-benar sempurna.
Baju pengantin berwarna cokelat muda, dengan selendang berwarna sama yang sudah menjuntai panjang dari kepalanya yang hampir sampai mengenai lantai. Selendang yang terdapat mutiara-mutiara di bagian depannya.
Juga baju yang terdapat banyak mutiara kecil di bagian depan membuat baju itu terkesan sangat mewah dan begitu indah. Bukan hanya itu saja, riasan yang sangat berbeda yang hampir menutupi warna kulit Arini yang sesungguhnya membuat Arini terlihat sangat cantik.
Juga mahkota silver yang bertengger di atas kepalanya itu adalah sentuhan akhir dari penampilan seorang Arini Khumaira.
Arini tak henti-hentinya tersenyum saat mengagumi dirinya sendiri, dia sangat berbeda dari biasanya.
"Subhanallah, anak Mama cantik sekali," ucap Nilam memuji.
Tangannya berada di kedua bahu Arini, dengan mata yang memandang anaknya melalui pantulan kaca di depan mereka berdua.
Bukan hanya itu saja, tapi Nilam juga sesekali mengelusnya, dan mengecup puncak kepala Arini dengan sangat lembut dan dengan limpahan kasih sayang.
"Terimakasih, Ma. Ma, Arini...?" ucapannya terhenti. Sebenarnya Arini sangat gelisah saat ini.
"Mama tau, Sayang. Kamu grogi kan? Tidak apa-apa semua akan berjalan dengan baik. Kamu berdoa saja biarkan Allah yang mengaturnya," ucap Nilam yang tau akan apa yang Arini rasakan saat ini.
"Iya, Ma," Meskipun mengatakan iya tapi Arini tetap belum bisa menghilangkan perasaannya yang sangat campur aduk. Takut, gelisah, senang juga semua berkumpul menjadi satu di dalam hatinya, bagaimana mungkin dia akan terlihat baik-baik saja kan?
"Mama keluar dulu, nanti Raisa juga Kak Dimas yang akan datang untuk menjemputmu," pamit Nilam.
"Baik, Ma."
__ADS_1
Bersambung....