
Happy Reading...
```````````
Tangan Arini menggagahi kasur sebelahnya setelah mendengar suara azan subuh berkumandang dari ponselnya. Tangan yang tak mendapatkan apa yang dia cari membuatnya langsung membuka matanya dengan cepat.
Dia terlihat bingung saat tak melihat Arya di sana, dia juga langsung bangun, duduk sembari mata menjelajahi setiap penjuru kamar.
"Mas Arya di mana?" Dia begitu bingung.
Dia hendak turun untuk mencari keberadaan suaminya yang kini entah di mana, di kamar mandi juga sepertinya tidak ada karena sama sekali tidak dia dengar bunyi gemericik air dari dalam.
Tapi belum juga kaki Arini menapak di lantai pintu kamar terbuka dan terlihatlah wajah suaminya yang tersenyum cerah.
"Sudah bangun, Sayang," ucap Arya. Kakinya juga langsung melangkah mendekati Arini yang menjadi urun untuk turun.
Arini tersipu karena melihat Arya hanya menggunakan celana rumahan saja juga masih tak memakai baju. Terlihat jelas bagaimana tubuh suaminya yang sangat kekar.
"Kenapa dengan pipimu, Sayang," Arya tersenyum melihat Arini yang tersipu. Apalagi dia hanya tersenyum malu dengan wajah menunduk.
Arya duduk di hadapan Arini, menyerahkan apa yang ada di tangannya.
__ADS_1
"Susu? Arini tidak minta susu?" Arini mengernyit. Dia sama sekali tidak meminta itu kepada Arya, jadi bagaimana dia tidak bingung. Apalagi Arini juga sangat jarang minum susu apapun.
"Supaya kamu selalu sehat, Sayang. Dan ini juga susu untuk persiapan kehamilan. Aku ingin memberikan yang terbaik untukmu dan calon anak-anak kita. Nih minum," ucap Arya menjelaskan.
Arini semakin malu, tapi dia juga sangat senang karena mendapat perhatian dari suaminya.
"Tapi Arini kan belum hamil, Mas. Bagaimana bisa minum susu sekarang," Ucap Arini.
"Ini untuk persiapan kehamilan, Sayang. Supaya kalau kamu langsung hamil kamu dan anak kita sehat," Begitu sabar Arya menjelaskan. Dia benar-benar mempersiapkan semuanya dengan sangat baik.
"Oh, kalau begitu Arini akan meminumnya," Tangan Arini menerimanya, tapi Arya tetap tak melepaskan gelas itu namun tetap membantu Arini meminumnya.
Arini tak menjawab, tapi dia hanya mengangguk sebentar saat dia melepaskan gelasnya sejenak dari bibirnya.
"Alhamdulillah, bagaimana rasanya, manis kan?"
"Bukan manis, Mas. Tapi amis dan bikin nek," Arini merasa tak enak, biasanya kalau dia minum susu akan sangat manis tapi ini sangat berbeda, bikin nek juga sangat amis.
Jika tidak demi kebaikan maka Arini pasti akan memuntahkan semuanya keluar lagi.
"Tidak apa-apa, hanya sebentar saja kan? Oh! Atau mau minum madu? Kalau iya aku ambil di bawah sebentar," Arya hendak beranjak.
__ADS_1
"Tidak usah, Mas. Ini pasti akan cepat hilang. Sekarang Arini harus mandi dulu. Mas udah mandi?"
"Sudah. Sekarang mandilah, airnya sudah Mas siapin juga. Mandilah dengan air hangat supaya kamu tidak kedinginan."
Arini benar-benar terharu. Arya memperlakukan benar-benar seperti ratu di rumah itu. Semua terasa berbalik. Seharusnya Arini yang melakukannya tapi kini malah Arya yang melakukannya.
"Mas, jangan terus memanjakan Arini seperti ini. Nanti Arini jadi pemalas loh," Protes Arini.
"Tidak apa-apa, Sayang. Lagian Mas kasihan sama kamu, kamu pasti lelah kan karena olahraga kita semalam. Jadi tidak apa-apa Mas yang memanjakan mu. Biar kita impas sayang."
"Terimakasih, Mas. Tapi jangan sering-sering ya, nanti Arini marah loh," Wajah Arini berkedut.
"Iya-iya, nggak akan sering-sering. Tapi Mas tetap boleh sering-sering minta kan?"
"Apa sih," Arini malu bukan main apalagi saat Arya sengaja hampir menyentuh dua gundukan sintalnya.
"Hahaha..." Tawa Arya malah menggelegar mendengar itu. Apalagi di tambah dengan Arini yang langsung berlari masuk ke kamar mandi.
◦•●◉✿"✿◉●•◦
Bersambung.....
__ADS_1