
...Happy Reading........
...**********...
Tak ada acara yang bermegah-megahan saat pernikahan berlangsung. Hanya ada keluarga inti saja yang datang. Juga beberapa teman seperjuangan Dimas yang menjadi saksi pernikahannya dengan Raisa malam ini.
Semua sudah ada di ruang tengah yang hanya di rubah sedikit dengan dekorasi yang sangat sederhana. Sebenarnya Dimas ingin pernikahannya di buat mewah, tapi Raisa tidak mau. Raisa menginginkan pernikahan yang sederhana saja, dan akhirnya Dimas juga semua anggota keluarga hanya bisa nurut kepadanya.
Raisa begitu cantik dengan kebaya berwarna putih dengan rambut yang di sanggul kecil di bagian belakang. Ada beberapa beberapa hiasan rambut berwarna silver yang menambah kesempurnaan rambutnya.
Meski hanya make-up sederhana tapi mampu membuat Dimas terpana. Pengantinnya benar-benar sangat cantik saat ini.
Sementara Dimas sendiri, dia mengenakan setelan jas berwarna hitam pekat dengan kemeja berwarna putih. Berhiaskan bunga buatan kecil yang ada di sakunya. Juga dasi kupu-kupu yang menambah sempurna penampilannya.
"Apakah sudah siap?"'tanya penghulu, membuyarkan lamunan Dimas tentang wanita yang sebentar lagi akan sah menjadi istrinya.
"Hah!" Dimas tersentak, dan itu membuat Raisa yang malu karena sadar menjadi pusat perhatian dari Dimas.
"Apakah sudah siap?" Tanya penghulu seraya mengulang.
"I_iya!" Dimas menjawab dengan gagap.
Tiba-tiba saja jantungnya bekerja lebih keras dari sebelumnya. Hatinya berdesir dengan rasa gelisah yang menyelimutinya. Sungguh, Dimas lebih memilih berada di depan pada pasien daripada di depan penghulu seperti sekarang ini.
Penghulu mulai membimbing Dimas untuk mengucapkan ijab qobul dan hanya dengan sekali tarikan nafas kini Dimas benar-benar menjadi suami Raisa.
"Alhamdulillah!" Seru semua orang, terlebih lagi Arini. Dia berteriak paling pertama dan paling keras membuat semua orang menoleh ke arahnya. Arini hanya bisa malu dan langsung menutup wajahnya .
Dimas kini sangat bahagia, akhirnya sekarang Raisa telah menjadi istrinya. Keinginannya telah terkabul, semua telah terlaksana dengan indah.
Senyum bahagia nampak di wajah Dimas tapi Raisa sendiri hanya senyum kecil saja yang keluar. Raisa masih sangat takut kalau Dimas akan kecewa kepadanya.
Benarkah Dimas benar-benar menerima Raisa? Itulah yang menjadi pikiran Raisa saat ini.
Dimas menjulurkan tangannya ke arah Raisa dengan pelan Raisa menerimanya. Ini adalah jabat tangan yang pertama kali di antara mereka. Raisa langsung mengecup punggung tangan sementara Dimas merengkuh tengkuk Raisa dan mencium keningnya.
Deg!
Jantung Raisa bekerja lebih cepat saat bibir Dimas menempel di keningnya. Seolah ada sengatan listrik dengan tegangan tinggi membuat Raisa langsung diam seperti patung dengan mata yang tertutup.
__ADS_1
Rasa yang campur aduk yang hadir dalam diri Raisa. Bahagia, sedih, terharu juga rasa tak percaya. Tak percaya kalau kini dia sudah mendapatkan gelar seorang istri dari Dimas.
Sebuah doa yang dulu hanya tak sengaja terucap kini Allah telah mengabulkannya. Suami tampan, kaya, menerima apa adanya dan yang jelas mampu menjadi imam yang terbaik untuknya, dan semua itu ada dalam diri Dimas.
Kesabarannya dalam menghadapi semua masalah kini terbayar sudah dengan menjadi istri dari Dimas.
Berbagai ucapan, doa semua kedua mempelai dapatkan. Dan kini Raisa mendapatkan kasih sayang yang penuh dari keluarga barunya. Kedua orang tua Dimas, Dimas sendiri, Arini dan semuanya. Lengkaplah hidup Raisa sekarang.
Setelah pernikahan selesai di sambung dengan makan malam yang super mewah di kediaman Dimas. Semua sahabat-sahabat Dimas dan keluarga semua bersatu di lingkar meja yang begitu besar.
Semua makan dalam kewajaran, tapi tidak dengan Arini. Lagi-lagi dia bertingkah aneh dan terlihat sangat menggemaskan.
Piringnya penuh dengan semua macam lauk tapi hanya satu sendok nasi saja yang dia ambil.
"Sayang, nasinya di banyakin dong." Pinta Arya seraya menoleh ke arah piring Arini lalu ke wajahnya yang terlihat sudah mulai menikmati.
"Lagi diet," Celetuk Arini menjawab.
Semua terbelalak mendengar ucapan Arini barusan. Mana ada orang diet kok makan segitu banyaknya. Iya sih nasinya sedikit tapi kan semua lauknya itu tetap bisa membuatnya gemuk.
"Kata Kak Dimas kalau orang mau diet itu kalau makan nasinya sedikit." Imbuhnya lagi.
"Kamu itu ya, Arini. Badan kecil gitu mau diet. Emangnya masih kurang kecil!" Semua menoleh ke arah Raisa. Akhirnya wanita itu kembali berbicara. Dimas juga sangat bahagia, Raisa kembali ceplas-ceplos seperti biasanya.
Dimas pikir bakal butuh waktu lama untuk Raisa kembali ke sifat biasanya. Tapi alhamdulillah itu tak butut lama.
"Aku lebih suka kamu yang cerewet daripada kamu yang pendiam, Raisa." Bisik Dimas.
"Hah!" Raisa tersentak dia cepat menoleh dan mendapati suaminya itu tengah tersenyum begitu manis di depan matanya.
"A_aku," Raisa berubah menjadi gugup sekarang. Tatapan mata Dimas begitu menyentuh hingga lubuk hati yang paling terdalam.
Uhuk uhuk uhuk....
"Astaga keselek jengkol!" celetuk Arini lagi. Nih anak ya, senang banget gangguin orang lagi seneng dan berdebar-debar karena cinta. Lagian mana ada keselek jengkol di atas meja makan nggak ada satupun menu jengkol yang tersaji. Hanya ada pete saja yang ada di atas olahan daging.
"Emang kamu doyan jengkol, Yang?" tanya Arya menanggapi.
"Nggak, makanya keselek." astaga nih anak. Benar-benar butuh dokter ini.
__ADS_1
"Fixs, besok ke dokter!"
Mata Arini langsung terbelalak karena Arya yang mengatakan akan ke dokter. Siapa yang sakit? lagian kalau butuh dokter kan ada Dimas.
"Mas sakit?" tanya Arini polos.
"Bukan sakit, Dek. Tapi mules, hhhh..." Dimas nyengir begitu saja, sementara yang lain semua ikut tertawa.
"Mules kok pakai ke dokter. Mules ya tinggal kasih minyak, dah beres." emang nggak peka nih orang.
"Bukan suami mu yang butuh dokter, Dek. Tapi kamu!"
"Aku? emang aku kenapa, aku baik-baik saja kok," Arini terlihat bingung. Dia benar-benar tidak kenapa-napa jadi dia sama sekali tak membutuhkan dokter.
"Kamu nggak sadar kalau kalau otakmu sedikit geser?"
"Geser?" begitu menggemaskan Arini saat mengatakan otaknya geser, bahkan kepalanya ikut miring-miring ke kanan. Memastikan kalau otaknya baik-baik saja.
"Iya, geser!"
"Ih, Kakak sembarangan ya. Mana bisa otak geser. Bayangan bisa geser kalau otak ya nggak akan bisa lah." Arini tak terima.
"Sudah-sudah! jangan berdebat mulu. Sekarang habiskan makanan kalian, ini sudah malam dan istirahatlah." ucap Nilam menengahi. Kalau tidak mana akan selesai perdebatan adik kakak itu.
"Cie cie cie..., Mama udah nggak sabar pengen punya cucu ya, kok suruh pengantin baru cepet-cepet istirahat."
Nih mulut pengen Dimas tampol pakai bergedel yang ada di hadapannya itu. Sungguh terlalu nih adek satu. Untung adek tersayang kalau bukan udah entah berantah sampai mana tuh si lidah oleng.
"Dek, bisa diem nggak!" mata Dimas melotot arah Arini. Dan yang di pelototin malah meringis tanpa rasa bersalah.
Arini terima begitu saja apapun yang Dimas katakan tapi sepertinya tidak dengan bodyguard yang ada di sebelahnya.
"Dim, udah nggak butuh matanya?"
Sontak Dimas langsung mengkeret karena perkataan Arya barusan. Dasar pasangan penindas.
...----------------...
...Bersambung......
__ADS_1