Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
65. Tidak Jijik Kan


__ADS_3

...____...


...◦•●◉✿Happy Reading✿◉●•◦...


Siapa yang tak mengeluh sakit tangannya dan juga semua jari-jarinya jika harus memijat selama dua jam full, bahkan tak ada kata istirahat juga tak ada kata duduk. Bukan hanya tangan saja yang sakit tapi kaki Arini juga terasa ingin patah, semua itu gara-gara hukuman yang di berikan oleh bos kurang genap itu padanya.


Duduk seorang diri di pantry, Arini terus memijat sendiri semua jari-jarinya satu persatu, astaga..., rasanya sungguh seperti di potong satu-satu semua jari-jarinya, bahkan telapak tangannya juga sangat merah seolah darahnya keluar.


"Astaghfirullah, sial bener nasib ku. Niatnya mau nolongin orang lalu dapat pahala, eh.., ujung-ujungnya dapat siksaan begini. Haduhh..., bener-bener nyebelin tuh bos atu," gerutunya. Bibirnya juga di monyong-monyongin saat dia berbicara, apalagi wajahnya, di Teluk begitu saja seperti baju tanpa di setrika, alias rapi karena terpaksa.


"Kenapa rasanya sangat susah untuk bisa ikhlas ya, kalau aku ingin mendapatkan pahala seharusnya aku ikhlas kan? tapi pak Tuan begitu ngeselin, meskipun bibir mengatakan ikhlas tetap saja hatiku berdemo tak terima, haduhh..., Arini Arini.. " imbuhnya lagi.


Bukan hanya semua jari-jarinya yang dia pijat, melainkan kakinya juga yang harus mendapatkan urutan darinya. Kakinya juga sangat parah sepertinya, biasanya kalau lelah berdiri di ajak duduk akan baik-baik saja, tapi ini kenapa malah sebaliknya? setelah di ajak duduk malah menjadi keram, aneh bukan.


𝘋𝘰𝘰𝘳𝘳𝘳....


Yang pasti Arini langsung terkejut kan, setiap ada tangan menyentuh bahunya dengan tiba-tiba di tambah dengan suara keras seperti petasan pasti akan selalu membuatnya terperanjat. Maklum lah, jantung Arini bukan jantung spesial.


"Astaghfirullah hal 'azim, Mbak Raisa. Kenapa sih setiap datang selalu saja mengagetkan Arini. Coba saja mengagetkannya dengan cara menyodorkan satu mangkok bakso, kan enak! mata juga jadi melek," protesnya.


Raisa terkekeh, seperti itukah cara mengejutkan orang dengan gaya yang baru? membawa bakso satu mangkok gitu? Lama-lama bangkrut dong jika ngagetinnya tiga sampai empat kali.


"Ada-ada saja, dasar bocah! " seru Raisa.


Raisa ikut duduk di sebelah Arini matanya juga langsung fokus dengan tangan Arini yang memijat tangan yang lainnya.


"Kenapa dengan tanganmu, jatuh? " tanya Raisa.


Arini menggeleng, ini bahkan lebih dari jatuh. Kalau jatuh, pas jatuhnya saja yang terasa sangat sakit, tapi ini? setelah selesai baru terasa sakitnya, sungguh luar biasa lagi.


"Terus!? " Raisa terus penasaran, dia menarik kedua tangan Arini dan melihat kedua telapak tangannya. Raisa di buat bingung, sebenarnya apa yang Arini lakukan sampai-sampai kedua telapak tangannya merah semua seperti itu.

__ADS_1


"Ini kenapa?" Raisa terus memeriksanya membolak-balikan kedua tangan Arini dan tetap saja sama, merah. "Kamu tidak mukul orang, Kan? " tanya Raisa asal tebak.


"Tidak lah, Mbak! mana berani Arini mukul orang, hanya sekali sih," Arini melengos dari Raisa, dia tak mau mengatakan kalau dia pernah memukul orang, bahkan menampar wajahnya sangat keras sampai-sampai tangan Arini juga ikut merasa sakit.


"Terus kenapa bisa seperti ini?" Raisa benar-benar di buat penasaran, "dan ya, di mana kamu selama dua jam ini? kenapa aku tidak melihatmu? "


"Arini di hukum sama pak Tuan!" jawab Arini. Wajahnya seketika berubah masam, dia juga sangat kesal jika mengingat semua yang terjadi padanya tadi. Mungkin sekarang pak Tuan yang dia bicarakan tengah bergembira ria karena berhasil membuat Arini memijatnya.


Wajah Raisa seketika panik dia memeriksa Arini dengan membolak-balikan tubuhnya, takut saja kalau Arini mendapatkan pelecehan dari Arya, ya karena biasanya kan seperti itu.


"Kenapa sih, Mbak! Arini capek, kok malah di giniin? " Protesnya dengan keras, siapa yang tidak protes coba, dia masih lelah dan di tambah lagi dengan Raisa yang memeriksanya dengan cara yang tak main-main.


"Kamu, tidak apa-apa kan! tuan Arya tidak melakukan hal yang tidak baik kan! Kamu juga tidak di pecat kan! " begitu banyak pertanyaan yang dilontarkan pada Arini oleh Raisa, hari ini ada orang yang benar-benar khawatir dengan keadaannya membuat Arini terharu.


Arini menatap Raisa dengan diam, matanya malah berkaca-kaca ingin menangis saking bahagianya. Arini benar-benar merasakan bahagia di khawatirkan oleh teman. Arini punya teman yang benar-benar tulus sekarang, teman yang tak memandang kekurangannya. Teman yang tidak mematok kecantikan untuk di jadikan teman.


Melihat Arini yang seperti itu membuat Raisa semakin bingung, apa yang dia takutkan pasti benar-benar terjadi padanya.


Arini menggeleng meski dia tak tau apa yang menjadi maksud dari Raisa, Arini tidak merasa sakit di bagian yang lain kecuali di kaki dan tangan, hanya itu saja.


"Alhamdulillah, syukurlah," Raisa terlihat sangat senang dia kira Arini akan mendapatkan pelecehan setelah melakukan kesalahan, tapi ternyata tidak.


"Be- berarti kamu di pecat? " tanyanya lirih lagi kedua tangannya sudah memegangi kedua baju Arini dan membuatnya menghadap ke arah Raisa. Arini menggeleng.


"Kok aneh ya?" Raisa terlihat bingung sendiri, ini tidak biasa.


"Terus kenapa kamu menangis?" Raisa kembali menoleh ke arah Arini, menatap wajahnya dengan lekat.


"Ini air mata bahagia, Mbak," jawab Arini membuat Raisa mengernyit bingung, "Arini bahagia karena akhirnya ada orang yang mengkhawatirkan Arini, Arini belum pernah merasakan ini. Terima kasih, Mbak. Terima kasih, " ucap Arini.


Arini malah semakin menangis, air matanya mengucur begitu bebas keluar dari matanya.

__ADS_1


Antara bingung, kasihan juga sedih menjadi satu di hati Raisa. Dia yakin hidup Arini tidaklah mudah selama ini, dia juga merasa bersalah karena dia pernah tak mau menjadi teman Arini hanya karena tampangnya yang tak sempurna.


"Terima kasih ya, Mbak. Sudah mau mengkhawatirkan Arini. Mbak Raisa benar-benar mau jadi teman Arini kan? Mbak Raisa tidak jijik kan pada Arini?"


Tak menjawab, Raisa lebih memilih mendekati Arini merengkuh tubuh kecilnya, memeluk dengan erat sebagai tanda bahwa tak ada rasa jijik dalam dirinya terhadap Arini.


Arini semakin sesenggukan, dia masih sedih karena belum mendapatkan jawaban. Dia tidak terlalu paham jawaban dengan tindakan saja, Arini juga butuh jawaban dengan kata-kata.


"Mbak Raisa kok tidak menjawab, mbak Raisa jijik ya sama Arini?" tanyanya di sela-sela tangis.


Raisa melepaskan pelukannya, menoyor kening Arini sedikit kuat hingga membuatnya terhuyung beberapa senti ke belakang.


"Kalau aku jijik aku tidak akan memelukmu, dasar bodoh! Aku juga tidak membencimu! apa kamu pikir ada orang yang membenci orang lain tapi dia perhatian padanya, tidak kan?! " jawab Raisa.


"Benarkah Mbak Raisa tidak membenci Arini, Mbak Raisa tidak jijik pada Arini, Mbak Raisa mau jadi teman Arini!? " wajah Arini berbinar terang saat mengatakan itu. Dia benar-benar sangat bahagia.


"Hem," Raisa hanya mengangguk.


"Dan ya, anggap saja aku ini kakakmu sendiri. Jadi kalau ada orang yang menindas mu, laporkan saja padaku, gini-gini aku juga pernah mendapatkan piala karate. Jadi bisalah sekedar untuk mematahkan tulang orang," ucap Raisa.


"Wah, mbak Raisa hebat! tapi jangan gitu juga kali mbak! masak cantik-cantik kayak preman pasar," celetuk Arini.


"Eitss..., jangan salah, cantik-cantik seperti ini memang mantan preman pasar." jawab Raisa dengan percaya diri, tidak sama seperti di hatinya yang merutuki Arini gara-gara di sebut preman pasar.


"𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢 𝘮𝘢𝘬, 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘦𝘮𝘪 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘵𝘦𝘳𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮 𝘢𝘬𝘶 𝘳𝘦𝘭𝘢 𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘯𝘨𝘨𝘪𝘭 𝘱𝘳𝘦𝘮𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘴𝘢𝘳. 𝘈𝘬𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘳𝘦𝘭𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘰𝘩𝘰𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘨𝘪. 𝘈𝘴𝘵𝘢𝘨𝘢..., 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘴𝘢𝘳 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘳𝘶𝘩 𝘣𝘰𝘤𝘢𝘩 𝘪𝘯𝘪 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘛𝘶𝘢𝘯 𝘈𝘳𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘢𝘧𝘬𝘢𝘯 𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘥𝘪𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯, " batin Raisa.


"𝘈𝘳𝘪𝘯𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘳𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘨𝘦𝘮𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯, " imbuhnya lagi.


//////


Bersambung....

__ADS_1


________


__ADS_2