Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
37.Ke Rumah Sakit


__ADS_3

..._________...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Arini hanya tersenyum melihat kepanikan Arya," apakah Pak Tuan berpikir kalau Arini berbohong? dunia boleh meragukan kesucian seorang Arini, tapi Allah? Allah yang tau segalanya tentang hidup A-ri-ni.. "


"Arini! bangun Arini, bangun! "


Arya terlihat sangat panik saat dia melihat Arini tak sadarkan diri, dengan cepat Arya menyobek bajunya sendiri di bagian lengan setelah berhasil dia gunakan untuk mengikat tangan Arini supaya bisa menghentikan darahnya yang terus keluar.


Arya juga sangat takut, tak dia kira kalau Arini benar-benar akan senekat ini demi mempertahankan kehormatannya. Mungkin Arya salah dan kini pikirannya terus berperang dengan hatinya.


"Bangun, Arini! bangun!" Arya mengangkat kepala Arini mendekapnya dengan sangat erat. Berkali-kali Arya juga menepuk pipinya Arini siapa tau dengan cara itu dia bisa terbangun.


"Arini, bangun! maafkan aku, mungkin benar aku salah menilai mu, maafkan aku. Arini maafkan aku!" Kelihatannya Arya sangat menyadari kesalahannya dan kini menyesal karena telah melakukan itu kepada Arini.


"Arini, bangun. Kalau tidak bangun aku akan benar-benar melakukannya padamu. Arini kamu harus bangun, banguunn! " Arya semakin tak karuan.


Apapun yang Arya lakukan saat ini tetap saja tak membuat Arini bangun, dia tetap menutup mata.


Arya kembali menyambar hijab pasmina Arini yang ada di sebelahnya memakaikannya dengan asal kepada Arini dengan tangan yang sudah gemeteran, "aku sudah pakaikan lagi Arini, sekarang kamu harus bangun, bangun! " tetap saja Arini tak bangun.


"Kamu akan baik-baik saja, Arini. Kamu akan baik-baik saja," ketakutan Arya membuat hatinya sangat lemah bahkan dia tak sadar kalau saat ini dia sudah meneteskan air mata untuk Arini.


Arya mengangkat tubuh Arini, membopong nya dan segera bergegas pergi untuk ke rumah sakit. Arya begitu ketakutan kalau sampai terjadi hal buruk pada Arini.


Arya terus berlari, "Toni! Toni! " teriaknya.


Tak sampai sepuluh detik Toni datang menghampiri, pria itu terlihat sangat terkejut saat melihat Arya yang membopong Arini yang tak sadarkan diri, apalagi tangan Arini yang berdarah juga darah yang ada pada pakaian Arya.


"Arini kenapa, Tuan." tanya Toni.


"Jangan banyak bertanya, cepat bantu aku buka lift dan cepat antar aku ke rumah sakit , cepat!! " teriak Arya tak sabaran.


"Baik, Tuan," Dengan cepat Toni menjalankan perintah Arya, memencet tombol lift dan seketika lift itu langsung terbuka, Toni pun juga masuk ke sana.


"𝘚𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪? 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘢𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘯𝘺𝘢, kan?" batin Toni.


"Kenapa lama sekali. Toni kamu harus lapor pada mekanik untuk memperbaiki lift ini, bagaimana bisa jalannya lambat sekali seperti ini," ucap Arya.


Sebenarnya liftnya berjalan seperti biasa hanya saja Arya yang tak sabaran jadi terasa sangat lama.


"Heh... " Toni tersentak karena itu, apa yang harus di perbaiki kalau semuanya baik-baik saja.

__ADS_1


"Apa kamu tidak mendengar ku! besok lift ini harus di percepat jalannya!" Arya semakin kesal melihat Toni yang tak mengerti akan keinginannya.


"Ba-baik, Tuan," jawab Toni. Hanya kata iya lah yang bisa membuat Arya diam meskipun Toni tak akan bisa melakukan itu, tapi dia akan coba berdiskusi pada mekanik besok.


𝘛𝘪𝘯𝘨...


Pintu lift terbuka setelah purnama berlalu, ah itu menurut Arya sih, "dasar lift tua! awas saja kalau besok masih berjalan lambat seperti ini! " omel nya pada ruang bergerak itu.


𝘋𝘶𝘨...


Saking kesalnya lift pun menjadi amukan dari Arya dan mendapatkan tendangan darinya dengan keras, "dasar tak berguna! " sungutnya.


Toni hanya bisa diam dia tak mau menjawab atau berkomentar kalau tidak dia yang akan kena damprat oleh tuan yang sedang frustasi itu.


"Cepat siapkan mobil, Ton! " titahnya dan asisten yang super duper penurut itu langsung berlari mendahului Arya yang menggendong Arini.


Semua mata tertuju pada Arya, mereka sangat terkejut dengan apa yang mereka lihat, tebakan demi tebakan terus terdengar lirih di telinga Arya tapi dia lagi tak mau mengurusi semua itu.


Bahkan kejadian ini juga tak lepas dari mata Melisa, matanya membulat dan bibirnya menganga, "Arini, apa yang terjadi padanya, kenapa dia pingsan? dan, kenapa tangannya juga terluka apa jangan-jangan dia berniat untuk bunuh diri? hem..., semoga saja dia tidak selamat, semoga Tuhan lebih sayang padanya dan mengambilnya lebih cepat," gumam Melisa yang begitu berharap Arini akan tiada saat itu juga.


Arya tak memperdulikan siapapun lagi di sana yang terpenting dia harus bisa membawa Arini ke rumah sakit dan segera menyelamatkannya. Dia mungkin penggila minuman keras, dia juga penjahat s*x tapi dia tidak mau di cap sebagai pembunuh.


Mobil yang di kendarai oleh Toni sudah terparkir manis di depan perusahaan dengan cepat Toni keluar lagi dan bergegas untuk membukakan pintu untuk Arya.


Arya diam dia tak menjawab apapun pada Toni dia langsung masuk ke dalam mobil dengan dia sendiri yang memangku Arini.


"Cepat, Ton! " kini dia berteriak setelah sampai di dalam mobil.


"Baik, Tuan," Toni berlari mengitari mobil menuju tempat pengemudi dan segera mengemudikan mobil itu menuju rumah sakit.


Bukan hanya di dalam saja semua orang melihat kejadian ini tapi di luar pun juga sama, semua saling menerka-nerka apa yang terjadi sesuai dengan pikiran mereka.


"Cepat, Ton! " teriak Arya tak sabaran.


"Arini, kamu harus bertahan. Kamu harus baik-baik saja. Oke, aku mengaku salah aku minta maaf! tapi kamu harus bangun, Arini kamu harus bangun! " ucap Arya yang terus berusaha untuk membangunkan Arini yang kini ada di pangkuannya.


Mobil melaju dengan cepat seperti apa yang di perintahkan oleh Arya. Namun saat di pertigaan jalan ada tukang bakso keliling yang sedang lewat membuat Toni harus menginjak pedal rem dengan mendadak.


𝘚𝘪𝘵𝘵𝘵....


𝘋𝘶𝘨...


Arya terhuyung dan hampir jatuh bahkan keningnya sudah terkena kursi depan namun tangannya tetap erat memenangi Arini dan tak membiarkan dia terjatuh dari pangkuannya.

__ADS_1


"Toni! apa kamu tidak bisa menyetir dengan benar! apa kamu mau membuat kita semua mati! " teriak Arya memarahi Toni.


"Ma-maaf Tuan. Saya tidak berniat melakukan itu, tapi ada pedagang yang sedang menyebrang," jawab Toni yang sudah sangat ketakutan.


"Alesan! "


"Woyy...! kalau bawa mobil hati-hati dong!" teriak orang yang hampir saja tertabrak.


Toni membuka kaca menyembulkan kepalanya untuk minta maaf pada orang itu, "maaf Pak, saya tidak sengaja. Saya sedang buru-buru harus ke rumah sakit, Pak! " jawab Toni.


"Saya maafin, tapi lain kali hati-hati! jangan mentang-mentang punya mobil bisa seenaknya sendiri, ini bukan jalan nenek moyang anda!"


"Iya, Pak." jawab Toni. Rasanya ingin sekali berteriak nih Toni, dia harus di hadapkan dengan situasi yang sama sekali tak menguntungkannya.


"Cepat, Ton! kalau sampai terjadi apa-apa pada Arini kamu yang harus bertanggung jawab," ucapnya.


"𝘒𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘢𝘬𝘶? " batin Toni tak habis pikir, yang melakukan kesalahan siapa yang harus bertanggung jawab siapa, sungguh Bos satu ini bikin botak lama-lama.


"Ngerti tidak! " bentak Arya.


"Nger-ngerti, Tuan," pasrah adalah jalan satu-satunya jalan untuk Toni supaya Arya tak lagi ngoceh, bisa-bisa dia tak bisa fokus nyetir lagi nantinya.


"Arini kamu harus kuat, kamu harus bertahan," ucapnya semakin gelisah karena sedikitpun tak ada reaksi dari Arini.


"𝘉𝘢𝘳𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘳𝘺𝘢 𝘎𝘢𝘶𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘵𝘢𝘬𝘶𝘵 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘢𝘬𝘶𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯. 𝘉𝘪𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘥𝘪𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘤𝘶𝘩 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘥𝘶𝘭𝘪, 𝘢𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘨𝘢𝘥𝘪𝘴 𝘱𝘰𝘭𝘰𝘴 𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘴𝘪𝘭 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘯𝘵𝘶𝘩 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘯𝘺𝘢? " Batin Toni.


"Cepat, Ton! "


"I-iya, Tuan! "


"Hey...! Kenapa kau berteriak kepadaku! apakah kamu sudah bosan dengan pekerjaanmu! "


"𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢, 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶," batin Toni meratapi nasib, "iya Tuan, maaf."


"Dasar kau ini, berani-beraninya berteriak di hadapanku," Arya terus saja ngoceh menyalahkan Toni di setiap kesalahan kecilnya.


"Arini, bangun Arini, bangun," dan kembali lagi memandangi wajah Arini yang semakin pucat.


/////


Bersambung...


________

__ADS_1


__ADS_2