Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
114. Keberuntungan Arya


__ADS_3

...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


...______...


"Loh.. Loh... Kamu kenapa Arini? Mukamu kenapa, kusut amat kayak baju rombeng" celetuk Raisa saat di mengetahui bagaimana Arini sekarang.


Wajahnya berkedut, pipinya menggembung juga langkahnya begitu cepat hingga akhirnya Arini nyerobot duduk di kursi dengan melalui Raisa begitu saja.


"Etdah, ada apalagi nih anak," Raisa yang hendak keluar dari pantry dia urungkan dia putuskan untuk mendekati Arini dan menanyakan keadaan gadis kecil itu yang sepertinya dalam keadaan tidak baik-baik saja


Raisa ikut bergabung duduk di sebelah Arini, wajahnya terus memandangi Arini yang masih diam tanpa kata namun lihatlah wajahnya, seperti memberikan ekspresi seribu bahasa sungguh membingungkan.


Diamnya Arini membuat Raisa begitu penasaran, sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi padanya tadi dia baik-baik saja bahkan terlihat sangat bahagia tapi kenapa sekarang sudah berubah drastis seperti ini?


"Hey, Cungkring! Ada apa? " tanya Raisa. Suara ketus seperti biasa tak ada halus-halusnya selayaknya wanita yang lemah lembut. Karena memang itulah Raisa, selalu apa adanya dan ceplas-ceplos seenaknya.


Arini masih diam, dia sepertinya sangat enggan untuk bicara.


"Kalau nggak bicara aku akan marah loh, ya. Aku tidak mau menjadi teman kamu lagi, cepat cerita! " Ancam Raisa.


Arini mulai menoleh, dia sangat malas menatap Raisa yang begitu semangat ingin mengetahui keadaannya sekarang.


Arini kembali lagi seperti semula setelah beberapa saat menatap Raisa benarkah dia harus menceritakan semuanya tentang kemarahan Arya barusan! Tapi bagaimana kalau malah ditertawakan oleh Raisa.


"Kenapa, nggak mau cerita? " ucap Raisa. Raisa memang di ciptakan menjadi gadis yang selalu cerewet setiap saat, selamat berkomentar saat bagaimanapun keadaan Arini.


Memang tak pernah kehabisan akal si pak tuan untuk selalu mencari kesempatan. Tanpa mengatakan apapun saat kedatangannya Arya menyuruh Raisa pergi menggunakan bahasa isyarat dengan tangannya.


Raisa hanya mengangguk patuh, pergi dengan pelan dan tanpa suara. Setelah kepergian Raisa Arya menggantikan Raisa di samping Arini tapi dia tidak duduk melainkan berdiri di sampingnya dengan jarak yang begitu dekat, bahkan hampir bersentuhan.

__ADS_1


Raisa menoleh sekali sebelum dia benar-benar pergi, "oh, ternyata Tuan Arya yang menyebabkan Arini menjadi seperti ini? Pantesan, " gumam Raisa.


Raisa cepat-cepat pergi setelah mendapat tatapan tajam dari Arya, sepertinya tuannya itu sudah tidak mau lagi melihat keberadaan yang akan menjadi pengganggu. Itu menurut Arya sih.


"Mbak Raisa, Arini sedih," Tak sadar dengan siapa yang berdiri di sampingnya Arini yang mengira itu adalah Raisa langsung memeluknya tanpa melihat, benar-benar mendapatkan keuntungan yang besar si Arya. Bukan hanya bisa mendengar keluh kesah Arini kini dia juga mendapatkan pelukan hangat dari Arini yang memeluk pinggangnya, bahkan pipinya dia tempelkan di perut Arya. Sungguh sebuah keberuntungan.


"Mbak, Arini kangen sama Ibu. Apakah mungkin ya Arini bisa bertemu dengan ayah dan ibu? Apakah mereka akan menerima Arini? Apakah mereka akan menyayangi Arini setelah bertemu? "


Arya kira Arini akan bercerita tentang apa yang Arya lakukan tadi tapi ternyata dia malah menceritakan hal yang berbeda. Mungkin Arini tidak mau orang lain mengetahui keburukan Arya kepadanya.


"Apa kamu tau, Mbak? Ternyata dunia ini sangat kejam ya. Kita tidak bisa berteman kepada sembarang orang. Untuk mendapatkan teman kita juga harus melihat apa dan seperti apa posisi kita. Mungkin memang Arini hanya akan pantas menjadi teman mbak Raisa saja. Kita kan sama-sama OB. Seorang OB mana bisa berteman dengan orang yang memiliki jabatan lebih tinggi."


Ucapannya begitu panjang kali lebar dengan tangan yang tak lepas dari pelukan yang dia berikan pada Arya.


"Tapi kenapa Arini sedih ya, kemarin pak tuan baik-baik saja kepada Arini, tapi sekarang? Bahkan dia mengatakan tentang batasan, huff..., benar-benar orang rendahan seperti ku tidak akan pantas mendapat teman yang lebih baik. Tapi mbak Raisa adalah teman terbaik Arini kok, iya kan mbak? " tanya Arini.


"Mbak Raisa sungguh aneh, apa tiba-tiba mbak Raisa sakit gigi? Tadi ngoceh mulu sekarang diam saja," ucapnya.


Tak menjawab Arini kini Arya membungkuk, membalas pelukan Arini bahkan dia juga mengecup puncak kepalanya dengan sangat panjang. Aroma dari Arini membuat Arya begitu tenang hingga Arya memejamkan matanya sesaat.


"Maafkan aku Arini, maaf," ucapnya.


"Kok suaranya berbeda, kayak suaranya pak tuan! " Arini mendongak sekedar untuk memastikan tapi apa yang dia lakukan kembali menjadi keuntungan untuk Arya, karena apa? Karena bibir Arya reflek jatuh di kening Arini.


𝘊𝘶𝘱....


"Pak tuan! " Arini mendorong tubuh Arya dengan keras, dia semakin kesal sekarang karena Arya pura-pura menjadi Raisa dan datang diam-diam.


Arini terperanjat setelah Arya berhasil terlepas dan menjauh darinya, Arini berdiri dia sangat kesal dan tangannya juga sontak menghapus bekas ciuman dari Arya di keningnya.

__ADS_1


"𝘐𝘴𝘩𝘩,, 𝘱𝘢𝘬 𝘵𝘶𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘪𝘶𝘮𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪? 𝘋𝘢𝘴𝘢𝘳 𝘱𝘢𝘬 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶𝘢𝘯! " sungut Arini dalam hati.


Arya hanya meringis, menggaruk tengkuknya.


"Hehehe..., maaf. Eh.., terimakasih maksudnya," ucapnya. Ya jelas berterima kasih Arya sudah bisa menyentuh Arini, bagaimana tidak mengucapkan terimakasih.


Kemarin pipi, sekarang kening besok apalagi yang akan Arya dapatkan? Seharusnya tadi juga di abadikan seperti kemarin jadi ada step by step sebelum Arya benar-benar bisa mendapat Arini seutuhnya.


"Nggak lucu! " Arini berlalu dia tak ingin berlama-lama berada di dekat Arya, bukankah dia harus mengingat akan batasannya?


"Arini, aku minta maaf. Aku sedang pusing dan tanpa sadar mengatakan itu padamu, aku tidak ada niat mengucapkan itu, sungguh! Arini! " Arya mengejar Arini yang berjalan dengan cepat, Arya tidak mau kehilangan Arini tidak akan.


Arini tak peduli dia tetap berjalan dengan cepat bahkan dia juga melalui Raisa begitu saja saat berpapasan.


"Arini! " teriak Arya tiada henti.


"Kenapa lihat-lihat! Jaga pandanganmu! " ucap Arya ketus saat melihat Raisa yang menatapnya juga.


Arya juga ikut berlalu setelah mengatakan itu pada Raisa, Arya sungguh di buat pusing karena asal kesalahannya sendiri.


"Lah, apa salahku? Padahal aku hanya melirik kecil saja, bagaimana mungkin aku sudah seperti tersangka utama. Hadeh..., sepertinya cerita cinta tuan Arya akan di mulai. Lucu ah..., cinta CEO Gautama dengan OB Pribadinya. Hahaha..., kayak kehidupan di novel-novel. Berawal benci jadi cinta, karena saking bencinya selalu memikirkan jadi nggak bisa melupakan, ahayyy...! " ucap Raisa begitu kegirangan.


Raisa menoleh, melihat dua sejoli yang sedang main kejar tangkap itu. Tapi mereka sudah jauh dan kini keduanya masuk di lift yang sama.


"Wadidaww..., apakah yang terjadi selanjutnya di dalam lift? Apakah mereka berdua akan saling bercengkrama atau saling tonjok, atau saling adu gulat? Kita tunggu berita selanjutnya hanya di Raisa chanel, ck... " Raisa mengedipkan satu matanya bersamaan dengan menjentikkan jarinya dan berlagak apa reporter kesiangan.


/////


Bersambung...

__ADS_1


_________


__ADS_2