Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
212.Kebahagiaan


__ADS_3

Happy Reading...


```\`````


Kebahagiaan begitu kental dirasakan oleh pengantin baru yang masih setia di salah satu kamar di hotel Chandya.


Sembari sarapan Arya selalu saja menggoda Arini, padahal dia juga terus menyuapinya.


"Akk!" pinta Arya.


Seketika Arini membuka mulutnya dengan lebar. Sendok yang terisi penuh juga sudah di depannya, tapi Arya? astaga Arini di buat cemberut karena Arya malah memasukkannya di dalam mulutnya sendiri.


Cepat Arini memalingkan wajahnya dengan sedikit kesal. Bagaimana tidak? dia sudah sangat lapar, makan sendiri tidak boleh dan Arya terus yang akan menyuapinya. Tapi dia malah memakannya sendiri. Benar-benar bikin mood Arini anjlok untuk sarapan.


"Hehehe..., jangan cemberut begitu dong, Sayang. Iya iya, nih akk!" Arya kembali menyendok lagi, bersiap untuk menyuapi Arini. Tapi sepertinya Arini tengah marah padanya karena dia sama sekali bergeming dan terus pada pendiriannya, yaitu buang muka dari hadapan suaminya.


"Maaf," Arya berpindah duduk di hadapan Arini tapi dia kembali memalingkan wajahnya ke arah yang lain. Benar-benar menyesal telah mengerjai istrinya.


Arya kembali lagi, duduk di hadapan Arini dan terus mengejar Arini supaya dia bisa memandang wajahnya yang tengah cemberut itu. Sedikit susah ternyata, Arya pikir Arini tidak akan sekesal itu karenanya tapi ternyata? salah permainan rupanya.


"Sayang, ayolah. Maafin aku, kan hanya bercanda. Hem..., apa aku harus mencium mu supaya kamu memaafkan ku?"


Bukan permohonan maaf yang akan menguntungkan Arini, tapi Arya lah yang akan di untungkan jika Arini menyetujuinya.


"nggak!" ternyata Arini tak sebodoh itu, dia tau siapa akan di untungkan dari permintaan maaf dari Arya.


Arya semakin pusing, dia bisa saja melakukan apapun dengan sangat mudah karena dia memiliki segalanya, tapi dia tidak akan mudah jika urusan merayu Arini untuk meminta maaf. Arya belum pandai dalam hal itu.


Arya terdiam, memangku piring yang tinggal sedikit isinya sembari melamun seraya berpikir sesuatu. Arya juga terlihat sangat serius juga menyesal wajahnya yang berkedut terlihat sangat lucu di mata Arini hingga akhirnya dia tak kuat menahan tawa.


"Hahaha, lucu sekali. Ternyata seorang CEO Gautama bisa berkedut juga ya. Aku pikir hanya bisa menghukum dan marah-marah saja," Arini berhasil membuat Arya terperangah. Ternyata Arini tidak marah, dia hanya mengerjainya sama seperti Arya yang mengerjai Arini.


"Oh, istri kecilku sudah pintar ya sekarang. Mau minta di hukum ya?" Arya meletakkan piring di sofa sebelahnya, duduk lebih dekat dan tangannya sudah bersiap untuk memberikan hukuman pada Arini.


Tangannya benar-benar terangkat, bergerak untuk menggelitik perut Arini.


Arini yang sudah waspada tetap saja kalah hingga akhirnya dia tertawa terbahak-bahak karena perbuatan dari suaminya.

__ADS_1


Sungguh bahagia mereka berdua, sekarang bisa bebas melakukan apapun tanpa takut akan dosa karena belum menjadi mahram. Mereka bisa bebas memperlihatkan cinta dan kasih sayang mereka dengan cara apapun yang mereka inginkan.


"Hahaha! geli, berhenti! Mas! hahaha..." bukan hanya suara saja yang Arini keluarkan tapi juga gerakan tubuh seperti cacing kepanasan.


Arya juga ikut terpingkal melihat Arini, dia belum juga berniat untuk menghentikan tangannya. Apalagi melihat Arini yang terlihat sangat cantik dengan tawa juga rambut panjangnya yang terus terombang-ambing, sungguh menggemaskan sekali.


Brukk...


Arini terhempas di sofa dan Arya juga langsung mengejar dan mengurung di atasnya.


Arini langsung kicep saat Arya sudah tak lagi bergerak lagi, tapi malah menatap wajahnya dan tepat di atasnya.


Netra keduanya saling bertemu, dalam sejenak saling berkomunikasi memperlihatkan cinta dari mata mereka berdua. Lagi-lagi Arya tak mampu menahan perasaan yang tiba-tiba muncul di benaknya. Padahal terakhir kali dia akan berhubungan dengan wanita bayaran dia tak bisa lagi melakukannya karena juniornya sama sekali tidak mau terbangun, tapi lihatlah sekarang.


Bahkan hanya melihat senyum Arini saja juniornya sudah meronta ingin keluar dari sarangnya. Berdiri tegak dan siap untuk menggempur pertahanan dari seorang Arini.


Semua doa Arini, semua janji yang pernah Arya ucap ternyata benar-benar telah terjadi. Arini meminta calon suaminya untuk di jaga dari dosa dan sejak saat itu Arya sudah tak bisa berhubungan lagi dengan perempuan bayaran.


Sementara Arya berjanji, jika dia hanya akan menjadikan Arini pelabuhan terakhirnya. Bahkan dia berjanji kalau juniornya tidak akan pernah bangun lagi kecuali di depan Arini saja dan ternyata semua itu benar-benar terjadi.


Kedatangan Arini benar-benar sebagai cahaya untuk seorang Arya. Dunia gelapnya telah musnah seiring dia mengenal Arini dan mulai mencintainya. Semua hilang dan terganti dengan terangnya cahaya yang memerangi.


"Hem," Arya menaikan alisnya, dia belum sadar sepenuhnya kalau adik kecilnya sudah bangun dari tidur, "ada apa?" tanyanya belum juga sadar, padahal matanya sudah memerah dan suaranya juga sudah terdengar berbeda.


"I-itu, milik Mas keras banget," ucapan Arini tergagap.


Arya memeriksanya dengan tangan, lalu dia malah tersenyum setelah mengetahuinya.


Arini terlihat ketar-ketir, meski yang berikutnya dia tak merasakan sakit kecuali hanya kenikmatan saja tapi dia masih sangat takut. Bukan itu saja, tapi Arini merasa malu saja. Lagian ini juga masih pagi.


"Dia bangun karena melihatmu, dia bangun karena ingin datang ke tempat seharusnya dia singgah. Jadi dia harus mendatangi dulu kalau tidak dia tidak akan tidur," ucap Arya.


"Maksudnya?" entah benar-benar tidak mengerti atau hanya pura-pura tidak mengerti tapi Arini terlihat sangat bingung.


"Dia mau masuk lagi," bisik Arya.


Arini baru paham sekarang hingga akhirnya dia terbelalak dan Arya malah tersenyum dan setelah itu dengan cepat melancarkan aksinya. Dan mereka berdua melakukan penyatuan nya di pagi hari dan entah sudah yang keberapa kalinya terhitung dari semalam.

__ADS_1



Bosnya terus bersenang-senang dengan istrinya tapi kini Toni sang asisten terlihat begitu kalang kabut dengan semua pekerjaan yang di hujan kan kepada dirinya.



Tak ada istirahat, tak ada tidur, bahkan Toni juga tidak makan dengan teratur. Seharusnya dia harus mendapatkan tunjangan yang besar setelah ini atau mungkin dia harus mendapatkan cuti atau tiket jalan-jalan gratis untuk menghilangkan penat karena pekerjaannya.



Toni terpaksa harus berangkat pagi-pagi buta karena dia harus menggantikan Arya meeting dengan kolega bisnis dari luar negeri. Semuanya yang belum di persiapkan membuat Toni harus bekerja keras untuk menyelesaikan sendiri.



Sang sekertaris juga belum datang padahal sudah di minta untuk berangkat pagi tapi nyatanya?



"Bos bos, aku yakin sekarang sedang bermanja-manja dengan istrinya dan aku? astaga," keluhnya dengan tangan yang terus menari-nari di atas keyboard laptopnya.



Pusing-pusing sendiri deh Toni sekarang.



"Permisi, Tuan. Maaf saya terlambat," seorang wanita datang dan langsung membuka pintu, dia adalah sekertaris Arya.



"Hem, cepatlah. Kita harus segera menyelesaikan semuanya sebelum jam tujuh. Kalau tidak kita akan kehilangan pekerjaan kita," ucap Toni dengan sang serius.



"Baik, Tuan."


__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2