Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
133. Kue untuk Arya


__ADS_3

Happy Reading...



Arya yang tiba-tiba menghilang tentu menjadi bahan pencarian dari kedua orang tuanya. Bukan hanya mereka saja melainkan ada keluarga Nadia terlebih Nadia sendiri? dia begitu bingung dan terus berputar-putar ke tempat acara guna mencari Arya saja.



Acara belum selesai tapi Arya sudah pergi begitu saja bahkan tak ada satupun orang yang tau akan keberadaannya. Apalagi ponsel Arya yang tidak bisa di hubungi? Membuat mereka begitu kesusahan untuk menemukannya.



Sebenarnya ada Toni yang mengetahuinya tapi asisten itu begitu setia dengan Tuan nya dan kini terus tutup mulut, tidak mengatakan keberadaan Arya sama sekali.



"Kamu dimana sih, Ar?" Luna sangat bingung, matanya terus menelisik ke setiap penjuru yang bisa terjangkau tapi tetap saja tak menemukan bayangan Arya apalagi Arya sendiri.



"Tan, apakah Arya sudah pergi istirahat? dia kan tadi nyetir sendiri pasti dia sangat kelelahan makanya dia pergi tanpa pamit," ucap Nadia yang baru saja menghampiri Luna.



Masuk akal sih, Arya kan datang ke sana dengan nyetir mobil sendiri pasti dia sangat lelah. Pikir mereka yang tidak tau sama sekali.



"Tapi, Nad. Acara belum selesai seharusnya dia tidak pergi begitu saja kan? dia bisa bilang sama Tante atau sama Om. Tapi ini? dia pergi begitu saja tanpa pamit. Apa iya dia pergi untuk istirahat?" Luna seolah tidak percaya dengan apa yang Nadia katakan, tapi masuk akal sih.



"Sudahlah, Tan. Lebih baik sudahi saja acara ini, lagian sudah malam juga semua orang pasti sangat lelah. Tante juga Om juga terlihat sangat lelah. Jangan sampai sakit, Tan." ucap Nadia seolah memberikan perhatian kecil untuk Luna.



Dengan seperti itu, bicara lemah lembut juga memberikan perhatian-perhatian kecil pasti Luna juga Wiguna akan percaya kalau dia benar-benar baik. Juga tidak akan terendus niat busuknya yang menginginkan harta mereka.



"Kamu baik sekali, Nad. Tidak salah tante memilih kamu untuk menjadi istri Arya, menantu tante," senyum Luna terlihat sangat bahagia tak tau kalau dia tengah di bohongi oleh gadis yang dia puja-puji.



"Bukan apa-apa kok, Tan." Nadia juga membalas dengan senyum manisnya.



Karena Waktu yang memang sudah malam membuat acara terpaksa harus di akhiri tanpa Arya. Entah dimana dia sekarang.



Dimas termenung sendiri di dalam kamar dimana Nilam di rawat, tangannya masih terus melihat betapa indah desain dari Hendra.


Pikirannya tertuju kepada Nilam yang masih terbaring tak sadar, seandainya saja kalung itu di pakai oleh Mamanya pasti akan terlihat sangat indah dan cantik. Tapi nyatanya? Semuanya hanya tinggal dengan kata-kata seandainya.


"Lihatlah, Ma. Jika kalung ini kembali di buat dan Mama yang memakainya pasti akan sangat cocok di leher Mama."


"Bangun ya, Ma. Setelah Mama bangun Dimas janji akan membuatkan kalung ini untuk, Mama." ucap Dimas.


Meskipun Dimas mengatakan uty tapi Nilam tetap saja belum mau membuka matanya. Padahal keadaan Nilam semuanya sudah baik tapi entah kenapa dia belum mau membuka matanya.


Dimas begitu sedih entah sampai kapan Nilam akan terus seperti sekarang ini.


"Ma, besok Dimas pamit ya. Dimas harus ke puncak untuk menghadiri ulang tahun Arya."


"Mungkin Dimas akan dua hari di sana, tapi akan ada dokter lain kok yang menggantikan Dimas untuk merawat Mama." Ucap Dimas.

__ADS_1



Malam semakin larut tapi Arini belum juga bisa tidur. Dia terus berusaha untuk memejamkan mata tapi tetap saja tidak berhasil.



"Kenapa aku tidak bisa tidur? Biasanya lihat bantal juga langsung ngantuk tapi ini kenapa?" ucapnya yang bingung sendiri.



tubuhnya terus guling-guling di kasur yang sangat besar itu, apakah mungkin karena Arini tidak terbiasa dengan tempat yang enak makanya dia malah tidak bisa tidur? mungkin sih.



"Seandainya aku ada dua kamar Mbak Raisa pasti sekarang aku sudah bisa tidur kali ya." ucapnya lagi.



*Teng*....



Arini terdiam setelah mendengar bunyi lonceng yang ada di rumah itu, meski yang tidak ada ada di kamarnya tapi Arini bisa mendengar dengan sangat jelas.



"Waktu pergantian hari, berarti sekarang Pak Tuan ulang tahun dong." Wajah Arini tampak berbinar setelah tau kalau sudah masuk pergantian hari itu tandanya ulang tahun Arya sudah di mulai dengan saat ini.



Arini kembali diam, dia sama sekali tidak memiliki apapun untuk hadiah dia sangat bingung hadiah apa yang akan dia berikan. Waktu sudah semakin dekat dengan acara ulang tahun tapi dia belum mendapatkan apapun.



"Kasih apa ya?" Arini duduk, dia terus berpikir.




Semua tempat memang sudah gelap, hanya lampu-lampu kecil yang menjadi penerangan. Sebelum melakukan aktivitasnya Arini mencari-cari saklar listrik dan berhasil dia temukan di samping kulkas.



"Alhamdulillah," ucapnya. Lampu sudah berhasil dia nyalakan.



Satu persatu alat juga bahan Arini cari, meski dia tidak tau ada atau tidaknya tapi dia yakin ada. Rumah semewah itu pasti juga di lengkapi dengan perabotan yang sangat komplit dan ternyata benar.



"Aku akan bikin kue ulang tahun untuk pak Tuan. Hem..., rasa cokelat saja deh."



Padahal kue untuk Arya dan itu juga acara ulang tahun Arya tapi Arini malah bikin kue yang rasanya adalah kesukaannya sendiri, emang niat banget dia yang akan memakannya.



Arini terus sibuk dari peralatan satu dan yang lain, dari semua bahan yang sudah berhasil dia dapat dan sekarang ada di depan mata, dia sudah siap bertempur dengan semuanya.



Wajahnya tampak berbinar, tak ada rasa kantuk sama sekali meski dia belum tidur sama sekali. Arini begitu semangat untuk membuatkan kue sebagai hadiah untuk Arya.


__ADS_1


Meski terlihat sedikit bingung dengan semua peralatan yang baru menurutnya tapi Arini tetap berhasil menggunakannya dengan baik.



Baru saja Arini mau memasukkan adonan ke dalam oven penjaga rumah datang, mungkin dia terbangun karena suara yang Arini timbulkan.



"Nyonya, Nyonya mau buat apa?" tanyanya. Langkah kakinya di percepat. Dia pikir Arini ingin masak untuk dirinya sendiri kalau benar maka dia akan berada dalam masakan jika Arya sampai tau.



Arini tersenyum kikuk, dia juga merasa bersalah karena ulahnya di malam-malam seperti sekarang telah mengganggu kenyamanan yang lain.



"Hem... " Arini tampak bingung.



"Saya Mila, Nyonya." sepertinya penjaga rumah itu rau apa yang Arini bingung kan.



"Hem.., Mbak Mila. Salam kenal ya, saya Arini. Hem..., sebenarnya saya bukan calon istri pak Tuan, tapi saya hanya OB di perusahaannya jadi Mbak Mila jangan salah paham ya. Jangan percaya dengan apa yang di omongin Pak Tuan," ucap Arini.



Mila tersenyum, sepertinya gadis di depannya itu memang masih sangat polos bahkan tidak tau bagaimana ketulusan Arya kepadanya.



"Terus, Nyonya mau buat apa?" tanya Mila.



"Kue ulang tahun, ini untuk pak Tuan. Kalau Mbak Mila ingin juga nanti Arini bikinin deh. Tapi maaf ya, gara-gara Arini Mbak Mila jadi terbangun deh," sesal Arini.



"Tidak kok, Nya. Saya memang biasa terbangun kalau jam segini."



Arini kembali melanjutkan langkah menghampiri oven.



"Biar saya bantu, Nya."



"Tidak usah, Mbak Mila duduk saja atau kembali istirahat juga nggak apa-apa Mbak Mila pasti sangat lelah seharian urus rumah sebesar ini."



"Itu sudah menjadi tugas ku, Nya."



Sembari terus ngobrol Arini terus sibuk sementara Mila membantu hal-hal kecil.



Bersambung...


___

__ADS_1


__ADS_2