
Happy Reading...
Terduduk dalam kesedihan yang dalam untuk Arya kali ini. Duduk sendiri di sofa ruang kerjanya dengan keadaan yang sangat menyedihkan.
"Arini, kenapa kamu pergi. Katanya kamu percaya kepadaku. Katanya kamu akan selalu ada untukku dan menemaniku, tetapi apa ini sekarang? Bahkan kamu pergi tanpa izin dariku."
Keadaan Arya sudah sangat tidak jelas, rambutnya acak-acakan, wajahnya terlihat sangat menyedihkan begitu juga dengan pakaiannya yang sudah sangat lusuh seperti baju yang tak pernah di lipat namun terus di tumpuk dengan yang lainnya, kusut.
Dengan tangan memegangi kalung Arini dia terus mengatakan apa yang dia ingin, kalung yang kini menggantung di depan matanya karena tangan Arya yang melakukan.
"Kenapa kamu datang jika kamu harus pergi. Kenapa kamu sama saja seperti dia yang membuatku bahagia dan percaya dengan cinta dan setelah itu kamu menghancurkan dengan pergi meninggalkanku sendiri."
"Apakah memang tidak pernah ada ruang sedikit saja di hatimu untuk ku yang banyak dosa ini? Sebegitu kah kamu membenciku, Arini? Sampai-sampai kamu tak sudi lagi melihat ku bahkan untuk hidup bersamaku?"
Bukan hanya di suguhi dengan kalung dan barang-barang pemberian Arini tetapi juga ada beberapa botol minuman keras yang kembali dia nikmati untuk menghilangkan rasa sakitnya.
Peringatan Arini ternyata tidak di indahkan oleh Arya, dia kembali menikmati minuman yang tidak baik.
Entah sudah berapa botol yang habis di minum olehnya dan setelah habis dengan sengaja Arya melemparkannya ke dinding hingga botol itu pecah dan kini berserakan di lantai.
Meskipun sudah beberapa botol yang dia minum tetapi Arya tetap saja sadar dia sama sekali tidak mabuk.
Kepergian Arini membuat Arya kembali lagi dengan kebiasaannya, dia kembali kehilangan kewarasannya.
"Arghhh..., kamu sungguh kejam Arini! Kamu kejam padaku!" Arya begitu marah hingga dia langsung melemparkan kalung milik Arini ke arah pintu dan secara bersamaan Dimas masuk hingga kalung itu langsung jatuh di depan kakinya.
Dimas terdiam melihat ruangan Arya yang sangat berantakan itu, tak seperti biasanya yang indah dan rapi dengan di hiasi beberapa bunga yang Arini berikan kini ruangan itu tak terlihat baik-baik saja, mungkin keadaan ruangan itu mengisyaratkan bagaimana keadaan hati Arya sekarang setelah di tinggal oleh Arini.
Dimas membungkuk setelah melihat kalung yang Arya lemparkan, mengambil pelan dan Dimas di buat tercengang dengan kalung itu. Dimas sangat mengenali kalung itu.
"Tuan Arya!" Teriak Dimas setelah sesaat dia terdiam mengamati kalung milik Arini.
Arya diam tak menjawab, dia terus menunduk dengan kehancurannya yang sesekali juga masih mengeluarkan air mata. Bukan itu saja tetapi Arya juga sesekali mengangkat wajahnya untuk meneguk minuman yang ada di tangannya.
__ADS_1
Dimas terus melangkah, di juga melihat amplop tebal yang tadi dia berikan kepada Arini, "amplop itu?" Dimas terperangah, matanya membulat sempurna ketika melihatnya dan kini beralih kearah Arya.
"Tuan, dari mana Tuan mendapatkan kalung ini?" Dimas mengangkat tangannya dan menggantung kalung itu di depan wajah Arya.
Arya masih diam, dia tak ada niat untuk menjawab.
Dimas begitu tak sabar menunggu, dia kembali bertanya kepada Arya dan kali ini suaranya semakin tinggi.
"Tuan! Darimana kalung ini!" suara Dimas benar-benar tinggi tetapi Arya masih tetap diam membisu.
"Tuan! Katakan darimana kalung ini!" Dimas semakin geram karena Arya terus diam. Dimas membutuhkan jawaban mengenai pemilik kalung itu yang kemungkinan besar itu adalah adiknya.
Dimas mencengkram baju Arya karena laki-laki itu tetap saja bergeming tak mengatakan apapun.
"Tuan, katakan!" Dimas benar-benar sudah di puncak emosinya dia tak bisa mengendalikan amarahnya lagi yang sudah begitu besar di dalam hatinya.
"Memang apa urusan mu! Mau aku dapat darimanapun itu tidak ada artinya kan untuk kamu!" Jawab Arya juga dengan nada yang sama tingginya. Bahkan Arya juga langsung menyingkirkan tangan Dimas dari bajunya, "lepas!"
"Oh, Jangan-jangan dia mendapat uang itu juga dari kamu, iya! Sudah kamu apakan dia sampai kamu membayarnya dengan harga yang begitu tinggi. Apa kamu sudah menyentuhnya! Apa kamu sudah menjamah semua tubuhnya!"
"Aku yang salah karena memaafkannya, seharusnya aku yang lebih dulu untuk menyentuhnya bukan kamu atau siapapun. Dia tidak pantas menjadi milikmu! Dia milikku!" Arya begitu marah, dia berpikir kalau Arini juga Dimas telah berbuat yang tidak-tidak.
"Ya! Aku memang tidak akan pernah pantas untuknya, dan kamu pun juga tidak pantas untuknya! Apa kamu pikir dia akan pantas bersanding dengan laki-laki pemabuk sepertimu? Tidak!" Dimas begitu berani menjawab.
"Sekarang katakan, darimana kamu mendapatkan kalung ini, katakan!"
"Kamu bodoh atau hanya pura-pura bodoh! Atau setelah kamu berhasil mengakhiri keperjakaan mu sekarang kamu menjadi bodoh seperti ini!"
Bugh...
Tak tahan lagi dengan semua kata yang Arya keluarkan Dimas langsung memukulnya. Sebenarnya siapa yang bodoh, Arya ataukah Dimas?
__ADS_1
"Ya, aku memang bodoh tetapi aku tidak bejat seperti mu! Kamu yang membuatnya pergi sekarang dan setelah dia pergi kamu memfitnahnya melakukan yang tidak mungkin dia lakukan."
"Dan perlu kamu ketahui, Tuan Arya yang terhormat. Saya tidak mungkin menyentuh gadis yang kemungkinan besar adalah adikku sendiri! Apa Tuan Arya tau? Kalung ini adalah kalung dari Papa yang dia desain khusus untuk Mama, dan akhirnya dia membuangnya bersama adek!"
"Dan ya, masalah uang itu! Arini meminjam padaku karena dia bilang memiliki hutang. Dan ternyata, hutangnya adalah dengan anda. Tidak aku sangka kalau ternyata Anda juga suka memanfaatkan orang yang tidak berdaya." Dimas hanya tersenyum sinis ke arah Arya yang masih memegangi perutnya dan sedikit meringis.
Arya terdiam mencerna apa yang Dimas katakan, sepertinya dia lagi-lagi salah menilai orang lain. Dia hanya selalu saja mengatakan apapun yang keluar dari otaknya yang tidak bisa bekerja dengan baik apalagi di saat-saat seperti sekarang ini.
"Adik?" gumam Arya. Dia terus termangu hingga akhirnya dia tersentak saat mengingat akan hasil tes DNA yang tadi Toni berikan dan belum sempat dia membukanya.
Cepat Arya menyambar amplop putih dari rumah sakit itu. Tak sabar karena susah di buka Arya merobek amplopnya dan mengeluarkan isinya.
Sementara Dimas hanya diam dalam amarahnya mengamati Arya yang menggerakkan tangannya untuk membuka amplop putih yang tidak Dimas tau itu apa isinya.
Mata Arya mengamati dari baris pertama hingga akhir. Dia perlahan-lahan membacanya dan akhirnya dia tau.
Kertas berhasil terlepas dari tangan Arya setelah dia berhasil mengetahui isinya. Dan hasilnya adalah positif. DNA Arini juga Nilam sangat cocok bahkan sampai 99,9 persen.
Termangu sejenak sebelum akhirnya Arya berdiri lagi, menyambar kunci mobilnya dan dia langsung berlari.
"Dia tidak boleh pergi, aku harus membawanya pulang." gumamnya.
Arya berlari keluar meninggalkan Dimas yang terlihat bingung dengan apa yang terjadi pada Arya.
Dimas mengambil kertas yang tadi di baca oleh Arya hingga akhirnya Dimas tau kalau Arini benar-benar adiknya yang selama ini hilang karena di buang oleh Hendra.
"Adek?" Dimas tersenyum namun dia juga menangis. Dia senang akhirnya dia bisa melihat adiknya masih hidup dan tumbuh menjadi gadis yang sangat luar biasa tetapi Dimas juga sedih karena dia harus kembali kehilangan Adeknya yang selalu dia rindukan.
"Aku harus menemukanmu, Dek. Kamu harus pulang dengan kakak," Dimas berlari dia juga bergegas untuk mencari Arini.
"Tuan, apakah mau mencari Arini? Kalau begitu saya ikut!" Meski tak mendapatkan jawaban Raisa tetap berlari mengejar Dimas. Dia yang sedari tadi hanya menjadi pendengar setia kini dia juga harus bergerak juga untuk mencari Arini.
__ADS_1
Bersambung...