Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
73.Takut Ada Rasa.


__ADS_3

..._____...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Surya pagi mulai tersenyum, suara panggilan Tuhan mulai menggema di semua bangunan-bangunan suci, Masjid. Hamba yang sudah terbangun sudah mulai melangkahkan kaki untuk memenuhi panggilannya, tak ada keraguan dalam langkah meskipun harus menerjang dinginnya embun pagi yang masih tertempel manis di semua tempat.


Ada yang sudah sampai, ada yang masih melangkah ada juga yang masih berada di rumah untuk mensucikan diri, tapi ada juga yang baru membuka matanya. Tapi juga masih banyak yang semakin menghangatkan tubuhnya dengan menarik kembali selimut yang sempat tersingkap.


Namun gadis berhijab pasmina berwarna hijau muda tengah kebingungan di depan rumah sakit untuk dia pulang ke rumah neneknya. Dia tak menjalankan shalat berjamaah di mushola melainkan shalat sendiri di ruangan neneknya di rawat.


Gadis itu adalah Arini, dia menunggu sekiranya akan ada angkutan pagi yang akan melintas di sana yang bisa mengantarkan pulang. Bukan hanya karena dia telah berjanji mau membuatkan sarapan untuk bosnya tapi dia juga tapi bawa baju ganti untuk dia ke kantor nanti.


Berkali-kali Arini menoleh melihat apakah mungkin ada angkutan atau ojek yang datang tapi sampai sekarang belum juga terlihat satupun angkutan, hanya mobil-mobil pribadi yang terus lalu lalang dan melaju dengan cepat karena jalanan yang mau masih sepi.


"Astaghfirullah, sampai kapan aku harus menunggu? " gumamnya, memberikan pertanyaan pada dirinya sendiri dan tentunya dia tak akan menjawab karena tak tau jawabannya.


Arini begitu gelisah, dia sangat takut jika tidak ada angkutan dan dia akan terlambat untuk pulang dan akhirnya dia akan telat juga datang ke kantor.


Arini melangkah semakin dekat dengan jalan raya, dia semakin tak sabar apalagi semakin lama surya bulan akan berganti dengan sang surya matahari.


"Aku tidak mungkin jalan kaki, jaraknya sangat jauh," ucapnya lagi.


Baru Arini akan kembali melangkah dia di kejutkan dengan mobil yang tiba-tiba berhenti di depannya. Arini tersentak mundur beberapa langkah karena tak ingin terkena.


Arini mengernyit, dia belum melihat siapa yang ada di dalamnya tapi mobil itu Arini sangat mengenalnya, tapi kalau tidak salah sih.


Perlahan kaca mobil mulai turun, memperlihatkan wajah juga mata yang memandanginya.


"Pak dokter! " suara Arini terdengar lebih keras dari sebelumnya. Ekspresi antara terkejut juga senang itulah wajah Arini sekarang.


"Arini, kamu mau kemana? ini masih terlalu pagi!" teriak Dimas.


Arini ragu-ragu untuk menjawab dia masih diam dengan wajah menunduk sesaat lalu kembali lagi menoleh ke jalan raya, kembali memastikan apakah ada angkutan yang datang atau belum.


"Arini, kamu mau kemana? " tanya Dimas lagi.

__ADS_1


Meskipun semalam mendapatkan peringatan dari Arya supaya menjauhi Arini tapi dia tidak bisa, setiap melihat Arini dia ingin sekali dekat dan ingin selalu melindungi. Sangat aneh sih menurutnya, perasaan apa? Dimas juga belum tau alasannya.


"Arini! " Panggil Dimas lagi membuat Arini langsung menoleh ke arahnya.


"Hem.., Arini..., Arini mau pulang. Arini menunggu angkutan lewat tapi belum juga datang," jawab Arini yang akhirnya membuka suaranya.


Arini kembali menoleh, dia masih terus memastikan.


Di saat Arini yang tengah menoleh Dimas membuka pintu mobilnya dari dalam. "Masuklah, biar aku antar sampai rumahmu! jam segini belum ada angkutan, ini masih terlalu pagi," ucap Dimas.


"Tidak usah, Pak dokter! Arini akan menunggu angkutan saja, sebentar lagi juga datang," jawab Arini yang ingin sekali menolak.


"Ayo Arini, kalau tidak kamu bisa terlambat nanti sampai tempat kamu kerja. Yuk, buruan! " kekeuh Dimas.


"Tapi, Pak dokter? Nanti pak dokter juga bisa telat sampai rumah sakit lagi."


"Tidak akan, ayo buruan," ajak Dimas.


Begitu tak enak yang Arini rasakan, Dimas selalu baik padanya dia hanya tidak mau jika dia merasa ketergantungan karena perilaku yang selalu Dimas berikan padanya. Apalagi Arini juga tak biasa selalu bergaul dengan laki-laki dia hanya takut saja jika akan menimbulkan dosa.


Kenyamanan yang selalu Dimas berikan, perhatian juga kepedulian yang selalu dia tunjukkan membuat Arini semakin takut, Dimas adalah laki-laki lajang Arini juga gadis tak berstatus, Arini hanya takut sampai ada rasa yang tumbuh berkembang di dalam hatinya yang saat ini tidak dia inginkan.


Kedatangan Dimas memang selalu membawa hal baik untuk Arini, dia selalu datang di saat yang tepat selayaknya seorang superhero yang memang sengaja di ciptakan untuknya, tapi kenapa hati Arini tak bisa menerima itu meskipun sebenarnya dia juga sangat nyaman berada di sisinya Dimas.


Lamunan Arini membuat Dimas harus menghela nafas panjang, dia adalah laki-laki penyabar dari semua laki-laki yang Arini temui dan Dimas juga sangat berbeda jauh dengan Arya bos nya. Keduanya bagaikan dua pinang yang sama tapi sangat berbeda. Keduanya sama-sama tampan, terpelajar juga bermartabat karena dari keluarga besar, tapi kepribadian keduanya benar-benar bertolak belakang.


"Arini, ayok! kamu masih nungguin apa sih..!?" Suara Dimas berhasil mengejutkan Arini lagi, hingga membuat Arini tersenyum kecil dengan sedikit terpaksa.


Arini hanya menjawab dengan satu anggukan pelan saja, tangan mulai melebarkan pintu mobil untuk dia masuk ke dalamnya.


Perlahan-lahan mobil mulai berjalan setelah itu, Arini pun juga sudah duduk dengan tenang.


"Sebelumnya terima kasih, Pak dokter,"


Ucapan Arini membuat Dimas menggeleng sepertinya ada yang Arini lupakan, "kok masih terus memanggilku pak dokter, bukankah aku bilang kamu harus memanggilku Kak atau Mas?" ucapan Dimas terdengar sedikit kesal, ya mungkin dia memang benar-benar tengah merasakan itu karena Arini masih saja memanggilnya pak dokter.

__ADS_1


"Arini tidak enak. Arini rasa tidak sopan juga kan?" wajah Arini menunduk dia tak ingin memandangi Dimas. Dia terlalu takut untuk memandang wajah laki-laki kalau tidak terpaksa.


Dimas tau jawaban seperti ini yang akan dia dapatkan tapi telinganya terasa tergelitik saja saat Arini memanggilnya dengan sebutan pak dokter. Dimas ingin lebih akrab saja sebenarnya dan tak ada perkataan yang begitu formal.


"Pokoknya kamu tidak boleh memanggilku pak dokter lagi," ucap Dimas.


"InsyaAllah, akan Arini coba,"


"Hem..., Arini. Kamu dan tuan Arya pergi kemana semalam? Dia tidak melakukan sesuatu padamu kan?"


Tak dapat informasi dari Arya gak masalah, masih ada Arini yang akan memberitahunya. Dimas yakin Arini akan mengatakan semua kepadanya.


Kali ini Arini memberanikan diri untuk menoleh, ya meski tidak lama dan dia kembali lagi fokus dengan jalan di raya, Arini hanya ingin memastikan saja ekspresi wajah Dimas seperti apa saat bertanya seperti itu.


"Arini hanya di ajak mampir ke rumah Pak tuan di gedung yang begitu tinggi. Ternyata pak tuan itu benar-benar kaya raya ya, Pak dokter. Aku jadi minder kerja di sana. Arini kan hanya orang tidak punya, dan juga bodoh lagi," ucap Arini menjelaskan.


"Arini Arini, kamu itu ada-ada saja. Kalau tuan Arya sama sepertimu mana mungkin dia akan memperkerjakan mu juga orang-orang. Karena dia begitu kaya maka dari itu dia membutuhkan orang-orang salah satunya itu kamu," Dimas merasa geli saja dengan ungkapan Arini.


"Iya sih, tapi Arini juga tidak enak dengan yang lain. Arini kan tidak masuk kriteria menjadi pekerja di sana tapi kenapa tetap di terima, tak mungkin juga kan hanya karena Eyang Wati."


"Apa kamu nyaman bekerja di sana?" tanya Dimas.


"Ya nyaman tidak nyaman sih, tapi tetap alhamdulillah dari pada tempat yang lain, hanya saja...? " Arini menjeda bicaranya.


"Hanya kenapa? "


"Bosnya sedikit tidak waras." jawab Arini dengan suara yang pelan dan itu berhasil membuat Dimas tersenyum, hanya gadis satu ini yang mengatakan Arya tidak waras kalau orang lain mana berani.


"Astaghfirullah hal 'azim..., maafkan aku ya Allah. Pak dokter, jangan masukin telinga ya, tadi Arini hanya salah bicara aja kok. Mulut Arini hanya kesrimpet," Arini hanya bisa meringis.


////


Bersambung....


________

__ADS_1


__ADS_2