Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
211.Tak Bermimpi


__ADS_3

Happy Reading...




"Astaga, lelahnya," keluh Raisa seraya membangunkan tubuhnya dari kasur besar yang asli bukan miliknya.



Kasur besar itu adalah kasur di rumah keluarga Anggara. Ya, kemarin malam setelah menghadiri pesta pernikahan Arini Raisa di ajak untuk menginap di sana oleh Nilam. Padahal dia sudah menolaknya, tapi bu Nilam yang dia kenal sangat baik juga ramah itu terus memaksanya, bahkan terus menggandengnya tak mau melepaskan.



Otot-otot lelah Raisa renggang kan, dia yang memang belum bisa istiqomah dalam menjalankan shalat subuh lagi-lagi terlambat bangun alias kesiangan. Mungkin efek lelah juga kali ya, karena dia pulang memang sudah sangat larut, bahkan hampir jam dua belas malam.



"Jam berapa nih?" matanya memandangi sekitar, dia manyun saja karena tak mendapatkan jam yang menempel di dinding atau duduk manis di meja atau dimana saja, "hadeh, kamar sebagus ini satu jam saja tidak ada, ck ck ck...," keluhnya seraya protes.



Terpaksa dia meraih ponsel jadulnya, menyalakannya dan dia kembali kecewa, "kan aku kesiangan lagi, kapan aku bisa belajar tepat waktu untuk shalat subuh. Dasar kebo kau Raisa."



Jam sudah menunjukkan pukul enam tiga puluh, dan Raisa baru saja membuka matanya. Benar-benar kebiasaan yang buruk.



Tok tok tok...



"Non, Non! sudah di tunggu Tuan dan Nyonya untuk sarapan!" seru salah satu asisten rumah.



"Hah! sudah di tunggu sarapan! sial sial. Untung aku tidak bermimpi untuk menjadi menantu mereka, kalau iya belum apa-apa sudah masuk catatan hitam. Alias langsung di sepak sebelum mendekat," ocehnya.



"Iya, sebentar!" jawab Raisa seraya berteriak juga.



Cepat-cepat Raisa turun dari ranjang, berlari ke kamar mandi dengan sangat tergesa-gesa. Meski tidak memimpikan jadi mantu tapi dia juga harus bisa menjaga nama baiknya juga kan sebagai seorang gadis muda. Jangan sampai dia mendapatkan cap cewek kebo, kan bisa bahaya untuk masa depannya.



Setelah mendapat jawaban dari Raisa sudah tak terdengar lagi suara ketukan ataupun suara panggilan untuk Raisa, mungkin dia memang sudah pergi.



Raisa masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dengan cepat.



Tak butuh waktu lama dia berada di dalam, setelah beres dia kembali keluar dan cepat bergegas.


__ADS_1


"Enaknya jadi orang kaya, semua ada dan sudah tersedia. Tapi kenapa aku tidak ingin ya? aku pengen biasa-biasa saja gitu," ucapnya setelah dia keluar dari kamar mandi dengan mengusap wajahnya menggunakan handuk putih.



Raisa ataupun Arini sebenarnya hampir sama, mereka tidak menyukai kemewahan, tidak suka berharap muluk-muluk yang penting cukup saja sudah membuat mereka bahagia. Bedanya kalau Arini akan mengoceh di saat-saat tertentu sementara Raisa kalau ngoceh tak kenal waktu juga orangnya terlihat bar-bar, bahkan bisa di katakan dia sedikit tomboy.



Tak dandan seperti biasa yang penting sudah mandi supaya terlihat segar dan menyisir rambutnya supaya terlihat rapi. Masalah dandan itu yang kesekian urutannya bagi Raisa, bahkan dia juga sering natural begitu saja tak memakai apapun kecuali pelembab saja.



Baginya make-up tak terlalu penting, daripada buat beli make-up mending buat beli makan untuk isi perut. Maklum lah, Raisa kan juga bukan dari kalangan orang yang berada.



Memastikan semua rapi dan pantas untuk di lihat Raisa keluar, menemui orang tua Arini yang sudah menunggunya untuk sarapan.



Gaun biru, sepatu flat hitam dengan rambut di biarkan tergerai begitu saja itulah penampilan Raisa sekarang. Tanpa make-up, hanya pelembab saja yang selalu tak ketinggalan, itupun sudah membuat wajah Raisa enak untuk di lihat.



Raisa juga membawa tas selempang hitamnya sekalian, karena dia juga harus pulang untuk bekerja juga. Meski dia sudah seperti kakak bagi Arini tapi nyatanya Arya sama sekali tak memberikan cuti lama untuknya, hanya sehari saja dia libur, yaitu kemarin.



"Pagi, Om, Tante, Tuan Dimas," sapanya. Senyumnya tak ketinggalan sebagai hiasan di paginya, menambah kesan keramahan juga sopan santun yang dia punya, padahal kalau di luar rumah dan hanya dengan Arini saja, beh! judes nya minta ampun.



"Pagi, Nak," Nilam.




"Pagi," Dimas dengan singkat bahkan terdengar sangat acuh juga tak melihat kedatangan Raisa sekarang.



Masa bodoh dengan apa yang terjadi pada Dimas, Raisa duduk saja lah apalagi mendapatkan uluran tangan dari Nilam untuk duduk di sebelahnya. Tak bisa nolak lagi kan.



"Kok bawa tas, kamu mau pulang?" suara Nilam sungguh lembut sekali, pantes saja anak perempuannya juga hampir sama. Tapi apa kabar dengan pria yang acuh yang duduk di depannya sekarang? dia sangat jauh berbeda dengan Nilam.



"Raisa harus pulang, Tan. Raisa harus kerja juga," jawab Raisa.



"Oh. Kalau begitu sarapan dulu, jadi kamu nanti tinggal berangkat," pinta Nilam, "Bi!" panggil Nilam kepada asisten rumah yang sedang ada di saat keluarga Anggara berada di meja makan.



Bibi yang yang di panggil langsung mengerti, mengambilkan piring dan mengisi nasi untuk Raisa, "Silahkan, Non," senyumnya begitu ramah, perlakuannya juga sangat baik. Tapi itu malah membuat Raisa tak enak.


__ADS_1


"Biar saya sendiri saja, Bik!" tolak Raisa ketika asisten itu akan mengambilkan lauk juga untuknya.



"Tidak usah sungkan, Non. Ini memang sudah pekerjaan saya," senyumnya begitu ikhlas, sepertinya dia mengerjakan pekerjaannya juga dengan sepenuh hati.



"Saya saja," Raisa tetap tak menerimanya, dia hanya tamu di sana, bukan bagian dari keluarga jadi dia tak pantas mendapatkan perlakuan yang sama. Mungkin kedudukannya sama seperti dia jadi Raisa tidak mau nanti di bilang sok-sokan apalagi di bilang sombong.



"Hem," Asisten itu mengangguk dengan pelan, mundur dua langkah untuk menjauh dan membiarkan Raisa yang mengambil sendiri apa yang ingin dia makan.



Nilam hanya tersenyum melihat itu, begitu juga dengan, Hendra. Mereka berdua bahkan saling lempar pandang dan saling berkedip, entah kode apa yang menjadi maksud mereka.



Tapi berbeda dengan Dimas, dia tetap acuh dan serius dengan makanannya. Sama sekali tak menghiraukan Raisa dan berpura-pura tidak mendengar apa yang Raisa katakan.



"Dim, ini masih terlalu pagi. Kalau Raisa menunggu angkot atau pesan ojek akan kelamaan dia pasti akan terlambat. Jadi kamu anter dia dulu baru ke rumah sakit," ucap Nilam.



"Hah," kali ini Dimas baru mengangkat wajahnya. Kenapa juga harus dia yang mengantarkan Raisa kenapa tidak Hendra saja bukankah mereka yang satu arah.



"Tidak usah, Tan. Raisa akan pesan ojek," tolak Raisa.



Kali ini baru Dimas melihat Raisa, sejenak dia terpaku memandangi Raisa. Apakah matanya sudah mulai bermasalah sekarang? kenapa Raisa terlihat sangat berbeda dari biasanya.



"Dim, oke kan?" ucapan Nilam berhasil mengejutkan Dimas, dia juga cepat mengedipkan matanya dan cepat berlari seperti seorang yang ketahuan hendak mencuri.



"Ya," jawab Dimas dengan singkat lagi.



Nilam bernafas lega meski terlihat cuek-cuek bebek ternyata Dimas setuju untuk mengantarkan Raisa.



"Ayo dimakan! jangan melamun saja nanti kesiangan loh," kini Raisa yang terbuyarkan dari lamunannya.



"Iya, Tan."



~~~~~\\\~~~~~

__ADS_1



Bersambung....


__ADS_2