Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
178. Selamat Pagi Calon Istri


__ADS_3

Happy Reading...


Kebahagiaan terus terpancar jelas dari Melisa yang kini tengah sarapan bersama keluarga bersama Fara juga yang ada di sana.



Marta, Ratna, Melisa juga Fara semuanya terus menikmati makanan yang sudah di hidangkan dengan sangat epik di meja makan.



"Melisa, bagaimana dengan keluarga Bos mu itu, apakah mereka sudah ada niatan untuk bertanggung jawab?" Marta memulai pembicaraan, memecah keheningan yang sebelumnya hanya terdengar suara gesekan antara piring dan sendok saja.



"Belum, Yah. Tetapi Melisa akan terus. Mendesak mereka, mereka tidak boleh lepas tangan begitu saja setelah menghancurkan Melisa," jawabnya.



Marta mengangguk, dia juga sangat setuju biar bagaimanapun keluarga bos nya Melisa harus tetap bertanggung jawab, mereka tidak boleh mengabaikan kesalahan yang sudah di lakukan oleh Arya.



Sementara Ratna dia tersenyum, menghentikan pergerakan tangannya di atas piring yang memegangi sendok.



"Mas tenang saja. Ratna pastikan mereka akan bertanggung jawab. Kalau mereka lepas tangan kita tinggal lapor saja sama polisi. Atau kita permalukan mereka hingga mereka tidak berani keluar untuk memperlihatkan wajah mereka. Mereka tidak bisa seenaknya sendiri meski dia orang kaya dan terhormat," jawab Ratna yang begitu banyak.



"Kamu benar, mereka harus secepatnya menikahi Melisa. Jangan sampai tetangga tau kejadian ini kita bisa malu karena itu," Marta kembali melanjutkan sarapannya, dia juga harus cepat karena harus pergi ke kebun juga.



Sementara Fara dia diam, dia tak begitu mengerti dengan masalah yang sedang di bicarakan.



Fara yang diam tiba-tiba dia merasa sangat mual tak mampu menahannya lagi Fara cepat lari untuk ke kamar mandi.



"Mel, kenapa dengan adikmu?" tanya Ratna sangat penasaran, tak seperti biasanya Fara akan mual pagi-pagi seperti sekarang, "dia sakit?"



"Dia bilang katanya asam lambungnya naik, Bu. Coba deh Melisa lihat," Melisa tersenyum kecil dia juga cepat beranjak untuk mengejar Fara. Jangan sampai kedahuluan Ratna kan? Kalau tidak semua rencananya akan hancur berantakan.



"*Jangan sampai Ibu atau Ayah tau lebih dulu, kalau sampai ketahuan bisa hancur rencana ku. Karena akan sangat susah mencari bayi yang umurnya pas dengan kejadian kemarin," batin Melisa*.



Sepasang mata melihat pergerakan Melisa dengan begitu tajam, bersembunyi di balik tembok penyekat antara dapur juga ruang makan itu.

__ADS_1



"Sepertinya ada yang aneh dengan Non Fara. Tidak mungkin kalau hanya masalah asam lambung. Apalagi Non Melisa juga terlihat aneh seperti itu, kayaknya ada hal yang tidak beres yang dia sembunyikan," gumam Bi Ani.



"Apa jangan-jangan..., Non Fara Hamil? Astaga..., bisa jadi dia kan sering melakukan anu-anuan sama laki-laki itu," Imbuhnya.



Bi Ani benar-benar membuntuti Melisa dengan diam, dia sangat penasaran dia juga sangat ingin mengetahui apa yang sebenarnya telah terjadi.



Terlihat Melisa masuk ke kamar mandi, Melisa juga terlihat celingukan lebih dulu sebelum dia masuk itu semakin membuat Bi Ani semakin merasa ada yang tidak beres.



Bi Ani mengendap-endap, dia berdiri di balik pintu kamar mandi untuk mendengarkan apa yang mungkin akan mereka berdua bicarakan.



"Fara, kenapa?" tanya Melisa.



"Nggak tau, Kak. Fara sangat mual. Apa mungkin ini ada pengaruhnya dengan kehamilan Fara ya, Kak? Terus Fara harus bagaimana, kalau setiap pagi seperti ini terus lama-lama Ayah juga Ibu akan curiga," jawab Fara, dia sudah sangat ketakutan, bayang-bayang akan dia yang di usir dari rumah selalu menghantuinya.




"Ide apa yang Non Melisa katakan?" Bi Ani tak dapat mendengar lagi, mungkin Melisa mengatakan dengan berbisik jadi Bi Ani tidak bisa dengar.



"Tapi, Kak?" Fara sepertinya sangat keberatan dengan apa yang menjadi ide dari Melisa.



"Itu adalah jalan satu-satunya, Fara. Kalau kamu tidak mau di usir dari rumah ini kamu harus nurut dengan ku," Melisa terus kekeuh membujuk. Seribu cara pasti akan hadir di kepalanya dan itu semua juga untuk kepentingannya sendiri sih sebenarnya.



"Baiklah, Fara akan mengikuti apa yang kakak katakan," Meski terdengar lesu tetapi Fara tetap saja menyetujuinya.



Bi Ani semakin bingung.



"Saya yakin, apa yang terjadi pada Non Arini dulu juga pasti kesalahan mereka berdua. Jadi sepertinya tidak adil kalau mereka tidak mendapat apa yang dulu hanya menjadi tuduhan untuk Non Arini. Ini akan sangat menarik jika sampai Tuan dan Nyonya mengetahuinya," senyum penuh arti keluar dari Bi Ani, sepertinya dia ingin melakukan sesuatu.


__ADS_1


Bi Ani cepat pergi saat dia mendengar langkah Melisa juga Fara yang ingin keluar dari kamar mandi dia tidak boleh ketahuan kan?



"Selamat pagi calon istriku," Senyum menyeruak begitu manis dari Arya di pagi yang sangat indah saat ini.


Dia sambut Arini yang mulai merenggangkan kedua tangannya dan juga mulai membuka mata.


Seketika Arini terbelalak setelah mendengar suara yang begitu sangat dia kenal, dan dia juga sangat panik saat dia sudah berada di atas ranjang yang begitu luas juga sangat empuk di kamar Arya di apartemen.


"Pak Tuan! Ke-kenapa Arini ada di sini?" Arini mengedarkan matanya, dia masih sangat ingat itu kamar siapa dan di mana.


Arini menjauh saat Arya mendekat dan duduk di sebelahnya. Arini tidak mau sampai Arya melakukan sesuatu padanya apalagi sekarang Arini berada di kandang Arya sendiri dia tidak akan mendapatkan bantuan dari siapapun kalau sampai Arya berbuat yang tidak-tidak.


Arini juga menarik selimut yang ada pada dirinya, menutup seluruh tubuhnya karena tak mau sampai terlihat oleh Arya dan menumbuhkan perasaan Arya yang ingin menyentuhnya.


"Kemarin kamu pingsan, jadi aku bawa pulang ke sini. Bukannya ini juga akan menjadi rumah kamu juga untuk kedepannya," ucap Arya yang begitu percaya diri.


"Pak Tuan jangan sembarangan deh, Arini bukan calon istri Pak Tuan. Calon Istri Pak tuan itu Kak Melisa, diakan sudah mengandung anak Pak Tuan." jawab Arini.


"Jangan mulai lagi deh," imbuh Arini. Dia menatap malas Arya yang terlihat begitu aneh itu.


"Aku belum mulai, Arini. Apa kita bisa mulai sebelum kita halal? Kalau gitu ayo kita mulai," Tak seperti biasa Arini yang tidak nyambung sekarang gantian Arya yang tidak nyambung, bahkan apa yang dia katakan melenceng jauh dengan apa yang Arini katakan.


"Ihh..., Pak Tuan jangan sembarangan ya!" Arini melepaskan selimutnya, dia berganti mengambil guling dan dia eksekusi Arya dengan terus memukulinya.


"Ihhh..., pak Tuan nakal!" serunya, Arini terus memukul Arya tetapi pipinya sudah memerah karena perkataan Arya.


"Hahaha..., stop Arini, stop! Nanti tampan ku berkurang kalau kamu memukulnya. Apa kamu mau suamimu tidak tampan lagi, hahaha...!" Begitu lepas Arya tertawa, beban beratnya selalu saja bisa hilang saat dia bersama dengan gadis kecilnya itu.


"Biarin!" ucap Arini. Tetapi tangannya malah menghentikan aktivitasnya. Sekarang Arini malah duduk diam bin anteng dengan memangku guling nya yang tadi.


Matanya lurus menatap depan, tak mau melihat Arya yang entah seperti apa sekarang wajahnya pasti semakin menyebalkan.


"Cie cie cie..., nggak rela ya, kasihan yang kalau calon suaminya sakit atau terluka," goda Arya. Jari telunjuknya terus berputar-putar di depan hidung Arini.


Sungguh menjengkelkan emang nih Pak Tuan.


"Udah ah, Arini nggak mau bicara lagi sama Pak Tuan, Arini marah sama Pak Tuan!" wajah jutek keluar dari Arini dia cepat menarik selimutnya lagi dan menutupi sekujur tubuhnya hingga kepalanya, Arini meringkuk di atas kasur dan mengabaikan Arya.


"Kenapa malah sembunyi? Oh.. Aku tau, mau main petak umpet ya? Oke deh! Tapi kalau ketemu kita nyicil ya?" Arya tersenyum menyeringai.


"Nggak! Arini udah nggak punya hutang!" jawab Arini tetap dalam posisinya.


"Bukan nyicil itu, Arini. Ish kau ini, kapan kamu akan pintar sih?"


"Kenapa? Arini nggak mau jadi pintar, bodoh saja udah bahagia!" Celetuknya.


"Arini...," Panggilan Arya terdengar sangat dekat di samping telinga Arini, ya karena Arya memang sudah beralih tengkurap di samping Arini dan mengatakan itu tepat di sebelah telinganya.


"Ap.. a..., ihh... Pak Tuan apa-apaan sih!" Cepat Arini membuka selimutnya dan menyingkirkan wajah Arya yang begitu dekat.


"Ih.. apa sih Arini," Arya mengembalikan lagi wajahnya di tempat semula, dia benar-benar getol menggoda Arini.


__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2