Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
60. Sasaran Selanjutnya


__ADS_3

..._______...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Arini berlari terbirit-birit keluar dari ruangan Arya, bahkan dia juga lupa membawa ember teman pel nya. Jantung Arini berdetak cukup kuat, nafasnya terengah-engah, hidungnya kembang kempis, dan juga pipinya terasa panas.


Arya benar-benar tidak waras, dia memanfaatkan kebodohan Arini untuk bisa mendapatkan apa yang dia inginkan sedari kemarin, waktu itu Arya langsung bermain dengan kasar untuk bisa mendapatkannya tapi tetap tak dapat, dan kali ini dia berpindah haluan dengan cara halus untuk bisa mendapatkan Arini.


Arya yakin lama-lama Arini akan memberikan dengan sendirinya. Dan saat itu tiba Arya benar-benar menjadi pemenangnya karena dia bisa mendapatkan semua jenis wanita.


Arini berhenti, dia membungkuk dengan tangan memegangi kedua lututnya.


"Astaghfirullah hal 'azim, mimpi apa aku semalam. Sepertinya sebelum tidur aku sudah berdoa, bangun tidur juga berdoa dan tidak mimpi buruk juga. Hemm..., Arini juga makan nasi seperti biasa tapi kenapa masih saja berhadapan dengan orang yang kurang genap seperti Pak Tuan."


"Apa Pak Tuan yang seperti itu memang tidak bisa berubah ya? hemm..., membuat Arini merinding saja."


Kini Arini tidak berlari dia hanya berjalan tapi dengan cepat. Di saat Arini menoleh ke belakang dia menabrak eyang Wati yang baru saja keluar dari lift. Keduanya terkejut dan mundur dua langkah dari tempat.


"Astaghfirullah hal 'azim! " seru Arini.


"Arini! " eyang Wati mengernyit saat melihat wajah Arini yang penuh dengan keringat. Ini masih pagi tidak mungkin Arini bisa mengeluarkan keringat sampai segitunya, "Arini, apa kamu baik-baik saja?" tanya eyang Wati.


"A- Arini baik-baik saja kok, Eyang!" jawabannya terdengar sangat gugup. Benar-benar membuat eyang Wati curiga, tak mungkin tidak ada apa-apa. Arini meraih tangan eyang Wati seperti dia kelupaan tadi, "assalamu'alaikum, Eyang," ucapnya.


"Wa'alaikumsalam.., gimana keadaanmu sekarang, sudah benar-benar baik?" tanya eyang Wati.


"Alhamdulillah sudah sangat baik kok, Eyang. Arini sudah sehat," jawab Arini begitu antusias, Arini begitu bahagia bisa bertemu dengan eyang Wati sekarang, seenggaknya di lantai itu tidak hanya ada dirinya dan Arya saja.


"Syukurlah, eyang mau ke ruangan Arya dulu. Nanti kita bicara lagi, Oke!" eyang Wati tersenyum dia berharap Arini akan menyetujui.


"Oke, Eyang. Silahkan kalau eyang mau ke ruangan pak Tuan," Jawab Arini.


Eyang Wati membelai lembut pipi Arini sebelum dia benar-benar pergi, dua begitu senang melakukan itu.


/////


"Sial! bukannya bisa membuat Arini tersipu malah mendapatkan pukulan darinya, mana beneran benjol lagi kepalaku," gerutu Arya.


Tangannya masih terus memijat-mijat kepalanya, rasanya memang tidak terlalu sakit hanya gimana gitu? tidak enak deh pokoknya.


Di rasa sudah cukup, Arya membuka lacinya mengeluarkan satu botol minuman beralkohol yang selalu dia simpan di sana. Tentunya tidak akan ada habisnya karena Toni selalu menambahnya jika sudah menipis.


Dengan minuman itu seenggaknya bisa menghilangkan kesalnya saat ini, dia bisa lebih tenang dengan menikmati minuman yang haram itu.


Perlahan-lahan Arya meneguknya, sedikit demi sedikit dan akhirnya habis tak bersisa. Arya sudah berhasil menghabiskan satu botol tapi dia masih belum puas hingga akhirnya dia mengambil satu lagi dan kembali menikmatinya.


"Ekhm...," dehemam dari eyang Wati berhasil mengejutkan Arya hingga akhirnya Arya tersedak dan memuncratkan apa yang masih ada di dalam mulutnya.

__ADS_1


𝘜𝘩𝘶𝘬... 𝘜𝘩𝘶𝘬....


Arya kalang kabut menyembunyikan dua botol yang satu ada di tangannya dan yang satu ada di atas meja.


Eyang Wati terus berjalan dia pura-pura tidak tau. Meskipun ada rasa kecewa di hatinya tapi mau bagaimana lagi dia tak bisa menghentikan Arya begitu saja.


Meskipun Arya takut padanya tapi kalau soal minuman itu Arya sangat susah untuk di kendalikan.


"Hemm.., tadi eyang lihat Arini begitu buru-buru dan berkeringat banyak, kamu tidak melakukan apapun padanya kan? "


Pertanyaan langsung terlontar dari eyang Wati, dia sangat penasaran lagian di sana hanya ada Arya saja yang pasti tersangkanya adalah cucunya itu bukan? karena tak mungkin orang lain.


"Ar-Arya tidak melakukan apapun, mu-mungkin dia memang sudah lelah bekerja dia kan selalu berangkat pagi-pagi," jawab Arya dengan gagap.


"Oh.., awas saja kalau kamu sampai berbuat seperti kemarin lagi, akan aku potong adikmu itu sampai habis," ancam eyang Wati begitu sadis.


Bulu kuduk Arya berdiri seketika mendengar ancaman dari eyang Wati, bagaimana bisa adik kebanggaannya itu di pagas habis, bisa kehilangan kenikmatannya untuk Arya. Yang jelas akan habis keturunan Gautama.


"Tidak mungkin lah Eyang, Arya kan sudah tidak lagi main seperti itu," Arya beranjak dia mendekati eyang Wati untuk merayunya. Biar bagaimanapun Arya harus baik-baik dengan eyangnya itu supaya ancamannya tidak di lakukan.


"Syukurlah," jawab eyang Wati dengan malas karena eyang yakin Arya belum bisa menghilangkan kebiasaan itu.


"Eyang kenapa datang, apa ada hal penting?" tanya Arya.


Eyang Wati menjauh dari Arya, dia tak tahan dengan bau alkohol yang keluar dari mulut cucunya itu. Pusing lama-lama kalau Arya terus meminum minuman itu, "𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘦𝘯𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘺𝘢. 𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘵𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪, 𝘺𝘢..., 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘰𝘭𝘰𝘯𝘨 𝘬𝘶, " Batin eyang Wati.


"I-iya, Eyang," Arya menggaruk tengkuknya jawabannya pun juga terdengar sangat aneh sepertinya Arya takut jika Arini akan mengatakan sesuatu pada eyang Wati.


Tak menjawab eyang Wati langsung keluar lagi dari tempat itu, dia tak tahan dengan aroma alkohol yang begitu menyengat.


"Semoga si krempeng itu tak mengatakan apapun pada Eyang," gumamnya.


////////


Arini masih berada di pantry, kali ini dia tidak sendiri karena ada Raisa yang juga di sana. Keduanya baru istirahat sejenak setelah menyelesaikan satu pekerjaan mereka.


"Arini, kamu itu ada hubungan apa sih dengan Tuan Arya? " Raisa melangkah menghampiri Arini sembari membawa cangkir yang penuh dengan air putih, Raisa juga langsung menyusul Arini duduk di kursi.


Arini menoleh, dia bingung dengan pertanyaan Raisa. Hubungan seperti apa, Arini tidak paham.


"Arini tidak punya hubungan apapun dengan Pak Tuan, Mbak. Mbak Raisa kan tau Arini sama Pak Tuan bukan saudara dekat atau jauh, jadi mana mungkin punya hubungan? "


Nah kan jawabannya melenceng lagi.


"Arini sama pak Tuan itu bukan sepupuan, Mbak," imbuhnya.


Ihh..., gemas si Raisa, pengen tabok tuh Arini tapi kok ya terlalu imut, tak sampai tangannya. Raisa juga takut, Arini masih kayak bocah seperti itu bagaimana kalau sampai nangis? dia akan terkena masalah kan.

__ADS_1


"Kenapa wajah Mbak Raisa seperti itu?" tanyanya yang begitu polos.


Wajah kesal, gemas bersatu dengan dongkol, pokoknya campur aduk bagaimana mungkin Arini tidak bingung.


"Arini sayang...,"


"Ehh..., kok sayang! Arini masih normal loh, Mbak!" serunya memotong perkataan Raisa yang baru di mulai.


"Ya Tuhan, sampai kapan Engkau akan membuat otak gadis ini menjadi encer," Raisa mengangkat wajahnya kedua telapak tangannya juga menengadah ke atas untuk berdoa.


"Mbak, kalau mau berdoa lebih baik ambil wudhu lalu sholat dulu setelah itu berdoa dengan benar Allah pasti akan mengabulkan doa Mbak Raisa," jawab Arini begitu enteng.


Udah lelah semakin lelah si Raisa. Niatnya mau istirahat supaya lelahnya hilang tapi sekarang malah bertambah berkali-kali lipat dan itu juga karena obrolan yang tak ada faedahnya.


Raisa beranjak cepat, dia sudah kehabisan kesabaran meladeni Arini yang tak ngerti-ngerti.


"Sudah lah, aku mau lanjut kerja lagi," ucapnya dengan jengkel.


"Nggak jadi berdoa, Mbak! aku temani yuk, Arini juga belum shalat dhuha," ucapnya.


"Berdoa saja sendiri," Raisa melenggang pergi, bisa rontok tuh rambut panjangnya kalau tidak segera pergi.


Arini terdiam, berfikir dengan keras, "apakah aku berbuat kesalahan? " tanyanya pada dirinya sendiri.


"Arini," eyang Wati datang dan mengejutkan Arini.


"Eyang,"


"Hem," eyang Wati duduk di samping Arini menggantikan posisi Raisa di sana. Semoga saja eyang Wati bukan target selanjutnya yang akan di buat pening oleh Arini.


"Kenapa eyang ke sini? " Arini begitu fokus memandangi eyang Wati.


"Eyang mau minta tolong, kamu harus tolongin eyang pokoknya," ucap eyang Wati tanpa menunggu lama lagi.


"Tolong apa, Eyang? kalau Arini bisa akan Aku tolongin," Jawab Arini.


Eyang Wati langsung mendekat membisikkan sesuatu pada Arini. Arini hanya manggut-manggut tapi entah dia mengerti atau tidak tapi otaknya harus bekerja lebih keras untuk memahaminya.


"Ngerti kan apa maksud eyang? "


"Tidak," Arini menggeleng cepat karena dia memang tak mengerti semua yang eyang Wati bisikan padanya. Jawaban Arini membuat eyang Wati terperangah, sudah cukup banyak dia membisikkan sesuatu pada Arini dan ternyata?


Benar-benar sasaran berikutnya si eyang Wati.


//////


Bersambung....

__ADS_1


________


__ADS_2