
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
...________...
Arya masih saja mengadu sakit setelah dia terjun bebas dari pohon jambu yang dia panjat. Punggungnya rasanya ingin patah saat harus melawan kerasnya tanah liat kering, masih untung dia tidak terjun bebas di jalan tatanan baru, kalau sampai jatuh di sana mungkin doa akan lebih parah lagi.
Tangannya terus memijat punggungnya yang tak terdapat luka tapi sungguh luar biasa sakitnya, rasanya lebih baik menggendong Arini yang bertubuh kecil daripada harus berlawanan dengan tanah, sungguh menyebalkan.
Bukannya membantu memijat atau bagaimana Arini malah mondar-mandir tidak jelas karena dia bingung harus berbuat apa. Tidak mungkin dia akan memijat Arya atau membantu yang lainnya sungguh tidak mungkin kan? Arini juga tidak tau entah punggung kekar itu terluka dan atau tidak dia hanya terus dengan kebingungannya sendiri setelah dia selesai menertawakan Arya.
"Arini, apa kamu tidak mau melakukan apapun gitu untuk membantu meringankan rasa sakit ku?" terdengar suara kekesalan di balik kata-katanya yang keluar barusan. Mungkin memang iya sih Arya sangat kesal kalau perlu mungkin dia akan menghukum Arini tapi dia tak bisa melakukan itu mengingat keadaannya sekarang.
Mereka hanya berdua saja bagaimana kalau sampai Arini marah dan meninggalkan dia di sana sendiri bukankah itu lebih buruk akibatnya.
Arini sip gadis yang terus bergerak tak mau diam itu hanya menoleh, dan kembali lagi memandangi dua arah jalan bergantian. Siapa tau akan dia lihat ada orang yang datang dan bisa menolong mereka, tapi sepertinya tidak.
"Arini! " suara Arya semakin menggelegar. Dia sudah sangat tidak tahan dengan rasa sakit di punggungnya.
"Ada apa, Pak Tuan?" Arini mendekat, dia membungkuk dipakai hadapan Arya yang mesin terus meringis kesakitan.
Gadis ini sepertinya mulai kumat lagi bodohnya. Ada orang sakit bulannya di tolong malah di abaikan begitu saja. Padahal Arya seperti itu juga karena ingin mencarikan sesuatu yang bisa menghilangkan rasa laparnya tapi ternyata.
"Dasar nggak peka! " sungut Arya. Kekesalannya sudah mulai memasuki tahap awal, jika berlanjut mungkin kepalanya akan menguap mengeluarkan asap.
"Pak Tuan bisa jalan nggak? Sepertinya pemukiman tidak terlalu jauh deh. Kita pelan-pelan saja jalannya, dia samping Pak Tuan yang lagi sakit Arini juga kakinya masih sedikit sakit," suaranya terdengar unyu-unyu, begitu menggemaskan di telinga Arya. Apalagi bibir mungilnya yang terus bergerak sungguh membuat seorang Arya tidak tahan ingin sekali melahap nya.
Mata Arya tak berkedip sama sekali melihat Arini yang membungkuk di hadapannya, sungguh tangan Arya sudah gatal ingin menariknya dan memeluk tubuh kecilnya sekaligus menikmati bibir mungil itu.
__ADS_1
Arya hanya bisa menelan ludahnya sendiri tak bisa melakukan apa yang ada di dalam otaknya, bisa saja di melakukan itu tapi dia takut kejadian waktu itu akan kembali terulang lagi. Di tempat itu gak ada siapapun juga jauh dari akses jalan raya.
"Pak Tuan kenapa?" tanya Arini saat dia melihat Arya yang terus menatapnya tak berkedip. Arini memeriksa wajahnya dengan tangan apa mungkin ada sesuatu yang menempel dan membuatnya aneh? "Apakah Arini ada jerawatnya? " tanyanya.
"Sepertinya tidak ada?" imbuhnya lagi.
Mata memang sudah mengagumi juga sudah terpesona dengan Arini. Perlakuannya, wajah imutnya, senyum manis yang mengeluarkan lesung pipinya juga semua yang ada dalam diri Arini Arya sudah mulai mengagumi semuanya.
Tak peduli warna kulitnya, tak peduli tubuh kecilnya tak peduli dengan semua kekurangan Arini, Arya seperti menutup matanya.
Kesempurnaannya bukan terletak pada kulit putih juga paras cantik, tapi kesempurnaan Arini terletak di semua ketulusan, kepolosan, juga hatinya yang begitu baik.
Mungkin semua itu yang bisa membuat Arya kembali merasakan detak jantung yang begitu kuat juga hatinya mulai gemetar sepertinya telah menemukan setengah hatinya yang hilang.
"Sepertinya aku akan susah untuk berjalan apakah bisa membantuku?" tanya Arya. Ya meski Arya tidak yakin kalau Arini akan mau juga akan kuat. Tubuhnya sangat berat pasti Arini tidak akan kuat menahan bebannya.
"Hem..., bagaimana ya?" Arini berpikir keras. Seharusnya Arini tidak akan berpikir lebih lama lagi karena ini dalam keadaan darurat, "akan Arini coba," imbuhnya.
Arya juga berusaha untuk meringankan tubuhnya sendiri jadi Arini tidak akan merasa begitu keberatan dengan berat badannya.
Keduanya saling berangkulan untuk menguatkan satu sama lain. Arya yang sakit punggungnya sementara Arini yang berjalan sedikit pincang karena kakinya yang sakit.
"𝘈𝘮𝘱𝘶𝘯𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘺𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩, 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘯𝘪𝘢𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘰𝘴𝘢, " batinnya.
Jarak yang begitu dekat bahkan tak ada jarak juga saling bersentuhan membuat Arini merasa berdosa. Tak seharusnya ini terjadi tapi mau bagaimana lagi? Kalau tidak maka mereka berdua tidak akan sampai ke tempat pemukiman dan mendapatkan pertolongan.
Hatinya terus menyerukan istighfar, memohon ampunan kepada Allah. Arini sadar dia telah melakukan dosa.
__ADS_1
"Pak Tuan benar-benar kuat berjalan?" Arini menoleh, dan saat itu wajahnya begitu dekat dengan wajah Arya.
Arya juga menoleh ke wajah Arini. Di lihatlah wajahnya yang sedikit mendongak karena Arya yang lebih tinggi. Jika saja Arya menunduk sedikit lagi maka dia akan bisa mengecup kening Arini tapi tidak dia lakukan.
"Aku masih kuat," senyum kecil keluar dari Arya membuat Arini terpana dalam sejenak.
Begitu indah dan sempurna di matanya. Netra keduanya saling bertemu dan saling bertahan dalam kekaguman. Benih-benih mulai tumbuh dalam diri keduanya.
"Kita jalan lagi? " tanya Arini dan Arya mengangguk dengan begitu gugup.
/////
Setelah melewati perjalanan panjang akhirnya Arya juga Arini sampai di pedesaan. Begitu banyak orang yang lalu lalang dengan kegiatan mereka masing-masing. Ada yang berjualan, ada yang berangkat dan pergi ke kebun ada juga yang duduk bersantai menghilangkan penat setelah pekerjaan berat mereka.
Sepasang suami-istri mendekat ke arah mereka berdua dengan berlari. Mungkin mereka tidak tega melihat keadaan Arya juga Arini yang sudah sangat lelah.
"Astaghfirullah hal 'azim..! Kalian kenapa?" tanya laki-laki itu, sebut saja namanya pak Karna, RT dari desa itu yang kini sedang berjalan berdua dengan istrinya yang bernama bu Sulasmi.
Pak Karna juga bu Sulasmi langsung berlari ke arah mereka berdua. Mereka langsung membantu mereka berdua.
"Ikut kami ke rumah, biar kku bisa bantu kalian," ucap bu Sulasmi.
"Terimakasih, Bu," jawab Arini yang sudah berganti di papah oleh bu Sulasmi.
Sementara Arya berganti di papah oleh pak Karna tapi tidak seperti Arini yang langsung berterimakasih Arya masih saja diam tak mengatakan apapun. Entah lari kemana suaranya padahal dia selalu cerewet saat bersama Arini saja dan setelah di depan orang lain Arya hanya diam dengan sikap dinginnya juga.
///////
__ADS_1
Bersambung....
......