Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
132. Kembali Debat


__ADS_3

Happy Reading....




Sama sekali tak ada pergerakan apapun dari Arini kecuali terus memakan roti yang belum habis. Tangannya terus bergerak memasukkan roti ke mulut, mulutnya pun terus berkecamuk.



Arini sama sekali tidak menyadari akan kedatangan Arya yang kini berhenti di hadapannya dengan mata merah karena amarah. Bukan apa-apa, tapi apa yang di makan oleh Arini lah yang membuat pak tuan itu langsung naik pitam.



Semua makanan enak dan pantas untuk di makan tersaji rapi di tempat acara bahkan makanan khusus juga sudah di siapkan dari pelayan yang ada di rumah di mana Arya membawa Arini tapi gadis itu malah memilih makan roti murah dari bekal yang dia bawa.



Tanpa mengatakan apapun Arya langsung merebut roti yang tengah Arini nikmati.



Arini begitu terkejut kepalanya juga langsung mendongak karena kelakuan Arya yang sangat sembarangan menurutnya.



''Mbak Raisa apa-apaan si..h...'' ucapan Arini melirih saat melihat siapa pelaku sebenarnya yang tadi dia pikir adalah Raisa. Bagaimana tidak berpikir seperti itu? kan tadi hanya ada dia sendiri juga Raisa.



Mata Arini langsung melotot tak suka, dia begitu kesal karena Arya yang semena-mena dan seenaknya sendiri.



"Pak Tuan apa-apaan sih! Kembalikan roti Arini!" Arini sudah beranjak, dia berdiri tegak seolah menantang Arya dengan berani.



Tangannya juga sudah mulai sibuk untuk merebut roti yang hanya tinggal sedikit yang sudah ada di tangan Arya.



"Berikan padaku, pak Tuan!" ucapannya terdengar mulai ngotot mungkin Arini memang sangat kesal dengan Arya saat ini. Karena kebohongannya yang seperti dia pikirkan dan juga melakuannya yang sangat keras kepala.



"Tidak! Aku tidak akan memberikannya. Ini makanan tidak sehat! Kamu juga tidak akan kenyang dengan makanan murahan seperti ini!"



Bukan hanya Arini yang merasa sangat kesal, tapi Arya juga sama. Bahkan mata Arya terus melotot tajam ke arah Arini.



"Makanan seperti ini tidak pantas kamu makan, aku bisa membelikan apapun yang kamu mau, tapi tidak dengan roti seperti ini."



Niatnya mau minta maaf jika Arya membuat kesalahan tapi nyatanya? Dia malah berdebat dengan Arini hanya karena roti murah.



Entah apa yang membuat Arya begitu marah dengan Arini, dan seperti biasa juga Arini selalu saja melawan Arya.



"Ini yang kamu mau, iya! Ambil ini!" seperti biasa Arya akan selalu membuang sesuatu yang ada pada Arini yang tidak dia suka, dan kali ini pun iya. Arya melemparkan roti itu dan pas masuk ke tempat sampah.



Arini langsung melotot, dia sangat geram karena Arya mulai kumat lagi.



Tangan Arini terus \*\*\*\*\*\*\*-\*\*\*\*\* gamis yang dia kenakan itu tandanya Arini juga sudah di puncak kemarahan.



"Bukankah sudah aku bilang! Kamu harus makan makanan yang bergizi supaya berat badanmu naik. Dan apa ini! Pantesan saja berat badanmu tidak naik-naik makanan yang di makan tidak mengandung apapun!"



"Kamu itu calon istriku! Calon ibu dari anak-anakku! Kamu harus bisa menjaga kesehatanmu! Apa kata orang kalau istri dari seorang Arya kurus kering seperti ini! Apa kamu mau mempermalukan ku!"



Arini hanya nyengir sinis mendengar kata-kata Arya yang kini mulai mereda dalam amarah. Tapi tetap saja ada suara yang masih di selimuti kekesalan.



"Aku mohon Arini, jaga kesehatanmu. Dengan makanan yang seperti itu tidak akan menjamin kamu bisa selalu sehat. Aku akan penuhi semua kebutuhanmu. Mulai sekarang aku yang akan menentukan apa yang akan kamu makan."



Kedua tangan Arya memegangi kedua bahu Arini kanan kiri, dia begitu memohon sekarang bahkan suaranya mulai lembut.



Arini yang kadung kesal dia menyingkirkan kedua tangan Arya dari bahunya, dia juga melangkah mundur tiga langkah untuk menjauh dari Arya.



Arya terdiam, dia hanya bisa mengamati Arini yang masih menyeringai sinis dan semakin jauh. Tangan Arya juga masih mematung di udara, belum ada niat untuk menurunkannya.


__ADS_1


"Arini, ada apa?" Tanya Arya.



"Jauhi Arini, Pak Tuan. Arini tidak mau berurusan lagi dengan pak Tuan yang pembohong. Arini juga tidak mau di anggap perusak hubungan orang. Arini tidak mau menjadi orang ketiga dalam hubungan Pak Tuan dengan mbak Nadia."



"Aku bukan apa-apa juga bukan siapa-siapa di banding dengan mbak Nadia. Dia sempurna dan cocok bersanding dengan pak Tuan, tapi Arini? Hem..."



"Tidak lagi pak Tuan, jangan pernah harapkan Arini lagi. Dan jangan pernah mengatakan hal-hal yang tidak pasti pada Arini. Arini tidak mau pak Tuan kecewa nantinya, kita tidak akan pernah berjodoh."



Tak ada sedikitpun celah untuk Arya berbicara, Arini begitu mengatakan apa yang ada di dalam kepalanya.



"Hem..., mungkin Arini yang begitu naif. Mungkin Arini salah karena kini mulai merambat naik untuk menggapai mimpi yang begitu tinggi. Tapi sekarang tidak lagi. Arini tidak mau bermimpi hal yang mustahil."



"Sekarang pak Tuan pergilah, jangan hiraukan Arini. Arini bisa menjaga diri sendiri, mengenai apapun yang Arini makan jangan di pikirkan karena Arini akan tetap hidup. Bagi Arini, Arini makan untuk hidup bukan hidup untuk makan. Jadi Arini akan tetap makan untuk membuat Arini tetap hidup meski itu makanan yang tanpa kandungan apapun."



Begitu panjang Arini mengatakan apa yang menjadi unek-uneknya. Dia juga mengatakannya dengan begitu tenang dan tak ada rasa takut sama sekali.



Mungkin itu yang terbaik menurut Arini tapi sepertinya tidak untuk Arya, dia tidak akan menerima semua itu Arya akan tetap kekeh untuk memperjuangkan apa yang dia inginkan.



"Kamu kenapa, Arini? Apa yang terjadi padamu! Kenapa kamu mengatakan itu padaku?" Arya berjalan menghampiri Arini tapi Arini juga berjalan mundur untuk menjauh.



Arya berusaha untuk meraih tangan Arini tapi tak berhasil karena gadis itu terus menjauhkan tangannya.



"Arini, kamu kenapa?" Arya begitu bingung dengan perubahan Arini yang begitu tiba-tiba ini. Padahal tadi dia masih baik-baik saja tapi sekarang?



"Arini, apakah ada orang yang mengatakan sesuatu padamu?" Arya percaya itu, tak mungkin Arini akan berubah tanpa sebab.



"Pergilah, Pak Tuan. Jemput kebahagiaan Pak Tuan bersama Mbak Nadia. Dia pasti sudah nungguin di sana. Tenang saja, Arini tidak akan pergi Arini hanya lelah ingin istirahat. Dan jangan khawatir, meskipun pak Tuan bertunangan dengan mbak Nadia kita bisa jadi teman, dan Arini juga akan tetap memberikan hadiah ulang tahun untuk pak Tuan."




"Tidak, pak Tuan. Arini bukan kebahagiaan pak Tuan, Arini hanya orang yang akan membuat pak Tuan selalu malu, bukankah itu yang pak Tuan katakan tadi?"



"Arini tidak akan bisa menjadi seperti yang pak Tuan inginkan, Arini tidak akan pernah bisa. Inilah Arini, dan akan selalu seperti ini." ucap Arini.



"Oke, kalau kamu mau istirahat kamu istirahat di kamar yang sudah di siapkan dan bukan di sini."



Arya tak lagi mengejar Arini tapi dia beralih untuk mengambil barang-barang Arini yang masih ada di kasur. Mungkin dengan membiarkan Arini dia akan tenang nantinya dan akan melupakan kejadian buruk yang mungkin dia alami hati ini tanpa sepengetahuannya.



Satu persatu Arya masukan ke dalam ransel begitu juga dengan bekal Arini.



"Kamu harus pindah lagi. Kamu tidak boleh di sini. Kalau kamu di sini dan tidak mau kembali maka aku pun juga akan di sini. Di sini tempatnya lebih sempit kasurnya juga cuma satu, aku tak masalah kalau kita tidur di satu kasur." ucap Arya sembari terus mengemasi barang-barang Arini.



Dalam situasi seperti sekarang yang memanas masih saja Arya mengatakan hal itu.



Arini mendekati Arya, dia ingin merebut ransel yang sudah ada di tangan Arya.



"Pak Tuan, Arini tidak mau kemana-mana! Arini mau tetap di sini!" Arini berhasil merebut apa yang ada di tangan Arya yang sudah berhasil memasukkan semuanya.



"Kita pindah, Arini. Kamu tidak boleh tidur di sini," Arya ingin merebutnya lagi tapi Arini tidak akan mengizinkannya.



"Ya sudah kalau tidak boleh," kini dengan sengaja Arya malah duduk di kasur, merebahkan tubuhnya dan menjadikan kedua tangannya menjadi bantal.



Arya memejamkan matanya, jika Arini tidak mau pindah dia tidak akan kehilangan akal kan untuk terus bersama dengan Arini.


__ADS_1


Tak akan pernah bisa Arini jauh darinya, dia akan terus ada dan ada untuk membuat Arini benar-benar luluh dan dia bisa mendapatkan hati Arini juga menjadikan Arini satu-satunya di hatinya.



"Sebenarnya apa yang terjadi pada Arini. Siapa yang berniat untuk menjauhkan aku dan Arini, apa Mama? Aku harus selidiki semua ini. Meskipun berbagai cara mama mencoba menjauhkan Arini dari Arya tapi Arya juga punya banyak cara untuk bisa mempertahankan hubungan Arya dengan Arini." batin Arya.



"Pak Tuan, kenapa malah tidur di situ sih! Pak Tuan pergi deh!" Protes Arini.



"Diam Arini aku lelah di perjalanan tidak tidur karena untuk menjaga kamu. Lebih baik kamu sini dan tidur bersamaku," jawab Arya. Satu tangannya terangkat dan menepuk-nepuk satu tangannya yang lain, sebagai tanda dia meminta Arini untuk tidur di sebelahnya dan menjadikan tangannya menjadi bantal juga.



"Mimpi aja terus, sekarang Pak Tuan pergi! Arini lelah mau tidur!" nampaknya Arini sudah semakin kesal karena Arya.



Satu langkah Arini maju menghampiri Arya.



"Pak Tuan pergi keluar! Nanti kalau ada orang ya lihat Arini pasti akan dalam masalah lagi."



"Tidak mau pergi, di sini ternyata juga enak nggak buruk-buruk amat." Arya tetap kekeh menikmati kasur yang seharusnya di gunakan untuk istirahat OB.



"Pak Tuan pergi!"



Arya tidak terima dengan pengusiran Arini, dia tetap diam tapi tidak dengan satu tangannya. Tangannya menarik hijab Arini yang menggantung di hadapannya dan alhasil membuat Arini jatuh tepat di atas tubuh Arya.



"Akk..., pak Tuan!"



Tangan Arya cepat mengikat Arini tak membiarkan gadis itu bangun dan akan pergi dari sana.



"Diam, jangan berisik dan jangan banyak bergerak. Kalau bandel akan aku cium kamu ya," ancam Arya.



"Tidak mau dua-duanya, lepasin!" Arini terus berontak.



"Kalau mau aku lepasin kamu harus kembali ke kamar, kalau tidak ya sudah kita akan seperti ini terus."



"Tidak! Arini tidak mau ikut!"



"Ya sudah, berarti jangan protes lagi. Kita nikmati saja tidur kita lagian juga sudah malam."



"Ih, pak Tuan!"



"Mau atau tidak?"



Arini terdiam berpikir, ini tidak benar. Semuanya tidak boleh terjadi.



"Baik, Arini ikut pak Tuan. Tapi lepasin dulu."



"Oke, mau jalan sendiri atau gendong?"



"Arini punya kaki," jawab Arini dengan sinis.



Arini beranjak setelah Arya melepaskannya. Bukan hanya Arini yang berdiri tapi juga Arya yang juga berdiri dan mengambil barang-barang Arini.



"Yuk cepat!" Arya menggiring Arini, dia tidak mau kalau sampai Arini kabur nantinya.



"Aku akan mengikuti pak Tuan dulu. Sembari memikirkan cara untuk bisa terlepas dari Pak Tuan." pikir Arini.



\_\_\_\_\_\_

__ADS_1


Bersambung...


\_\_\_\_\_\_\_\_


__ADS_2