
Happy Reading...
Melisa terus diam, dia terus saja memasang wajah sedihnya saat diperjalanan pulang. Kali ini Melisa tidak pulang dengan Bis seperti yang lain tetapi dia ikut satu mobil dengan Luna juga Wiguna.
Melisa terus menunduk, masih terus berpura-pura kalau dia sangat sedih dengan apa yang terjadi kepadanya. Dengan cara yang seperti itu dia sangat yakin orang tua Arya pasti akan sangat simpati dan akan percaya kepadanya.
"Kamu jangan sedih, Tante akan terus berusaha supaya Arya mau bertanggung jawab. Memang Tante belum mengenalmu begitu jauh, tetapi apa yang dilakukan oleh Arya tidaklah benar dia harus bertanggung jawab kepadamu. Dia tidak boleh lepas tangan begitu saja setelah merenggut kehormatan mu," Luna mengelus punggung Melisa.
Luna benar-benar tertipu mentah-mentah dengan tampang Melisa. Luna adalah orang yang terpelajar, tetapi ternyata dia sangat bodoh karena sangat mudah tertipu oleh orang-orang yang berniat buruk dengan keluarganya.
Kemarin Nadia dan sekarang Melisa entah siap lagi yang akan menjadi penipu selanjutnya untuk Luna yang ternyata sangat naif itu.
"Melisa takut, Tan. Bagaimana kalau Tuan Arya tidak mau bertanggung jawab, bagaimana kalau benih yang dia tinggalkan akan tumbuh berkembang dan akan lahir tanpa pengakuan dari ayahnya. Melisa takut, bagaimana kata orang nantinya."
Melisa menangis, tangisan tipu-tipu hanya untuk meyakinkan Luna kalau Arya memang melakukannya dan dia memang bersalah.
Tak masalah jika Arya kemarin tidak mau menerimanya tetapi dia yakin dengan cara ini Arya pasti akan menerimanya dan akan menikahinya.
"Sudah, jangan menangis. Tante akan bantu kamu supaya kamu mendapatkan keadilan."
"Tetapi Melisa tidak yakin Tuan Arya akan menerimanya, Tan. Melisa kenal bagaimana Tuan Arya, dia juga lebih memilih gadis buruk rupa itu. Gadis yang terus-menerus menggoda Tuan Arya. Entah apa yang dia berikan."
"Tante, apa mungkin Tuan Arya kena guna-guna? Tidak mungkin kan Tuan Arya yang sempurna juga memiliki segalanya bisa menyukai gadis seperti dia kalau tidak kena guna-guna. Lagian kalau di lihat-lihat tidak mungkin juga Tuan Arya tertarik dengan tubuhnya yang tidak ada apa-apanya itu."
Begitu nyinyir Melisa membicarakan Arini di depan Luna. Menjadi sumbu untuk memanas-manasi minyak dalam kompor supaya bisa meledak. Dan setelah benar-benar meledak itu pasti akan sangat menghanguskan.
Apa yang dikatakan Melisa memang benar untuk Luna, tak mungkin juga kan kalau Arya menyukai gadis buruk rupa dengan murni pastilah ada hal lain yang membuatnya mengikat Arya.
__ADS_1
Luna diam berpikir, jika benar maka semua harus di hentikan sebelum semuanya terjadi. Arya harus benar-benar bisa menjauhi Arini bagaimanapun caranya.
"Gadis seperti dia pasti hanya mengincar harta Tuan Arya saja kan?" Imbuh Melisa.
Luna hanya mengangguk, betapa bodohnya dia hingga benar-benar percaya dengan omongan Melisa yang hanya dia buat-buat.
Mata Luna memang tak bisa membedakan antara kebenaran juga kebohongan, hingga dia dapat dengan mudah menerima kata-kata untuk menjelekkan orang-orang yang sebenarnya baik juga tulus.
Dengan Luna yang begitu lemah seperti akan sangat mudah dibodohi oleh Melisa dan dia sangat yakin dengan waktu yang cepat dia akan bisa mendapatkan apa yang dia inginkan melalui Luna.
"Kamu benar, tidak mungkin Arya menyukai gadis seperti dia kalau tidak dengan cara yang kotor," jawab Luna dengan mata tak memandang Melisa yang kini menyungging.
"Arya harus menjauhi gadis seperti itu, kalau tidak dia pasti akan jatuh miskin karena hartanya di plorotin oleh dia," Imbuh Luna.
Benarkah dia baik, atau hanya pura-pura baik? Benarkah dia sedih dan teraniaya atau hanya sekedar untuk mencari perhatian untuk bisa mendapatkan apa yang menjadi tujuannya.
Perjalanan panjang akhirnya membuat mereka sampai di kediaman Marta. Sebelum pulang, Luna bersikeras untuk mengantarkan Melisa lebih dahulu sampai rumah juga memastikan kalau dia sampai dengan selamat.
Kepulangan Melisa sudah di sambut oleh Ratna, dia sudah berdiri tegak di emperan rumah setelah tadi sempat mendapatkan chat dari Melisa.
Bukan hanya Ratna saja yang menyambut tetapi juga ada Marta yang juga ada di sana.
"Mas, Melisa kita sudah pulang," Ratna begitu antusias, bahkan dia langsung berlari setelah melihat mobil hitam yang terparkir di depan rumahnya.
"Iya," Jawaban Marta sangat singkat. Kakinya juga ikutan melangkah membuntuti istrinya untuk menyambut Melisa.
__ADS_1
Betapa senangnya Ratna saat mobil yang begitu mewah itu terparkir di depan rumahnya apalagi dia dengar itu adalah orang tua dari Bosnya Melisa.
"Bu..." Melisa masih tetap tertunduk setelah dia keluar dari mobil dan dengan cepat Ratna juga menyambutnya dengan memberikan pelukan hangat kepadanya.
"Mel, kamu kenapa? Apa ada masalah?" wajah yang Melisa perlihatkan sangat jelas di lihat oleh Marta. Bagaimana mungkin Marta tidak mengenal anaknya yang tengah bersedih.
Melisa diam, sementara Ratna langsung melihat wajahnya setelah dia melepaskan pelukannya.
"Bu..., Melisa... Melisa... Hiks hiks hiks..." tidak mengatakan apapun tetapi Melisa malah menangis membuat Marta juga Ratna bingung.
"Sebenarnya ada apa ini?" Marta langsung panik karena melihat Melisa yang menangis sedih.
"Tuan, sebenarnya apa yang terjadi kepada anak saya? Dia tidak mendapatkan masalah kan?" Marta menyelidiki. Bertanya setelah Wiguna juga Luna ikut turun dan kini berdiri tepat di belakang Melisa.
Luna maupun Wiguna saling lempar pandang, mereka bingung untuk memulai darimana untuk menjelaskan semua yang telah terjadi.
Jika kedua orang tua Melisa mengetahui pasti mereka akan sangat marah dan yang jelas pasti akan meminta pertanggung jawaban dari Arya yang kini entah berantah dia dimana.
"Tuan, Nyonya, sebenarnya apa yang telah terjadi," Marta semakin mendesak dia sudah tidak sabar untuk mengetahui kejadian apa yang telah menimpa Melisa hingga membuatnya sedih seperti saat ini.
"Bisa kita masuk dulu, Tuan? Kita bicarakan di dalam," Wiguna menjawab.
"Mari, silahkan masuk," Marta pun setuju dan akhirnya dia mengajak Wiguna ataupun Luna masuk ke dalam rumahnya.
Tak peduli waktu sudah sangat larut malam tetapi masalah itu harus segera di selesaikan. Jika orang tua Melisa tidak terima berarti Arya memang harus bertanggung jawab.
__ADS_1
Bersambung...