Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
108. Benarkah menyukainya?


__ADS_3

...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


..._______...


Tas selempang berwarna hitam kembali menjadi teman untuk Arini pergi ke tempat kerjanya. Semua sudah dia persiapan bahkan dia sendiri juga sudah rapi sekarang.


Wajahnya begitu sumringah, dia begitu bahagia akhirnya bisa kembali bekerja lagi setelah satu hari dia tidak berangkat.


𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨... 𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨... 𝘒𝘳𝘪𝘯𝘨...


Ponsel telah berdering, ternyata Arini telah melupakan ponselnya yang masih duduk manis di atas meja riasnya yang sangat sederhana.


Arini yang sebelumnya sudah ingin keluar dari kamar dia masuk kembali untuk mengambil ponselnya.


"Astaghfirullah hal 'azim..., aku melupakan ponselnya," ucapnya.


Di ambillah ponselnya, dan Arini kembali melihat foto dia juga Arya. Arini kembali kesal saat melihat itu, setelah sampai di tempat kerjanya nanti dan melihat tuan Arya Arini harus meminta pak Tuan untuk menghapus gambar itu, bahaya kalau sampai ada orang yang melihat. Bisa-bisa mereka akan salah paham dan mengira Arini yang tidak-tidak.


"Assalamualaikum, Pak Tuan," ucapnya menyapa Arya setelah mengangkat panggilan dari Arya.


"𝘗𝘢𝘨𝘪 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪, 𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵! 𝘉𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘵𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘪𝘬. 𝘊𝘦𝘱𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘬𝘩𝘶𝘴𝘶𝘴 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘪 𝘪𝘯𝘪. "


"Pekerjaan apa, Pak Tuan? "


"𝘒𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘵𝘢𝘶, 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘵. 𝘏𝘶𝘬𝘶𝘮𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘮𝘣𝘢𝘵. "


"Hufff..., iya Pak Tuan. 𝘛𝘶𝘵.. 𝘛𝘶𝘵... 𝘛𝘶𝘵... " Ponsel Arini matikan kenapa hatinya tiba-tiba merasa kesal dengan Arya. Memang seperti biasa dia selalu diatur oleh Arya tapi kenapa dengan sekarang? Sepertinya Arya memang mempunyai niat untuk membuat Arini kesal lagi.


"Semoga saja pak Tuan tidak memiliki niatan buruk lagi dengan Arini," gumamnya.


Kakinya mulai melangkah keluar kamarnya, bukan hanya ke tempat kerja melainkan Arini harus mampir lebih dulu ke rumah sakit untuk menjenguk Nilam karena kemarin dia tak menjenguknya.


/////


Dimas juga Hendra lebih sering menunggu Nilam di rumah sakit hari-hari ini, apalagi keadaan Nilam semakin membaik juga karena mereka berdua selalu merasa senang saat bertemu dengan Arini.


Keduanya terus berharap bahwa Arini akan datang hari ini karena kemarin dia tidak datang bahkan tidak ada kabar sama sekali. Kedatangan Arini terasa melengkapi ruang kosong dalam keluarga mereka.


"Dim, apa belum ada kabar tentang Arini? " Hendra menoleh ke arah Dimas suaranya terdengar tak semangat. Hatinya ikut tak karuan karena menghilangnya Arini. Bingung juga karena apa sebabnya.

__ADS_1


Dimas terhenyak saat Hendra tiba-tiba menanyakan perihal Arini. Tak seperti biasanya Hendra akan teringat bahkan bertanya tentang gadis itu tapi sekarang? Entah ada ikatan apa yang jelas Dimas sendiri juga merindukan Arini.


"Dimas tidak tau, Pa. Sama sekali belum ada kabar tentangnya entah dimana dia sekarang tapi..., Dimas mempunyai keyakinan kalau Arini pergi dengan Tuan Arya," jawab Dimas.


"Dengan Arya?! " Hendra tersentak, pikirannya langsung kacau mendengar itu. Bagaimana tidak? Hendra juga tau akan kebiasaan Arya.


"Bagaimana kalau Arya melakukan sesuatu yang buruk terhadap Arini, kalau sampai terjadi sesuatu padanya papa sendiri yang akan memberikan perhitungan kepadanya," Hendra tidak bisa mengontrol emosinya sendiri, dia begitu marah mendengar Arini yang kemungkinan di bawa pergi oleh Arya.


Dimas semakin di buat penasaran dengan, apa yang sebenarnya terjadi pada papanya Hendra, dia begitu mengkhawatirkan Arini bahkan dia sangat marah jika sampai terjadi sesuatu padanya.


Bahkan Hendra yang baru beberapa kali bertemu bisa sebegitunya dengan Arini apakah mungkin ada suatu ikatan yang belum terungkap. Tidak mungkin kan Hendra mengkhawatirkan Arini karena dia mempunyai rasa yang spesial pada gadis itu.


"Sudah lah, Pa. Meskipun Tuan Arya orangnya seperti itu tapi Dimas yakin dia tak akan bisa melakukan hal buruk pada Arini. Lagi, Arini juga tidak akan membiarkan semua itu terjadi, Dimas sangat mengenal Arini, Pa."


"Apa kamu menyukai gadis itu? "


Dimas terbelalak, bagaimana bisa Hendra menyimpulkan hal yang seperti itu. Memang ada rasa yang ada dalam hati Dimas tapi dia sendiri tidak tau itu rasa apa.


"Dim, papa juga pernah muda. Papa tau bagaimana rasanya menyukai seseorang, papa juga sangat paham kalau seseorang tengah memiliki perasaan. Jika kamu memang menyukainya maka lanjutkan dan perjuangkan dia, dia gadis yang baik. Jangan sampai kamu terlalu lama menyadari soal perasaanmu setelah dia menjadi milik orang lain."


Begitu panjang Hendra mengatakan sedikit wejangan untuk Dimas. Mungkinkah Dimas memang menyukai Arini? Tapi Dimas sendiri masih sangat bingung dengan perasaan yang ada di dalam hatinya. Sebatas perasaan sayang ingin melindungi saja atau perasaan cinta ingin memiliki, Dimas belum tau lebih jelas.


"Assalamu'alaikum... "


"Wa'alaikumsalam, " Keduanya menjawab dengan bersamaan juga berdiri dengan bersamaan juga. Mata mereka tak berkedip sama sekali kepada Arini yang masuk dengan tersenyum kaku.


Mungkin Arini bingung karena tatapan mereka yang sungguh aneh dan tidak sama seperti biasanya.


"𝘈𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘪𝘯𝘪? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯?" batin Arini dalam diamnya.


Kakinya terus melangkah dengan perlahan, menghampiri Dimas dan Hendra yang berada di samping Nilam.


"Hem..., maaf. Arini akan pergi sekarang," Arini kembali membalikkan badannya dia mengira tatapan aneh itu karena tidak memperbolehkan Arini kembali datang, Arini sudah salah paham sepertinya.


"Setelah kemarin kamu tidak datang apakah sekarang kamu juga akan pergi begitu saja? " ucap Dimas.


Kebahagiaan yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata saja, ingin rasanya Dimas memeluk Arini. Dia begitu senang dengan kehadirannya dalam keadaan baik-baik saja.


Begitu juga dengan Hendra, hatinya kembali berdetak dengan cepat seperti seorang pemuda yang sedang melihat gadis pujaannya. Tapi detak jantungnya datang bukan karena Hendra menyukai Arini.

__ADS_1


Senyum bahagia keluar dari bibir Hendra dia melangkah mendekati Arini tanpa berkedip. Tangannya langsung mengusap puncak kepala Arini dan menyalurkan rasa yang berbeda yang namanya kasih sayang.


"Kamu sudah kembali, dan jangan pernah pergi lagi," ucapnya. Seketika air mata Hendra menetes tanpa dia sadari, gejolak rasa hadir begitu saja tanpa permisi.


"Kenapa Om menangis, apakah Arini membuat kesalahan? " Tanya Arini bingung.


Hendra menggeleng, tidak ada kesalahan yang dilakukan oleh Arini, dia hanya terlalu bahagia sekarang.


"Tidak, tidak ada kesalahan apapun." jawab Hendra yang semakin haru.


Pemandangan yang sangat langka, membuat Dimas tak percaya tapi nyatanya ini memang terjadi. Papanya yang sudah lama tidak pernah tersenyum saat ini senyumnya telah kembali.


Mungkin dengan hadirnya Arini di tengah-tengah mereka akan menambah kebahagiaan keluarga mereka dan akan bisa menghilangkan rasa sakit karena kehancuran yang terdahulu.


"𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘬𝘦 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘦𝘭𝘶𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘬𝘶, 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘮𝘶𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢. 𝘋𝘢𝘯..., 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪𝘯𝘺𝘢? 𝘈𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘦𝘳𝘫𝘶𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, " Batin Dimas.


"Om, apakah Arini boleh bertemu dengan tante Nilam? " ucapnya meminta izin.


Tentu akan di izinkan untuk Arini menemui Nilam karena kedatangannya juga sudah di tunggu.


Sepertinya Nilam juga sangat merindukan Arini tapi entahlah, semua itu tidak pasti karena Nilam juga tidak bisa mengatakan apapun. Yang jelas Arini hanya bisa berharap saat Nilam bangun nanti dia tidak akan melupakannya apalagi membencinya.


"Boleh," jawab Hendra dengan sangat pelan.


Hendra sedikit menggeser berdirinya, dia mempersilahkan Arini untuk berjalan mendekati Nilam.


Dia tengah-tengah Arini menundukkan wajahnya saat melihat Dimas yang memandanginya dengan tak biasa. Ada aura berbeda dari wajah sekaligus matanya.


Bukan itu saja, tapi bibir Dimas terlihat mengembang dengan sangat bahagia.


"𝘈𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘒𝘢𝘬 𝘋𝘰𝘬𝘵𝘦𝘳? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘦𝘩 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪? 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢 𝘫𝘦𝘳𝘢𝘸𝘢𝘵 𝘯𝘺𝘢? " batin Arini.


"Silahkan, Mama sudah sangat menunggumu," ucap Dimas.


Arini mengangguk dia tak berani mengangkat wajahnya di depan Dimas.


"𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘩𝘧𝘪𝘳𝘶𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘩𝘢𝘭 '𝘢𝘻𝘪𝘮, 𝘢𝘥𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘯𝘵𝘶𝘯𝘨𝘬𝘶. 𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘯𝘺𝘢! " batin Dimas.


//////

__ADS_1


Bersambung...


______


__ADS_2