
...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...
...______________...
Arini melangkah perlahan-lahan pergi meninggalkan rumah Marta dengan di temani air matanya dan juga barang-barang nya yang ada di pelukan.
"Hiks hiks hiks.. "
Arini terus sesenggukan tiada henti, dia begitu sedih dan juga bingung mau pergi kemana. Di lain halnya dia yang tak mengenal siapapun dia juga sama sekali tak mempunyai sepersen pun uang untuk bekalnya.
Arini terus melangkah melewati kebun teh sang ayah, dia kembali menangis di sana saat melihat hamparan kebun teh yang begitu indah. bukan karena dia menginginkan untuk memiliki kebun itu melainkan dia sangat sedih karena harus pergi dari tempat dia di besarkan dan selalu bermain di kebun itu.
"Neng Arini,,!! " Teriak seorang, dan Arini menoleh dengan gerakan cepat. Dia berharap ibu atau kakak nya yang memanggilnya dan mencegahnya untuk tidak pergi.
Arini sedikit kecewa saat melihat siapa yang berlari mendekatinya dengan nafas yang ngos-ngosan. " Bi Siti, Bi Siti kenapa?. " Tanya Arini saat Siti berhenti di hadapan nya.
"Bi Siti dengar, Neng... "
"Apa Bi Siti juga percaya seperti orang-orang yang lainnya? Arini benar-benar tidak melakukan itu kok,Bi. Mereka telah fitnah Arini, Bi." Tanya Arini seketika dia kembali murung dan semakin terisak.
"Bukan begitu, Neng. Bibi tidak percaya dengan yang mereka katakan, bibi sangat yakin Neng tidak mungkin melakukan itu. Terus sekarang Neng mau pergi kemana?." Tanya Siti dan Arini menggeleng tidak tau.
"Bagaimana kalau Neng tinggal di kontrakan bibi?. " Tawar Siti.
Bisa saja Arini menerima permintaan dari Siti, tapi bagaimana dengan kedepannya pasti semua warga juga akan membenci Siti karena telah menolong nya.
"Tidak, Bi. Biarkan Arini pergi Arini tidak mau Bi Siti juga mendapatkan masalah nantinya. " Jawab Arini seraya menolak.
"Tapi, Neng?."
"Tidak apa-apa Bi. Arini bisa jaga diri, Arini kan sudah besar sekarang, Arini pasti akan baik-baik saja. " Jawab Arini dengan senyum kecil untuk Siti.
Siti mendekat ke pada Arini mengambil tangan Arini dan menaruh amplop putih di telapak tangannya. "Bibi minta terima ini. Neng pasti akan membutuhkan nya. Di terima ya. " Pinta Siti.
Arini menggeleng dan mengembalikan nya pada Siti lagi. Arini tidak ingin berhutang budi pada Siti, Arini takut dia tidak bisa bertemu dengan Siti lagi dan mengembalikan uang nya.
__ADS_1
"Tidak Bi. Arini ada kok. " Tak akan mungkin Arini bilang dia tidak punya uang, itu pasti akan membuat Siti semakin khawatir nantinya.
"Sudah terima saja. " Kekeuh Siti.
"Tapi Bi, " Ragu Arini. Siti mengangguk dengan cepat, " Terima kasih Bi. " Sontak Arini memeluk Siti. Arini bahagia masih ada orang yang percaya dan perhatian padanya.
"Makasih Bi " Ucapnya penuh syukur.
"𝘈𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘱𝘦𝘳𝘨𝘪 𝘬𝘦 𝘬𝘰𝘵𝘢. 𝘏𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘦𝘯𝘦𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘬𝘦𝘬 𝘭𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘶𝘯𝘺𝘢, 𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘮𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪. " Batin Arini
Arini terus diam di dalam bis, dia terus menatap luar dengan segala pikiran akan semua yang terjadi padanya.
"𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘮𝘣𝘢 𝘥𝘪 𝘭𝘶𝘢𝘳 𝘣𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘮𝘢𝘮𝘱𝘶𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢. 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘳𝘶𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘫𝘪 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘳𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘣𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘪𝘬𝘩𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘮𝘱𝘢𝘪 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘬𝘶𝘢𝘵 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘭 𝘪𝘵𝘶. 𝘋𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘢𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘢𝘬𝘢 𝘯𝘢𝘪𝘬𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘳𝘢𝘫𝘢𝘵 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘪 𝘴𝘪𝘴𝘪 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 "
Kata-kata dari ustadzah di saat pengajian bulanan selalu saja Arini ingat. Semua itu memang benar, Allah tidak akan mungkin menurunkan masalah kalau kita tak kuat menanggung bebannya.
Air mata Arini kembali mengalir, terkadang dia begitu sangat kuat, tapi dia juga begitu rapuh akan kesendirian nya.
"Aku pasti kuat, Allah menurunkan masalah ini karena Allah begitu sayang padaku. Aku tidak sendiri Allah selalu bersamaku Allah selalu di hatiku dan hanya Allah. " Gumam Arini seraya mengusap air mata yang membasahi pipinya dengan cepat.
Jarak dari kampung Arini dan juga kota tidak lah jauh hanya butuh satu jam saja dia sampai di tempat tujuan. Dan tak harus mengganti kendaraan lagi untuk sampai ke tempat Neneknya.
Tok tok tok...
"Assalamu'alaikum. " Seru Arini mengucap salam.
Tak butuh waktu lama Arini menunggu, dalam beberapa detik wanita lanjut usia keluar dari rumah itu seraya menjawab salam dari Arini, dia adalah Murni." Wa'alaikumsalam. " Jawab nya.
"Arini... kamu..!? " Pekiknya lalu matanya melihat belakang Arini, mungkin Arini tidak datang sendiri. " Kamu sendiri?. " Tanyanya setelah berhasil memastikan tak ada siapapun di belakang Arini
"Iya, Nek. " jawab Arini lirih.
"Ayo masuk. " Ajak Murni, mendahului Arini dan langsung duduk di sofa kecil yang sudah sangat usang. " Duduk sini. " Pinta Murni dengan menepuk sofa di sebelahnya.
Arini pun mengikuti permintaan Murni, dan duduk di sebelah Arini.
__ADS_1
Raut wajah sedih Arini terlihat dengan jelas di mata Murni, membuat Murni khawatir dan juga sangat penasaran. " Ada apa Arini. Sekarang cerita sama nenek. "
"Arini..." Arini kembali terisak. " Arini di usir dari rumah, Nek. "
"Astaghfirullah..!! "
Murni begitu terkejut mendengar itu, bagaimana bisa? dulu waktu dia dan suaminya di usir juga, mereka ingin membawa Arini namun mereka menolak nya mentah-mentah, alasannya mereka akan merawat Arini dan menyayanginya, tapi nyatanya sekarang?.
"Kamu yang sabar ya, Arini. Masih ada nenek dan kakek yang akan selalu bersamamu, mulai sekarang kamu tinggal saja di sini bersama kami. " Ucap Murni.
Murni tidak akan mengulik semua masalah yang menyebabkan Arini di usir dari rumah, seandainya Arini benar-benar menginginkan nya dia pasti akan bercerita sendiri padanya.
"Terima kasih, Nek. " Arini pun langsung berhamburan ke pelukan Murni dengan sangat lega.
"Iya. "
__________
Melisa dan juga Fara tengah berbahagia sekarang, mereka berdua terus lompat-lompat di atas kasur dengan kedua tangan bergandengan. Keduanya terus bersorak dan tertawa bahagia karena mereka telah berhasil membuat Arini keluar dari rumah itu, bahkan Arini pergi jauh dari desa mereka.
"Hahaha.... Akhirnya kita berhasil kak! kita berhasil menyingkirkan Arini si buruk rupa itu, hahaha..!! " Teriak Fara dengan sangat girang.
Begitu juga dengan Melisa, dia yang lebih bahagia sekarang, bukan hanya bisa menyingkirkan Arini saja namun harta Marta ada di depan mata nya. Fara yang tak pintar-pintar amat bisalah dia bodohi kedepannya.
"Iya, Dek. Kita berhasil. " Jawab Melisa.
Keduanya kembali berlonjakan di atas kasur dan berakhir keduanya menjatuhkan tubuhnya secara bersamaan menjadi berbaring.
"Mana mungkin kita akan gagal menyingkirkan Arini yang bodoh itu, hanya sedikit saja api maka semuanya akan terbakar dan akan menghanguskan Arini. Hahaha...!! " Tawa Melisa semakin keras.
"Kakak benar! hanya sedikit saja api maka,, Boommm.... semuanya akan terbakar. " Jawab Fara.
Keduanya terus berbincang-bincang, merutuki kebodohan Arini yang sekarang tak tinggal lagi di rumah itu. Sudah sejak lama mereka merasa terganggu dengan keberadaan Arini dan sekarang mereka patut berbahagia dengan kepergian Arini.
____________
__ADS_1
BERSAMBUNG..
___________