
Happy Reading...
~^^^`~
Heran rasanya bagi Dimas, Arya terlihat tenang saja bahkan tak ada kegelisahan tertentu. Dilihatnya wajah Arya yang terus tenang tak seperti hari kemarin saat mendengar kalau Arini telah pergi.
Apakah mungkin Arya tidak peduli lagi dengan Arini? ataukah mungkin Arya memang tidak sungguh menyukai bahkan mencintai Arini, adiknya?
Langkah Dimas begitu cepat mendekat Arya yang terdiam duduk di kursi kebesarannya di ruang kerja. Dengan tangan yang terus bergerak di atas keyboard laptopnya dengan mata yang terus melihat layarnya.
"Tuan Arya, apakah Anda sudah mencari Arini?" Dimas duduk di kursi depan Arya, jarak keduanya tidak jauh tetapi terhalang meja kerja Arya yang penuh dengan semua berkas juga semua perlengkapannya.
Mata Arya hanya memicing kecil, namun itu tidak lama karena dia kembali lagi dengan laptopnya yang menunggu.
"Saya sudah mencarinya," jawab Arya begitu acuh. Matanya juga sudah kembali dengan layar yang memperlihatkan hasil kerjanya dengan beberapa laporan.
"Apakah anda sudah menemukannya?" Dimas kembali bertanya, dan berhasil menghentikan jari-jemari Arya yang terus sibuk.
Terlihat Arya mulai kesal, dan itu sangat jelas di wajahnya. Pekerjaannya sangat banyak tetapi Dimas terus saja menggangunya sedari tadi, bahkan dia terus bertanya dan membubarkan semua fokus juga semua ide yang ada di otaknya.
Tetapi tidak dengan Dimas, dia terlihat sangat khawatir karena sampai sekarang dia belum juga menemukan Arini.
"Dokter Dimas, apakah semua pasien mu sudah sembuh! apakah kamu sudah tidak membutuhkan pekerjaan mu lagi?" tanya Arya begitu sengit.
Dongkol rasanya, gara-gara Dimas yang tak kunjung pergi pekerjaan Arya jadi semakin numpuk dan tak selesai-selesai, padahal dia sudah berjanji kepada Arini kalau dia akan pulang di saat makan siang. Kalau seperti ini bagaimana mungkin dia akan tepat waktu?
Bukan itu saja, tetapi mata Arya juga terlihat begitu bulat tajam memandangi Dimas. Memang ada rasa kasihan, tetapi Arya merasa ini belum saatnya saja untuk membawa Arini pulang dan kembali kepada keluarganya.
__ADS_1
Arya juga takut kalau dia mengembalikan Arini dan setelah itu semua keluarganya tidak mengizinkannya lagi untuk bertemu, Arya belum siap dan tidak akan pernah siap untuk jauh bahkan kehilangan Arini.
"Kalau dokter Dimas masih butuh pekerjaannya maka kembalilah, karena keberadaan Anda di sini juga membuat pekerjaanku terbengkalai. Atau mungkin Anda yang akan mengerjakannya?" Arya semakin sinis saja.
"Bukan seperti itu, Tuan. Saya hanya merasa heran saja karena Anda terlihat tenang, apakah Anda tidak benar-benar mencintai Arini?"
Arya semakin dongkol, hatinya semakin panas ingin sekali menyembur Dimas dengan semua amarahnya, tetapi tidak! Arya sudah berjanji pada Arini untuk belajar lebih sabar.
"Kalau kamu tidak tau, mending kamu diam! Dan ya, lebih baik sekarang kamu pergi dan urus semua pasien mu. Kalau saya diam bukan berarti saya tidak mencari Arini, saya tetap mencarinya. Orang-orang saya banyak! tidak perlu juga kan saya yang turun tangan sendiri untuk mencarinya!"
Memang benar sih apa yang Arya katakan, dia orang paling kaya nomor satu jadi mana mungkin dia akan turun tangan sendiri untuk mencari Arini.
Arya hanya tinggal kasih aba dan semua orang-orangnya pasti langsung bertindak.
"Tapi, Tuan?" Dimas masih tak puas dengan jawaban dari Arya, apalagi Arya yang terlihat berbeda dari biasanya. Apakah mungkin dia menyembunyikan sesuatu dari Dimas.
Arya berucap, tetapi dia tidak menatap wajah Dimas. Arya hanya mengatakan semua yang dia lihat, karena kemarin memang Arini makannya cukup banyak pas Arya lupa menyiapkan makan.
Di tambah lagi dengan Arya yang menyuapinya dan terus memaksanya membuat Arini terpaksa menghabiskan makanan yang cukup banyak.
"Baik, Tuan. Saya akan pergi. Tolong kabari kalau ada berita tentang Arini," Dimas beranjak, mungkin yang Arya katakan benar.
"Hem...," Arya kembali fokus dengan pekerjaannya, tak lagi melihat Dimas yang mulai bergerak untuk pergi.
Sekali lagi Dimas menoleh saat dia sampai di belakang pintu, menoleh sejenak ke arah Arya yang sama sekali tak menghiraukannya lagi.
Dimas hanya bisa menghela nafas panjang, kemarin saja Arya terlihat begitu takut juga khawatir tapi sekarang?
__ADS_1
''Semoga anda tida berbohong padaku ,Tuan Arya. Semoga anda benar-benar menyukai Arini kalau anda hanya ingin mempermainkannya maka saya tidak akan pernah tinggal diam,'' gumam Dimas.
Tangan langsung menarik pintu, membukanya lalu dia benar-benar pergi meninggalkan Arya yang masih tetap acuh.
Setelah kepergian Dimas Arya baru mengganti posisi duduknya, punggungnya dia sandarkan dengan mata yang menatap arah pintu di mana Dimas menghilang di baliknya.
''Maafkan aku, Dim. Aku janji akan secepatnya membawa Arini kembali kepada kalian, aku hanya butuh waktu, aku belun siap jika harus jauh-jauh darinya.''
''Dan ya! jangan pernah kamu meragukan perasaanku pada Arini, aku benar-benar mencintainya, aku sangat ingin bisa secepatnya menjadikan dia halal atas diriku, tetapi tidak untuk sekarang, tapi aku janji akan secepatnya.''
Entah apa yang membuat Arya menahan Arini hingga cukup lama berada di sisinya, apalagi Arini juga nurut saja karena dia merasa kalau Arini hanya memiliki Arya saja yang benar-benar tulus padanya. Apalagi setelah apa yang Ratna katakan kemarin, itu membuat Arini merasa tak punya siapapun.
''Maafkan aku Arini, seharusnya ini tidak aku lakukan padamu, kamu berhak atas keluargamu tetapi tidak untuk sekarang. Aku hanya ingin memberikan sebuah hadiah kecil saja di hari ulang tahun Arini yang hanya tinggal menghitung hari saja. Kalian akan bahagia di hari yang pas.''
Arya terdiam sejenak, berpikir sesuatu entah itu apa.
Tak lama Arya dalam diamnya, dia mulai beranjak membereskan semua pekerjaannya dan juga langsung bergegas untu pulang untuk memenuhi janjinya pada Arini.
Dalam langkah Arya begitu semangat dia juga sudah tidak sabar untuk segera melihat Arini lagi, entah seperti ada dia sekarang, entah apa yang dia lakukan di rumah.
Arya terus tersenyum membayangkan betapa lucu juga imutnya wajah Arini.
''Aku harus secepatnya sampai rumah, Arini pasti sudah menungguku.''
Dengan mobil hitamnya Arya menempuh jarak utuk secepatnya pulang, senyum Arini terus saja terngiang di dalam benaknya dan itu membuat Arya tersenyum sendiri.
____
__ADS_1
Bersambung...