
Happy Reading...
"Mas, yang di maksud Mama apa sih?" Arini masih saja tak mengerti dengan apa yang di ingin oleh Nilam. Setelah sampai di kamar dia langsung bertanya kepada Arya setelah suaminya itu melepaskan tangannya.
Arya yang hendak berjalan ke kamar mandi jadi urung dan kembali menarik Arini. Dituntunnya hingga sampai ke sudut ranjang dan Arini langsung di suruh duduk.
"Duduklah, biar Mas jelaskan sampai kamu paham," Arya juga ikut duduk di sebelah Arini, menggenggam tangannya dan tak ingin melepaskan.
Keduanya saling berhadapan, Arini masih setia menunggu bibir suaminya itu akan terbuka untuk menjelaskan semua yang tidak dia mengerti. Memang susah kalah punya otak setengah-setengah, apalagi selalu kumat-kumatan juga.
"Dengar baik-baik ya. Begini. Maksud dari dua garis biru itu adalah hasil dari kehamilan kamu, Mama menginginkan kamu bisa secepatnya hamil," begitu sabar Arya menjelaskan. Dia begitu pinter membuat Arini mengerti tapi terkadang dia juga di pusingkan kalau yang dia jelaskan adalah hal yang terlalu rumit.
"Jadi Mama mau Arini cepat hamil, begitukah?" tanya Arini.
"Iya, Mama menginginkan itu," Arya mengangguk pelan, alhamdulilah kali ini Arini langsung tau apa yang di inginkan. Arya tak perlu bekerja keras untuk bisa menjelaskannya.
"Oh begitu toh. Tapi? bagaimana mungkin Arini bisa langsung hamil, nikah saja baru beberapa hari masak iya langsung isi begitu saja nanti orang pikir Arini sama Mas udah pernah nyicil duluan dong. Kan jadi nggak enak di dengar. Pasti mereka pikir Arini adalah wanita nggak bener lagi," nyerocos Arini tak ada henti.
"Padahal kita kan belum pernah ngapa-ngapain sebelum menikah, kalau sampai orang berpikir seperti itu takutnya nama baik Mas juga akan tercoreng, iya nggak sih?" imbuhnya.
Begitu manis Arini mengatakan itu, wajahnya juga sesekali mengembung membuat Arya begitu gemas hingga akhirnya dia mencubit pipinya.
"Pinter banget sih istriku," ucap Arya dengan tangan yang sudah menoel pipi Arini.
"Ihh! kok di cubit sih, kalau jadi tembem gimana? nanti tambah jelek lagi," protesnya. Wajahnya langsung menghindar dari tangan Arya yang masih mau melakukan lagi, tak mau juga kan, di samping rasanya sangat sakit tapi Arini tidak mau tembem apalagi hanya sebelah.
"Kamu akan semakin manis jika tembem, Arini sayang. Aku akan semakin menyukainya dan tentunya akan semakin betah di rumah," Arya tersenyum karena merasa begitu lucu melihat tingkah polos istrinya.
Arini kembali diam, tangannya terus mengelus pipi yang tadi di cubit oleh Arya.
Arya kembali menggenggam tangan Arini dengan kuat, menariknya dan dikecup nya dengan penuh kasih.
"Jadi bagaimana, apakah kamu siap untuk hamil?" Arya melirik Arini yang sedikit terkesiap saat itu.
__ADS_1
"Kamu tidak usah takut, jika kamu hamil secepatnya bukan berarti kita pernah melakukan sesuatu sebelum menikah, mungkin karena setelah menikah dan pertama kali kita melakukannya kamu dalam masa subur, jadi kamu bisa langsung hamil," ucap Arya.
"Oh gitu ya, ternyata kata Bu Anis benar ya, katanya perempuan kalau melakukan seperti itu dan kebetulan pas masa subur bisa langsung hamil. Ternyata aku yang terlalu bodoh," ucapnya.
Arya hanya bisa nyengir mendengar istrinya yang mengatai dirinya sendiri. Dan lucu saja karena Arini baru sadar akan kebodohannya yang memang sudah mendarah daging, tapi entahlah sebenarnya Arya tidak yakin kalau istrinya itu benar-benar bodoh.
"Kalau begitu Arini akan siap untuk hamil, Arini pengen bisa secepatnya jadi seorang ibu," Arini begitu antusias, tapi itu tak lama karena wajah Arini seketika langsung berubah.
"Kenapa?" Arya mengernyit, tak tau apa yang membuat istrinya terlihat gelisah.
"Mas."
"Hem?"
"Kalau Arini hamil, lalu melahirkan, mungkin bisa jadi Arini akan gendut, akan semakin jelek, apa Mas tidak akan malu kalau jalan berdua dengan ku?" ternyata itu yang membuat Arini takut, Arya pikir kata-kata dari mamanya tadi pagi yang membuat Arini gelisah ternyata tidak.
"Kenapa harus malu, kamu adalah kebanggaan ku, kamu adalah identitas ku, jadi kamu tidak perlu berpikir seperti itu. Bagaimanapun kamu kedepannya aku akan selalu ada untukmu, akan selalu mencintaimu."
Arya kembali tersenyum, tangannya juga naik dan langsung menyambut jari kelingking Arini dengan jari kelingkingnya juga.
"Mas janji. Mas tidak akan pernah meninggalkan kamu dalam kondisi kamu yang seperti apapun. Sampai kita tua nanti kita akan selalu bersama, membesarkan anak-anak kita hingga cucu-cucu kita. Kalau Allah memberi umur panjang semoga bisa sampai cicit-cicit kita," balas Arya.
"Aku sayang sama Mas. Aku sangat sangat mencintai Mas," di lepaskan tangan Arya dan Arini langsung menubruk untuk memeluk Arya.
Arya sontak membalas pelukan Arini dengan sangat erat, menghujani kecupan di puncak kepala Arini.
Setelah cukup lama saling berpelukan Arya melepaskan Arini, mengapit wajahnya dengan kedua telapak tangan. Di angkat wajah Arini dan dikecupnya sangat lembut bibir tipis milik Arini.
Sejenak Arya menikmatinya, rasa-rasa manis di bibir Arini yang sudah menjadi candu untuknya.
Arini hanya bisa menikmati apa yang Arya lakukan, dia masih sangat malu untuk membalasnya. Lagian Arini juga belum lihai dalam hal itu, dia perlu belajar dari gurunya, yaitu Arya suaminya sendiri.
"Sekarang berkemas lah, kita akan berangkat pagi-pagi besok. Jangan sampai kita ketinggalan pesawat," Arya melepaskan bibirnya dari Arini, menatap lekat wajahnya yang sudah memerah sembari mengatakan itu padanya.
__ADS_1
"Ki\_kita akan naik pesawat?" tanya Arini seketika wajahnya kembali berubah.
Arini takut, dia belum pernah naik pesawat. Apalagi dia membayangkan beberapa kali berita tentang kecelakaan pesawat.
"Arini takut," ucapnya dengan sangat jujur. Terlihat jelas kalau wajahnya benar-benar takut saat ini.
"Tidak perlu takut, ada aku yang akan selalu bersamamu. Kita akan baik-baik saja," dibelai lembut pipi Arini dan berusaha membuat istrinya itu lebih tenang.
"Tapi?"
"Sudahlah, jangan berpikir yang tidak-tidak. Sekarang berkemas dan jangan sampai ada yang ketinggalan. Biar aku bantu," ucap Arya yang terus meyakinkan Arini.
"Baiklah, Arini tidak akan takut lagi," ucapnya meski wajahnya masih tidak seperti itu.
Arya berdiri, menarik tangan Arini untuk berdiri juga. Keduanya mulai melangkah menuju ruang ganti. Arya mengambil koper dan Arini mulai membuka lemari untuk mengeluarkan apapun yg akan dia bawa.
Wajah Arini kembali memerah saat tangannya meraih celana dal\*m milik Arya. Memegangi itu membuat Arini kembali mengingat kejadian tadi di kantor. Bahkan mereka berdua tidak hanya melakukan satu kali tapi sampai tiga kali.
"Kenapa?" tanya Arya mengejutkan.
Arini cepat menyembunyikan barang itu di balik hijabnya. Tapi meski Arini menyembunyikannya Arya tetap tersenyum karena dia sudah mengetahuinya.
"Ti\_tidak apa-apa," jawab Arini yang begitu gugup
"Nih kopernya," Arya menaruh di sebuah bangku dan juga langsung membukanya.
"Iya," jawab Arini.
Arya juga ikut mengambil barang-barang yang akan dia bawa, Arya tersenyum saat tangannya meraih baju yang Arini anggap kurang bahan hadiah dari eyang Wati.
Arya sangat ingin melihat Arini memakainya saat di Bali besok jadi Arya putuskan untuk membawanya tanpa sepengetahuan Arini.
Bersambung....
__ADS_1