Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)

Muhasabah Cinta (Arya Dan Arini)
293. Mengubah Peraturan


__ADS_3

Happy Reading...


*******


Arini menangis tersedu-sedu saat tak mendapati Arya ada di kantor. Padahal tadi dia bilang akan pergi ke kantor untuk kerja tapi sekarang setelah Arini datang dan berniat memberikan kejutan untuknya malah orangnya sama sekali tidak ada. Lalu Arya di mana? Itulah yang menjadi pertanyaan Arini.


Bahkan bukan hanya Arya saja yang tidak ada, tapi Toni juga sama. Dia tidak ada di tempat. Apakah mungkin mereka berdua pergi berdua?


"Mbak, sebenarnya Mas Arya pergi ke mana sih! Kenapa dia tidak ada di kantor." Tanyanya dengan sang sekertaris cantik yang menemani Arini saat ini.


"Tuan, tuan sedang ada meeting di luar, Bu. Dan saya sudah menghubungi kalau saat ini anda datang." Jawabnya dengan sangat sopan.


Semua orang sekarang lebih sopan kepada Arini. Bahkan mereka sangat hormat dan tak ada yang berani membicarakan Arini di belakang apalagi langsung di depan.


"Aku mau jalan-jalan untuk mengusir bosan. Apakah mbak bisa menemani saya?" Arini menatap lekat wanita cantik itu. Berharap akan mendapatkan jawab 'Iya' atau mungkin anggukan kecil tak jadi masalah untuknya.


"Ba_baik baik, Bu. Saya akan temani Anda jalan-jalan." Jawab sang sekertaris. Jelas saja dia akan setuju kalau tidak mungkin dia malah akan kehilangan pekerjaan kalau sang bos besar marah gara-gara istrinya di abaikan.


Senyum manis keluar dari Arini. Tentunya akan memperlihatkan lesung pipi yang sangat indah dan membuat semua orang tertarik untuk memilikinya juga. Itulah kelebihan Arini yang di irikan oleh orang lain.


Betapa senang Arini bisa berjalan-jalan keliling perusahaan Gautama sebagai istri dari pemilik perusahaan itu dan tidak lagi sebagai OB yang terus di rendahkan dan di hina.


Sekarang kedudukannya lebih tinggi dari semuanya. Suka ataupun tidak suka mereka semua harus tetap hormat kepadanya.


"Mbak, sejak kapan Mas Arya bikin peraturan gila seperti ini?" Tanya Arini.


Bagaimana tidak di katakan sebagai peraturan gila. Semua karyawan harus memakai baju seksi.


"Saya juga kurang tau, Bu. Saat saya masuk peraturan ini sudah berlangsung." Jawabnya.


Semua nampak hormat saat Arini melintas di hadapan mereka dan langsung di balas dengan senyuman hangat dari Arini.

__ADS_1


Arini hanya manggut-manggut menanggapi jawaban sang sekertaris. Entah apa yang dia pikir tapi dia diam saja.


Mata-mata penuh rasa iri tak sedikit yang datang saat Arini melintas. Bagaimana mungkin mereka tidak merasa iri jika seorang OB saja bisa menjadi istri bos besar.


"Sayang," Panggil seseorang dan Arini seketika menoleh karena mendengar suara yang gak asing. Suara yang sangat ingin dia dengar dan dia lihat orangnya.


"Mas," Senyum merekah muncul dari Arini saat menoleh dan melihat Arya yang berjalan mendekatinya dengan begitu gagahnya.


Seketika Arini meraih tangan Arya, mengabaikan semua orang yang melihatnya. Tatapan iri berganti dengan tatapan takjub dari semuanya. Mungkin itulah yang membuat Arya memilih Arini. Tak semua wanita bisa melakukan yang Arini lakukan meski sekedar menyalami suaminya.


"Kenapa kamu jalan-jalan, Sayang. Seharusnya tunggu Mas pulang. Nanti kamu lelah loh." Arya langsung merangkul Arini, menuntunnya untuk ke ruangan Arya.


Arini hanya ikut begitu saja, namun setelah beberapa langkah Arini kembali menoleh, "Terima kasih ya, Mbak. Sudah menemani Arini jalan-jalan." Ucapnya kepada sekertaris Arya.


Sang sekertaris mengangguk kecil berhiaskan senyum yang sangat tulus.


Meski sudah menjadi istri dari bos besar namun Arini sama sekali tidak berubah. Itulah yang membuat sang sekertaris merasa bangga dan dia begitu takjub. Tidak salah bos nya memilih wanita untuk di jadikan pendamping hidupnya.


Sampai di ruangan Arini juga Arya langsung duduk. Arya terlihat mengernyit karena Arini yang diam dan seolah berpikir sesuatu.


"Hem..."


"Kenapa, apakah kamu menginginkan sesuatu? Apa kamu mau makan apa gitu?" Di belai tangan Arini lembut du angkatnya dan dikecupnya. Begitu istimewanya Arini bagi Arya.


"Mas, tapi Mas tidak boleh marah ya," Arini begitu takut kalau apa yang di ucapkan akan membuat Arya tersinggung atau mungkin akan marah, jadi Arini bertanya dulu.


"Iya, Mas tidak akan marah. Emang apa yang akan kamu katakan?"


"I_itu, Mas. Hem..., kalau misal peraturannya ganti bagaimana?"


"Peraturan yang mana?"

__ADS_1


"Itu loh. Para karyawan yang berpakaian seksi. Ya nggak harus juga pakai hijab kayak Arini tapi di ubah yang sedikit sopan. Arini hanya nggak mau saja nanti Mas kepincut saat lihat yang kayak begituan," Bibir Arini mengerucut.


Arini yang seperti itu membuat Arya malah gemas melihatnya dan seketika mencubit pipi Arini gemas.


"Lah..., ini gimana, Mas! Berat sebelah ini!" Arini benar-benar miring ke arah pipi yang di cubit oleh Arya barusan.


"Hahaha kamu ada-ada saja. Sini biar sama beratnya." Yang satu pun tak luput dari cubitan tangan Arya yang semakin gemas karena tingkah Arini.


"Hehehe..., udah sama beratnya sekarang. Jadi udah tegak lagi." Meringis Arini sekarang membuat Arya menggeleng.


"Bisa kan, Mas?" Tanyanya lagi kembali ke topik pembicaraan.


"Bisa, apa sih yang tidak. Besok kalau kamu datang lagi Mas pastikan mereka sudah berubah."


"Tapi jangan galak-galak ya merintahnya."


"Iya, Sayang. Emang kapan Mas galak? Seumur hidup Mas kan kalem, baik hati, suka menolong dan suka bikin orang tersenyum."


"Masak," Mana mungkin Arini akan percaya begitu, Arini masih ingat betul bagaimana Arya dulu.


"Itu mah kebalikannya semua," Imbuhnya.


"Hahaha..., itu dulu sekarang tidak. Kan udah ada pawangnya." Di rengkuh nya tubuh Arini yang terlihat mulai sedikit berisi. Mungkin karena pengaruh kehamilannya yang membuat Arini seperti itu. Padahal Arini juga sama seperti yang lain, mual, pusing dan juga yang lainnya, tapi dia tetap saja terlihat lebih berisi sekarang.


"Mas, Arini bawakan makan siang untuk, Mas."


"Oh, ya! Asyik. Pasti enak nih." Senang hati Arya. Dia selalu di perhatikan oleh Arini. Selalu di manjakan dengan makanan-makanan enak buatannya. Ya, Arya yakin itu buatan Arini sendiri karena Arini memang tidak mau di cegah kalau urusan memasak untuk suaminya.


"Lihatlah," Satu persatu rantang Arini buka dan seketika Arya langsung lapar.


"Asyik, makan enak."

__ADS_1


*******


Bersambung.....


__ADS_2